Sinopsis
Irama Asmara Di Mahad
Ara panggilan dari Maratus Soleha memutuskan untuk
melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah menengah pertama di sebuah
pesantren daerah Jawa Tengah, banyak hal baru serta pengalaman baru yang ia
dapatkan ketika menapaki langkahnya di pesantren ini.
Jauh
dari orangtua dan adik semata wayang merupakan hal yang amat menyakitkan
baginya namun di sisi lain ia mempunyai teman-teman yang baik saat berada di
pesantren.
Banyak
kisah menarik dalam perjalanan hidup Ara di sebuah pesantren ini termasuk
ta’aruf ia saat pertama kali dengan Ali –anak Pak Aswab- yang bertemu tanpa di
sengaja di pematang sawah tak jauh dari asrama Fatimah saat ia ingin menyendiri
karena rasa rindunya kepada orang rumah bersama sahabatnya Susi.
Ternyata
Ali adalah ustaz baru Ara di madrasah aliyah tempat ia menuntut ilmu di
pesantren, dengan berlalunya waktu yang terlewati ustaz Ali meminta Pak Aswab
–ayahnya- untuk mengkhitbah Ara.
Selain
itu apakah ustaz Ali sanggup menerima keadaan Ara yang koma tak sadarkan diri akibat
ulah Kak Zakiya yang mengancam hubungannya dengan ustaz Ali bahkan setelah
calon istrinya kembali sadar, sikap Ara berubah total terhadap ustaz Ali,
cobaan datang beruntun bahkan saat Ara menerima pinangan ustaz Ali ternyata
sang pujaan hatinya harus menjalani hukuman cambuk dipesantren tempat ia berada
karena difitnah telah memperkosa Zakiya –seorang wanita yang mengejar cinta
ustaz Ali- setelah Ara memutuskan untuk menikah dengan ustaz Ali kenyataan
pahit mendera Ara karena ia baru mengetahui kalo ternyata ustaz ali memiliki
kepribadiaan ganda –hetero phobia- Kebiasaan buruk ustaz Ali yang baru
diketahui Ara membuatnya terpukul hebat.
Bagaimana
kelanjutan hubungan Ara dengan ustaz Ali ditengah problema yang menderanya
secara bertubi-tubi.
Novel
“ Irama Asmara Di Mahad”
Penulis : Mega Surya
Pratiwi
Endomen
Daftar
isi
Bab 1 : nuansa bening jiwa
Bab 2 : ta’aruf awal
Bab 3 : alunan irama hati
Bab 4 : kobaran semangat khutbah
Bab 5 : konflik intrapersonal
Bab 6 : mekarnya sebuah rasa
Bab 7 : mahkamah bahasa
Bab 8 : busur panah keberanian
Bab 9 : jeritan terpendam
Bab 10 : peluk penantian
Bab 11 : musuh kecil menyebalkan
Bab 12 : kau yang kusayang
Bab 13 : standar kepantasan
Bab 14 : goresan fitnah
Bab 15 : hukuman cambuk
Bab 16 : kebisuan yang membingungkan
Bab 17 : selamat jalan zakiya
Bab 18 :
Bab 19 :
Bab 20 :
Biografi
penulis
Bab 1
Nuansa Bening Jiwa
Seusai ujian akhir sekolah menengah pertama, aku
memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Orangtua mendaftarkan aku
pada sebuah pesantren di Jawa Tengah dengan suasana perdesaan yang masih sangat
melekat kuat.
Jalan
menuju pesantren yang hendak kutempati selama tiga tahun ke depan, memiliki
suasana yang amat indah untuk kami menuntut ilmu dibandingkan dengan tempat tinggalku
di kawasan Jakarta yang sudah sesak dengan penduduk. Aku bersama keluarga
dengan kendaraan beroda empat ini membawa kami menuju pesantren tempat aku
menimba ilmu. Jalan berbelok-belok dengan suasana asri di sisi jalan yang masih
alami dengan pepohonan nan rindang, selayang mata memandang pegunungan
terhampar dihadapan kami yang duduk di dalam kendaraan roda empat yang di naiki.
Pesantren
tersebut berada di daerah yang jaraknya lumayan dekat dari rumah penduduk
setempat, pemandangan pegunungan terlihat dari kejauhan meskipun pepohonan
hijaunya saja yang nampak. Sejuk udara yang kuhirup terasa masih segar karena
alaminya daerah yang belum banyak dipadati kendaraan beroda dua atau empat.
Sesekali terlihat beberapa orang yang lalu lalang menggunakan sepeda ontel yang
kursi belakangnya di isi dengan padi atau rumput hijau untuk makanan hewan
ternak yang mereka pelihara di rumah.
Umi
membuka setengah dari jendela kaca mobil begitu pula dengan Abi, Abi sengaja
mematikan AC mobil agar dapat menghirup udara perdesaan yang kami lalui. Adik
laki-lakiku yang berumur empat tahun terlihat menenggok ke keluar jendela yang
di pegangi oleh Umi saat ia duduk di pangku.
“Kak
lihat ada orang lagi ngapain itu? Tanya adikku Ibnu kepadaku saat ia melihat
pemandangan diluar ketika mobil kami melaju.”
“itu
orang lagi giling padi, Ibnu! Jawabku sambil tersenyum kepada sang adik yang
ingin tau saat menyaksikan hal tersebut.”
“padi
itu apa, kak? Lanjutnya polos untuk anak usia dini yang saat ini menanjak usia
ke empat.”
“padi
itu makanan yang akan di masak untuk di jadikan beras atau bubur buat makanan
Adik! Ujar Umi yang memangku Ibnu sambil mengusap kepalanya.”
Adikku
terdiam mendengar jawaban Umi, ia terus mengamati pemandangan di luar kami yang
mungkin menurutnya masih baru karena memang di Jakarta tempat tinggalku hal
tersebut memang tidak ada. Hanya gedung bertingkat dengan padatnya kendaraan
yang lalu lalang pemandangan yang biasa kami lihat tiap harinya.
Alunan
indah syair azan berkumandang dalam gulatan udara, ia seolah menari dalam
lincahnya gerak orang yang mendengarkan. menandakan waktu dzuhur telah tiba,
mobil yang dikendarai Abi berhenti di depan sebuah surau –mushola kecil- yang
suasananya masih sangat alami karena berada dalam nuasa perdesaan.
Kami
menuruni mobil dan menuju masuk jalan setapak ke dalam surau, Ibnu ikut dengan
Abi mengambil air wudhu sementara Aku bersama Umi.
Tempat
mengambil air wudhu berasal dari mata air sungai yang langsung di alirkan dari
pengunungan melalui bambu-bambu yang di pasang secara bersusun, air mengalir dari ujung bambu saat Aku membasuh ke dua
tangan. Dingin terasa hingga ke hati rasa yang menenangkan jiwa ketika Aku
melanjutkan membasuh muka hingga sampai pada akhirnya ujung pergelangan kaki.
Umi
menunggui Aku sampai selesai berwudhu lalu kami menuju dalam surau yang jalan
setapaknya berbatu kali kecil tersusun dengan rapi untuk langkah pejalan kaki
yang mengambil wudhu.
Kami
sholat berjama’ah dengan beberapa warga sekitar asli yang memang tinggal di
daerah ini. “Allahu Akbar” semua khusuk dalam komunikasinya kepada Sang Illahi
termasuk adikku yang berada pada shaf pertama di samping Abi.
***
Mobil Abi mulai memasuki mahad –pesantren- tempat Aku
menimba ilmu kelak, di lapangan hijau yang cukup luas dengan beberapa tanaman
tambulampot di sisi ujung kendaraan roda empat kami terparkir, tertata rapi
tanaman tersebut pada sebuah pipa plastik panjang yang bagian atasnya dipotong
lalu di isi dengan tanah dan di tanam benih tanaman di dalamnya.
Seseorang
dari dalam kantor keluar menghampiri kami, saat Abi keluar dari pintu mobil.
“Ahlan
Wa Sahlan Sohibi! Ujar seorang lelaki yang menghampiri Abi sambil mengulurkan
tangannya.”
Abi
memeluk sosok yang ada di hadapannya sementara Aku dan Ibnu hanya diam terpaku
menyaksikan hal tersebut.
Umi
tersenyum kepada orang yang terlihat akrab dengan Abi. “perkenalkan ini istri
dan ke dua anakku! Kata Abi memperkenalkan keluarganya.”
“ini
anak pertamaku, Maratus Soleha dia yang akan melanjutkan pendidikan di
pesantren ini! Lanjut perkataan Abi kepadanya.”
“Aku
Ara, om! Kataku dengan sopan kepada orang yang melihat ke arahku.”
Kami
berlima berjalan menuju kantor yang berada tak jauh dari mobil terparkir, di
samping pintu masuk kantor terdapat sebuah tulisan “diwan” yang berada tepat di
arah Aku berjalan.
“diwan
artinya apa Umi? Tanyaku ingin tau saat kami mulai masuk ke dalam kantor.”
“diwan
itu kantor dalam arti bahasa Indonesia, nanti kalo Ara sekolah di sini akan di
ajarkan bahasa arab karena bahasa sehari-hari di pesantren menggunakan bahasa
arab! Ujar Umi dengan senyum hangat yang terlontar dari wajahnya yang ayu.”
“aku
kan gak bisa bahasa arab, Umi bagaimana Aku bisa ngomong pakai bahasa arab kalo
gak ngerti! Jawab Ara bingung dengan perkataan Sang Umi.”
“semua
santriwati yang menuntut ilmu di sini awalnya juga tidak mengerti bahasa arab
tapi nanti akan di ajarkan secara bertahap, jadi Ara jangan khawatir akan hal
itu! Sahut seseorang yang tadi kami temui di lapangan parkir.”
Di
dalam kantor terdapat ruang tamu yang ada sebuah kursi panjang yang terbuat
dari kayu jati berwarna coklat, kami berempat duduk di sana sementara orang
yang tadi kami temui duduk pada kursi kayu tepat di hadapan Abi.
“bagaimana
kabarmu Aswab setelah beberapa tahun kita tidak bertemu, sekarang kamu makmur
ya.. badanmu tambah gemuk! Kata Abi dengan senyum sumringgah khasnya kepada
orang yang duduk di depan kami.”
Aswab
tersenyum hingga giginya yang putih terlihat, ia pun sesekali memegang perutnya
dengan tangan kanan yang memang tampak gemuk.
“emang
ya Ahmad, Saya tambah gemuk perasaan sama saja. gak ada perubahan pada diri Saya,
paling rambut dan jenggot yang makin memutih! Ujarnya sambil mengusap jenggot
putih.”
Ternyata
Aswab teman Abiku saat mereka menempuh pendidikan di jurusan filsafat islam di
sebuah universitas negeri daerah Jogyakarta.
Selama
Abi dan Umi asyik ngobrol dengan teman lamanya di kantor, Aku bersama Ibnu
berkeliling pesantren. Ada 5 gedung yang kulewati dengan jarak yang tak terlalu
berjauhan, yang merupakan asrama para santriwati. Nama lima asrama itu adalah
Fatimah, Aisyah, Rukoyah, Khodijah, dan Muhibbah.
Di
samping asrama Aisyah terdapat jalan setapak yang cukup besar yang di sisi
kanannya terdapat pepohonan hijau nan rindang menuju dapur, tempat para
santriwati sarapan. Di pesantren ini santriwati mendapat jatah makan tiga kali
dalam sehari yaitu makan pagi, siang, dan makan malam.
“Kak
ada sapi! Kata Ibnu sambil menunjuk jarinya ke arah kandang sapi tak jauh dari
tempat kami berdiri.”
“Kak,
Ibnu mau ke sana! Ibnu menarik ujung bajuku menuju kandang sapi.”
Akhirnya
kami menuju kandang sapi, Ibnu mengambil batang rumput basah yang terdapat di
luar kandang.
“Ibnu
mau ngapain? Tanyaku saat melihat Ibnu mendekati sapi yang ada di kandangnya.”
“Ibnu
mau ngasih makan sapi ini Kak, kasihan dia pasti lapar! Ujar Ibnu ketika
melihatku terpaku tak bergerak dari posisiku berdiri.”
Aku
berjalan perlahan menghampiri Ibnu yang sedang memberi makan sapi dengan rumput
hijau yang di pegangnya. Beberapa saat kemudian dua orang wanita berjilbab yang
umurnya tak jauh berbeda denganku menghampiri kami.
“Assalamualaikum,
nama adik siapa? Tanya salah seorang dari mereka kepada Ibnu adikku.”
“Wa
alaikum salam, Aku Ibnu. ini kakak aku namanya Ara! Ujar Ibnu kepada seseorang
yang bertanya kepadanya.”
Aku
tersenyum kepada mereka lalu ia pun melontar senyum balik ke arahku.
“nama
Saya Ara, insya allah tahun ajaran baru ini Saya akan melanjutkan pendidikan
sekolah menengah atas di pesantren ini! Ujar Ara sambil mengulurkan tangannya
kepada dua orang wanita yang seumuran di hadapannya.”
“Saya
Chilya dan ini Ida, kami juga santriwati di sini, sekarang kelas dua SMU!
Sahutnya ramah kepadaku.”
Hatiku
senang sekali bisa berkenalan dengan santriwati di pesantren ini sebelum aku
akan menimba ilmu di sini selama tiga tahun ke depan.
“kalian
sedang apa? Tanyaku bingung melihat mereka membawa tempat yang terbuat dari
besi cukup besar.”
“kita
akan memerah susu dari sapi ini untuk di minum santriwati di sini, kebetulan
hari ini kami yang bertugas memerah susu! Ujar Ida.”
“Ara
dan Ibnu mau ikut belajar memerah susu sapi juga? Sahut Chilya tak lama setelah
Ida berkata.”
“
Aku mau Kak! Celoteh Ibnu polos.”
Aku
memegang tangan Ibnu. “Kak, Ibnu mau ikut memerah susu juga! Ujar Ibnu
kepadaku.”
“Ibnu,
ingat tidak tadi pesan Umi apa.. kita tidak boleh bermain terlalu lama? Jawabku
mengingatkan Ibnu akan pesan Umi.”
Ibnu
terdiam karena ia ingin sekali memerah susu namun ia ingat akan pesan Umi
kepada kami.
“tapi
nanti kalo kita ke sini lagi, Ibnu mau memerah susu ya Kak! Kata Ibnu sesaat
kemudian.”
“iya
boleh, tapi setelah Umi memberi izin kita! Jawab Sang Kakak dengan sabar akan
pertanyaan adiknya yang terus bertanya.”
Chilya
dan Ida tersenyum melihat tingkah lucu Ibnu yang merenggek kepada sang kakak.
Dari
kejauhan Umi memanggil Ara dan Ibnu meskipun suaranya terdengar sayup-sayup.
“kami harus pulang sekarang, insya allah lain waktu kita berjumpa kembali.
Assalamu alaikum! Ujarku saat Umi mulai terlihat melambaikan tangannya kepada
Aku dan Ibnu.”
“Wa
alaikum Salam! Jawab Chilya dan Ida serentak.”
Kami
bergegas menghampiri Umi dan Abi serta Pak Aswab, lalu berjalan menuju lapangan
di mana kendaraan roda empat yang akan membawa kami pulang ke rumah eyang tak
jauh dari pesantren ini berada.
Aku
dan Ibnu mencium tangan Pak Aswab kemudian masuk ke dalam mobil, lambaian
tangan dari Pak Aswab menggiringi kepulangan kami.
Aku
semakin tertarik dengan pesantren yang akan kumasuki selama tiga tahun kedepan
untuk menimba ilmu di sini kelak. selain suasana yang asri, masyarakat di
dalamnya pun juga ramah tamah dengan kedatangan orang baru.
“Umi,
Ibnu mau memerah susu..! renggek Ibnu saat di pangku Sang Umi duduk di dalam
mobil.”
“Masya
Allah, ternyata Ibnu masih kepikiran tentang memerah susu sapi tadi ya! Kataku
dalam hati yang melihat Ibnu terus merenggek kepada Umi.”
Akhirnya
mobil Abi pun melaju dengan cepat melewati jalan yang pemandangannya asri
dengan padi yang terlihat mulai mengguning, ia seolah memanggil jiwaku agar
tidak menyurutkan niat untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.
Bab 2
Ta’aruf Awal
Beberapa hari sudah Aku berada di pesantren ini,
kamar nomor 14 di asrama Fatimah itulah tempat tinggalku selama tiga tahun Aku
mengelana ilmu di sini. Satu kamar Aku bersama dengan lima orang sahabatku yang
bernama Sheila, Susi, Suci, Rohmah, dan Fitri yang baru aku kenal. Hubunganku
dengan mereka berjalan baik meskipun ada sedikit perbedaan cara berpikir karena
kami memang berasal dari daerah yang berbeda dengan perbedaan kebudayaan serta
suku.
Seusai
solat subuh berjama’ah di aula, semua santriwati bergegas menuju lapangan hijau
yang rumputnya masih basah karena embun pagi yang bening. Sandal yang kugunakan
basah oleh uap air yang kuinjak saat berada di lapangan. Tiap angkatan
membentuk dua barisan sesuai dengan nama asrama masing-masing lalu saling
berhadapan karena kami akan belajar muhadasah yaitu bahasa arab sehari-hari
yang akan para santriwati aplikasikan dalam berkomunikasi tiap harinya di
pesantren ini. materi di berikan oleh kakak senior kelas tiga smu secara turun
menurun, itu berarti akan datang generasi Aku saat kelas tiga tiba ketika angka
dalam tahun bergulir melangkah ke depan.
“Assalamu
alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh? Ujar salah satu kakak Pembina yang berada
di hadapan kami.”
“Wa
alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuh! Jawab seluruh santriwati yang berada
dilapangan.”
“Kaifa
haluk yauti? Ujar kakak Pembina sambil tangannya menunjuk ke asrama Aisyah.”
“Alhamdullilah
inni bikhoir! Jawab santriwati dari asrama Aisyah.”
“suaranya
gak ke dengaran dari asrama Aisyah, kaifa haluk…? Lanjut kakak Pembina
mengulang ucapannya.”
“Alhamdullilah
inni bikhoir! Jawab santriwati dari asrama Aisyah serentak dengan suara
lantang.”
“sekarang
tiap asrama di pisah ya.. membentuk kubu masing-masing karena materi muhadasah-nya
pun berbeda! Kata Kakak Pembina.”
Asrama
Fatimah yang merupakan seluruh penghuninya merupakan santriwati baru akan
belajar muhadasah di dampingi Kak Chilya dengan Kak Lilis. Kami pindah lokasi
tak jauh dari lapangan tempat kami berdiri tadi karena memang untuk materi
muhasadah ini memerlukan komunikasi agar kami dapat menerima ilmu dengan baik
saat Kak Chilya dan Kak Lilis mengajari bahasa arab dasar.
Kak
Chilya dan Kak Lilis mengenalkan para santriwati baru beberapa kosa kata dasar
dalam bahasa arab untuk tingkat pemula.
Hembusan
udara pagi yang akan berganti dengan hangatnya matahari yang akan datang dengan
senyum hangatnya tak menyurutkan niat kami untuk belajar bahasa arab hingga
akhirnya ia bersinar di atas kami, yang menujukan pukul 06.00 pagi telah tiba.
Aku
bersama dengan teman-teman menuju asrama Fatimah setelah muhadasah berakhir,
ada beberapa di antara kami yang langsung mengambil piring dengan gelas lalu
menuju ke dapur pesantren, sebagian dari anak asrama ada pula yang memutuskan
untuk mandi dan bersiap lalu baru sarapan pagi.
Satu
kamar mandi harus bergilir dengan tujuh orang, kami antri sesuai nomor urut
agar tidak terjadi kesalah pahaman karena waktu memang amat berharga di sini.
Temanku
yang menunggu antrian mandi menyambi mencuci baju di bagian belakang asrama, di
sana terdapat empat buah keran air tradisional yang terbuat dari bambu lalu di mana
setiap ujung dari bambu tersebut mengalir air yang amat bening dari mata
pegunungan tak jauh dari pesantren kami.
“Susi
sekarang giliranmu mandi? Kataku menghampiri ia yang sedang mencuci pakaian di
belakang asrama.”
Susi
bergegas mendorong ember merah yang telah berisi air penuh busa deterjen dengan
pakaian kotornya lalu menuju ke kamar mandi setelah Aku memanggilnya.
Aku
gantian menempati kran air bambu yang tadi Susi gunakan untuk mencuci pakaian,
karena waktu berjalan lumayan cepat sementara penghuni kamarku banyak yang
belum mandi, aku menggosok gigi di aliran air yang mengalir dari ujung bambu.
Hawa
dingin menyengat suhu tubuhku, Kak Iyah –kakak Pembina asrama Fatimah- berdiri
di sampingku, ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat dhuha. Aku pun
ikut mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat sunnah tersebut.
“mau
solat dhuha juga, Ara? Tanya Kak Iyah setelah melihatku berwudhu juga.”
“iya
kak! Jawabku sambil melontarkan senyum.”
Solat
sunnah dhuha mempunyai banyak faedah di antaranya ialah insya allah tuhan akan
melapangan hati kita, melapangkan rizki kita, dan menjauhkan dari kefakiran
atau kemiskinan.
Solat
sunnah ini hukumnya adalah sunat muakkadah, waktunya mulai matahari terbit
sampai agak tinggi. Cara menngerjakannya munfarid, bilangan roka’atnya paling
sedikit 2 raka’at dan paling banyak 12 raka’at.
Seusai
melaksanakan solat dhuha dipenghujung komunikasi dengan Allah SWT, Aku selalu
memanjatkan syair-syair doa kepada Sang Illahi penguasa semesta alam.
“ Ya Allah,
tuhan kami. sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu engkau, cahaya cemerlang,
kekuatan, kekuasaan, dan penjagaan. Semua itu adalah hak yang ada pada engkau.
Ya Allah, tuhan kami, bila mana rizqiku di langit maka turunkanlah apabila di
dalam bumi maka keluarkanlah, bila mana sukar maka mudahkanlah, bila mana haram
maka jadikanlah suci, dan apabila jauh maka dekatkanlah dengan hak engkau dari
waktu dhuha.”
Susi
yang telah siap dengan pakaian sekolah pun bergegas mengajakku cepat seusai Aku
berkata “amin” dipenghujung komunikasiku dengan Allah untuk sarapan pagi di
dapur pesantren.
“cepat
Ara nanti kita kehabisan lauk untuk sarapan! Kata Susi saat kami memakai sepatu
di teras depan asrama.”
Aku
segera memasangkan tali sepatu warrior dengan sigap untuk berburu waktu,
beberapa temanku nampak berdatangan dari arah dapur setelah mereka selesai
sarapan.
“lauknya
pakai apa, Sheila? Tanyaku ketika ia berjalan ke arah pintu masuk asrama.”
“tempe
orek! Jawab Sheila sembari berjalan untuk meletakan peralatan makan yang ia
gunakan.”
Aku
dan Susi berjalan dengan langkah seribu menuju dapur, suasana di dalam dapur
telah di padati oleh beberapa santriwati yang sedang sarapan seperti kami.
terdapat beberapa kursi panjang terbuat dari kayu yang tersusun rapi, lauk di
berikan oleh penjaga dapur agar semua santriwati dapat mendapat lauk dengan
jumlah yang sama sementara untuk nasi bebas di ambil oleh setiap santriwati di
sini.
Ada
beberapa santriwati yang terlihat makan secara berjama’ah alias makan satu
piring bersama, suasana seperti itu sering Aku lihat di sini meskipun belum
sepekan berada di pesantren ini.
Teng..
teng.. teng.. –suara lonceng petanda masuk madrasah aliyah berbunyi- seluruh
santriwati yang berada di dalam dapur bergegas mengakhiri sarapan pagi mereka
termasuk Aku dan Susi.
Aku
berlari dengan Susi menuju asrama Fatimah, menyelusuri halaman samping kanan
asrama yang mengarah ke kamar kami di nomor 14. Jendela yang terbuka dengan
sigap Aku masukan peralatan makan kami.
“Ara,
cepatan nanti kita di hukum kalo telat! Ujar Susi dengan intonasi tinggi
memanggilku saat aku berjalan menuju teras asrama.”
Bunyi
lonceng petanda masuk madrasah telah berhenti terdengar namun berganti dengan suara
teriakan kakak osis yang memberi hitungan kepada santriwati yang telat.
“Khomsa
–lima- ayo cepat yang masih di jalan! Ujar kakak osis dengan beberapa teman
lainnya yang siap memberi hukuman kepada santriwati yang telat masuk sekolah.”
“Arba..
–empat- ! lanjut kakak osis menghitung mundur.”
Aku
berlari dengan Susi menuju gedung yang ada di hadapan kami, perutku yang baru
terisi oleh sarapan pagi terasa bergoyang hingga membuatku ingin muntah.
Meskipun sudah berusaha untuk tepat waktu ternyata tetap telat tiba di madrasah
akhirnya kepada santriwati yang telat, kakak Pembina osis memberikan hukuman
push up.
“push
up 20 kali!”
Aku,
Susi dan beberapa teman yang telat tiba di madrasah harus menjalani hukuman
push up.
Kami
yang telat harus push up secara bersamaan sesuai hitungan oleh kakak osis, nafasku
yang tadi berlari menuju madrasah di lanjutkan dengan pemberian hukuman
membuatku harus belajar bagaimana cara mengoptimalkan waktu yang ada dengan
sebaik mungkin agar tak terbuang tanpa arti.
“kalian
boleh masuk ke kelas masing-masing! Ujar salah seorang yang memberi kami
hukuman.”
Aku
berjalan menuju halaman madrasah yang di penuhi oleh rumput hijau nan
menyejukan hati ketika di pandang, jiwaku bergelora kembali saat ia mulai padam
pada hukuman di pagi ini.
***
Beberapa hari kulalui di pesantren ini,
kini menapaki pekan ke dua. Rasa di dada terasa sesak saat melihat teman sekamarku satu
persatu di jenguk oleh orang yang ia kasihi.
Aku
rindu dengan Umi, kangen akan tingkah lucu Ibnu, haus akan nasehat Abi. Gelora
rasa ini seolah tak dapat terbendung lagi, meskipun bibir dapat terlontar
dengan senyuman namun hati tak dapat dibohongi. Aku ingin dekat dengan
keluargaku, kulihat orangtua teman sekamarku berkumpul. Tertawa bahagia saat
berjumpa dengan belahan jiwanya yang telah sekian lama hilang dari pandangan
untuk beberapa waktu.
Suasana
di minggu pagi ini sungguh terasa berat untukku melangkah, rindu yang
berat kepada orang yang kukasihi.
Mungkin sedikitnya rutinitas yang di adakan oleh pihak pesantren karena
biasanya minggu merupakan jam jenguk orangtua untuk anaknya yang bersekolah di
sini.
Orangtua
hanya menjenguk aku sebulan sekali karena jarak yang cukup jauh di tempuh
antara Jakarta dan Jawa Tengah, seusai mencuci pakaian kotor dalam ember dan
menjemurnya di bagian samping asrama Fatimah. Aku bergegas menuju kamar,
sepanjang lorong jalan kecil menuju kamar dipenuhi oleh beberapa orangtua
santriwati yang mulai berdatangan.
Saat
kubuka pintu kamar bernomor 14 nampak orangtua Rohmah dan Suci yang sedang
duduk dilantai yang telah di gelar tikar kayu dengan lima orang temanku.
“Ara,
ayo makan bareng! Kata Umi Rohmah menawariku makanan yang tergeletak di
tengah-tengah mereka.”
Aku
segera ikut berkumpul dengan mereka, kebiasaan orangtua kamar 14 memang seperti
ini setiap kali datang menjenguk belahan hatinya. Mereka selalu memasakan
makanan kesukaan anaknya saat datang berkunjung.
Suci
memberikanku piring bening yang berada di sampingnya. “Ara, ayo makan! Ujar Suci
yang sudah terlebih dulu makan.”
Aku
mengambil piring yang disodorkan Suci lalu duduk di antara mereka, sambil
mengambil sesentong nasi dengan lauk yang ada di hadapanku.
“Bismillahi
rohman rirohim allahumma barikhlana fima rozaktana wakina azabanar! Ucapku
sebelum memasukan suapan pertama ke mulut.”
“Ara,
di belakang yang nyuci banyak gak? Tanya Fitri.”
“tadi
sih waktu Ara selesai nyuci di belakang cuma ada Dita!”
“kalo
begitu, Fitri mau nyuci baju kotor dulu ya buat besok pakaian seragam sekolah!
Kata Fitri pamit kepada semua yang ada di kamar 14.”
Fitri
mengambil ember yang berisi penuh dengan pakaian kotornya selama beberapa hari
dengan deterjen di atas tumpukan pakaiannya di dalam kolong tempat tidur, lalu
ia pun membuka pintu dan terlihat berjalan menuju lorong kecil ke arah belakang
tempat ia akan mencuci pakaian.
Beberapa
saat kemudian seusai Aku melahap nasi terakhir, Susi mengajakku berjalan ke
luar asrama. Kami pun berpamitan kepada Umi Rohmah dan Umi Suci untuk keluar
sebentar.
Langkah
kami keluar dari asrama menuju suatu tempat yang sejuk tak jauh dari area
pesantren, menyelusuri jalan berbatu kali yang telah di terpola mengikuti jalan
setapak menuju bagian belakang madrasah. Pemandangan beberapa petak sawah
sejauh mata memandang dengan padi yang mulai mengguning, kami berjalan menuju
saung yang terdapat di pinggir sawah.
Kami
duduk sejenak sambil meluruskan kedua kaki, Susi berbaring pada alas bambu yang
terdapat dalam saung.
Aku
menyenderkan badan pada tembok bilik bambu saung, pandanganku tak lepas dari
orang-orangan sawah yang terdapat dihadapanku. Orang-orangan sawah tersebut
bergerak saat benang yang terpasang di tarik oleh Pak Tani agar burung atau
belalang yang hinggap di padi pergi.
Susi
terlelap dalam bayangan mimpinya saat hembusan angin menerbangkan khayalnya,
aku berjalan menuju arah pohon jambu air tak jauh dari saung.
Terdapat
sebuah jembatan kecil yang terbuat dari sebatang kayu saat akan menuju pohon
tersebut yang memisahkan sawah dengan kebun yang terdapat beberapa jenis
tanaman dalam pot. aku menapaki langkah pertama pada jembatan kayu tersebut.
Saat hendak menginjak langkah ke tengah tiba-tiba jembatan kayu tersebut remuk,
kakiku terperosok ke sungai kecil untuk mengaliri air pada beberapa petak
sawah.
Aku
meringis kesakitan memanggil nama Susi, namun ia tetap terlelap dalam mimpinya
yang indah.
“Susi,
to..long..! teriakku yang intonasi tinggi.”
Susi
tetap tak mendengarkan panggilanku, dia masih asyik dalam buaian mimpi di siang
bolong.
Aku
mencoba menarik kaki yang terjebak dalam rapuhan kayu, kakiku terkena air
sungai.
Seorang
lelaki berlari menuju arahku, ia bergegas menuruni sungai kecil setelah celana
panjang hitamnya di gulung hingga ke lutut.
Lelaki
itu membantuku melepaskan diri dari kayu yang menjepit kakiku, Aku berjalan
dengan terlatih saat ujung jempolku berdarah.
“Aaagh…!
Aku sempat menggerang saat kaki ini mencoba untuk berjalan menuju saung tempat
Susi terlelap dalam buaian mimpi indah di siang bolongnya.”
Lelaki
itu mengantarkan menuju saung tanpa menatap wajahku, pandanganya tertunduk.
Susi
terbangun saat Aku duduk di sampingnya. “Ara, kamu kenapa? Tanyanya kaget
setelah melihat kondisiku.”
“Terima
kasih ya, mas atas pertolongannya! Ujarku.”
“Namaku
Maratus Soleha tapi teman-teman biasa memanggil Aku dengan sebutan Ara, ini
temanku Susi! Lanjutku memperkenalkan diri.”
Susi
terpaku melihat keelokan sosok di hadapan kami, ia memang amat menarik untuk
ukuran seorang lelaki.
“Saya
Ali, semoga lekas sembuh ya.. Ara! Ujarnya lalu ia tersenyum meskipun tetap
dengan pandangan tertunduk.”
“Kamu
mau saya antar, kalian mau ke mana? Tanyanya kembali.”
“Kami
mau ke asrama Fatimah, itu gedungnya! Jawab Susi sambil menujuk dengan
menggunakan jarinya.”
Aku
menolak untuk di antar Ali karena kami baru saja bertemu, bukan berarti aku
bersikap tak sopan terhadapnya.
“Maaf
mas terima kasih, kami bisa pulang sendiri! Sahutku di tengah obrolan Susi
dengan Ali.”
Ali
mengganguk meskipun tak seutai kata terlontar dari bibirnya. “hati-hati!
Katanya tetap dengan pandangan tertunduk.”
Aku
dan Susi kembali menuju ke asrama meskipun kami berjalan cukup lama karena
kakiku yang terluka, Susi merangkul tanganku seolah ia memberi motivasi agar
aku bersabar atas cobaan yang saat ini sedang menimpaku.
“Ali
ganteng ya! Kata Susi di tengah perjalanan kami menuju asrama.”
Aku
tersenyum mendengar perkataan Susi meskipun tak membenarkan secara langsung.
Sementara dari kejauhan Ali mengamati mereka berdua dari saung tempat ia
berdiri.
Bab 3
Alunan Irama Hati
Hari ini seperti biasa setiap senin akan di adakan
upacara bendera di lapangan hijau depan madrasah, seusai upacara kepala sekolah
mengumumkan tentang seorang ustaz baru yang akan mengajar di kelas satu.
Ustaz
baru tersebut berdiri di barisan depan bersamaan dengan para pendidik yang
lain. Aku dan Susi kaget saat melihat Ali berada di antara pendidik madrasah,
wajahnya nampak putih bengkuang saat matahari pagi bersinar menyinari wajahnya,
ia terlihat menawan hati ketika di pandang.
Aku
hanya melihat ia sekilas karena takut akan jiwa yang tergoda akan keelokkan
yang telah Allah sempurnakan untuknya. Ustaz Ali tersenyum kepada semua santriwati
yang mengikuti upacara di lapangan hijau. Suara beberapa santriwati bersorak
untuknya, mereka ingin di ajar oleh ustaz ganteng yang ada di hadapanya.
Susi
mencolek tanganku yang berbaris pasangan saat upacara bendera, di bibirnya
tersungging sebuah senyum karena kemungkinan besar Ustaz Ali akan mengajar
kelas kami menggantikan Pak Umar, ustaz yang mengajar ilmu fiqih karena mendapat
beasiswa program magister ke Universitas Kairo.
Setelah
upacara selesai, seluruh santriwati kembali ke kelas masing-masing. Aku menaiki
tangga kecil yang menjembati menuju kelas.
Suasana
di dalam kelas ramai oleh beberapa temanku yang terlihat membicarakan Ustaz Ali,
guru baru yang ganteng. Susi terlihat ikut nimbrung pembicaraan dengan teman
sekelas.
“Ara,
emang benar kemarin minggu kalian bertemu Ustaz Ali di saung dekat pematang
sawah? Tanya temanku Dita.”
Aku
tersenyum kepada Dita sementara Susi melihat ke arah luar jendela, pandangannya
tak lepas dari kantor madrasah di hadapan kelas kami saat ia memandang.
Tak
selang waktu lama, Ustaz Ali masuk ke kelas kami karena jam pertama di isi oleh
pelajaran ilmu fiqih. Ia terlihat berjalan menuju kelas saat Aku melirik ke
luar kelas melalui jendela.
“Ustaz
Ali datang! Kataku memberitahu teman yang lain.”
Seluruh
anak-anak duduk dengan rapi dikursinya ketika melihat Ustaz Ali memasuki pintu
kelas.
“Assalamu
alaikum! Katanya saat menginjakkan kaki memasuki kelas.”
“Wa
alaikum salam warohmatullahiwabarokatuh! Sahut anak-anak secara bersamaan.”
Ustaz
Ali berdiri di samping pintu masuk kelas. “ Ini benar kelas 1c ? Tanya Ustaz Ali
kepada seluruh anak yang berada di dalam kelas.”
“Iya
Pak, benar! Sahut seluruh anak mendengar pertanyaan Ustaz Ali serentak.”
Ia
lalu memasuki kelas dan duduk di kursi kayu berwarna coklat yang telah di pernis.
Seluruh murid duduk dengan rapi di kursinya masing-masing, kedua tangan mereka
diletakkan di atas meja saat ketua kelas memimpin doa untuk membuka pelajaran.
Ustaz
Ali terdiam berselang untaian doa berakhir di ucapkan murid kelas 1c, ia pun
mulai membuka pembicaraan kepada kami.
“Assalamu
alaikum, Saya Ustaz Ali yang akan menggantikan guru lama kalian. Tadi saat
upacara bendera kepala sekolah sudah mengenalkan diri Saya kepada kalian semua.
Ada yang masih mau di tanyakan tentang Saya? Kata Ustaz Ali dengan suaranya
yang seolah menghipnotis kami.”
“Ustaz
Ali sudah menikah belum? Ujar temanku yang berada di barisan dua dari
belakang.”
Bibir
Ustaz Ali tersenyum lebar mendengar pertanyaan anak muridnya. Wajahnya nampak
memikat hati yang memandang, hangat yang menyelimuti wajah si pemandang
termasuk Aku.
“Alhamdullilah..!
Ujarnya.”
Seluruh
anak secara bersamaan bersorak. “Nikahnya kapan Ustaz? Lanjut pertanyaan
temanku yang lain karena kecewa dengan jawaban Ustaz ganteng tersebut.”
“Alhamdullilah,
Allah belum berkenan mempertemukan Saya dengan bidadari dunia akhirat untuk
pendamping hidup. Saya minta doanya saja! Lanjut perkataan Ustaz Ali setelah
mendengar respon anak muridnya.”
Ustaz
Ali melirik ke arah kursiku, ia berjalan menghampiriku ketika duduk di kursi
depan khusus pendidik.
“Gimana
Ara, kakinya masih sakit atau sudah sembuh? Tanyanya di depan seluruh murid
1c.”
Dua
bola mata penghuni seluruh kelas 1c menatap kepadaku, Aku tersenyum kecil saat
Ustaz Ali melontar sebuah tanya untukku. Meskipun Aku tak menjawabnya melalui
perkataan.
Ustaz
Ali berputar arah berjalan kembali ke depan kelas, ia melanjutkan pelajaran
yang telah di berikan Ustaz Umar seminggu kemarin setelah berkenalan dengan
semua murid kelas 1c melalui daftar absen.
“Nabi
Muhammad saw. Telah menyatakan, “Wanita itu adalah tiang Negara. Kalo wanita
baik, maka Negara itu akan baik. Tapi kalo wanita itu rusak, maka Negara itu
pun akan rusak. Mengapa wanita yang lemah itu dipilih Allah menjadi tiang?
Padahal yang namanya tiang, kalau itu semen campurannya harus satu banding
tiga,harus kokoh tak tergoyahkan, harus terbuat dari bahan yang tahan lama?
Tanya Ustaz Ali kepada semua muridnya saat ia mulai pengajaran.”
Seluruh
murid terdiam mendengar materi yang Ustaz Ali berikan bahkan saat ia melemparkan
pertanyaan kepada kami tak ada satu pun yang berani mengacungkan jari sekedar
menjawab apa yang ia tanyakan.
Ustaz
Ali menarik nafasnya sejenak saat ia memperhatikan kami dari kursi kayu
tempatnya bersandar. Setelah menunggu sekian lama menanti jawaban yang hanya di
jawab oleh keheningan penghuni kelas, Ustaz Ali pun melanjutkan penjelasan.
“Wanita
memang lemah fisiknya, tapi ia menyimpan potensi dahsyat di dalam dirinya. Dia
mampu menundukkan laki-laki penguasa sekalipun, dia juga mampu menghancurkan dunia,
tapi wanita juga mampu memperbaiki dunia! Kata Ustaz Ali menjelaskan lebih
lanjut.”
Ustaz
Ali menatap kami para muridnya saat menyimak penjelasan yang ia berikan.
“Sejarah
telah mencatat, bahwa akibat istri Nabi Nuh as tidak mengikuti ajaran suaminya,
tidak turut serta dalam mengembangkan potensi wanitanya dalam membantu suami.
Maka Nabi Nuh sendiri hampir gagal dalam dakwahnya. Selama 950 tahun dia
berdakwah hanya mendapatkan pengikut kurang lebih 83 orang. Waktu yang demikian
panjang dan hasil yang tidak berimbang, memberi isyarat bahwa wanita memang
sangat besar pengaruhnya. Bahkan anaknya sendiri tidak patuh kepada ayahnya
akibat sang ibu yang tidak turut terlibat dalam dakwah.
Demikian
pula Nabi Luth as yang akibat istrinya membangkang, maka kaum Nabi Luth di
binasakan oleh Allah, termasuk istrinya. Sebaliknya, Nabi Ibrahim yang dipatuhi
istrinya walaupun pada persoalan yang hampir tidak masuk akal. Pada saat Nabi
Ibrahim as akan meninggalkan Hajar di suatu padang tandus, di tengah-tengah
bukit batu yang mati, yang tidak terdapat tanda-tanda kehidupan, Hajar tetap
pasrah dan taat kepada suaminya. Maka hasilnya pun sangat mengagumkan, dari
keturunan mereka lahirlah orang-orang besar dunia, orang yang saleh, yakni para
Rosul Allah termasuk Nabi Muhammad saw! Kata Ustaz Ali melanjutkan
penjelasannya.”
Di
sela-sela penjelasan Ustaz Ali menerangkan, Ara mengacungkan jarinya.
Ustaz
Ali terdiam lalu berkata. “Ada apa, Ara? Tanyanya.”
“Ustaz,
Saya mau tanya. Sebagai seorang wanita muslim bagaimana cara kita agar bisa
bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri namun juga untuk agama? Tanya Ara.”
Semua mata di dalam kelas tertuju padanya.
Ustaz
Ali tersenyum mendengar pertanyaan muridnya.
“Pertanyaan
bagus, itu! Ada yang bisa jawab pertanyaan dari Ara? Tanya Ustaz Ali kepada murid
1c yang menyimak pertanyaan Ara.”
Seluruh
murid kelas 1c terdiam membisu tak ada satupun dari mereka yang memberi
komentar atas pertanyaan ara.
Beberapa
saat kemudian Ustaz Ali menjawab pertanyaan Ara. “Potensi wanita memang sangat
besar di bidang dakwah tapi bukan berdakwah dengan suara lantang, di hiasi
retorika yang memukau. Melainkan dakwah dalam bentuk menghidupkan sunnah rasul
di rumahmu! Jawab Ustaz Ali atas pertanyaan Ara.”
Ara
mendengarkan penjelasan Ustaz Ali dengan seksama. “Ustaz, Saya masih belum
paham? Ara melontarkan sebuah pertanyaan kembali.”
“Wanita
diciptakan untuk mengurus rumah tanggamu dan suamimu diciptakan untuk mengurus
ummat. Wanita diciptakan untuk berdakwah dalam lingkunganmu sementara suamimu
diciptakan untuk berdakwah di seluruh alam! Ustaz Ali mencoba menjabarkan
secara lebih rinci.”
Seluruh
murid mulai mengerti dengan penjelasan yang Ustaz Ali berikan termasuk Ara,
hingga tanpa terasa detik bergulir mengantarkan pada jam akhir pelajaran.
***
Ibnu
terus merenggek kepada Sang Umi agar dipertemukan dengan Kakaknya Ara, rasa
rindu yang berkecamuk di jiwa anak berusia 4 tahun tersebut membuat Sang Umi
akhirnya mengikuti keinginannya.
“Umi,
Adik kangen dengan Kak Ara. Kapan kita mau ke sekolah Kakak di pesantren?
Renggek Ibnu kepada Sang Umi.”
Sang
Umi tersenyum menghadapi sikap anaknya yang masih kecil. Ia mencoba memberi penjelasan
yang sederhana kepada Ibnu agar mengerti. Setelah Umi membuatkan segelas susu
untuk belahan jiwa kecilnya lalu Ibnu pun menghabiskannya, ia mulai menerangkan
kepada anak laki-lakinya tersebut.
“Umi
juga kangen dengan Kak Ara, bukan cuma Adik saja! Ujar Sang Umi memberi
pengertian sederhana.”
“Kenapa
Kak Ara sekolahnya jauh sekali, Umi? Tanya Ibnu kembali.”
Sang
Umi terdiam cukup lama memikirkan jawaban ke dua yang Ibnu tanyakan.
“Ibnu
sayang sama Kak Ara tidak? Tanya Umi pelan sambil mengusap kepala Ibnu.”
Ibnu
menganggukan kepalanya. “Kalo Ibnu sayang dengan Kak Ara, berarti Ibnu harus
mau lihat Kak Ara pintar karena dengan belajar nanti Kak Ara bisa mengejar
cita-citanya! Umi mencoba menerangkan sesuai dengan umur Ibnu.”
Ibnu terus merenggek kepada Sang Umi hingga
akhirnya ia mengabulkan permintaan anak bungsu tersebut.
“Ibnu
mau dengar suara Kak Ara di telpon? Tanya Sang Umi sesaat kemudian.”
“Iya,
Aku mau dengar suara Kak Ara. Umi!”
Beberapa
saat kemudian Umi menelpon bagian kantor pesantren agar di hubungkan dengan
anaknya Maratus Soleha yang sudah dari sepekan berada di sana.
Ara
bersama Susi datang ke kantor setelah ada panggilan lewat udara melalui
mikrofon yang suaranya dapat terdengar hingga seluruh area pesantren.
Sesampainya
di kantor, Ara segera bertemu dengan Pak Aswab mengenai panggilan namanya
melalui mikrofon kantor.
“Ara,
ada telpon dari Umi? Kata Pak Aswab sambil
menunjukan telpon yang terbaring di atas meja kantor samping jendela.”
Ara
menyambut gembira telpon dari Umi dan Ibnu. Rasa rindu yang telah lama
terpendam kini seolah tergali kembali meskipun sebatas alunan irama jiwa sebuah
suara dibalik telepon.
Bab 4
Kobaran Semangat
Khutbah
Memori di kepalaku masih bergambar dengan jelas
peristiwa suatu jumat malam saat belajar khutbah. Meskipun bukan Aku yang mendapat
hukuman tersebut namun Aku juga takut seandainya hukuman itu tertimpa kepadaku.
Belajar
khutbah atau istilah lain di pesantren adalah ceramah merupakan salah satu
pelajaran yang diberikan kepada santriwati tiap pekan. Tujuannya agar setiap
santriwati yang keluar dari pesantren ini dapat memberikan kontribusi bagi
masyarakat tentang ajaran islam melalui sebuah syiar.
Dalam
satu kelas khutbah terbagi menjadi empat yaitu muroja’ah quran, kelompok yang
berceramah, memberikan evaluasi dari hasil khutbah, dan kelompok yang bertugas
memberi hiburan di sela-sela acara berlangsung.
Minggu
kemarin, Aku kebagian kelompok muroja’ah quran yang di wakili oleh temanku yang
bernama Amelia. Itu berarti minggu ini Aku kebagian tugas untuk berceramah “Owh…!
Jantungku berdegup dengan cepat mengingat hal itu.”
Teman
sekamarku yang bernama Fitri, pekan kemarin mendapat tugas ceramah pada saat
belajar khutbah namun karena ia tak dapat berceramah dengan baik di kelas.
Fitri di hukum oleh kakak senior osis kelas tiga untuk berlari mengelilingi
lapangan pada tengah malam sebanyak 10 kali. Sementara ada juga teman satu
asramaku yang dihukum bukan dengan cara lari tapi lebih memalukan lagi, temanku
tersebut di suruh ngamen –nyanyi- dari kelas ke kelas saat pelajaran khutbah
berlangsung hanya karena ia tidak lancar saat berdakwah.
Kelas
khutbah merupakan salah satu pelajaran tambahan yang diberikan oleh pihak
pesantren dibawah asuhan yayasan yang dibina oleh kakak osis, jadi untuk
belajar ceramah memang yang menilai adalah kakak kelas. Namun terkadang Kak
Anton –kakak pembina osis- sering mondar mandir mengelilingi kelas untuk memantau
perkembangan santriwati dalam menimba ilmu ketika belajar ceramah di atas
mimbar.
Sekarang
sudah sabtu, itu artinya Aku tinggal menunggu hitungan hari lagi menuju jumat
depan untuk giliranku maju berkhutbah di depan kelas.
Aku
bingung mencari materi khutbah yang bagus, ideku mentok karena gelisah yang
mendera membayangkan Aku berdiri di atas mimbar dihadapan banyak orang.
Jangankan
untuk berbicara di depan orang banyak, berbicara di depan kaca saja Aku kurang
percaya diri apalagi ini di hadapan orang.
“Fitri,
perasaanmu bagimana saat ceramah di atas mimbar? Tanyaku kepada Fitri.”
“Nanti
Ara juga akan ngerasain sendiri kok! Fitri mulai menaiki tangga tempat
tidurnya.”
“Ceritain
dong.. pasti nerves banget ya berdiri di hadapan orang banyak? Tanyaku penasaran.”
“Daripada
nanyain hal itu, lebihbaik sekarang Ara cari tema buat khutbah minggu depan aja
dulu? Sahut Susi yang terbangun dari tidurnya karena obrolan berisik kami.”
Aku
terdiam memikirkan omongan Susi. “Kira-kira tema yang bagus untuk ceramah apa
ya? Tanyaku sesaat kemudian.”
“Minta
tolong Ustaz Ali saja besok, setelah jam pulang madrasah aliyah? Jawab Fitri
memberi saran.”
Beberapa
saat kemudian suasana hening melingkupi kamar yang posisinya paling belakang
dari pintu masuk asrama Fatimah.
***
Terik matahari membuat udara di sekeliling terasa
panas hingga membuat kulitku yang tertutup kain terlihat basah akibat keringat.
Rumput hijau menari tergoyang oleh alunan irama udara yang berhembus, awan
terlihat biru di angkasa nan anggun bagi mata yang memandang.
Langkahku
dengan ragu mondar-mandir di kantor, melirik Ustaz Ali yang sedang duduk di
kursi dengan beberapa buku yang tertumpuk di mejanya. Sesekali Ustaz Ali
membuka buku tersebut dan mencoretnya dengan tinta merah, ia sedang mengoreksi tugas
yang Ustaz Ali berikan kepada anak muridnya.
Susi
tersenyum melihatku dari kejauhan, rasa kesalku bertambah saat ia mendesak agar
Aku segera menghampiri Ustaz Ali.
“Deg..
deg.. deg..! Debaran jantungku bertambah cepat, keringat dingin bercucuran
meskipun udara tak panas.”
Aku
langkahkan kaki ini kembali, mondar-mandir mengamati ruangan kantor. Menunggu
waktu sepi agar Aku dapat leluasa berbicara dengan Ustaz Ali.
Kaki
ini rasanya seperti setrika yang sedang menari di atas helaian kain putih.
“Ara,
lagi ngapain? Tegur Pak Aswab yang melihatku dari tadi mondar-mandir di depan
kantor.”
Lidahku
seolah terpagari gigi yang terpenjara oleh mulut yang tiba-tiba menjadi bisu
seketika.
Sebuah
senyum malu kuberikan kepada Pak Aswab yang menghampiriku.
“Ee..ee..
Saya kebetulan lagi lewat, Pak! Jawabku terbata-bata.”
Pak
Aswab mengajakku masuk ke dalam kantor, Ustaz Ali melihatku dari kursi ia duduk
yang sedang mengoreksi buku tugas anak muridnya.
“Ali..?
Panggil Pak Aswab kepada Ustaz Ali.”
“Deg..
deg.. deg..! Debaran jantungku semakin tak karuan, Aku harus segera meninggalkan
ruangan ini sebelum Aku terjatuh tak sadarkan diri karena denyut irama hatiku
yang tak menentu.”
Aku
merasa salah tingkah memasuki kantor, entah apa yang membuatku bisa seperti
ini.
“Ara..?
Tegur Pak Aswab kepadaku yang terpaku di samping meja duduknya.”
Ustaz
Ali menghampiri Pak Aswab. “Deg.. deg.. deg..! Ya Allah debaran jantungku
seolah jet yang sedang terbang melesat tinggi.”
Aku
menundukkan kepala saat Ustaz Ali berdiri tepat dihadapanku.
“Ali,
kenalin ini Ara anaknya teman Abi waktu masih di kampus dulu? Ujar Pak Aswab
kepada Ustaz Ali.”
Ustaz
Ali tersenyum memandangku dengan muka tertunduk merah merona tanpa polesan.
“Kami
sudah saling mengenal Abi, Ali mengenalnya malah sebelum mengajar sebagai Ustaz
di pesantren ini! Ucap Ustaz Ali kepada Sang Abi.”
Pak
Aswab tersenyum hingga nampak gigi depannya yang putih. Debaran jantungku
semakin tak menentu, ingin rasanya meninggalkan kantor dengan secepat mungkin.
“Ada
yang mau kamu bicarakan dengan Saya, Ara? Tanya Ustaz Ali kepadaku.”
Detak
jantungku semakin dashyat hingga rasanya lidah ini kaku untuk berbicara, diriku
tanpa seperti orang bisu yang tiba-tiba mematung.
Aku
menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal. “Gak, ada kok Ustaz! Jawabku
singkat saking nervers berhadapan dengan
Ustaz Ali secara langsung untuk yang ke dua kalinya.”
Ustaz
Ali terdiam memandangku terpaku, setelah Pak Aswab pergi meninggalkan kami
berdua untuk berbicara.
“Tunggu
sebentar ya! Ujar Ustaz Ali yang berjalan menuju meja kerjanya lalu membuka
laci di samping kursi duduknya.”
Ia
menghampiriku kembali. “Ini untukmu, siapa tau berguna? Kata Ustaz Ali sambil
memberikan sebuah buku berjudul : wahai wanita muslimah, dirumahmu ada
surgamu.”
Aku
mengambil buku yang Ustaz Ali sodorkan untukku. “Terima Kasih, Ustaz! Ucapku.”
“Tadi
saat jam istirahat sekolah, Susi bilang ke Saya kalo Ara lagi butuh materi
untuk khutbah. Insya Allah buku ini dapat membantu! Kata Ustaz Ali melanjutkan
perkataannya.”
Aku
makin membisu dalam kepatungan kakiku rasanya lemes. Ternyata Susi telah
memberitahu Ustaz Ali terlebih dahulu sebelum Aku menceritakan apa yang ingin
kukatakan untuk meminta tolong bantuannya.
“Awas
ya Susi nanti di kamar! Batinku.”
***
Menunggu beberapa jam berlalu dengan sendirinya
membuatku semakin harus menyiapkan mental baja untuk berani tampil berkhutbah di
atas mimbar.
Cermin
kecil pun Aku dirikan di atas lemari pakaian yang ditopang oleh sebuah gelas
agar cermin tersebut dapat berdiri. Aku menatap wajah serta sebagian tubuh yang
terpantul oleh bias cahaya di hadapanku.
Gerak
lidahku semakin pandai dalam berkomunikasi, intonasiku juga sudah terdengar
jelas tidak seperti hari kemarin, kobaran api semangat makin menyala di jiwaku.
Tak
terasa waktu terasa begitu dekat hingga saat yang kutunggu akhirnya tiba,
kulangkahkan kaki ini bersama dengan seluruh santriwati menuju kelas untuk
belajar. alunan irama lonceng kelas berbunyi jelas di telingaku, bulan terlihat
indah meskipun tertutup awan gelap, malam ini Aku akan membuktikan kepada diriku
bahwa Aku dapat berkhutbah dengan baik.
Sebuah
mimbar terhampar dihadapanku yang di kedua sisinya terdapat pot bunga indah nan
bermekaran. Mimbar dibuat tinggi dengan tujuan agar melatih psikologis
penceramah dalam syiar islam. Meskipun hembusan udara malam ini terasa dingin
namun sekujur tubuhku berkeringat, napasku seolah terhenti sejenak saat namaku
di sebut untuk mengisi khutbah pertama.
Kumantapkan
kaki untuk naik ke atas mimbar walaupun rasanya berkilo batu mengikat ke dua
langkah ini.
Aku
mengatur setiap denyut napasku dengan untaian syair indah berlafaz Allah hingga
sampai pada isi dari materi yang kusampaikan tanpa terasa lancar Aku membuka
khutbah dengan beberapa ayat al quran.
Berdirinya
Saya di sini, Saya akan membawakan khutbah yang berjudul : Aurat Wanita.
Aku
mulai mengatur napas agar suaraku dapat terdengar jelas oleh seluruh umat yang
berada dalam ruangan.
Bertanya tentang aurat, semua orang
yang mengerti agama, pasti mengetahui bahwa aurat wanita itu ialah seluruh
badannya kecuali muka dan telapak tangan.
Perhatikan
peringatan Allah dalam surat an nuur ayat 31.
“Dan katakanlah
kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara
auratnya (kemaluannya) dan janganlah mereka menampakkan perhiasaannya, kecuali
yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah menutupkan kain kerudung mereka
sampai ke dadanya….”
Apa
yang di maksud menutup kerudung sampai ke dadanya?
Pasti
ada yang wajib ditutup, tidak boleh nampak hal-hal yang merangsang termasuk
dadanya. Dan inilah yang di maksud aurat wanita.
Namun
banyak sekali kaum wanita yang tidak mengetahui atau berpura-pura tidak tahu
tentang kriteria aurat itu sendiri. Buktinya masih banyak mereka yang
berpakaian tapi auratnya tidak tertutup, masih banyak mereka yang menutup
badannya tapi auratnya masih terbuka, masih banyak dari mereka yang memakai
pakaian tapi bentuk tubuhnya masih terbayang, bahkan tidak sedikit dari mereka
yang memakai pakaian tapi setiap dipandang masih tetap menimbulkan rangsangan.
Namanya
aurat itu saudaraku, pada hakikatnya adalah “kemaluan” dan kemaluan itu sendiri
kalau di utak-atik bahasanya sama dengan yang memalukan.
Ini
berarti seluruh tubuh wanita itu memalukan kalau di perhatikan. Kakinya,
tangannya, pinggungnya, pahanya, dadanya dan semuanya adalah kemaluan. Karena
itu wanita di anjurkan memakai pakaian yang menutupi semua yang memalukan itu.
Dan menutup di sini tidak di artikan hanya tertutup semata, melainkan tertutup
dari rangsangan-rangsangan. Jangan sampai ada bentuk dan bayangan tubuhnya itu
kelihatan dari luar. Bentuk kaki dan tangannya, bentuk dada dan pinggulnya,
apalagi daerah yang paling fital.
Itulah
sebabnya pakaian wanita itu tidak berbentuk, tidak ada mode laksana drum, agar
tidak ada peluang untuk membentuk bayangan tubuhnya sehingga nampak dari luar.
Walhasil
secara keseluruhan bentuk tubuh wanita itu dilarang di pertontonkan karena
berpotensi menimbulkan rangsangan bagi kaum lelaki. Bahkan sampai sehelai
rambutpun dilarang diperhatikan.
Kenapa
Nabi begitu tegas terhadap sehelai rambut sekalipun? Karena dari sehelai dua
helai rambut dan seterusnya akan menghasilkan gaya seorang wanita dan dari gaya
itu akan muncullah aurat. Semua ini sangat berbahaya bagi keselamatan umat
manusia, keselamatan wanita dari perilaku laki-laki dan keselamatan laki-laki
agar tidak terjerumus ke lembah maksiat.
Kenapa
hari ini begitu banyak kemelut yang melanda umat manusia termasuk wanita?
Jawabannya,
karena wanita hari ini bukan saja tubuh dalam arti badan yang di pertontonkan
oleh kaum wanita, melainkan alat fital pun sudah tidak malu-malu diperlihatkan.
Bahkan dapat dikatakan hari ini wanita sudah lebih telanjang dari pada
laki-laki.
Kalau
kita kembali kepada masalah aurat itu sendiri, kata-kata telanjang saja sudah
sangat memalukan saudaraku. Tapi kenapa kaum wanita sekarang justru bangga
dengan pakaian telanjangnya, pakaian yang membentuk lekuk tubuhnya? Kenapa ada
laki-laki yang lututnya saja kelihatan dia merasa malu? Tapi mengapa banyak
wanita di jalanan memperlihatkan auratnya justru tidak malu-malu?
Mengerikan,
saudaraku. Jika kau keluar rumah dengan busana setengah telanjang! Memalukan,
saudaraku kalo hatimu tidak terbuka untuk merenungi auratmu sendiri, menghargai
“malumu” sendiri.
Kapan
kau akan menyadari kekuranganmu ini kalau bukan sekarang. Kapan kau akan memakai
pakaian yang di rancang oleh Allah untuk menghormati nilai dan martabatmu
sendiri?
Wanita
yang sudah menutup aurat pun masih di ajurkan untuk menjaga pandangan karena
pandangan itu walaupun tidak tegas dikatakan aurat, tapi dia sangat berbahaya.
Dia juga bisa menimbulkan malapetaka, dia bahkan lebih berpotensi menimbulkan
maksiat.
Aku menutup khutbah dipenghujung dengan sebuah
salam, kakiku mulai menuruni mimbar yang bertingkat. Sosok Ustaz Ali melihatku
dari luar kelas setelah kusadari tak lama Aku menyelesaikan ceramah.
Puji
syukur kupanjatkan kepada Sang Illahi yang telah menghembuskan semangat
keberanian dalam diriku, juga tak lupa jasa Ustaz Ali yang telah bersedia
memberikan sebuah buku untukku hingga Aku dapat berceramah dengan baik pada
malam ini.
Bab 5
Konflik Intrapersonal
Malam bergulana dalam kegelapan meskipun secercah
cahaya rembulan mengiringi, awan hitam elok dilangit dengan gemerlap pantulan
bintang yang bernyanyi dengan kelap-kelip cahayanya.
Aku
duduk di atas lemari pakaian dekat tempat tidur tingkatku, kubuka setengah dari jendela hingga terasa semilir udara
menerba rambutku hingga bergoyang. Kugoreskan pena dalam secarik buku untuk
menghapus lara yang saat ini mendera. Kerinduan yang amat kurasa kepada orang
yang terkasihi, jerit penaku menangis meskipun tetesan kesedihan tak dapat
keluar dari mata sang pengores.
“Rasa di jiwaku terasa
hampa seperti detak jantung yang berhenti sesaat lalu mencoba untuk merangkai
kembali rasa tersebut. Aku merindu sosoknya yang selalu hadir setiap waktu
menemaniku, kini semuanya terhalang oleh jarak yang memisahkan. Aku akan
melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan untuk orang terkasih yang amat
kucintai, berharap delir waktu cepat berlalu hingga mengantarkan Aku kembali
kepadanya. Umi yang bagaikan mentari selalu menyinariku dengan senyumnya, Abi
Sang Langit yang selalu menenangkan jiwa ini melalui nasehatnya yang menerangi
pikiranku. Sosok Ibnu nan lucu yang selalu membuat jiwa ini rindu akan
keluguannya” Aku mengamati pemandangan diluar
asrama melalui jendela dihadapanku, goresan penaku terhenti sesaat.
Lamunanku
sejenak mengingat kembali orang yang kukasihi. “Ara, kamu belum tidur! Tegur Susi
membuyarkan memori indah bersama alunan suaranya memanggilku.”
Aku
menengok ke tempat tidur Susi yang berada paling pojok ruangan bersebelahan
dengan pintu masuk kamar 14. Ia tampak melihatku dengan mata yang masih sulit
untuk dibuka.
“Aku
belum ngantuk, Sus! Ujarku pelan takut membangunkan teman sekamar yang tertidur
lelap.”
Susi
menarik selimutnya hingga menutupi dada, lalu memeluk guling yang ada di
sampingnya.
Aku
kembali pada pandanganku semula menatap malam dalam gulana dihadapanku.
Pepohonan
hijau yang berderet menuju Asrama Aisyah dan Umu Salamah berjejer air dalam
gelas plastik yang tertutup bagian atasnya, yang di letakan di sisi pohon agar
keesokan paginya santriwati dapat mengambilnya. Embun yang menyelilingi gelas
setelah semalaman gelas diletakan memberikan kesejukan bagi yang meneguknya, di
sini tidak ada kulkas sehingga kami santriwati harus membeli es batu jika ingin
meminum air dingin atau jika ingin menghemat uang agar bisa minum air seperti
dinginnya air dalam kulkas secara gratis, beginilah cara santriwati menikmati
seteguk air dingin.
Aku
menyudahi goresan pena saat ayam berkokok terdengar sayup-sayup menandakan
malam akan menyingsing menjadi pagi. Kurebahkan badan setelah membaca doa di
awal Aku mulai memejamkan mata.
“Aku
rindu keluargaku dirumah, Aku gak betah tinggal di mahad ini, Aku ingin
pulang.. bertemu dengan Umi dan Abi sambil bercanda dengan Adikku tersayang
Ibnu! Batin Ara mengawali tidurnya, air matanya menetas tanpa ia sadari.”
***
Siang ini ada pertemuan para santriwati di aula
putih pesantren yang terletak sebelum madrasah
aliyah tempat kami menuntut ilmu agama saat kelas pagi. Tak seperti
biasanya berkumpul seperti ini karena ada acara pemilihan osis baru maka waktu
dua jam sebelum santriwati memulai kelas pelajaran umum di SMU waktunya
dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jam satu siang kami harus masuk untuk belajar
pelajaran umum sesuai kurikulum diknas.
Seluruh
santriwati dari asrama masing-masing berjalan serentak menuju gedung pertemuan
utama dalam aula di lantai dasar, aula putih pesantren bertingkat dua dengan
menampung kuota jamaah kurang lebih seribu umat. Ada tangga bertingkat yang tak
terlalu tinggi sebelum kami menuju lantai dasar aula dengan nuansa asri
sekitarnya karena kesejukan dari pepohonan hijau yang menjernihkan mata si
pemandang.
Aku
bersama dengan beberapa teman mulai memasuki aula, kulepas sepatu warrior yang
kukenakan di tangga paling dasar menuju aula.
Suasana
di dalam aula penuh dengan santriwati yang mulai duduk berjejer hingga tampak
seperti barisan yang tersusun rapi. Kami berbaris sesuai dengan asrama
masing-masing.
Seseorang
menepuk pundakku dari belakang. “Ara?” Aku menoleh ke belakang. “Ada apa Rohmah?
Tanyaku.”
“Ada
Umi Ara di asrama bersama dengan Ibnu adikmu! Ujar Rohmah pelan karena aula
yang ramai dengan santriwati.”
“A..ah..
benarkah, keluargaku menjengukku, Rohmah? Terimakasih ya.” Aku bergegas keluar
dari aula, kuturuni tangga lalu Aku ambil sepatu warrior dengan tergesa hingga
belum sempat menyimpul tali sepatuku.
Aku
berlari kecil dengan langkah yang agak dipercepat. kulihat Abi, Umi serta Ibnu
duduk di teras asrama. Ibnu menghampiriku lalu memelukku langsung.
“Ibnu,
kangen sama Kak Ara! Ujarnya.”
Aku
terdiam saat Ibnu memeluk pinggangku, ia memang masih kecil hingga tinggi
badannya baru setangah dari tinggiku.
Aku
menggandeng tangan Ibnu lalu mengajaknya menuju teras asrama menghampiri Umi
dan Abi.
Aku
mencium tangan Umi serta Abi lalu Umi pun mencium keningku dengan lembut.
“Gimana
kabarmu, Anakku? Tanya Sang Abi.”
Aku
duduk di sebuah tembok khusus pembatas antar jemput di teras asmara Fatimah.
Suasana nampak sunyi karena semua santriwati berkumpul di aula pesantren.
Semilir angin mengambarkan kesejukan yang melintasi rasa di jiwa ini.
“Umi,
Ara mau pulang aja? Ucapku dengan mata yang menunduk, tak berani kutatap mereka
dihadapanku saat berkata hal tersebut.”
Abi
kaget mendengar perkataanku, mukanya terlihat durja namun ia segera menipisnya
dengan bingkai kesabaran yang tertuang pada sebuah lontaran kecewa yang ia ucap
kepadaku.
“Kamu
kenapa, Ara? Tanya Abi sebelum Umi menjawab pertanyaanku.”
“Ara,
gak betah tinggal di sini, Abi! Tetesan air mataku mengalir begitu saja.”
Umi
memeluk Aku erat dengan senyum mataharinya yang selalu meneduhkan jiwa Sang Anak
dalam kebimbangan.
Tangisku
semakin meledak, ingin rasanya Aku ikut Umi serta Abi kembali ke Jakarta. Umi
mengelus jilbabku yang panjang, Ibnu terpaku melihat Sang Kakak menangis di
hadapannya.
“Ya
sudah, Ara mau pulang? Ucap Umi.”
Aku
tetap dalam kebisuan hanya air mata yang menjawab perih rasa di kalbu. Satu
anggukan dariku membuat semuanya jelas tentang apa yang kurasa.
Abi
terdiam, ia terlihat sesekali menarik napas dalam.
Setelah
membisu dalam keheningan yang panjang akhirnya Abi setuju jika Aku ikut pulang
untuk sementara waktu.
“Tapi
janji ya sama Abi dan Umi, kalo Ara akan balik lagi sekolah di pesantren ini?
Ujar Abi meminta janjiku.”
Aku
mulai menyeka air mata yang terjatuh dipipi menggunakan jilbab panjang yang
terulur hingga setengah badanku.
“Iya”
Perkataanku meluncur bagaikan peluru dashyat dari lidah, lancar tanpa ada
kendala atau rintangan.
Beberapa
saat kemudian Aku sudah bersama dengan keluargaku menuju ke Jakarta, perjalanan
yang kulalui di sambut riang oleh mentari yang menghangatkan hatiku bersama
dengan lepasnya rasa rindu yang perlahan mulai surut.
***
Sepekan berlalu berlari dengan cepat melewati hari
menuju ke minggu yang akan datang. Detik-detikku bersama orang yang kukasihi
harus rela kulepas kembali dalam untaian kebisuan yang kini mulai meradang.
Umi
selalu menyinari hatiku dengan belaian lembut yang ia berikan kepadaku Sang Anaknya.
“Ara,
dulu Umi juga merasakan apa yang Ara alami? Ucap Umi lembut sembari menyiapkan
sarapan pagi untuk Abi sebelum berangkat kerja.”
Aku
berhenti memoles jam pineapple pada selembar roti. “Emang dulu, Umi sekolahnya
di mahad ya? Tanyaku tak tau.”
Umi
tersenyum, pipinya nampak merah merona laksana pelangi yang muncul setelah
hujan berhenti tanpa polesan make up.
“Hidup
itu hanya sebuah persinggahan sementara insan di dunia, tak ada yang abadi kita
sebagai mahkluknya dimuka bumi ini. ibarat kau menyelupkan jarimu ke lautan
lalu kau angkat jarimu kembali. Air yang ada di jari adalah dunia dan lautan
merupakan akhirat. rindu hanyalah sebuah rasa yang bersifat fatamorgana, semu
akan suatu kebahagian yang tak pasti.” Aku mendengarkan penjelasan Umi dengan
baik, kugigit helaian roti yang Aku genggam.
“Tapi
Ara gak mau ditinggalin Umi sama Abi, Ara gak betah dipesantren” Deraian air
mataku setetes mengalir di pipi.
Abi
mengusap kepalaku dari belakang. “Anak Abi kenapa? Kok masih pagi sudah
cengeng?” Abi menarik kursi di ruang makan, tepat di sebelahku.
“Abi,
Ara pindah sekolah saja ya?”
“Kenapa
punya pikiran seperti itu, Ara sayang? Sahut Umi disela-sela obrolanku.”
Dadaku
terasa sesak hingga rasanya untaian kata membeku. “Ara, gak mau ditinggalin Abi
sama Umi di pesantren sendiri! Air mataku tiba-tiba meleleh dengan sendirinya.”
Umi
menyiapkan segelas susu hangat di hadapanku. Kuteguk apa yang Umi berikan
untukku.
“Kalo
alasan Ara karena gak mau ditinggalin Umi dengan Abi, bagaimana jika suatu saat
Umi atau Abi meninggalkan Ara lebih dahulu?”
Aku
tersentak memikirkan makna yang menurutku cukup dalam dilontarkan oleh Umi.
“Kok
Umi ngomongnya begitu sih?”
Umi
tersenyum, begitupula Abi.
Aku
membisu sesaat, tak lama berselang Ibnu datang ke ruang makan setelah ia
selesai bermain sepeda beroda empat miliknya.
“Ara,
suatu saat pasti Abi dan Umi akan meninggalkan kalian berdua. Cepat atau lambat
itu hanya masalah waktu, yang bisa kami berikan hanyalah ilmu yang bermanfaat
untuk kelangsungan hidupmu. Pergunakanlah hal itu sebaik mungkin selama kau
mampu, Anakku!” Abi menasehatiku dengan sabar.
Aku
menghela napas panjang memikirkan kebenaran ucapan Abi.
“Abi,
kenapa menuntut ilmu harus dipesantren. Bukankah menuntut ilmu bisa di sekolah
umum juga? Tanyaku kemudian.”
Tersungging
sebuah senyuman Abi. “Menuntut ilmu dapat di mana saja, sayang. cuma bedanya
kalo belajar dipesantren kamu dapat belajar hidup mandiri, bekal yang akan Ara
butuhkan di masa depan kelak.” Abi berdiri dari kursinya lalu merapihkannya
kembali. Ia mengusap kepalaku kemudian mencium keningku sebelum akhirnya Abi
berlalu meninggalkan kami untuk berangkat kerja.
“Ada
gak pelajaran yang Ara dapat hari ini? Tanya Umi sesaat setelah kepergian Abi.”
“Maksud
Umi apa? Jawabku tak paham.”
Ibnu
merenggek minta dibuatkan susu seperti punyaku kepada Umi disela pertanyaanku.
Umi
berjalan menuju dapur tepat di sebelah ruang makan, Aku mengekor dari belakang
bersama Ibnu yang terus merenggek minta cepat dibuatkan susu.
Aku
terdiam menyaksikan tingkah Ibnu Adikku semata wayang yang rewel. Umi terlihat
mengaduk susu dengan sendok lalu mencampurkannya dengan setengah bagian air
dingin dalam gelas.
“Minum
susunya duduk ya, Ibnu! Nasehat Umi.”
Ibnu
membawa segelas susu ke ruang keluarga, dia menyalakan televisi lalu menyetel
film kesukaannya.
“Ara,
contoh kecil yang dapat kamu ambil hikmahnya adalah peristiwa tadi pagi yang hadir dalam hidupmu!”
Aku
terdiam memikirkan ucapan Umi. “Maksud Umi, apa? Tanyaku bingung.”
“Abi
pergi berangkat kerja meninggalkan kita bukan?”
“Abi
kan kerja untuk mencari nafkah, Umi. Nanti sore Abi juga pulang? Jawabku atas
pertanyaan Umi.”
Umi
tersenyum merekah di hadapanku. “Kita hidup juga seperti itu, Anakku sayang.
kita akan pergi meninggalkan dunia ini lalu akan berjumpa kembali suatu saat
kelak.”
Aku
terdiam untuk yang kesekian kalinya memikirkan ucapan Umi. Langkah kaki sesaat
menyeretku menuju kamar, kurebahkan badan memandang biru langit warna cat
tembok kamarku. Mencoba mengartikan makna hidup sebenarnya yang Umi jelaskan.
***
Dua
hari kemudian Aku memutuskan kembali untuk melanjutkan pendidikan di pesantren,
sesampainya disana teman-teman asrama Fatimah tempat kami satu atap bersama
menyambut kedatanganku dengan gembira yang terpancar dari aura wajah mereka
terutama anak kamar 14.
“Ara”
peluk Susi yang berlari menghampiriku saat ia melihatku dari ruang tengah
asrama.
Hatiku
rasanya bahagia melihat semua temanku merindukan sosokku dalam kehadiran jiwa
mereka, Umi dan Ibnu terkesima menyaksikan perhatian yang begitu mendalam dari
saudara baruku di tempat bernaung ini.
Kulangkahkan
kaki berbelok ke kamar 14 mengekor Susi dibelakangku. Suci, Rohmah, Fitri, Shaila
semuanya menyambut riang keberadaanku di antara mereka.
Umi
dan Ibnu merasa bahagia belahan jiwanya telah memiliki banyak saudara baru yang
amat menyayangi Ara meskipun di rasa yang lain sebuah goresan pilu terukir
dalam satu tempat bernama jiwa karena jarak dan waktu yang akan memisahkan
kasih di antara mereka.
Tiga
tahun waktu yang akan Aku lalui, ia bukanlah rentan jarak yang lama.. Aku akan
berlari mengejar semua kelana ilmu hingga tanpa kusadari waktu tersebut akan
menghampiriku dengan senyum hangatnya laksana mentari. kukejar semua impianku
dalam munajat cinta syair doa yang mulai saat ini kutetapkan hati kepada Sang Illahi.
Bab 6
Mekarnya Sebuah Rasa
Ini merupakan hari pertama Aku kembali ke mahad setelah
kemarin meliburkan diri di rumah selama kurang lebih sepekan, suasana asrama
masih seperti biasa tiada perubahan yang drastis. Pagi hari aktivitas mulai
padat, kuatur waktu seoptimal mungkin agar tak ada yang terbuang percuma. Aku
tak mau kena hukuman sebelum masuk sekolah karena dihukum akibat telat datang
sebelum dentang lonceng dibunyikan.
“Aina
nakli –dimana sendalku- Susi, anti anjur la – kamu lihat tidak- “ Aku mencari
sendalku yang tak kutemukan diteras depan asrama.
Susi
membantuku mencarikan sandal milikku namun kami tak menemukannya, akhirnya Shaila
meminjamkan sandal miliknya setelah ia kembali dari dapur seusai sarapan pagi.
Pagi
ini sebelum sarapan Aku sudah sebel dengan peristiwa hilangnya sandal, suatu
awal yang tidak bagus menurutku untuk mengawali akitivitas.
Bergegas
Aku, Susi dan Fitri bersama menuju dapur. Pakaian seragam sekolah aliyah sudah
kami kenakan untuk mengejar waktu.
Kami
makan satu piring bersama secara berjama’ah bertiga. Menu makan pagi kali ini
adalah tempe orek dengan nasi hangat. Lauk yang biasa jarang Umi masak dirumah
untukku, tempe.. Aku sebenarnya kurang suka dengan makanan yang satu itu cuma
entah mengapa Aku jadi menyukai tempe semenjak tinggal di pesantren ini,
apalagi makannya secara berjama’ah ada suatu kenikmatan yang tak terhingga
kurasakan saat lauk tersebut kusantap.
Jalan
yang menyusut harus kami lalui sebelum tiba di dapur, menyelurusi jalan setapak
di samping asrama Aisyah yang terdapat dua jalur seperti cabang yang di
tengahnya merupakan pepohonan hijau nan menyejukan mata. Beberapa pohon telah
berbunga indah, merekah akan keelokkannya saat mentari pagi menyambut mereka. Aku
terpesona hingga terperosok kagum akan keindahannya ciptaan Sang Illahi,
sungguh maha sempurna ia menciptakan apa yang ada dilangit serta di bumi.
Nuansa
hiruk saat kami mulai menapaki jejak langkah ke dalam dapur, suasana mulai
padat dengan beberapa santriwati yang juga ikut sarapan sepertiku. Fitri
mengambil nasi dalam piring ceper miliknya, Susi mengambil air minum, sementara
Aku mencari kursi untuk jatah duduk bertiga.
Susi
mulai menghampiri kursi panjang yang telah kutempati untuknya, kini saatnya
menunggu Fitri yang sedang antri lauk tempe orek yang sedang dibagikan oleh
karyawan dapur.
“Hai
minggir, kami mau duduk di sini?” Aku menoleh ke belakang bersamaan dengan Susi.
“Iya
Kak, maaf” Susi mempersilahkan 4 kakak kelas senior menempati kursi yang telah
terlebih dahulu kutempati.
Susi
mengandeng tanganku agar Aku pindah ke kursi makan panjang yang lain
bersamanya.
Alhamdullilah
ada anak asrama Fatimah yang baru saja selesai makan sehingga kami tak perlu
makan berdiri karena penuhnya santriwati yang sedang sarapan di dapur. Terpaksa
kami makan dengan tempat yang sempit. Seporsi nasi yang menggunung dengan lauk
tempe orek di atasnya kami santap dengan nikmat menggunakan tangan.
Hatiku
sebenarnya mengerutu tak terima perlakuan kakak kelas senior tadi yang
seenaknya saja tanpa perasaan mengambil hak duduk kami. Aku benar-benar tak
bisa terima perlakuan mereka, masa senior sikapnya begitu sih. hari ini Aku
sudah dibuat kesal dua kali. Pertama masalah sendalku yang hilang lalu yang
kedua akibat ulah kakak senior yang belagu.
Dipesantren
tempatku menuntut ilmu memang ada kelompok atau mungkin biasa disebut dengan
istilah geng untuk beberapa santriwati. Seperti kakak senior tadi yang merebut
kursi kami. ia adalah salah satu kakak yang terkenal bahaya, Aku sebagai
santriwati junior lebih akrab dengan panggilan gengdanger kepadanya.
Gengdanger
sering mengerjai santriwati baru seperti beberapa anak di asrama Fatimah yang
pernah mengalami keresehan ulah meraka. Seperti minta di jajani atau disuruh-suruh
tanpa minta tolong terlebih dahulu, andaikan kami menolak permintaan gengdanger
biasanya ia tak akan segan untuk memberikan hukuman kepada kami para santriwati
baru di sini.
“Teng…”
Bunyi dentang lonceng pertama masuk madrasah aliyah berbunyi, seluruh
santriwati bergegas mengakhiri sarapan pagi mereka begitupula dengan kami.
Bergegas
langkah kaki kupercepat bersama dengan jejak yang lebih dahulu berada di
depanku.
“Teng.. teng.. “
Dentang
lonceng kedua terdengar mengalun di udara dengan cepat. Kami segera mengambil
buku pelajaran yang telah disiapkan terlebih dahulu sebelum sarapan di tepi
jendela yang terbuka kamar 14. Fitri segera meletakan piring serta gelas di
tempat pengganti buku kami.
kami
bergegas menuju teras asrama dari jalur samping menuju kamar, kukenakan sepatu
warrior milikku dengan cepat bersama beberapa temanku yang masih berada di
teras asrama Fatimah.
“Ara,
itu sendalmu cepat sembunyiin sebelum nanti hilang lagi! Ujar Susi kepadaku
yang melihat sendalku tergeletak tak beraturan di tanah samping kanan pintu
masuk.”
“Teng..
teng.. teng.. teng..” lonceng berlalu dengan cepet. Kuambil sendalku lalu
kusembunyikan dibalik rak sandal yang berjejer di kedua sisi pintu masuk
Fatimah.
“Ayo,
cepat..” Fitri mulai berjalan duluan keluar teras, disusul Susi dengan beberapa
santriwati Fatimah yang menunggu temannya. Akupun bergegas menyusul mereka.
“Teng...”
lonceng terakhir berhenti berdentang. Kini giliran kakak osis yang mulai
terdengar teriakan suaranya.
“Wahid
–satu- ” Ujar beberapa kakak osis yang siap memberi hukuman kepada santriwati
yang telat.
“Sit
up 10 kali” Ucapan yang terlontar oleh kakak dihadapanku bersama perintah yang
harus kutaati dengan beberapa barisan berjejer santriwati sepertiku.
Debaran
jantungku semakin tak menentu, Aku merasakan kepalaku sedikit pusing dengan
bayangan yang agak samar pada penglihatanku.
Fitri,
Susi, dan Aku menuju kelas 1c yang berada dipojok madrasah aliyah, kelas kami
berhadapan langsung dengan lapangan hijau.
“Braak…”
Penghuni
kelas 1c berhamburan keluar kelas, beberapa staf pendidik yang berada
dikantorpun mengikuti. Suasana kembali hening saat tubuh lunglai itu di boyong
ke ruang UKS madrasah.
***
“A..ah..
kepalaku” Aku mulai membuka mata. “Aku, dimana?” kuamati ruangan di sekeliling
Aku berada, ternyata ini di UKS madrasah.
“Kamu
masih pusing? Tanya Ustaz Ali yang berdiri disampingku.”
Sebuah
anggukan kecil jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan untukku. “Aku kenapa,
Ustaz?” Ustaz Ali menarik kursi kayu ke samping tempatku berbaring. “Kamu tadi
pingsan, Ara! Jawabnya.”
Aku
mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. “Ugh..” Ustaz Ali memegang tanganku
yang hampir jatuh ke lantai. “Afwan! Ucapnya yang tanpa sengaja menyentuh
telapak tanganku saat terjatuh.”
“Deg..
deg.. deg..” Jantungku bergetar seiring irama rasa yang tanpa sengaja menatap
dua bola mata miliknya.
Kami
terdiam dalam keheningan suasana setelah itu beberapa saat saling memandang, Aku
segera mengalihkan pandangan agar busur panah zina tak terlalu melesat hebat ke
jantungku.
Ustaz
Ali memintaku untuk merebahkan badan kembali ke tempat tidur.
“Ustaz,
temanku pada ke mana? Tanyaku pelan dengan nada yang terputus.”
“Mereka
masih berada di kelas, kan ini masih jam belajar. kebetulan hari ini jam ngajar
Saya lagi kosong jadi Allah memberi kesempatan untuk Saya membantu kamu untuk
yang kedua kalinya! Jawab Ustaz Ali tanpa memandangku.”
“Sekarang
jam berapa, Ustaz? Tanyaku kemudian.”
Ustaz
Ali melirik jam tangannya. “Jam 09.40 pagi memang ada apa, Ara?”
“Saya
mau sholat dhuha, Ustaz” Aku mencoba bangkit untuk kedua kalinya, Ustaz Ali mengamatiku dari
kursinya.
Aku
terduduk di tempat tidur dengan kaki yang masih terlonjor, Mencoba untuk
berdiri. “Alhamdullilah, kamu sudah dapat berdiri! Ustaz Ali mengekor dari
belakang mengikutiku mengambil air wudhu dikamar mandi dalam ruang UKS.
“Allahu
Akbar” Ucapku saat memulai solat setelah mukena Aku pakai dan sajadah terhampar
dihadapanku.
Jiwaku
terasa damai, sejuk disekujur rasa, kugenggam cinta illahi dan kureguk keelokan
nikmatnya dalam sujud terakhirku. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Ustaz
Ali melihatku saat menengok salam, ia menundukan kepala saat melihat wajah ini.
“Kleek..”
Pintu UKS terbuka, datang beberapa temanku dari asrama Fatimah.
Mereka
ingin mengetahui keadaanku. “Ara, gimana keadaanmu? Tanya Susi khawatir.” Aku
mulai merapihkan sajadah panjang yang terhampar lalu kulipat mukena.
“Ara
kenapa gak istirahat aja sih, muka Ara masih pucat! Sahut Fitri yang ikut
khawatir dengan keadaanku.”
Sebuah
senyuman terbaik yang dapat kuberikan untuk semua orang yang mengkhawatirkan
keadaanku.
Beberapa
anak Fatimah yang menengokku di ruang UKS menundukkan kepala saat mengetahui
Ustaz Ali menjagaku selama terjaga tak sadarkan diri.
“Aku
mau balik ke asrama! Ujarku kepada Susi, Fitri dan beberapa anak Fatimah yang
ikut menengokku.”
“Ustaz
Ali, terima kasih ya atas perhatiannya! Ucapku saat meninggalkan UKS.”
Aku
berjalan bersama dengan teman yang sangat perhatian terhadapku menuju asrama
Fatimah, Ustaz Ali menatap kepergianku dari ruang UKS.
“Keelokan
wajah yang tak dapat kugambarkan kesempurnaannya, tak perlu sentuhan warna untuk
menambah keindahan yang ia miliki, meskipun indahnya pudar akibat kerapuhan
yang dirasakan namun ranum eloknya tak mengubah rasa yang ada pada diriku!
Batin Ustaz Ali mengagumi keindahan Ara sebagai seorang wanita.”
Bab 7
Mahkamah Bahasa
“Awas
ada spy lewat, kita harus berhati-hati kalo berada di dekat mereka? Bisik Shaila
pelan.”
Aku
terdiam saat sosoknya berlalu di hadapan kami, walaupun ia teman satu asrama
namun tak menutup kemungkinan ia akan menjerumuskan Aku atau temannya sendiri
untuk menjadi target sasaran mahkamah bahasa.
Menurut
cerita yang kudengar, katanya hukuman terdakwa mahkamah bahasa sungguh sangat
mengerikan. Entah apa yang membuatnya seram.. Aku pun tak tau karena Aku belum
pernah berada di sana. Teman sekamarku pun belum pernah ada yang masuk ruang
sidang bahasa tersebut.
Di
asrama Fatimah hanya seorang saja yang pernah masuk kena hukuman mahkamah
bahasa selama dua bulan Aku berada dipesantren ini, ia bernama Dita. Dita memang nakal apalagi dalam berkomunikasi
ia jarang sekali mematuhi aturan yang telah diterapkan terutama soal penggunaan
bahasa dalam komunikasi sehari-hari.
Dipesantren
ini kami diwajibkan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris
tentu saja jika kosa kata tersebut telah diberikan oleh kakak pembina saat
pelajaran muhadasah tiap paginya setelah solat subuh. Seluruh santriwati
diwajibkan seminggu menggunakan Bahasa Arab, seminggu kemudian Bahasa Inggris
dalam berkomunikasi. Intinya selang sepekan bahasa harus ganti.
Dita
memang anak yang dapat dikatakan sedikit nakal, mungkin yang menyebabkan ia
seperti itu karena pola asuh orangtuanya yang terlalu sibuk bekerja diluar
rumah dahulu. Ibu Dita bekerja sebagai seorang sekertaris diperusahaan yang
cukup bonafit sementara Ayah Dita adalah seorang pengacara, mereka hanya
mempunyai waktu sebulan sekali untuk menjenguk sang anak yang saat ini berada
di pesantren. Orangtuanya sengaja memasukan Dita ke mahad agar ia dapat lebih
terkontrol dari pergaulan diluar sekolah yang saat ini memang cukup berbahaya.
Kakak
gengdanger banyak yang kesel dengan kelakuan Dita, menurutnya Dita adalah anak
baru yang belagu dan sombong sehingga ia sering dikerjain oleh mereka. meskipun
demikian bukan Dita sahabat yang kukenal kalo ia mudah menyerah apalagi gentar
menghadapi perlakuan gengdanger.
“Dita,
sini loe? Panggil salah satu kakak gengdanger saat melihat Dita melintasi
asrama Aisyah ketika hendak mengambil makan malam di dapur pesantren.”
Aku
yang bersama Dita saat itu bersama menuju ke dapur bergegas menghampiri mereka.
“Ada apa, Kak? Jawab Dita.” Aku mengekor dibelakang tubuh Dita.
Salah
seorang kakak gengdanger mengulurkan sebuah piring plastik ceper. “Tolong ya,
loe ambilin kita nasi serta lauknya untuk makan malam!”
Dita
terdiam mendengar perintah kakak gengdanger. “Maaf ya, Kakak kan punya kaki
seharusnya ambil aja sendiri bukannya menyuruh Adik kelasnya yang lewat! Ujar Dita
dengan berani lalu berjalan meninggalkan dua orang yang ada dihadapannya” Aku
bergegas berlalu dari pandangannya mereka mengikuti jejak Dita.
“Dita,
kamu gak takut dengan mereka? Tanyaku sambil berjalan kecil menuju dapur.”
Dita
terlihat diam dan masih dengan gaya khasnya ia berjalan seolah tanpa memikirkan
masalah tadi, namun isi dikepalanya Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan.
“Sudahlah
Ara gak perlu dipermasalahkan, biarin aja sekali-kali kita harus berani dengan
kakak senior! Ujar Dita dengan melenggang santai menuju dapur.”
***
“Braak…”
sebuah pintu kamar terdobrak dengan kuat, seluruh menghuni kamar satu kaget
melihat kemunculan empat orang kakak gengdanger yang berdiri di depan mereka.
“Bruuught”
Dita terhempas jatuh ke lantai saat kakak gengdanger mendorong tubuh kurusnya.
Ia terduduk mengamati kakak dihadapannya.
Salah
seorang kakak gengdanger menutup pintu kamar satu lalu seorang dari mereka
berdiri diluar kamar mengamati situasi. Anak asrama Fatimah yang lalu lalang di
depan kamar satu sepulang makan malam dari dapur berjalan tanpa melihat ke arah
mereka. suasana nampak hening beberapa saat setelah kepergian kakak gengdanger.
“Dita,
mereka ngapain kamu? Tanya beberapa anak asrama Fatimah yang bergerombol
menggerumuti Dita.”
Dita
terdiam, ia hanya terlihat sesekali tersenyum meskipun nampak terpaksa.
“Santai
aja kali, gue gak di apa-apain kok”
“Masa
sih, kok lama banget gengdanger di dalam kamarnya? Sahut anak Fatimah yang
ingin tau ceritanya.”
Mira
dengan beberapa anak dari kamar lima melaporkan peristiwa tersebut kepada Kak Iyah
–pembina asrama Fatimah- hingga suasana semakin runyem.
“Dita,
kamu dipanggil Kak Iyah? Mira menghampiri Dita yang terduduk di tempat
tidurnya.”
“A..ah..
emang ada apa, kok dipanggil? Tanya Dita balik.”
“Biar
kakak gengdanger gak bisa semena-mena dengan kita anak baru, bisa nyuruh
seenaknya!”
Dita
terlihat gontai berjalan ke kamar Kak Iyah di satu kamar tengah ruangan utama
Fatimah. Seluruh mata tertuju padanya saat ia mulai memasuki ruangan tersebut
dan pintu terkunci dari dalam, obrolan empat mata yang nampak serius.
“Tega
banget sih mereka, benaran sikap mereka seperti itu kepada Dita? Tanyaku dengan
anak kamar satu dan beberapa anak Fatimah yang ingin tau kronologis ceritanya.”
“Tadi kan yang ada dikamar ini cuma Dita
dengan kakak gengdanger, tapi peristiwa awal mereka seperti itu kejadiannya. Mereka mendobrak pintu lalu
mendorong tubuh Dita hingga terjatuh kemudian kami seluruh temannya yang berada
dikamar di suruh keluar oleh mereka! Cerita Ira salah seorang teman Dita satu kamar.”
Seluruh
anak yang berkerumul dikamar satu terdiam sesaat, mereka nampak memikirkan
kelanjutan peristiwa yang menimpa Dita di dalam kamar setelah seluruh
penghuninya di suruh keluar semua, hingga Dita dengan kakak gengdanger yang
berada di dalamnya dengan saksi suasana keheningan malam yang memilukan saat
itu.
Dita
keluar dari kamar Kak Iyah sejam kemudian, kami pun mengekor dari belakang
menuju kamar Dita.
“Dit,
dikamar Kak Iyah di apain? Tanya beberapa anak yang ingin mengetahui kelanjutan
permasalahannya.”
Dita
tetap terdiam, ranum wajahnya tampak gusar. Membisu merupakan langkah yang ia
pilih untuk menyelesaikan persoalan dihadapannya.
Kak
Iyah keluar dari kamarnya. “Anak Fatimah ayo cepat tidur, besok pagi kalian
harus bangun untuk solat tahajut! Kata Kak Iyah dengan intonasi tinggi hingga
suaranya menggelengar dari tiap ujung asrama.”
Seluruh
anak Fatimah masuk ke kamarnya masing-masing, kini suasana sunyi menyeliputi
asrama hingga hanya terdengar suara jangkring malam yang bergelayutan di udara.
***
Ditengah lapangan hijau dengan terik matahari yang
sedang bercahaya, empat orang santriwati berdiri dibawahnya. Mereka berdiri
masih menggunakan baju seragam sekolah aliyah pandangannya nampak tertunduk
agar terhalau dari sinar yang membuat pandanganya terlihat berbayang. Kedua
tangannya di kebelakangkan sementara santriwati lain lalu lalang di depannya
setelah mereka pulang dari madrasah.
Entah
perasaan apa yang muncul ketika melihat mereka dihukum, dipermaluan seperti itu
hingga seluruh mahad tau apa yang telah ia perbuat.
Kabar
burung yang terlintas di segelintingan santriwati adalah kakak gengdanger memukul
Dita di sekujur badannya, ia bahkan tega menendangnya hanya karena Dita tidak
mau memenuhi permintaannya untuk mengambilkan makan malam di dapur. Padahal
jelas pengumuman di sudut dapur sebelum mengambil makanan “Tidak boleh makanan di ambilin kecuali santriwati yang sakit”. Peraturan
dibuat untuk dipatuhi agar kami belajar disiplin dan tertib hingga bisa
memanfaatkan waktu sebaik mungkin, peraturan yang di buat bukanlah untuk
dilanggar karena itu kita harus siap dengan konsekuensi apa pun dari sikap yang
telah di ambil.
Istilah
senior atau junior dalam urusan kelas merupakan sebutan untuk manusia semata
karena sesungguhnya andaikan Aku jadi kakak senior pun, sikapku tak akan
seperti itu. Membedakan antara santriwati baru dengan santriwati lama sehingga
muncul rasa sombong dalam diri bahwa Aku lebih hebat dari kalian.
***
Berlanjut kepada mahkamah bahasa, kakak gengdanger
sering sekali bolak-balik masuk ke dalamnya karena ia sering sekali tidak
mematuhi aturan yang berlaku di mahad ini. Menurut mereka peraturan dibuat
untuk dilanggar itulah sebabnya kenapa 4 orang personil gengdanger sering kena
mahkamah bahasa, mereka jarang menggunakan 2 bahasa wajib yang diharuskan dari
mahad secara bergilir tiap pekannya yaitu Bahasa Arab dengan Bahasa Inggris.
Nama
4 orang personil gengdanger yang terkenal galak serta nakal selama dipesantren adalah
Kak Aulia, Kak Anjel, Kak Eni, dan Kak Zakiya.
Sebersit
kabar yang belum diketahui kebenaranya Kak Zakiya menaruh hati dengan Ustaz Ali,
makanya sering terlihat ia mendekati Ustaz Ali dikantor madrasah hanya sekedar
untuk bertanya tentang pelajaran ilmu fiqih padahal anak kelas tiga aliyah guru
mata pelajaran tersebut bukanlah Ustaz Ali.
Setiap
orang yang pernah masuk mahkamah bahasa biasanya mendapat julukan spy karena ia adalah mata-mata yang
sedang mencari mangsa untuk menjadi target sasaran berikutnya.
Dita
kena mahkamah bahasa kemungkinan yang menyebabkan ia masuk ke dalamnya adalah
akibat ulah kakak gengdanger yang mencatat khilafannya saat lupa berbahasa yang
tidak sesuai dengan aturan yang ada di mahad ini. Contohnya, saat pekan ini
diwajibkan menggunakan Bahasa Arab maka kita harus berbicara bahasa tersebut.
“Sebutan Saya diganti dengan Ana, Kamu menggunakan Anti –istilah kamu untuk
anak perempuan- begitupula selanjutnya bila kosa kata bahasa tersebut sudah di
ajarkan oleh kakak pembina saat pelajaran muhadasah tiap paginya usai sholat
subuh di aula.”
Sekarang
rabu malam itu berarti tepat akan di umumkan siapa santriwati yang akan masuk
mahkamah bahasa. Pengumuman di informasikan seusai solat isya berjama’ah di
aula mahad.
Beberapa
santriwati baru dari anak Fatimah disebutkan yang masuk mahkamah bahasa dan
salah satunya adalah namaku “Maratus Soleha” Denyut nadiku melesat dengan
cepatnya, nafas ini seolah berhenti sejenak.
Duniaku
runtuh seketika saat namaku mengeleggar di udara dalam alunan kata yang di
ucapkan oleh kakak osis mahad.
“Kepada
yang namanya tadi disebutkan, harap berkumpul jam 20.00 malam di kelas 3b
madrasah aliyah! Ucap Kakak Osis mengakhiri pengumuman.”
Serentak
santriwati yang berada di aula bergegas menuju asrama masing-masing. langkahku
terasa berat menapaki jejak menuju Fatimah, dadaku nyesek banget mendengar
namaku masuk dalam mahkamah bahasa. “Hukuman berat pasti menanti dihadapku,
tapi kapan Aku gak bicara menggunakan bahasa yang diwajibkan, siapa spy yang tega mencatatku hingga membuat
Aku terperosok dalam mahkamah bahasa! Gumanku dari tadi sembari menapaki
langkahku yang mulai terasa berat.”
Aku
mulai memasuki Kamar 14, kuletakkan mukena dengan bawahannya yang Aku pakai. Lalu
duduk bersandar di tempat tidur punya Shaila dibawah tangga.
“Kamu
kenapa Ara? Tanya Rohmah yang lagi datang bulan hingga tidak mendengar
pengumuman mahkamah bahasa.”
Aku
diam tak menjawab pertanyaan yang Rohmah ucapkan, letih kurasa di sekujur badan
serta tak bersemangat malam dalam gulana hari ini.
“Sudah
Ara jangan sedih, Aku juga masuk mahkamah bahasa kok. Jadi kamu gak sendiri
dapat hukumannya! Kata Susi saat melihatku duduk dalam gelisah yang terpancar
dari rona paras.”
Jantungku
semakin cepat berlari. “A..ara takut Susi, kita mau dihukum apa ya? Tanyaku
pelan.”
Susi
juga ikut terdiam, ia merenungi apa yang kutanyakan.
Ia
menarik tanganku keluar kamar, Rohmah bingung menyaksikan sikap kami berdua,
menyelusuri lorong kecil dalam asrama hingga berbelok masuk ke kamar satu.
“Dita?
Panggil Susi”
Dita
kaget saat kami berdua berdiri di depannya tiba-tiba. “Kamu catat nama kami ya?
Kata Susi kemudian.”
Aku
terdiam memandang sahabat atau musuh yang kemungkinan ada dihadapanku.
“A..na!
Tanya Dita.”
“Anti
kolam ismi ana fii mahkamah, shohih la? –kamu nulis nama Saya di mahkamah,
benar gak? Tanya Susi tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.”
Air
mataku mulai terasa mengalir dipipi, dua orang sahabatku kini berdebat di
depanku.
“La,
ana la kolam anti, shohih –tidak, Aku tak menulis namamu, benar- ? Ujar Dita.”
“Kholas
–sudah-! Ira mencoba menenangkan.”
Aku
menarik tangan Susi keluar ruangan, kutarik tangannya hingga ke kamar 14. Susi
masih kesal dengan Dita atas pertanyaannya yang belum sempat ia jawab.
“Sudah,
Susi sebaiknya kita bersiap sebentar lagi jam 8 malam! Kataku mencoba
menenangkan pikiran kalut di hati sahabatku tersebut.”
Segelas
air putih Aku berikan kepada Susi yang duduk di tempat tidur Rohmah. Penghuni
kamar 14 terpaku menyaksikan sahabatku yang sedang kesal dalam kebisuan.
Beberapa
saat kemudian, beberapa anak Fatimah yang tadi disebutkan namanya mulai
berhamburan menuju ruangan di madrasah aliyah tempat mahkamah bahasa di mulai.
Kurang
lebih 20 santriwati masuk mahkamah bahasa, kami duduk dikursi seperti murid
pada umumnya yang sedang menunggu pengarahan sang guru.
Sebuah
meja di depannya dengan seluruh kakak osis berada di sebelahnya. Mereka
memanggil nama kami satu-persatu.
“Maratus
Soleha” Aku berjalan ke depan menuju meja tempat kakak osis berada.
Kugeser
kursi lalu Aku mulai duduk di hadapan seorang kakak osis yang berada di
depanku. Mataku bertemu dengannya. Rasa ini semakin tak menentu…berdebar-debar
atas kesalahan yang Aku tak tau karena apa.
“Ara,
tau gak kenapa di panggil disini? Tanyanya ramah.”
Aku
menggelengkan kepala. “Ara tau bahasa arabnya, terima kasih? Tanyanya sesaat
kemudian.”
“Arif,
yauti! Sukron –Tau, Kak! terima kasih- ? Tanyaku bingung.”
Kakak
tersebut tersenyum. “Ara lupa mengucapkan Bahasa Arab terima kasih? Ia
mengeluarkan sebuah kertas kecil yang bertulisan tanggal, hari, serta bahasa
yang Aku gunakan.”
Aku
mencoba mengingat kembali peristiwa tersebut, memoriku kembali berputar menuju
hari kemarin. Ternyata memang benar.. Aku lupa mengucapkan Bahasa Arab terima
kasih dalam pembicaraanku sepulang sekolah umum sore hari empat hari yang lalu.
“Minggu
depan, Ara catat nama teman yang tidak berkomunikasi dalam Bahasa Arab ya terus
catatanya wajib dikasih ke kakak osis sehari sebelum mahkamah bahasa! Ucapnya
sambil memberikan selembar kertas.”
Aku
mengambil secarik kertas tersebut. “Kalo Aku gak dapat orangnya gimana, Kak?
Tanyaku dengan kepala tertunduk.”
“Masa
sih, gak ada? Sahut kakak osis yang berdiri di sampingnya, nadanya terlihat
ketus kepadanya.”
Aku
terdiam meskipun rasa ini sebel juga dengan ucapannya.
“Sekarang
Ara lari kelilingin lapangan 15 kali ya sebagai hukumannya, setelah itu kamu
boleh balik ke asrama! Ucap kakak dihadapanku.”
Aku
mengekor salah seorang kakak osis yang berjalan di depanku. Sesampainya dilapangan
yang menurutku cukup luas, Aku berlari hingga 15 kali putaran, napasku
terenggah-engah. beberapa santriwati sebelumku juga ada yang sedang berputar
mengeliling lapangan.
Malam
berputar terasa cepat, sepanjang jalur lapangan berbentuk persegi empat yang Aku
putari, otakku pun ikut berlari memikirkan siapa target sasaran yang harus tega
kutulis namanya sehingga ia akan mengikuti jejak langkahku saat ini.
Bab 8
Busur Panah Keberanian
“Ali”
sebuah panggilan menyadarkan lamunanku.
Ketengok
arah suara yang amat kukenal. “Ada apa, Abi?”
Abi
menghampiri ketempat dudukku di teras belakang rumah, suasana malam dengan
hembusan udara dingin.
“Abi
perhatikan ada yang sedang menganjal pikiranmu, apa kamu mau berbagi masalahmu
ini dengan Ayah? Tanya Sang Abi.”
Ali
hanya sesekali terlihat tersenyum. “Apa kamu sudah menemukan pasangan dunia
akhiratmu? Lanjut pertanyaan Abi.”
Satu
anggukan dari Ali menyiratkan berjuta makna yang ia rasakan meskipun tak di
ungkapan.
“Siapa
wanita itu, anakku?”
“Abi
sudah mengenalnya, cuma untuk saat ini Ali memang belum mengutarakan isi hati
yang Ali rasa kepadanya. Ali malu Abi? Ucap Ali tertunduk.”
Sang
Abi mengeser kursi disamping Ali lalu ia duduk di sebelahnya.
Sebuah
buku berjudul : don’t be sad, karya DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA tepat
berada di depan Ali. Rupanya tadi sang anak telah membaca buku tersebut.
“Apa
yang membuatmu gusar, anakku sampai kau membaca buku tersebut?”
Ali
terdiam sesaat. “Entahlah Abi, Ali juga bingung dengan apa yang kurasa dihati
ini? Jawab Ali mengutarakan kebimbangannya.”
“Apa
kamu sudah solat istikharah untuk pilihanmu itu? Lanjut Abi kembali.”
“Sudah
Abi, setelah Ali beberapa kali melaksanakan solat istikharah perasaan Ali
semakin erat kepada wanita tersebut?”
Sang
Abi penasaran dengan sosok wanita yang telah merebut hati anaknya. “Siapa
wanita itu, anakku? Tanya Abi penasaran.”
“Abi
sudah mengenalnya?”
Abi
terdiam memikirkan ucapan Ali. “Siapa? Tanya Abi ingin mengetahui namanya.”
“Dia
santriwati di pesantren tempat Ali mengajar, Abi! Jawab Ali.”
“Siapa?”
Ali
menundukan matanya saat ia menyebutkan nama wanita yang telah merebut rasa
serta waktu dipikirannya.
“Maratus
Soleha”
Sang
Abi tersenyum. “Owh, Ara. Itu sih anak teman Abi Pak Ahmad waktu kami sama-sama
masih kuliah, kapan kamu mau menyatakan rasa kepada wanita yang telah mencuri
rasa di jiwamu? Tanya Sang Abi, ranum mukanya terpancar secercah kebahagiaan.”
“Ali
belum tau kapan, Abi karena sekarang Ara masih kelas 1 madrasah aliyah? Ucap Ali
ragu.”
Abi
terdiam sesaat. “Ali menikah itu bukan halangan bagi calon istrimu untuk menuntut ilmu atau berkarir andaikan engkau
sebagai pemimpin keluarga dapat memberi pengarahan istrimu dengan baik! Sang
Abi menasehati anaknya.”
“Maksud
Abi?”
Abi
tersenyum menatap anaknya yang ingin mengenal asam garam dunia pengalaman Sang
Ayah.
“Ungkapanlah
dahulu isi hatimu kepada Ara, baru kau akan bisa menilai sejauh mana ia
merespon perasaanmu? Abi tersenyum lalu berdiri dari kursi tempat duduknya.”
“Abi
akan bantu kamu berbicara kepada Pak Ahmad kalo kamu suka kepada anaknya! Abi
mengelus pundak Ali lalu berlalu menuju ke dalam rumah.”
Ali
terdiam merasakan perasaannya yang tak menentu, hembusan angin membawa rasanya
ke berbagai penjuru seperti itulah ia malam ini, keheningan gulana dalam
pantulan sinar bintang tetap tak dapat membuat matanya terpejam walau sesaat,
ketika mata ini berusaha untuk dipejamkan sosok Ara seolah menari dalam
pikirannya.
Ia
mulai melanjutkan membuka buku yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Sang
Abi. Daftar isi dari buku don’t be sad mulai kubaca, terdapat sebuah tema yang
menarik dari judul yang terdapat di halaman 314 yaitu mengenai cinta sejati.
Rasa
yang haus akan kehadiran cinta sejati di sisiku membuatku memilih bab ini untuk
kubaca terlebih dahulu, secangkir wedang jahe hangat setia menemani Aku di
kesendirian malam ini.
“Cinta
Sejati”
Untuk mendapatkan kebahagian sejati, anda harus
menjadi orang yang mencintai Allah. Orang yang paling berbahagia adalah orang
yang misi hidupnya adalah untuk meraih cinta Allah, yaitu cinta yang Allah
maksudkan dalam ayat ini :
“Maka kelak Allah
akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintai-Nya” (al-maidah : 54)
“Katakanlah : jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu” (ali imran : 31)
Rosullulah saw mengumumkan kepada semua orang untuk
mengetahui jasa luar biasa Ali ra, sebuah kebalikan yang bagaikan mahkota di
atas kepalanya : rosullulah mengambarkannya sebagai laki-laki.
“Yang
mencintai Allah dan rosul-Nya, dan yang Allah serta rosul-Nya cintai.”
Salah seorang sahabat rosullulah saw
sangat menyukai ayat al quran berikut ini : “Katakanlah,
dialah Allah yang maha esa” (al-ikhlas : 1 )
Dia
selalu membacanya dalam setiap raka’at shalat dan ia pun terus membacanya di
waktu-waktu lain supaya bisa memberikan nuansa kedamaian dan ketenangan pada
hati dan jiwanya. Rosullulah saw bersabda :
“Cintamu kepada-Nya
itulah yang membawamu masuk surga.”
Saya
temukan beberapa bait berikut dalam sebuah biografi ulama islam :
Jika
cinta berkelana pada Sulma dan Laila,
Bisa
mencabut pemikiran dan kemampuan berpikir,
Lantas
apa kira-kira kondisinya
Bagi
dia yang hatinya berdenyut
Untuk
kehidupan yang lebih mulia
“Orang-orang
yahudi dan nasrani mengatakan : “Kami ini adalah anak-anak Allah dan
kekasih-Nya.” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu akan dosa-dosamu?”
(al-maidah : 18)
Kisah
cinta Majnun kepada Laila sangat terkenal. Cinta Majnun kepada Laila telah
membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Qarun dibunuh oleh cintanya kepada
kekayaan, dan Fir’aun dibunuh oleh cintanya kepada jabatan dan kekuasaan. Di
sisi lain, ada Hamzah, Ja’far dan Hanzalah (semoga Allah meridhoi mereka semua)
yang rela mati demi cintanya kepada Allah, dan utusan-Nya. Betapa besar
perbedaan yang memisahkan antara ketiga sabahat mulia ini dan orang-orang
beriman –dalam urusan cinta- dengan orang selain mereka.
Kututup
buku bacaan tersebut, Aku langkahkan kaki ini menuju dalam rumah dengan pikiran
yang masih berlari mengejar sosok wanita yang dari tadi terlintas dalam sebuah
rasa, air wudhu membasuh mukaku hingga mengantarkan jiwa ini terlelap di sebuah
pangkuan istirahat jasad sejenak.
***
Terik mentari semakin membumbung tinggi, gerah
berkeliaran menyelimuti keadaan lingkungan sekitar, awan nampak putih bersih
tanpa celah. Senyumku luntur meskipun cuaca hari ini menyejukan, hati ini
sedikit gusar ketika sosok orang yang kunanti berhadapan di depanku.
Ada
apa dengan rasa ini saat pandangan seorang wanita yang kukenal bersama dengan
Ustaz Ali, isu seputar Kak Zakiya menyukai Ustaz Ali mungkin harus diakui
kebenarannya meskipun hati adalah rahasia yang tak mungkin di nilai tanpa
lontaran yang terucap namun tingkah laku dapat menggambarkan rasa yang terdapat
di jiwa.
“Ara”
Tegur Susi yang melihatku terpana menyaksikan Kak Zakiya dengan Ustaz Ali
ngobrol di depan kantor madrasah saat jam istirahat.
Pandangaku
segera berganti melihat cahaya mentari yang terik di atas pepohonan hijau
lapangan kelas 1c.
“Iya
Susi, ada apa? Tanyaku sembari duduk di teras kelas bersama beberapa teman yang
lain.”
“Lagi
ngapain, Ara? Tegurnya.”
“Duduk
aja, memang kenapa? Tanyaku melirik ke arahnya.”
Susi
menarik tanganku. “Jangan duduk di depan pintu, nanti jauh jodoh” ia membawaku
ke dalam kelas lalu mengajakku duduk di kursi.
Aku
duduk sambil menyilangkan tangan lalu menyandarkan wajah ini pada meja belajar.
“Kamu
kenapa Ara, kok gak semangat banget kelihatannya? Tanya Susi.”
Ara
terdiam dalam kesunyian mentari pagi meskipun suasana kelas nampak ramai,
gemuruh di hatinya bergelegar entah mengapa bisa begitu… apakah karena cemburu
melihat Ustaz Ali dekat dengan Kak Zakiya tadi. Hanya rasa yang sanggup
mengungkapkannya meskipun yang termuntahkan adalah sebuah kepatungan rasa yang
tak dapat menuntut penjelasan.
“Ara”
Panggilan Susi membuyarkan selintas lamunan mengenai Kak Zakiya dengan Ustaz Ali.
“Ada
apa, Sus? Jawabku tak semangat.”
“Ara
nanti pulang madrasah aliyah anterin Aku ke saung pematang sawah sebentar ya? Pinta
Susi kepadaku.”
Aku
menatap wajah Susi disebelahku. “A..ah.. ngapain, nanti jam 1 siang kita kan
masuk sekolah umum, males tau mendingan istirahat di asrama?”
“Please..!
Pinta Susi kepadaku, wajahnya nampak serius.”
“Emang
ada apa di sana, Sus? Tanyaku penasaran.”
Susi
tersenyum pandangannya berganti sudut. “Pokoknya ada deh, intinya Ara anterin Aku
aja”
Belpun
berdentang menandakan akhir istirahat telah usai, kamipun belajar seperti biasa
setelah pendidik memasuki ruangan.
***
Jalan setapak tak jauh dari asrama Fatimah membawaku
menyelusuri pematang sawah. Mengingatkan memori lama mengenai awal pertemuan
pertamaku dengan Ustaz Ali. Saung bambu mulai terlihat dari langkah kaki ini.
“Ngapain
kita ke saung, Sus? Tanyaku berkali-kali kepadanya.”
Susi
tetap diam seribu bahasa, membuatku makin penasaran. “Sudah pokoknya ikut aja”
seorang lelaki ada di dalam saung meskipun wajahnya belum jelas terlihat.
Semakin
dekatnya langkah ini ke saung, sosok wajahnya akrab denganku. Ia adalah Ustaz Ali.
Debaran jantungku semakin tak menentu, Ustaz Ali memandang kedatangan kami.
“Susi
kenapa ada Ustaz Ali? Tanyaku menarik tangan Susi sebelum ke saung bambu.”
“Huuussh..”
Ia memintaku tak banyak bertanya, Aku ikuti Susi hingga akhirnya kami bertiga
duduk di saung dengan nuasa padi yang menari di udara.
“Sukron,
Susi! Kata Ustaz Ali.” Susi tersenyum menjawab pertanyaan seseorang
dihadapannya.
Aku
duduk di pinggir saung begitupula dengan Susi dan Ustaz Ali.
Ustaz
Ali terlihat mengatur napasnya lalu ia berdiri di depan Ara, Susi terdiam dalam
kebisuanya.
“Ara!
Ucap Ustaz Ali menyebut namaku.”
Aku
tersentak kaget, ternyata Ustaz Ali ada keperluan dengan Aku bukan Susi.
“Iya
Ustaz! Jawabku pandangan ini perlahan mulai tertunduk.”
Ustaz
Ali berdiri tepat dihadapanku, pandanganya kini tertuju pada orang-orangan sawah
yang sedang mengusir belalang serta burung yang hinggap di padi.
Ia
sesekali terlihat menghela napas. “Ada apa, Ustaz? Tanyaku ragu.”
Suasana
nampak hening sesaat ketika Ustaz Ali terlihat mengatur kata.
“Maaf
Ara sebelumnya” Ustaz Ali berkata dengan sopan. Aku mulai gelisah menunggu
kepentingan yang ingin ia tanyakan kepadaku.
“Afwan
limaza, Ustaz Ali –maaf kenapa, Ustaz Ali-? Tanya Ara bingung, debaran
jantungnya semakin tak menentu.”
“Sa..saya..
suka dengan kamu Ara dari awal kita berjumpa ditempat ini pertama kali” Ustaz Ali
membuka pembicaraan pertamanya, hembusan angin segar menyela sisi hatiku. Ara
semakin menundukkan pandangan.
“Di
islam tidak ada istilah pacaran yang Saya tau, jika kamu berkenan Saya ingin
mengkhitbah Ara kepada orangtuamu! Lanjut perkataan Ustaz Ali, Susi tersenyum
mendengarkan keberanian lelaki dihadapannya mengakui rasa yang ia harapkan.”
Ara
terdiam, ia bingung harus berkata apa atas lontaran pertanyaan yang ditujuan
kepadanya.
“Tapi
Aku masih sekolah Ustaz, Ara masih kelas 1 SMU! Sebuah jawaban yang singkat
dari Ara terucap.”
Ustaz
Ali terlihat menarik nafas perlahan. “Iya Saya tau, semua keputusan ada
ditangan Ara, Saya siap akan segala konsekuensinya.”
“Maksud
Ustaz? Tanyaku tetap dengan kepala tertunduk.”
“Saya
hanya ingin mengungkapkan rasa yang saat ini terus menghantuiku, andaikan kamu
menerima lamaran Saya, Saya tidak akan menghalangi kamu untuk terus menuntut
ilmu dan mengejar semua impianmu asalkan pasanganku masih mengetahui kode etik
tugas utamanya sebagai seorang wanita! Ustaz Ali mulai berani dengan lantang
menjabarkan isi hatinya yang saat ini perlahan sudah mulai terlepas dari beban
beratnya.”
Ara
terdiam dalam kebisuannya, ia malu untuk mengutarakan apa yang ingin dijawabnya.
Ali
sesekali memandang ranum keelokan paras Ara yang terpancar, ia mengalihkan
pandanganya saat Ara melihatnya.
Susi
tersenyum bagai mentari yang menyinari siang dengan terik di jiwanya, ia tetap
membisu di antara ketiga insan yang terdiam.
Bab 9
Jeritan Terpendam
Dibukit belakang asrama yang berbatu, Ara, Susi, dan
Shaila duduk berjejer. Mereka menikmati udara hening nan lembut. Langit yang
biru langsat, memperindah suasana. Burung-burung kecil menari lepas ditaman
langit. Awan tampak putih jernih tanpa mendung. Alam membentang seakan tanpa
batas. Mereka menatap ke depan penuh hasrat.
“Ustaz
Ali serius ingin menikahimu, Ara?”
Aku
terdiam dalam keheningan suasana sekitar.
“Apa
pilihanmu, Ara? Sahut Shaila.”
Dari
seluruh santriwati penghuni asrama Fatimah, hanya anak kamar 14 saja yang
mengetahui bahwa Ustaz Ali mengutarakan perasaannya.
“Menurutmu
apa yang harus kulakukan, Aku kan masih sekolah. Bagaimana cara Aku bercerita
tentang Ustaz Ali kepada Umi dan Abi saat esok kedatangan mereka ke mahad ini
untuk menjengukku? Sebuah pertanyaan Ara ajukan kepada 2 orang sahabatnya.”
Suasana
menjadi hening seketika.
“Kalo
Aku jadi kamu Aku akan berpikir beribu kali, Ara?”
“Maksudmu
apa, Sus? Tanyaku.”
“Aku
akan melihat bagaimana cara calon suamiku meyakinkan cintanya kepadaku? Lanjut
Susi bercerita.”
“Cinta
menurutmu apa, Sus? Tanya Ara kemudian.”
“Cinta
sebuah alunan tulus suci tanpa sebuah tuntutan, itulah wujud cinta karena
mengharapakan ridho Sang Illahi! Sahut Shaila ditengah obrolan.”
“Aku
terlalu buta dengan yang namanya cinta, andaikan cinta itu menyapa sebelum
saatnya Aku hanya akan tersenyum bak mentari menyambut kehadirannya di sisiku”
“Kamu
harus menentukan pilihan, Ara. Cinta memang datang secara tiba-tiba namun ia
tak akan mempunyai kesempatan untuk ke dua kalinya! Ujar Susi.”
“Setiap
manusia pasti memiliki pasangan hanya waktunya saja yang belum menjemput? Jawab
Ara.”
“Sebenarnya
Aku menginginkan cinta yang menggebu agar hubunganku terasa lebih indah! Lanjut
Ara kemudian.”
“Cinta
yang menggebu? Kata Shaila dan Susi serentak.”
“Iya”
kataku disertai sebuah anggukan kepala.
“Cinta
yang bergejolak penuh hasrat maksudmu, Ara? Tanya Susi.”
“Hati-hati
dengan cinta seperti itu, saudaraku! Sambar Shaila ditengah-tengah ucapan Susi.”
Aku
memandang dua orang sahabatku yang duduk berjejer bersama. “Kalian kenapa, kok
ngelihatin Aku begitu? Tanyaku kepada mereka.”
Shaila
menghela napas panjang. “Aku punya pengalaman buruk mengenai cinta menggebu
penuh hasrat? Shaila terdiam sesaat setelah berucap.”
Pandangan
kami berdua tertuju kepada Shaila. Tatapannya terlihat sendu seketika.
“Ada
apa Shaila? Kataku penuh tanya.”
Air
matanya meluncur hingga terjatuh di pipi. Isak tangisnya mulai meledak meskipun
tertahan oleh rasa yang tak dapat dilupakan.
“Hiiiks…
hiiiks..” suasana seolah menjerit keindahan sore mereka bertiga.
Aku
dan Susi memeluk Shaila dalam dekapan kasih. “Ada apa, Shaila? Susi memulai
pembicaraan untuk meneduhkan jiwa yang telah menjerit.”
“A..aku..”
Shaila berhenti bercerita, sebuah beban berat mendera hatinya.
“A..
aku malu berbagi aib ini kepada kalian, Aku takut rahasia ini terbongkar!
Shaila berucap walaupun untaian katanya terputus-putus.”
Kami
berdua terpaku dalam kebingungan melihat Shaila menangis mengingat hal buruk
yang pernah menimpanya.
Isak
deraian air mata Shaila terhenti tak lama setelah ia mulai berbagi kisah dengan
kami.
“Janji
kalian tidak akan membuka aib yang akan kuceritakan? Shaila menanti sebuah
janji yang kami ucapkan.”
“Kami
janji, Shaila tidak akan memberitahu siapapun. Andaikan kau tidak percaya
dengan kami berdua lebihbaik simpanlah rahasiamu tanpa harus berbagi! Ucapku kepadanya
disertai anggukan dari Susi.”
Shaila
terdiam dalam sebuah memori menyakitkan yang berlalu dalam perjalanan hidupnya.
“Se..sebenarnya
Aku di sekolahkan dipesantren ini agar peristiwa dahulu tak terulang kembali,
sepenggal kisah kakak wanita satu-satunya yang amat kusayangi” Deraian air mata
Shaila kembali mengalir.
“Kakakku
mencintai seseorang dengan menggebu penuh hasrat yang bergelora, ia berharap
hubungannya akan dibawa ke sebuah lembaga pernikahan oleh pujaan hatinya, ia
seorang wanita yang cantik, keanggunannya laksana bidadari, rambut panjang
hitam tebal terurai dengan tubuh ideal serta muka oval mulus tanpa jerawat.
Setiap kaum adam yang melihat kakakku akan terperosok dalam keindahan dunia,
namun kakakku salah dalam memilih cinta hingga berakibat fatal seumur hidup
baginya! Shaila melanjutkan perkataannya.”
“Maksudmu
apa, Shaila? Tanya Susi yang tak paham dengan cerita Shaila.”
Pandangan
Shaila tertuju pada taman langit, terdapat dua ekor kupu-kupu menari dengan
indah dalam gulatan udara.
Mata
Shaila memang sudah tidak mengeluarkan air namun kepiluan jiwanya terpancar
pada wajah sendunya.
“Kakakku
bunuh diri, akibat ia telah dihamili oleh pasangan cinta menggebu penuh hasrat
yang amat ia sayangi. Lelaki brengsek itu tak mau bertanggung jawab atas
perbuatannya. Setelah keindahan tubuh kakakku habis ia hisap, laki-laki itu
pergi meninggalkan kakakku begitu saja! Shaila menutup mukanya dengan kedua
telapak tangannya, ia malu air matanya jatuh untuk kesekian kalinya dilihat
oleh dua orang sahabat baiknya tersebut.”
Suasana
berubah hening menjelang sore, sesuatu yang seharusnya bahagia karena esok
merupakan hari minggu. Dimana kami akan dijenguk oleh orangtua ataupun wali
berubah menjadi jeritan hati yang membuat pilu dua orang sahabat yang duduk
berjejer bersama Shaila.
***
“Kak
Ara” Suara Ibnu terngiang ditelingaku.
Sosok
keluarga yang kusayangi telah muncul dihadapanku, sebuah panggilan lewat
pengeras suara di kantor pesantren memanggil namaku “Maratus Soleha dari asrama
Fatimah ditunggu di kantor” Panggilan tersebut mengeleggar hingga seluruh
mahad.
Abiku
sedang berbincang dengan Pak Aswab saat langkah ini mulai menapaki kantor, Umi
dan Ibnu menungguku di sebuah kursi kayu panjang saat pertama kali kami ke
pesantren ini.
Ibnu
berlari ke arahku saat mengetahui kedatanganku. “Kak Ara” Suara Ibnu memecahkan
kerinduan saat ia memeluk tubuhku.
Ali
terlihat bersama Ayahnya berbicara dengan Abiku. Sebuah sungkem kuberikan
kepada kedua orangtuaku, lalu senyum terbaik kuberikan untuk Ustaz Ali dengan
Pak Aswab.
Umi
dan Ibnu mengajak Aku mencicipi makanan yang telah Umi buatkan dari rumah
untukku. Makanan kesukaanku yaitu ayam semur kecap dengan kerupuk udang.
“Yummy.. delicious” kusantap masakan Umi bersama Ibnu.
Abi
masih tetap serius dengan obrolannya bersama Pak Aswab dan Ustaz Ali. Sesekali
ia terlihat melirik ke arahku, meskipun pandangannya tak berani menatapku
secara langsung.
Umi
tak lupa menawari Pak Aswab serta Ustaz Ali untuk bersantap siang bersama namun
mereka menolaknya dengan lembut, obrolan mereka bertiga terlihat serius.
Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.
Beberapa
saat kemudian Abi menghampiri kursi kayu panjang yang kami duduki. Pak Aswab
dan Ustaz Ali mengikuti Abi berkumpul bersama kami.
Umi
tersenyum saat melihat Ustaz Ali. “Nak Ali, gak mau ikut makan bersama Ara?
Tanya Umiku kepadanya.”
Aku
mencolek tangan Umi. “Ara, Nak Ali ini dulu waktu kecil pernah nginap dirumah
Umi? Cerita Umi, Abi tersenyum memandangku yang sedang menyantap makanan
favorite yang Umi buatkan.”
“Kapan
Umi? Tanyaku tak percaya.”
Abi,
Umi serta Pak Aswab tertawa mendengar pertanyaanku. Ustaz Ali tertunduk malu,
wajahnya terlihat merah merona tanpa pewarna.
“Ara
pasti gak ingat karena waktu itu kamu masih kecil, Pak Aswab juga nginap
dirumah kita dengan mendiang Alm. Istrinya! Jawab Umi.”
Aku
terdiam mendengarkan penjelasan Umi, Abi menatap mataku. Pandanganku langsung
tertunduk saat dua bola tersebut melihat ke arahku.
Sebersit
tanya menari di kepalaku. “Apakah Ustaz Ali sudah menyatakan rasanya kepada
kedua orangtuaku” Aku berharap perjalananku di mahad ini akan baik-baik saja
meskipun cinta menyapaku di awal langkah kaki ini menuntut ilmu di sini.
Suasana
kantor semakin ramai dengan beberapa wali santriwati yang ikut menjenguk
anaknya. Aku mengajak Umi dan Ibnu untuk ke asrama Fatimah, Ibnu terlihat
lelah. Di kamarku Ibnu beristirahat sejenak.
Kami
tinggalkan Abi bersama Pak Aswab dengan Ustaz Ali di kantor.
Ibnu
langsung naik ke atas tempat tidur saat kami tiba dikamarku. Guling panjang
teman setia sepanjang malamku ini sudah berada dalam dekapan eratnya.
Aku
dan Umi duduk dipinggiran tempat tidur bawah milik Shaila, karena tempat tidur
Aku kebetulan berada di atas. Kasur kayu dibuat bertingkat untuk satu kamar
berjumlah 3 buah untuk kuota 6 orang santriwati.
Kamarku
terasa sunyi, seluruh penghuni sedang tidak ada di tempat. Hanya ada Ibnu yang
sudah tertidur pulas bersama Umi dan Aku.
Situasi
seperti inilah saat yang tepat untuk Aku bercerita dengan Umi mengenai Ustaz Ali
yang menyatakan rasa sukanya kepadaku.
“Ada
yang ingin Ara ceritakan ke Umi? Tanya Umi membaca pikiranku.”
Aku
tersendak kaget Umi mengetahui pikiranku. “Umi, Ara mau cerita sesuatu?
Kataku.”
“Mau
cerita apa, Sayang. Umi akan mendengarkan ceritamu? Umi mengelus rambutku yang
saat dikamar jilbab kubuka.”
“Ustaz
Ali bilang kalo dia suka dengan Ara? Ucapku tertunduk malu.”
Umi
tersenyum. “Umi sudah mengetahui hal tersebut!”
“Dari
mana Umi tau kalo Ustaz Ali suka dengan Ara? Tanyaku kaget.”
“Dua
hari yang lalu Pak Aswab menelpon Abi terus dia bilang kalo anaknya Ali suka
dengan Ara.”
“Lalu?
Tanyaku meminta jawaban Umi akan keputusan Abi.”
“Lalu
apa, Ara? Tanya Sang Umi balik karena kurang paham dengan pertanyaan anaknya.”
“Apa
kata Abi, Umi mengenai perasaan Ustaz Ali?”
“Sekarang
Ara kan masih kelas satu, masa Ara menikah muda, Ara kan pengen menyelesaikan
sekolah dulu terus kuliah dan bekerja? Lanjut ucapanku kepada Umi.”
“Abi
dan Umi sudah membicarakan hal ini kepada Pak Aswab, dan ia serta anaknya Ali
juga setuju dengan keputusan yang kita ambil bersama ini? Umi menceritakan
kronologis penyelesaian masalah yang mendera Ara.”
“Keputusan
bersama apa, Umi? Tanyaku kembali.”
“Menunggu
Ara menyelesaikan sekolahnya dulu dipesantren ini, baru setelah itu membicarakan
pernikahan. Alhamdullilah, Ali mengerti akan hal itu dan dia mau bersabar
menunggu 3 tahun berlalu Ara menyelesaikan sekolah dipesantren ini? Umi
menjelaskan.”
Ara
menghela napas, jiwanya kini sudah terasa sedikit lega atas kebimbangan yang
sudah berhari-hari menghantui malamnya di tiap tidurnya.
“Andaikan
Ara selama tiga tahun ke depan berubah pikiran, Pak Aswab dan Ali akan menerima
keputusan Ara dengan lapang dada? Lanjut perkataan Umi.”
“Maksud
Umi apa?”
Umi
menyisirkan rambutku yang panjang. “Ustaz Ali akan berbesar hati jika ternyata
selama 3 tahun ia menunggumu ternyata Allah tidak berkenan mempersatukan
kalian.”
Kupandang
wajah Umi, hatiku sedikit tenang saat ia berada di dekatku meskipun gulir waktu
mulai akan berlalu meninggalkan orang yang Aku kasihi.
Ibnu
terbangun dari tidurnya. “Umi! Panggilnya saat ia pertama kali bangun dari
lelapnya.”
Umi
berdiri melihat ke atas tempat tidurku dari kasur Shaila yang kami duduki. “Ibnu
kok tidurnya sebentar banget, kenapa Nak? Tanya Umi.”
Ibnu
menggaruk matanya dengan tangan. “Disini panas, Umi gak ada AC-nya? Kata Ibnu
polos.”
“Ibnu
mau tidur dirumah aja yang ada AC-nya, Umi? Renggek Ibnu melanjutkan
ucapannya.”
Aku
tersenyum mendengar ucapan Ibnu yang dengan polosnya tidak betah istirahat
dikamarku walaupun sejenak hanya karena di sini tidak ada AC seperti dirumah.
Apalagi Aku yang harus bertahan selama 3 tahun ke depan dengan kehidupan
seperti ini berlangsung tiap harinya.
Pukul
menunjukkan angka 3 sore lebih meskipun alunan gema azan belum bersahutan di
udara. Umi serta Ibnu bergegas meninggalkan asrama Fatimah menuju kantor
pesantren menghampiri Abi.
Saat
azan berkumandang mereka melaksanakan solat di aula pesantren secara berjama’ah
lalu seusai beribadah mereka harus merelakan pujaan hatinya kembali melanjutkan
menimba ilmu.
Lambaian
tangan dari orang yang kukasihi mengantarkan kepergian mereka, mobil Abi melaju
keluar pintu utama pesantren. Hatiku menjerit… “Jangan tinggalkan Aku sendiri”
meskipun tertahan di mulut tak dapat termuntahkan.
Bab 10
Peluk Penantian
“Kugengam surat
tersebut di dada.”
Beberapa
buku tertumpuk di atas meja kerja, terselip sebuah surat beramplop pink dari
sang pengirim sepulang madrasah aliyah. Aku amati lalu kusobek pinggir amplop
tersebut tanpa harus merusaknya saat penghujung malam menyerka jiwa yang sunyi.
Assalamualaikum
Dalam pikiranku
saat pertama melihat wajahmu, gemetar menyelusuri seluruh raga ini. Kagum akan
kesempurnaan yang telah Allah limpahkan untukmu, rasa ini semakin berkecamuk
saat senyum menawan itu berkembang di hadapanku.
Malu.. bimbang.. ragu..
saat kugoreskan pena menata rasa pada secarik kertas putih, Aku tak mengerti
akan perasaan yang hadir dalam jiwa ini. Maaf andaikan Aku hanya terpatung
ketika berhadapan langsung denganmu.
Perasaanku semakin
berlari memikirkanmu, entahlah apa yang membuatku seperti ini.. ia terus
menghantui malamku bersamamu. Aku hanya dapat terdiam memikirkan kebisuan rasa
yang terpendam.
Maafkan Aku.. membuatmu
harus menunggu selama tiga tahun tanpa sebuah kepastian, Allah mempunyai
rencana dibalik kejutan yang diberikan untuk hambanya yang sabar. Jika Sang
Illahi meridhoi Aku untuk berjumpa kembali dengan bidadara dunia akhiratku
kelak.
Dunia memang berlari semakin
menjauh tiap harinya namun takdir telah ditetapkan saat berada di laufuz
mahfuz. Jodoh, maut, serta rezeki telah Allah susun dengan rencana indah untuk
hambanya.
Maafkan.. Aku yang
membuatmu harus menunggu rentan masa 3 tahun untuk menanti sebuah jawaban,
hanya untaian syair doa yang dapat kupanjatkan untuk seseorang yang saat ini
kuharapkan kebahagiannya.
Wa alaikum Salam
Maratus Soleha
Ustaz
Ali memeluk secarik kertas tersebut, hatinya saat ini hanya berharap kepada
Sang Illahi untuk kebahagiaan pujaan jiwanya.
Dipandangnya
cermin pada sebuah jendela di kamarnya yang terbuka, angin menusuk dingin
tulangnya. Mencoba menata rasa yang mendera, selintas bayangan Ara seolah
berdiri di hadapannya, ia tersenyum kepadaku dengan lambaian panjang jilbabnya
yang bergoyang ditiup angin.
Tiga
tahun waktu yang harus kutunggu untuk sebuah penantian rasa yang terukir, hanya
illahi yang punya kuasa menentukan keajaiban untuk hambanya. Sebuah jerit jiwa
mulai kulantunkan melalui komunikasi kepada sang khalik, tangan Aku tandahkan
ke atas berharap Allah mengijabah permintaan hambanya di sepertiga malam
miliknya.
“Ya Allah berilah
kebahagian untuk seseorang yang saat ini berada di hati hamba, berilah ia ketabahan
serta keiklasan atas takdir rasa yang engkau hadirkan di antara kami, biarkan
senyumnya selalu berkembang dibibir indahnya, Ya Robbi agar ia dapat selalu
bersyukur atas nikmat keindahan yang telah engkau titipkan kepadanya. Ya Allah,
andaikan Aku berjodoh dengannya berilah ia selalu kebahagiaan dalam hidupnya namun
jika Aku bukanlah yang terbaik untuknya hingga engkau memisahkan kami berdua,
berilah hambamu ketabahan serta keikhlasan agar selalu mendoakan orang yang
hamba kasihi dalam sebuah kebahagiaan hidup bersama oranglain”
Aku menutup doa dipenghujung rasa yang mulai bisa menerima kenyataan hidup.
Malam
terasa semakin larut, kini ia semakin akrab denganku yang mulai setia menemani
kesunyian jiwa yang mengitari rasa ini.
Mentari
akan datang dengan silih bergantinya malam yang berputar, kuharap sebuah rasa
yang terukir dihati akan Allah tetapkan untukku hingga masa menjawab penantian
setiaku.
Kucoba
membalas secarik surat yang Ara kirimkan untukku, mencoba merangkai kata yang
indah untuk seseorang yang telah mencuri hati serta pikiranku saat ini.
Wajahnya
dengan senyum yang mempesona selalu hadir dalam pikiranku, ia seolah tak bosan berdendang
dalam lamunanku. Gerak langkahnya ibarat tarian jiwa yang membuat semangat
hidupku selalu ingin berharap cinta illahi singgah kepada kami berdua.
Aku
mencoba mengukir sebuah kalimat dengan cinta yang ikhlas mengharap ridho
illahi.
Assalamualaikum,wr.wb.
Semoga Allah
melimpahkan kebahagiaan selalu untukmu. Setelah kubaca suratmu penuh
penghayatan. Aku merasa terasing dengan untaian harapmu untuk kebahagiaanku
bukankah seharusnya engkau berdoa untuk kebahagiaan cinta kita berdua.
Aku selalu menanti
kehadiranmu sepanjang nafasku, meskipun rentan waktu yang akan menjawab
semuanya. Jarakmu dan jarakku hanya sebatas langkah penantian, akan kutunggu
hingga waktu menghampiri.
Sebuah keikhlasan hati
akan kucoba ukir dalam raga ini, andaikan engkau bukanlah jodoh dunia
akhiratku. Aku berharap cinta dua insan ini dapat berkumpul dalam sebuah wadah yang
berpenghujung pernikahan. Jika Allah berkenan menyatukan rasa ini.
Wassalam
Ali Zainal
***
Kusambut bahagia sepucuk surat yang telah ustaz Ali
titipkan kepada Susi, hatiku bahagia menerima balasan atas perasaan yang
bersambut untukku. Ia tak hanya memberikanku sebuah tulisan balasan namun juga
buku yang ia antar bersama dengan datangnya suratku.
“Buku
ini, insya allah akan sebagai teman bacaan setiamu disaat pujaan hatiku
dirundung pilu ataupun bahagia menghampiri” Tulisan pada selembar kertas putih
bercatatkan kalimat di atas.
Ini
merupakan buku kedua yang ia berikan untukku. “don’t be sad” karya DR. Aidh bin
Abdullah al-Qarni, MA.
Namun
saat ini Aku lebih tertarik untuk membaca surat yang ia berikan daripada
membaca buku tersebut.
Seluruh
penghuni kamar 14 berkerumul disampingku, ia ingin melihat surat yang ustaz Ali
kirimkan.
“Huuush
diam, kita dengarkan Ara membaca surat! Rohmah berkata kepada penghuni kamar 14.”
Aku
tersipu malu mendengarkan Rohmah berucap seperti itu. Pipiku nampak merona
seketika karena bahagia menghampiri.
Kugenggam
sepucuk surat tersebut. “Tapi jangan sampai surat ini tersebar di seluruh
asrama Fatimah ya? Kataku sebelum membuka surat.”
Anggukkan
kepala dari lima orang sahabat satu kamarku yang menyatakan kesetujuaannya.
Surat
tersebut mulai kubaca. Susi, Shaila, Rohmah, Suci, dan Fitri mendengarkan dengan
hati yang bahagia karena kini taman bunga bermekaran di jiwa sahabatnya Ara.
Bab 11
Musuh
Kecil Menyebalkan
Empat bulan telah terlewat dalam pekan-pekan yang
berlalu diperjalanan hidupku dipesantren. Padat aktifitas menuntut cerdasnya
otak dalam membagi waktu secara optimal.
Saking
padatnya aktivitas, Aku harus bangun lebih awal agar dapat jatah mandi pertama
karena jika harus antri mandi setelah muhadasah seusai solat subuh berjama’ah
biasanya hukuman menanti kami saat memasuki madrasah akibat telat.
Waktu
makan, belajar, istirahat bahkan mandi harus diatur yang baik. Sampai-sampai Aku
harus rela menutup rambut panjang yang masih basah karena dateline waktu yang
singkat. Contohnya ketika mandi sore, karena harus antri hingga Aku membiarkan
rambutku yang basah akibat disampo rela ditutupi mukena untuk solat magrib lalu
lanjut menutup rambut dengan jilbab usai solat kemudian dilanjutkan menutup
rambut kembali untuk solat isya berjama’ah di aula.
Lama-lama
rambutku berjamur, gatal, bahkan berkutu. “Iiih.. jorok banget ya” suatu hal
yang paling kubenci yaitu gatalnya minta ampun saat rambut ini dihinggapi kutu.
Orang
pertama dikamar 14 yang rambutnya ketahuan berkutu adalah Rohmah. Saat ia
menyisir rambutnya dengan serit –sisir dengan jarak yang rapat- ketika ia hendak memakai jilbab ternyata kutu
menempel di sisirnya. Binatang kecil berwarna hitam itu berjalan di sisir yang
Rohmah pegang.
Binatang
kecil tersebut katanya menyebar seperti kuman, entahlah benar atau tidak mitos
itu hingga Aku merasakan rambutku gatal teramat sangat ketika siang tiba.
apalagi saat berjalan dibawah terik matahari rambut ini rasanya gatal banget.
“Ara,
cepatan mandi sekarang giliranmu? Kata Susi menghampiriku yang sedang berada
dikamar.”
Aku
bergegas menuju kamar mandi, kubawa gayung lengkap dengan peralatan mandi
didalamnya seperti, odol, sikat gigi, sabun mandi serta sampo. Kamar mandi anak
kamar 14 terletak paling pinggir pojok sebelah kiri dari belakang tempat
mencuci baju.
“Siapa
didalam? Tanyaku kepada orang yang berada di dalam kamar mandi.”
“Hai
siapa didalam kamar mandi 14? Tanyaku kembali setelah tak ada jawaban dari
dalam.”
Hanya
terdengar bunyi jebar-jebur air yang terus mengalir ke luar got pinggir kamar
mandi. “Tok..tok..tok..” tak ada jawaban dari dalam.
Seseorang
dari dalam segera mengambil handuk yang terselempang di pintu kamar mandi, ia
segera memakai pakaian saat mengetahui penghuni aslinya datang.
“Kleek..”
seseorang membuka pintu kamar mandi kamar 14.
Sosok
Dita keluar dari dalam. “Dita, kok nyelak sih? Tanyaku dengan raut muka durja.”
Dita
bergegas kabur dari pandanganku tanpa seuntai maaf yang ia ucapkan. Aku masuk
ke dalam kamar mandi dengan kesal.
Alunan
azan magrib terdengar sayup-sayup di udara. Aku dengan tergesa mandi, sampoan
bahkan gosok gigi terburu-buru.
Susi
dengan setia menungguku dikamar untuk berangkat solat magrib berjama’ah di
aula. “Yang lain pada kemana? Tanyaku saat hendak memakai mukena, rambut
panjang yang basah kututup.”
“Sudah
duluan ke aula? Susi bergegas keluar kamar ketika Aku mengenakan perlengkapan
sholat.”
Kakak
osis berdiri diteras asrama Fatimah, ia siap menghukum santriwati yang telat
menuju aula karena hitungan telah selesai.
“Sit
up 30 kali” ucap salah seorang kakak osis yang berdiri di teras asrama.
Beberapa
santriwati asrama Fatimah berjejer lalu sit up serentak saat kakak osis
pemberikan aba-aba hitungan.
Kami
bergegas menuju aula yang jaraknya tak cukup jauh dari asrama. Aku dan Susi
berlari saat qomat telah terdengar. Kakak osis yang bertugas jaga memeriksa
santriwati yang telat solat atau bolos sholat adalah kakak osis yang sedang
datang bulan –haid-.
Nafasku
terenggah-enggah saat memasuki aula, langsung Aku berdiri dibarisan belakang
khusus santriwati yang masbuk.
“Allahu
Akbar! Ucapku.” Susi berdiri disampingku.
***
“Kamu
kenapa sih, Ara seperti cacing kepanasan aja?”
Aku
mondar-mandir saat malam menerjang di dalam kamar.
“Gatal
tau” Aku menggaruk kepalaku yang terasa sangat gatal.
Lima
orang satu atapku menatap tingkah polaku yang dapat dikatakan mirip setrikaan.
“Ini!
Rohmah memberikan serit miliknya kepadaku.”
“Kalo
gatal rambutnya disisir pakai serit, Ara biar kutunya dipites pakai kuku nanti
gatalnya juga hilang! Shaila menasehati Ara yang menggaruk kepalanya di depan
cermin kecil di atas lemari pakaian.”
Seluruh
penghuni kamar 14 semua rambutnya berkutu, termasuk Aku.
“Ara”
Tegur Susi.
Aku
masih sibuk menggaruk kepala yang gatal.
“Aku
gak mau nyisir pakai serit nanti rambutku rontok? Ucapku.”
“Pakai
obat rambut aja, Ara kalo nanti kamu pulang ke rumah. Sekarang pakai serit
rambut aja dulu biar gatalnya berkurang? Saran Suci yang merasa iba melihatku
tak bisa tidur.”
“Nama
obat rambutnya apa? Tanyaku.”
“Kalo
gak salah peditok nama obat yang bisa membunuh kutu rambut! Sambar Rohmah.”
Aku
amati sisir rambut bergigi rapat tersebut.
Jilbab
putih Aku gelar dilantai berwarna coklat tanah muda dikamar. “Sreet” satu
sisiran gesekkan rambutku. Dua ekor binatang kecil hidup berjalan di atas
jilbab putihku. Serit bergigi rapat penuh dengan beberapa helai rambut
panjangku yang rontok.
“A..aah..
rambutku rontoknya banyak banget! Teriakku setengah tertahan tak percaya.”
Aku
pites binatang kecil bernama kutu yang berjalan di atas jilbab putih
menggunakan kuku.
“Kok
nyerit rambutnya cuma sekali? Tanya Suci yang kaget melihat tingkah anehku.”
Aku
terdiam memandang bercak warna merah yang berbekas di corak kain putih.
Beberapa
saat kemudian suasana kamar 14 nampak sunyi, penghuninya terlelap dalam buaian
mimpi indah.
***
“Ara,
gimana bukunya sudah dibaca belum? Tegur ustaz Ali saat kami sedang berpapasan
di lorong madrasah aliyah.”
Aku
tersenyum, entah apa yang ustaz Ali artikan dari sebuah senyumanku karena jujur
Aku tak berani mengaku jika buku darinya sama sekali belum pernah kusentuh
isinya.
Ia
selalu tersenyum saat berhadapan denganku meskipun tatapan matanya tak pernah
bertemu langsung.
“Ara,
maaf! Ustaz Ali memegang pundakku.”
Aku
segera mundur dari belakang saat ia ingin menyentuhku.
Tangan
ustaz Ali sempat kena pukul saat Aku mencoba menghindar ketika ia menyentuh
pundakku.
“Maaf
Ara, Saya gak berniat jahat! Ustaz Ali menunjukan bintang kecil yang dipegangnya.”
Ia
memegang kutu yang berjalan dari tadi dipundakku.
Aku
berlari dari pandangan ustaz Ali, malu kurasa yang teramat sangat ketika ia
mengetahui rambutku berkutu.
“Ara!
Panggil ustaz Ali.”
Aku
berlari sejauh mungkin dari penglihatannya.
Jantungku
berdebar dengan sangat cepat, malu menghampiri diri ini.
“Dasar
kutu sialan, kamu sudah buat Aku malu di depan orang yang kusayang! Aku mencaci
maki diriku sendiri dalam hati.”
Aku
memutuskan untuk bolos sekolah pada jam pelajaran akhir, Susi membawakan
peralatan belajarku yang tertinggal dikelas.
“Ara,
kamu kenapa jam pelajaran terakhir gak masuk, tadi ustaz Ali nyariin kamu? Susi
bertanya tentang kealpaan yang Aku perbuat saat jam pelajaran terakhir.”
Aku
terdiam hanya garukan kepala yang menjawab perbuatan yang kulakukan.
“Ara,
ke sini deh? Susi memintaku turun dari tempat tidur.”
Tiga
tangga menuju bawah Aku turuni. “Ada apa, Sus? Tanyaku menghampirinya.”
“Aku
cariin kutu rambutmu ya, tapi sebelumnya di serit dulu biar kutu besarnya di
ambil semua terus baru nanti Aku cari
telur kutunya? Kata Susi.”
Satu
anggukan sebuah tanda Aku setuju.
Aku
duduk dilantai sambil menyelonjorkan kaki kemudian Susi duduk di atas tempat
tidur bawah. Ia mulai mencarikan telur kutu di rambutku lalu menyerit rambutku
dengan lembut agar mahkota yang telah kurawat tak rontok.
“Astafirullah
al’azim, beberapa kutu besar hidup bersemayam di mahkota indahku. Ini semua
akibat rambut yang masih basah atau lembab langsung ditutup kerudung! Gumamku
dalam hati.”
Beberapa
saat setelah Susi mencarikan kutu dirambutku, rasanya hati ini plong alias
tenang karena tak terganggu oleh rasa gatal yang amat menyiksa.
Kini
yang menjadi pusat perhatianku adalah ustaz Ali, bagaimana cara Aku menjelaskan
semua ini kepadanya.
“Malu”
mendera sanubariku.
Aku
meminta bantuan Susi untuk memberi penjelasan kepada ustaz Ali mengenai
peristiwa kepergianku tadi saat berpapasan di lorong madrasah.
Susi
terdiam memikirkan permintaan tolongku. “Please, Susi! Pintaku dengan wajah
memelas.”
“Iya
deh! Ujar Susi.”
“Apa
yang bisa kubantu? Tanyanya sesaat kemudian.”
“Susi
cerita dengan ustaz Ali, kalo Ara tadi malu karena ketahuan ada kutu di
pundakku? Jawab Ara.”
Susi
tertawa mendengar ucapanku. “Ada yang lucu ya? Tanyaku merasa aneh dengan
tingkah Susi.”
Ia
segera menutup mulutnya dengan telapak tangan agar senyumnya tak terlihat oleh
Ara.
“Oke
deh kalo begitu, Aku sekarang ke kantor madrasah ketemu ustaz Ali untuk
menjelaskan hal ini! Ucap Susi sekalian bergegas menggunakan jilbabnya lalu
berlalu meninggalkan kamar bernomor 14.”
Hatiku
kini bukan hanya lega karena gatal yang telah sedikit berkurang dikepalaku
namun juga masalah yang mendera Aku dengan ustaz Ali dapat diselesaikan dengan
bantuan orang ketiga melalui sahabat baikku yang bernama Susi.
Bab 12
Kau Yang Kusayang
“Hiiks..hiiiks..”
Isak tangis Kak Zakiya terdengar memilukan hati bagi orang yang saat ini berada
dihadapannya.
“Zakiya”
Ucap suara itu dengan lembut.
“Hiiiks..hiiiks..”
Tangisan Zakiya terdengar kembali, deraian air matanya kembali mengalir dengan
deras.
“U..ustaz,
siapa wanita itu? Tanya Zakiya dengan terputus karena kepiluan hati yang
menderanya, suaranya seolah bisu seketika.”
Ustaz
Ali mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku kemeja depannya.
“Hapus
deraian air matamu, Zakiya. Aku tak sanggup melihat seorang wanita menangis
dihadapanku? Kata Ustaz Ali sambil memberikan sapu tangan untuk Zakiya.”
Zakiya
mengambilnya, ia mengusap air mata yang mengalir dipipi.
“Siapa
wanita itu, Ustaz? Tanya Zakiya kembali.”
Ustaz
Ali terdiam. “Apa hal itu penting untuk engkau ketahui? Ustaz Ali bertanya
kepada Zakiya, derai air matanya kini telah kering.”
“A..aku
hanya ingin tau, siapa nama wanita yang telah beruntung mendapatkan hati lelaki
dihadapanku sekarang?”
“Apa
kau benar-benar ingin mengetahuinya? Tanya Ustaz Ali sekali lagi.”
Zakiya
menatap wajah Ustaz Ali. “Iya, Aku ingin mengetahui wanita tersebut?”
Ustaz
Ali menatap lurus pandangannya ke depan.
“Saya
minta doanya saja, semoga penantian yang sedang Saya tunggu selama tiga tahun
akan berujung indah pada saatnya dengan orang yang telah mencuri pikiran dan
perasaan Saya? Ustaz Ali berkata tanpa menatap Zakiya, pandangan yang terlintas
dimatanya hanya sosok Ara yang berkelana.”
“Siapa
dia, Ustaz? Tanya Zakiya untuk kesekian kalinya.”
“Kamu
mengenalnya, Zakiya?”
“Siapa?
Tanya Zakiya kecewa.”
“Dia
adik kelasmu, namanya Maratus Soleha! Ucap Ustaz Ali, sebuah senyuman
tersungging diparasnya yang mempesona saat menyebut Ara dibibirnya.”
“A..ara,
anak baru dari asrama Fatimah? Tanyanya ragu.”
Ustaz
Ali beri satu anggukan kepala.
Isak
tangis Zakiya semakin deras, hatinya merana, batinnya tersiksa, hari-hari
terasa kelabu ia lalui dipesantren ini.
“Za..zakiya..!”
Ustaz Ali berteriak memanggil Zakiya yang berlari dikegelapan malam.
Zakiya
terus berlari, ia tak memperdulikan panggilan orang yang amat ia sayang karena
ia sadar rasa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
“Brengsek..
dasar Ara, awas kamu! Batin Zakiya dalam larinya.”
“Bruugh..”
Zakiya melempar jilbab yang ia kenakan ke atas tempat tidurnya.
“Braak..”
ia melempar gulingnya ke lantai beberapa kali, mencoba luapkan emosinya dalam tinjuan
dahsyat ke guling serta bantal tidurnya.
Tiga
orang sahabat satu kamarnya memeluk Zakiya bersamaan. “Kamu kenapa, Zakiya?
Tanya Aulia bingung.”
“Hiiiks…hiiiks…”
Deraian air mata Zakiya menyiratkan pilu yang mendera batinnya.
***
Malam terasa amat indah dihatiku, suasana yang
menggambarkan peluk kerinduan seseorang yang berkelibat dalam pikiran. Aku
reguk cinta yang mendera, kucium haus kasih yang tercermin dalam bingkai jiwa
Ustaz Ali.
Sebuah
buku yang Aku dekap erat di dada, mengukir sebuah wajah yang tergambar dalam
otakku. Ustaz Ali tersenyum disampingku saat Aku mulai membuka buku yang ia
berikan untuk kedua kalinya kepadaku.
“Ustaz
Ali! Aku selalu menyebut namanya di jiwa ini.”
“Seuntai
kerinduan Aku peluk dalam gulana malam yang berlari saat mengejarmu dalam
gelap! Batinku beberapa saat kemudian.”
Aku
mulai meresapi buku bacaan yang Ustaz Ali berikan untukku.
Enam
halaman dari cover depan kubuka, sebuah subtema yang menarik perhatianku.
Aku
mulai membaca..
“Yang
Anda Miliki Hanyalah Hari Ini”
Ketika anda bangun tidur di pagi hari, jangan
berharap untuk melihat sore hari. Hiduplah seolah apa yang anda miliki hanyalah
hari ini. Kemarin telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukanya,
sedangkan esok hari belum lagi tiba. rentang kehidupan anda hanyalah satu hari,
seolah-olah anda dilahirkan di awal hari itu dan akan mati di akhir hari.
Dengan sikap seperti itu, anda tidak akan terperangkap di antara obsesi masa
lalu dengan segala deritanya, serta harapan masa depan dengan segala
ketidakpastiannya. Hiduplah untuk hari ini, pada hari ini anda harus menegakkan
shalat dengan hati yang hidup, membaca al-quran dengan pemahaman, dan berzikir
kepada Allah dengan tulus. pada hari ini anda harus seimbang dalam segala
urusan, puas dengan jatah yang anda dapatkan serta memperhatikan penampilan dan
kesehatan anda.
Aturlah jam-jam anda hari ini, sehingga anda dapat
memaksimalkan waktu semenit mungkin bagaikan setahun, satu detik bagaikan satu
bulan. Mohonlah ampun dari tuhan, ingatlah dia, persiapkanlah upacara
perpisahan dengan dunia ini dan hiduplah pada hari ini dengan bahagia dan
damai. Merasa puaslah dengan makanan, istri/suami, anak-anak, pekerjaan, rumah
serta posisi anda dalam hidup.
“Sebab itu
berpegang teguhlah kepada Allah atas apa yang Aku berikan kepadamu dan
hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-a’raf : 144)
Hiduplah di hari ini terbebas dari derita, gangguan,
kemarahan, kecemburuan dan kedengkian.
Anda harus menanamkan keyakinan pada diri anda, hari
ini adalah hariku satu-satunya. Jika anda telah makan nasi yang hangat pada
hari ini, maka apalah artinya nasi basi dan busuk di keesokan hari?
Jika anda percaya penuh kepada diri sendiri dan
memiliki keyakinan yang teguh, tentu anda akan mampu meyakinkan diri dengan hal
sebagai berikut ini :
Hari ini adalah hari terakhirku dalam hidup. Ketika
anda menerima sikap ini, anda akan mendapat keberuntungan dari setiap momen yang
ada pada hari itu, dengan cara mengembangkan kepribadiaan, meningkatkan
kemampuan, dan mensucikan amal-amal anda. Kemudian anda akan berkata pada diri
sendiri :
Hari ini Aku akan memperbaiki ucapan-ucapanku, dan Aku
tidak akan berkata kotor serta jahat. Aku juga tidak akan berkata yang
menyakitkan oranglain.
Hari ini Aku akan mengatur rumah dan kantorku.
Takkan kubiarkan keduanya dalam kondisi kacau balau, tapi Aku akan membuatnya
rapi dan bersih.
Hari ini Aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku
dan juga penampilanku. Aku akan menjaga kerapihanku dan menyeimbangkan diri
ketika berjalan, berbicara dan berbuat.
Hari ini Aku akan berjuang untuk patuh pada tuhanku,
sholat dengan sekhusyu mungkin, mengerjakan amal-amal kebajikan, membaca
al-quran dan buku-buku bermanfaat lainnya. Aku akan menanamkan kebaikan ke
dalam hati dan mengeluarkan akar-akar kejahatan daripadanya : seperti
kesombongan, kecemburuan, dan kemunafikan.
Hari ini Aku akan mencoba membantu oranglain untuk
melayat orang sakit dan memberi makan orang lapar, Saya akan berdiri
memperjuangkan orang-orang yang tertindas dan lemah. Saya akan menaruh hormat
kepada orang-orang berilmu, menyayangi kaum muda dan menghormati orangtua.
Wahai masa lalu yang telah jauh meninggalkanku, Aku
tidak akan menangisi kepergianmu. Kamu tidak akan bisa melihat Aku
mengingat-ingatmu, walaupun hanya sesaat, karena kamu telah pergi jauh dariku
dan takkan pernah kembali lagi.
Wahai masa depan, kamu berada di bayangan yang tiada
terlihat, sehingga Aku tidak akan terobsesi dengan mimpi-mimpimu. Aku tidak
akan disibukan oleh apa yang akan datang karena hari esok tidak ada dan belum
lagi diciptakan.
Hari ini adalah hariku satu-satunya, adalah salah
satu pernyataan terpenting dalam kamus kebahagiaan, bagi mereka yang ingin
menjalani hidupnya dengan sepenuh kebahagiaan dan kecemerlangan.
“Ara,
kamu belum tidur? Tegur Shaila yang melihatku menyederkan pundak ke tembok
sambil membaca buku.”
“Huuush,
berisik nanti bangunin teman yang lain? Ucapku pelan.”
“Jangan
tidur terlalu malam, Ara besok kita kan harus bangun pagi untuk aktivitas? Kata
Shaila mengingatkan.”
“Iya”
Aku segera meletakan buku dari Ustaz Ali.
Bergegas
Aku naik ke tempat tidurku yang bertingkat. Lafaz doa kupanjatkan sebelum
memejamkan mata, malam akan berlalu dan berganti siang, esok Aku akan melakukan
yang terbaik dalam hidupku seolah-olah di akhir hari adalah saat terakhirku.
***
“Ara”
Panggil Susi saat datang ke kamar.
“Ada
apa?”
Susi
meletakan piring serta gelas makan di atas lemari seusai ia pulang dari dapur.
“Tadi
Aku ketemu Kak Aulia, dia nyuruh Ara ke kamarnya? Kata Susi memberitahu.”
“A..aku”
Tanyaku sekali lagi tak percaya dengan apa yang Susi katakan.
“Iya,
Ara disuruh ke kamar Kak Aulia sekarang! Sahut Shaila yang mengekor dibelakang
Susi.”
Aku
bergegas memakai pakaian muslim dengan jilbab, kulangkahkan kaki ini menuju
asrama khodijah tempat Kak Aulia berada.
“Assalamualaikum,
Kak maaf numpang tanya. Kamar Kak Aulia nomor berapa ya? Tanyaku saat bertemu
penghuni asrama khodijah ketika memasuki teras.”
Ia
memandang wajahku. “Kamar tujuh! Ucapnya.”
“Terima
kasih, Kak” Aku bergegas berlalu dari pandangannya, kucari kamar bernomor tujuh
tempat Kak Aulia.
“Tok..
tok..”
“Iya,
masuk? Sahut suara dari dalam.”
Pintu
perlahan kubuka. “Ara ya? Tanya Kak Eni.”
Aku
mengangguk. 4 orang Kakak yang terkenal dengan sebutan gengdanger
mempersilahkan masuk. Mereka amat ramah kepadaku.
“Ara,
duduk aja dulu? Ucap Kak Aulia.”
Kak
Zakiya berdiri memandang ke arah luar jendela, lalu Kak Anjel menutup pintu
kamar.
Aku
duduk di sebuah kasur milik penghuni kamar tersebut. Kak Aulia, Kak Eni, serta
Kak Anjel menatap wajahku.
“Deg..
deg.. deg..” Debaran jantungku berdenyut semakin cepat.
“Wajahmu
lebih menarik dibanding Ara.” Ucap salah seorang dari mereka yang memandangku.
Kak
Zakiya menolehkan pandangannya kepadaku. Matanya terlihat merah seperti habis
menangis.
“Kamu
sudah berapa lama dekat dengan Ustaz Ali? Tanyanya setelah terdiam cukup lama.”
Aku
kaget mendengar pertanyaan yang Kak Zakiya lontarkan, bagaimana mungkin ada
santriwati yang mengetahui hubunganku dengan Ustaz ali selain temanku sendiri
dikamar 14 asrama Fatimah.
Aku
terdiam saat Kak Zakiya bertanya kepadaku.
“Maksud
Kak Zakiya apa? Tanyaku.”
Kak
Zakiya berdiri menghampiriku, ia mengadahkan wajahku ke pandanganku.
“Kamu
jangan pura-pura bego ya? Katanya kasar.”
Aku
tersentak kaget. “Zakiya, sabar! Ujar Kak Anjel.”
Kak
Zakiya terlihat mengatur napasnya. “Ara, kamu masih anak baru disini! Kata Kak
Aulia, Tangannya mengelus pundaku.”
Aku
menundukan kepala di hadapan empat orang kakak senior.
Jantungku
berdenyut tak karuan saat Kak Zakiya menjambak jilbabku secara spontan.
“A..ah..
sakit” Aku meronta.
“A..ah..”
Kak Zakiya menutup mulutku dengan tangan kanannya.
“Loe
tuh sudah buat gue sakit tau!”
Kak
Aulia menarik tangan Kak Zakiya yang menarik jilbabku. “Sabar, Zakiya!”
Aku
menangis di dalam kamar bernomor tujuh. “Aku berbuat salah apa, Kak? Tanyaku
dengan isak tangis.”
“Kamu
sudah merebut orang yang Zakiya sayang! Jawab Kak Eni.”
“Maksud
Kakak apa, Aku gak ngerti?”
“Praak…”
Satu tamparan berbekas di pipi kananku.
“Kamu
sudah berebut Ustaz Ali dari tanganku! Kata Zakiya kasar.”
Ia
menarik bajuku hingga Aku berdiri dari tempat duduk.
“Jauhi
Ustaz Ali, dia milikku! Kak Zakiya mendorong tubuhku.”
Mereka
berempat berdiri saat Aku jatuh terduduk.
“Kalo
kamu ingin Ustaz Ali selamat, kamu harus jauhi dia! Kak Zakiya menggancamku.”
Dadaku
sakit, debaran jantungku semakin tak menentu.
“A..aah”
Aku memegang jantungku.
“Tolong
Kak…” Aku mendekap dadaku yang terasa sakit.
“Braak…”
Suasana
di dalam kamar tiba-tiba semakin kacau saat Ara tergeletak tak berdaya
dilantai. Empat orang penghuni kamar tersebut kaget ketika mengetahui wajah Ara
pucat bengkuang dengan sekujur badan yang dingin.
***
Ara berbaring di sebuah kamar rumah sakit dengan kondisi
memprihatinkan, satu tangannya di masuki selang infuse. Parasnya tetap terlihat
elok meskipun ia tak sadarkan diri sudah semalam.
“Ali,
kamu gak pulang dulu? Tanya Pak Ahmad, Ayah Ara.”
Ustaz
Ali menunggui Ara selama ia berbaring dari awal masuk rumah sakit.
“Saya,
masih pengen disini bersama Ara, Pak? Jawabnya.”
Umi
dan Ibnu berdiri disisi Ara, Umi mengelus jilbab yang anaknya kenakan meskipun
Ara tak sadarkan diri.
Derai
air mata Sang Umi mengalir deras saat anaknya tergeletak tak berdaya.
“Ara
sebenarnya memang mempunyai kondisi tubuh lemah, waktu masih SMP Ara juga
sering pingsan namun tak selama ini! Umi mengeluarkan uneg-uneg yang ia
rasakan.”
“Ara
lemah jantung! Sang Umi melanjutkan ucapannya, derai air matanya kembali
mengalir.”
Pak
Ahmad memeluk tubuh istrinya, Ibnu ikut menangis disamping Sang Umi.
Beberapa
saat kemudian Pak Ahmad mengajak istrinya serta Ibnu untuk keluar ruangan di
mana Ara dirawat. Ustaz Ali dengan setia menemani Ara, alunan doa senantiasa
menghiasi hatinya untuk sang calon istrinya.
Ustaz
Ali memandangi wajah Ara yang tampak pucat ditempat tidurnya.
“Ya
Allah, sembuhkanlah calon istriku. Jangan kau ambil dia dariku.” Ustaz Ali
selalu memanjatkan doa untuk Ara.
Tangan
Ara terasa dingin saat di sentuh oleh Ustaz Ali.
“Tok..
tok.. tok..”
“
Assalamu alaikum! Suara pintu disertai salam dari luar.”
“Wa
alaikum salam, masuk? Ustaz Ali menjawab, ia berdiri menghampiri pintu yang
setengah terbuka.”
Lima
orang penghuni kamar 14 tempat Ara bermukim di asrama Fatimah datang menjenguk
bersama Kak Iyah.
“Ustaz
Ali” Kak Iyah kaget saat mengetahui Ustaz Ali berada diruangan Ara berbaring.
Sebuah
senyuman yang seolah sulit ia keluarkan, terlihat semu.
“Iya,
Bu Iyah. Saya sedang menunggui calon istri! Jawab Ustaz Ali berbicara tanpa
ragu.”
Kak
Iyah kaget mendengar ucapan Ustaz Ali. “Maksudnya? Tanya Kak Iyah bingung.”
“Insya
Allah jika tuhan menghendaki, Saya akan menikahi Ara setelah ia selesai dari
mahad! Kata Ustaz Ali.”
Kak
Iyah terdiam memandangi tubuh Ara yang terbujur tak berdaya ditempat berbaringnya,
kelima sahabatnya menghampiri.
“Ara”
Tegur Susi yang membisiki Ara ditelinga kanannya.
Ara
tetap terlelap dalam tidurnya, ia belum sadarkan diri.
“Ara
bangun” Kata Shaila memegang tangan Ara.
Suasana
hening menghampiri ruangan dimana Ara dirawat.
Beberapa
saat kemudian Kak Iyah dengan lima santriwati kamar 14 kembali pulang.
“Maaf,
Kak Iyah. Saya mau bicara sebentar dengan Ustaz Ali berdua? Kata Susi sebelum
ia meninggalkan Ustaz Ali.”
Kak
Iyah bersama 4 santriwati keluar ruangan dimana Ara dirawat.
“Ada
apa, Susi?”
Susi
terdiam ia memandangi tubuh Ara sebelum pergi meninggalkan sahabatnya yang saat
ini mengalami koma.
“Ustaz
Ali, ada hal penting yang ingin Saya ceritakan? Kata Susi.”
“Hal
apa? Tanya Ustaz Ali.”
“Sebelum
Ara seperti ini, ia pergi menemui Kak Aulia karena dipanggil ke asramanya terus
setelah itu Ara langsung masuk rumah sakit, kemungkinan Kak Aulia penyebab Ara
tak sadarkan diri! Susi menceritakan kronologis masalah sebelum Ara tak
sadarkan diri.”
“Apa?
Ustaz Ali kaget.”
“Aulia,
temannya Zakiya bukan? Tanya Ustaz Ali kemudian.”
“Iya
Ustaz.”
Ustaz
Ali lemas saat mengetahui berita yang diceritakan Susi, ia langsung terduduk
dikursi samping tempat tidur Ara.
“Ustaz
kenapa? Tanya Susi yang melihat Ustaz Ali melamun, pandangannya lurus ke
depan.”
***
Zakiya siang ini berdandan dengan cukup molek, tak
seperti biasanya ia berpenampilan begitu. Suasana riang menyelimuti jiwanya
saat mengetahui Ustaz Ali mengajaknya bertemu karena ada yang ingin
dibicarakan.
Gemerik
air hujan yang turun membuat harum tanah semakin terasa, bunga melati di depan
asrama memancarkan wangi nan elok seindah hatiku yang sedang bahagia. Pelangi
muncul dari balik awan saat hujan telah berhenti, aneka warnanya bak keindahan
dunia membersitkan pesona dalam rasa yang ada.
“Zakiya,
pasti kali ini Ustaz Ali akan mengemis cintamu karena ia telah menyesal menolak
wanita secantik dirimu! Kata Aulia yang memandang sahabatnya dari tadi di depan
cermin.”
Polesan
bedak ia torehkan beberapa kali pada wajahnya. “Menurut kalian pakaian Aku
cocok gak dengan dandanan yang Aku kenakan? Tanya Zakiya kepada ketiga sahabat
baiknya.”
Mereka
bertiga tersenyum memperhatikan Zakiya yang hatinya sedang berbunga-bunga.
“Aku
pergi dulu ya.” Zakiya berkata sambil berlalu dari pandangan ketiga temannya.
“Ustaz
Ali pasti akan lebih memilihku karena Aku lebih cantik dari Ara! Batin Zakiya.”
Dipematang
sawah tak jauh dari mahad, Ustaz Ali sudah menunggu Zakiya di saung bambu,
tempat ia pertama kali bertemu dengan Ara yang saat ini masih belum sadarkan diri.
Zakiya
datang menghampiri Ustaz Ali. “Maaf sudah lama menunggu ya? Tanya Zakiya
senyumnya merekah indah.”
Ustaz
Ali terdiam melihat sosok wanita dihadapannya.
Ia
berdiri lalu tanpa basa-basi berkata tentang apa yang mengganjal dihatinya.
“Apa
yang telah kamu lakukan dengan Ara? Ustaz Ali nampak serius.”
Zakiya
membisu, ia tak menyangka Ustaz Ali akan bertanya tentang Ara.
“Kenapa
kamu diam, apa yang kalian lakukan dengan Ara? Intonasi Ustaz Ali terdengar
agak tinggi.”
“Sa..saya..”
“Sa..saya
gak tau, tiba-tiba Ara pingsan! Jawab Zakiya terbata-bata, ia gugup karena
kesalahan yang telah diperbuatnya.”
Tangan
Ustaz Ali mengambang di udara, ia hanya memukul angin karena tak ingin menampar
sosok lemah yang ada di hadapannya.
“Haaa…..”
Ustaz Ali berteriak sekuat mungkin, pikirannya hanya tertuju pada Ara yang
sudah 3 hari tak sadarkan diri.
Zakiya
bersujud dihadapan Ustaz Ali. “Maafkan Aku! Ucap Zakiya.”
“Haaa….!
Teriakan Ustaz Ali terdengar untuk yang kedua kalinya.”
“Ara”
Ustaz Ali meneteskan air mata saat menyebut nama calon istrinya.
Bab 13
Standar Kepantasan
“Prang”
Pak
Aswab berjalan menuju dapur.
Ali
terduduk lemas mengamati gelas tersebut hancur berkeping-keping, pecahan
kacanya berserakan dilantai.
“Astafirullah
al’azim”
Pak
Aswab terpaku saat menyaksikan Ali yang berada di dapur.
“Braak..”
“Abi,
biarkan Ali…!”
“Prak”
Sebuah tamparan melayang di pipi Ali.
“Kamu
sadar gak, Nak apa yang akan kamu perbuat itu dosa besar?”
Ali
memeluk tubuh ayahnya, isak tangisnya meledak, pilu yang ia rasakan tumpah
dalam butiran air mata.
“Abi”
Ali berkata dalam dekapan sang ayah.
“Ali
sedih melihat kondisi Ara, Ali gak sanggup melihat Ara terbaring, sudah 4 hari
Ara tak sadarkan diri!”
“Ali,
kamu anak Abi satu-satunya.”
Ali
menangis. “Maafkan Ali, Abi.”
“A..ali
khilaf! Lanjut Ali berucap.”
Beberapa
saat kemudian setelah suasana hati Ali tenang, Abi mengajak sang anak untuk
melaksanakan solat di sepertiga malam.
***
“Bagaimana
kabar Ara, Umi?”
Ali
menghampiri Umi Ara dengan Ibnu yang mendampingi Ara dengan setia.
Umi
terdiam sejenak. “Ali tolong titip Ara sebentar ya, Umi mau pulang dulu.
kasihan Ibnu? Pinta Umi.”
“Umi
tenang saja, insya allah Saya akan selalu menjaga Ara selama Saya mampu.”
Ali
menatap Ara yang masih terbaring di tempat tidurnya.
“Kak
Ara, Ibnu pulang dulu ya! Ibnu mencium tangan kakaknya sebelum ia meninggalkan
ruangan tempat Ara berbaring.”
Suasana
hening menyelimuti ruangan kamar rumah sakit yang berada di urutan empat dari
lantai dasar.
Ali
mengamati wajah Ara, hatinya selalu berucap lafaz doa untuk wanita yang ada di
hadapannya.
Ali
menggengam tangan Ara, ia mencium kening Ara.
“Ya
Allah sembuhkanlah Ara, berilah ia kesehatan agar senyum selalu merekah di
antara orang-orang yang mengasihinya! Doa Ustaz Ali dalam hatinya.”
Ali
membacakan surat dalam al-quran, hatinya selalu berzikir kepada Sang Illahi.
Tiba-tiba
tangan Ara bergerak.
Ali
memegang tangan Ara.
Tangan
Ara ternyata diam tak bergerak. “Hanya ilusi! Batin Ustaz Ali.”
Ia
meneruskan membaca ayat suci yang berada dalam genggaman tangannya.
Tangan
Ara bergerak kembali.
Ustaz
Ali terdiam, ia menyentuh tangan Ara untuk kedua kalinya.
“Hanya
pikiranku saja! Guman Ali dalam hati.”
Tangan
Ara bergerak kembali. “Allahu Akbar”
“A..ara”
Ucap Ali ke telinga Ara.
Tanga
Ara bergerak kembali meskipun pelan.
Ara
membuka matanya perlahan.
Hati
Ustaz Ali merekah ibarat bunga, rasa yang tertinggal kini bersemi kembali.
“A..aku
dimana?”
Ali
terdiam menatap Ara yang telah sadar dari tidur panjangnya selama 5 hari.
“A..ara
dirumah sakit.”
Ali
menyentuh bibir Ara dengan jarinya. “Jangan banyak bicara dulu, Ara masih belum
sehat total! Kata Ustaz Ali.”
Ara
terdiam, ia mengamati ruangan dimana dirinya berada sekarang.
“Ustaz,
mau kemana? Tanya Ara dengan suara lemah.”
Ali
menatap wajah Ara yang berada di tempat berbaringnya.
“Ara,
Saya mau sholat dulu ya, Saya mau memanjatkan syukur kepada Sang Khalik atas di
ijabah semua permintaan yang hambanya kabulkan ini.”
Sebuah
anggukan Ara berikan kepada Ustaz Ali.
***
Hembusan udara disiang hari terasa panas saat matahari
berada di puncaknya tepat tengah hari namun suasana di dalam kelas 1c terasa
sejuk serta damai saat mengetahui kondisi Ara.
“Benar
itu Ustaz?”
Ustaz
Ali tersenyum lebar kepada santriwati yang ia ajar.
“Kapan
Ara ke pesantren ini lagi, Ustaz? Tanya Susi yang duduk di kursi urutan dua
dari belakang.”
Ustaz
Ali tersenyum kembali menanggapi pertanyaan anak muridnya di kelas 1c tempat Ara
menimba ilmu.
“Saya
kurang tau kalo masalah kapan Ara ke sini lagi!”
Kak
Eni mendengarkan pembicaraan anak kelas 1c dengan Ustaz Ali saat ia melintasi
ruangan yang berada dipojok madrasah tersebut.
“Zakiya,
kamu tau berita terbaru tentang Ustaz Ali gak? Kata Eni dihadapan tiga
sahabatnya.”
Anjel
menarik tangan Eni. “Duduk dulu baru cerita?”
Zakiya
mengambil gelas plastik yang tengkurap di atas lemari kamarnya lalu
menuangkannya dengan air yang terdapat di dalam teko.
“Ada
apa sih, baru juga nyampe, istirahat aja dulu! Sahut Aulia yang langsung
berbaring ditempat tidurnya.”
Eni
melepaskan kaos kaki yang masih melekat. “Ini tentang Ara! Kata Eni yang duduk
di sudut kamar bernomor tujuh.”
Ketiga
orang sahabat itu saling berpandangan. “Apa Ara meninggal? Tanya Zakiya.”
Eni
menggelengkan kepalanya.
“Terus
Ara kenapa? Tanya Zakiya.”
Eni
sengaja membuat tiga orang sahabat dihadapannya penasaran.
Aulia
melempar guling tepat ke wajah Eni. “Dasar nyebelin! Ucapnya.”
Eni
menangkap lemparan guling yang Aulia berikan.
“Brugk”
Lemparan guling berhasil Aulia tangkis.
“Jangan
buat kita bertiga penasaran dong, memang ada berita apa yang kamu ketahui
tentang Ara? Kata Zakiya yang terlihat sebel dengan sikap Eni.”
“A..ara
sudah sembuh! Ucap Eni singkat.”
“Sembuh..
kenapa Ara gak mati aja sekalian.”
“Huuush”
Aulia menepuk pundak Zakiya yang bersender di pinggir tempat tidurnya.
“Kamu
seharusnya jangan bicara seperti itu Zakiya, ucapan adalah doa! Komentar Anjel
yang kaget mendengar perkataan sahabatnya tersebut.”
Zakiya
termenung.
“Apa
yang kamu pikiran, Zakiya? Tanya Aulia.”
Anjel,
Aulia, dan Eni duduk mengitari sahabat yang sedang dilanda gulana kesedihan.
“A..aku
berharap Ara meninggal karena dengan begitu Aku akan dengan mudah mendapatkan
hati Ustaz Ali.”
Ketiga
sahabatnya terdiam menatapi paras Zakiya yang terlihat menerang kosong
pikirannya.
“Zakiya?
Aulia memegang tangan sahabat yang berada di depannya.”
Zakiya
tetap terdiam, lamunannya saja yang lurus menatap ke depan dengan hampa.
“Hiiiks...
hiiiks..” Air mata Zakiya terjatuh dihati.
“Ngomong
Zakiya, apa yang kamu rasa, jangan diam aja? Ucap Anjel lembut.”
“A..aku
capek dengan hidup yang Aku jalani, orangtua memasukan Aku di pesantren karena
gak ada waktu untuk mengurus anak gadis semata wayangnya? Zakiya mulai terlihat
sendu, tatapannya berair.”
“A..apa
aku salah?”
“Hiiiks..”
“A..apa
Aku salah kalo berharap ada seseorang yang mencintai dan menyayangiku! Kata Zakiya
melanjutkan ucapannya yang sempat terputus.”
“Za..
zakiya, kamu yang sabar ya! Kata Anjel memberi semangat.”
Isak
tangis berhenti beberapa saat berselang setelah ketiga sahabat baiknya memberi
semangat serta motivasi untuk Zakiya.
“Zakiya,
ingat gak kata Ustaz Umar? Ujar Aulia ditengah berhentinya deraian air mata
yang mengalir dipipi Zakiya.”
“Emm..
apa? Tanyanya.”
“Lupa
ya..?”
Eni
serta Anjel mencubit tangan Aulia bersamaan.
“Jangan
seperti Eni dong, Aulia? Ujar Anjel.”
“Oke
deh, langsung aja ya?”
Aulia
terdiam sesaat, ia sengaja membuat pikiran ketiga sabahatnya mengingat kembali
ilmu yang telah Ustaz Umar berikan.
“Kata
Ustaz Umar dalam al-quran surat yasiin ayat 36, Allah menjelaskan bahwa
seseorang dimuka bumi ini akan mendapatkan pasangan sesuai dengan standar
kepantasan yang ada pada diri orang tersebut.”
“Berarti
maksud Aulia, Ustaz Ali gak pantas bersanding dengan Zakiya? Sahut Eni.”
Satu
anggukan kepala dari Aulia.
“Haha..hahah…”
Canda tawa meluncur dalam ruangan kamar bernomor tujuh.
Bab 14
Goresan Fitnah
Udara terasa sejuk di pekarangan rumahku. Semilir
tarian udara berhembus mengoyangkan bunga-bunga yang bermekaran di
sekelilingku. Mentari tersenyum menyambut datangnya suasana cerah dengan sinar
yang mulai terik, awan putih tanpa celah ditaman langit menambah indah
pemandangan pagi ini.
Secangkir
lemon tea hangat tersaji di meja kayu bundar berwarna coklat muda, Aku seruput
minuman tersebut. Harumnya aroma lemon membuatku menyeruput berkali-kali
ditemani kue disampingnya.
Sabtu
pagi adalah hari kedua Aku berada dirumah ini setelah kemarin pulang dari
dirumah sakit. Ibnu terlihat bolak-balik menggunakan sepeda mini beroda empat
miliknya dari garasi menuju pekarangan, Umi memetik bunga yang layu sambil
menguyur tanaman dengan selang air yang mengalir melalui kran dipinggir kanan
pekarangan tempat Aku duduk.
“Kak
Ara, ayo main sepeda bareng Ibnu? Ajak Sang Adik.”
Ara
tersenyum memandang adiknya.
Umi
melambaikan tangannya kepada Ibnu.
“Jangan
ajak Kak Ara main dulu, biar Kak Ara cepat sembuh! Ucap Umi dari tempat ia
berdiri yang mendengar perkataan anak keduanya kepada sang kakak.”
Abi
keluar dari dalam rumah menuju kursi tempatku duduk, sebuah koran berada dalam
dekapannya.
“Abi
mau lemon tea? Tanyaku menawari Abi.”
“Terima
kasih, Ara. Abi lagi tidak pengen minum teh.”
Abi
duduk tepat dihadapanku, kami memandang pekarangan dengan harum aroma bunga
melati yang merebak.
“Gimana
kesehatan Ara? Tanya Abi.”
“Alhamdullilah,
Abi sudah sehatan.”
Umi
berjalan menuju ke arah kami.
“Pokoknya
Umi gak setuju kalo Ara harus balik sekolah ke pesantren lagi, Abi! Ucap Umi
sesampainya disamping Aku.”
Abi
memandang Umi, ia mengambil kue yang berada di atas meja.
“Kenapa
Umi berkata seperti itu? Tanya Abi atas pertanyaan istrinya.”
Aku
terdiam mendengarkan debat dua orang yang berada di sekelilingku.
“Umi
cuma gak mau Ara jatuh sakit lagi, Abi!”
Abi
meletakkan koran yang ia pegang di atas meja, ia terlihat mengatur napas
sebelum menjawab pertanyaan Umi.
Dua
mata Abi tertuju padaku.
“Ara
maunya sekarang gimana? Pertanyaan yang Abi tanyakan kepadaku.”
Aku
terdiam, bingung harus menjawab apa.
“Pokoknya
Ara gak boleh balik ke pesantren lagi? Kata Umi disela pertanyaan yang belum Aku
jawab.”
Abi
memberi isyarat kepada Umi untuk diam.
“Semua
keputusan ada ditangan Ara, kalo Abi keserah Ara saja?”
Aku
terdiam merenungi ucapan Abi.
“Ara
yang harus menjalani hidup ini, Abi dan Umi hanya menjembatani, Ara harus
mengambil keputusan sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Kata Abi melanjutkan
perkataannya.”
Ibnu
datang menghampiri ke tempat Aku duduk.
“Kak
Ara, Ibnu minta lemon tea?”
Aku
memberikan secangkir minuman yang berada di atas meja kayu.
Ibnu
menyeruput minuman hangat tersebut sekali. “Kak Ara, kapan kita ketemu dengan
Ustaz Ali lagi? Tanya Adikku.”
Pikiranku
menerang ucapan yang Ibnu katakan.
“Ara
kamu harus berterima kasih dengan Nak Ali! Ucap Umi.”
Aku
bingung atas perkataan Umi. “Terima kasih untuk apa, Umi? Tanyaku tak
mengerti.”
“Nak
Ali selalu setia menemani Ara saat kamu berbaring dirumah sakit! Ujar Abi.”
Aku
terdiam mencoba mengingat peristiwa yang terlewat selama dirumah sakit.
“Abi,
Umi maaf sebelumnya?”
Umi
serta Abi menatap wajah anaknya secara bersamaan.
“Maaf
untuk apa? Tanya Umi balik.”
“Ketika
berada dirumah sakit, Ara seolah-olah berada di suatu tempat yang amat indah,
Ara mendengar suara Ustaz Ali terdengar sayup-sayup memanggil, Ara yakin Umi,
Abi kalo Ustaz Ali adalah jodoh yang telah Allah kirimkan untuk Ara.”
Abi
dan Umi terdiam mendengarkan ucapan anaknya.
“Terus
mau Ara apa? Tanya Abi.”
Ara
terdiam, ia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Maaf
Abi, Umi sebelumnya. Bolehkah Ara menerima pinangan Ustaz Ali walaupun Ara
belum menyelesaikan pendidikan di mahad? Kata Ara sambil menundukan wajahnya.”
Umi
terdiam, ia kaget atas pertanyaan yang Ara lontarkan.
“Abi?
Umi mencolek tangan Abi.”
Abi
berdiri dari tempat duduknya, pandangannya lurus ke depan.
“Kalo
masalah itu Abi serahkan sepenuhnya kepada Ara, karena Abi pikir kamu sudah
cukup dewasa untuk menentukan masa depanmu sendiri, tapi harus Ara ingat Abi
dan Umi mengharapkan kamu bisa menyelesaikan sekolahmu lalu melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.”
Ara
mendengarkan perkataan Abi tetap dengan pandangan tertunduk.
“Menurut
Umi dan Abi bagaimana Ustaz Ali?”
“Maksud
Ara apa? Tanya Umi.”
“Apakah
Umi dan Abi setuju kalo Ara menikah dengan Ustaz Ali, insya allah dia akan
mampu membimbing Ara menjadi lebih baik?”
Umi
dan Abi terdiam, pandangannya lurus menatap paras sang anak yang dari tadi tertunduk,
wajahnya nampak merah merona meskipun kemarin pucat bengkuang terbersit di
wajah cantiknya.
***
Awan hitam melintas di atas pandangan kami, petanda
hujan akan turun dengan deras. Sekelompok burung terbang ditaman langit menuju
tempat berteduh dari dingin yang akan menghampiri.
“Apa
yang mau kau bicarakan denganku? Tanya ustaz ali kepada wanita yang berdiri
dihadapannya.”
Wanita
tersebut diam membisu, ia hanya melihat Ustaz Ali dengan pandangan sendu.
“Zakiya kalo kau ingin minta maaf kepada Ara, belum
terlambat waktunya?”
Ustaz
Ali berkata tanpa melihat wanita yang berdiri dihadapannya, pandangannya lurus
menatap padi yang mengguning menari ditiup hembusan angin.
Mata
Zakiya terlihat mulai berair.
“Kenapa
Ustaz jahat dengan Aku, apa salahku? Zakiya berusaha menahan deraian air mata
yang jatuh dipipinya.”
Ustaz
Ali berdiri dari dalam saung bambu tempat tadi ia duduk bersender.
“Aku
jahat” Intonasi Ustaz Ali meninggi.
“Kenapa
kamu gak bercermin, siapa yang jahat? Ustaz Ali berkata tanpa menatap wajah Zakiya.”
Ustaz
Ali berlalu dari pandangan wanita yang ada dihadapannya.
“Ustaz!”
Zakiya menarik tangan Ustaz Ali.
Ustaz
Ali berusaha melepaskan tangan zakiya yang memegang lengannya.
“Kenapa
Ustaz gak memilih Aku, apa kurang Zakiya dibanding Ara?”
Ustaz
Ali mencoba melangkahkan kakinya kembali.
Zakiya
menarik tangan Ustaz Ali dengan sekuat tenaga. “Jawab Ustaz? Tanya Zakiya,
deraian air matanya mulai mencair dalam leburan tangis.”
“Aku
mau Ustaz menikah denganku?”
Ustaz
Ali menangkis udara di wajah Zakiya, ia kesal dengan sosok yang ada di
depannya.
“Kenapa
Aku harus menikah denganmu, alasan apa yang membuatku harus menikahi wanita
jahat sepertimu? Ucapan yang termuntahkan dari mulut Ustaz Ali.”
Zakiya
terdiam, ia berusaha memberanikan diri menjawab pertanyaan Ustaz Ali.
“Aku
sayang kamu, cintaku gak akan luntur dimakan usia.”
Ustaz
Ali terdiam, ia kemudian melangkahkan kakinya kembali.
“Pokoknya
kamu harus jadi miliku? Zakiya menarik lengan Ustaz Ali kembali.”
“Praak”
Sebuah tamparan tepat melayang dipipi kanan Zakiya.
Zakiya
memegang pipinya yang terasa sakit, derai air matanya mulai mengalir deras.
“Kreek”
Zakiya merobek baju depannya.
“Tolooong..
toloong..!”
Ustaz
Ali kaget dengan teriakan Zakiya.
“Tolooong!
Suara Zakiya terdengar semakin besar.”
Ustaz
Ali bingung dengan teriakan wanita dihadapannya saat beberapa penduduk
menghampiri mereka berdua disaung pematang sawah.
“Tolong..”
Zakiya menangis dengan terduduk lemah.
“Hiiiks..hiiiks”
“Ini
salah paham? Ujar Ustaz Ali gugup.”
“Prak..”
Tamparan melayang di muka Ustaz Ali.
“Dengarkan
Saya dulu..?”
“Dug..”
Perut Ustaz Ali ditendang oleh warga.
Ustaz
Ali terkapar ditanah, wajahnya biru lebam oleh pukulan warga.
Zakiya
menangis melihat Ustaz Ali dikeroyok warga, namun hatinya terasa lebih pilu
saat sebuah tamparan mengenai pipinya oleh orang yang ia sayang.
“Dia
mau memperkosa Saya? Ucap Zakiya dalam leburan air matanya.”
Pandangan
Ustaz Ali terlihat berbayang memandang sekeliling.
“A..ah..”
Beberapa saat kemudian Ustaz Ali diboyong ke mahad tempat ia bekerja.
***
Hening
menyelimuti kamar bernomor tujuh tempat tinggal Zakiya selama ia bermukim di
pesantren.
“Zakiya..tega
banget kamu sama Ustaz Ali?”
Ketiga
sahabat tersebut menatap Zakiya dengan pandangan durja.
“Teganya
Ustaz Ali, kamu fitnah? Ujar Anjel setelah Aulia berkata.”
Zakiya
menangis kembali, derai air matanya seolah tak jenuh menyertainya jejaknya.
“A..aku
hanya ingin Ustaz Ali menikah denganku, Aku gak bisa melupakan wajah dia dalam
pikiranku! Ucap Zakiya terputus-putus.”
Ketiga
sahabat Zakiya termenung memandang temannya yang menangis dihadapannya.
“Apa
kamu tega melihat orang yang kamu bilang sayang oleh ucap bibirmu harus
menjalani hukuman cambuk 100 kali akibat fitnah yang kamu lakukan! Sahut Aulia.”
Zakiya
terdiam, pandangannya kosong.
“A..aku
ingin Ustaz Ali menikah denganku! Ucapnya.”
Anjel
mencubit kedua pipi Zakiya.
“A..ah
sakit tau.”
“Zakiya,
kamu tega melihat Ustaz Ali dihukum cambuk atas kesalahan yang tidak ia
perbuat? Tanya Aulia kembali.”
“Aku
mau tidur!”
“Jawab
dulu pertanyaan kami, Zakiya? Sahut Eni.”
“A..aku
capek, mau istirahat, kepalaku pusing?”
Suasana
semakin larut dalam gempita malam yang berlari, Zakiya memejamkan matanya
dengan lelap namun pikirannya seolah berjalan dan melintasi samudra nan luas.
Ustaz
Ali hadir dalam pejaman mataku yang tertutup, senyum merekah dibibirnya
membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Bab 15
Hukuman Cambuk
“Gak
mungkin Ustaz Ali melakukan hal itu, Umi?”
Umi
memeluk tubuh anaknya yang duduk tergolek lemah saat mengetahui kabar mengenai
Ustaz Ali.
“Ara
tau betul siapa Ustaz Ali, Umi?”
Umi
mengusap kepala Ara dengan lembut.
Abi
menghampiri Umi serta Ara yang berada diruang keluarga, dekat telpon dipojok
ruangan.
“Ini
pasti fitnah? Abi menyela obrolan Umi dengan Ara.”
Ara
menggangukan kepalanya.
“Ara
yakin Abi ini pasti fitnah keji dari Kak Zakiya?”
“Siapa
Zakiya? Tanya Umi.”
Ara
terdiam, ia mencoba mengingat peristiwa yang berlalu dalam hidupnya ketika
berada di mahad.
“Kak
Zakiya orang yang mengancam Ara agar tidak dekat dengan Ustaz Ali, Kak Zakiya
menyukai Ustaz Ali.”
Umi
dan Abi saling berpandangan.
“Maksud
Ara? Tanya Umi.”
“Mungkin
Kak Zakiya memfitnah Ustaz Ali telah memperkosanya agar Ustaz Ali mau
menikahinya? Ara tak sanggup membendung air matanya.”
“Umi,
Abi. Kita harus balik ke mahad, Ara ingin melihat keadaan Ustaz Ali?”
“Katanya
besok Ustaz Ali akan mendapat hukuman cambuk? Kata Umi pelan.”
Ara
duduk menyender pada sofa, tubuhnya terasa lemah tak berdaya, kakinya tak dapat
di gerakan, sekujur badannya dingin mendera.
“Ara
mau melihat keadaan Ustaz Ali? Kata Ara kepada kedua orangtuanya.”
Umi
memeluk tubuh Ara.
“Umi,
Ara mau ke mahad!” Suara Ara terdengar semakin pelan.
***
Terik terasa berada setengah tiang di atas kepala,
gaduh riuh amat terasa di tengah lapangan hijau, rumput bergoyang dalam derita
kepedihan saat ia menjadi saksi kisah pilu seorang lelaki yang mendapat hukuman
cambuk.
“Zakiya,
kamu masih punya kesempatan sejam untuk membatalkan hukuman yang akan diterima
Ustaz Ali? Pinta Anjel.”
Zakiya
menatap keluar jendela kamarnya.
“Zakiya,
please?”
“Kamu
harus buat pengakuan kalo Ustaz Ali gak melakukan hal itu? Aulia mulai terlihat
rewel.”
Tatapan
Zakiya tak menoleh sama sekali ke arah tiga orang sahabatnya.
“Tega
banget loe, Zakiya. Orang sebaik Ustaz Ali kamu fitnah sekejam itu, apa kamu
gak takut azab Allah menimpamu! Eni mulai panas dengan berlalunya waktu yang
terlewat.”
Zakiya
tetap memandang lurus ke depan, tatapan matanya kosong, pikirannya hampa.
“Aku
ingin Ustaz Ali menjadi suamiku.”
Aulia
membalikkan badan Zakiya yang tak melihat ke arahnya.
“Zakiya,
coba kamu lihat mata Aku?”
Zakiya
tak berani menatap mata Aulia, ia memejamkan matanya.
“Zakiya,
buka mata kamu, pandang kami yang ada dihadapanmu! Aulia menyentuh pundak Zakiya.”
Zakiya
tetap menutup matanya.
“Kamu
bisa memejamkan mata, tapi Aku yakin pikiranmu selalu terbayang Ustaz Ali?
Sahut Anjel.”
Air
mata menetes dari mata yang terpejam, Zakiya merasa hatinya terasa pilu, sesak
teramat sangat.
“Ke..kenapa
gak ada orang yang sayang dengan Aku, orangtuaku sibuk.. orang yang kuharapkan
kasih sayangnya ternyata tidak memilihku? Zakiya mulai membuka matanya, matanya
terlihat merah berair.”
“Kamu
masih punya pilihan Zakiya, waktu sebentar lagi akan menghantarkan Ustaz Ali ke
hukuman, apa kamu tega melihat orang yang kamu sayang mendapat hukuman cambuk
100 kali di depan khalayak umum, bayangan bagaimana perasaan Ustaz Ali? Aulia
menggengam erat tangan Zakiya.”
Zakiya
termenung.
“Kamu
masih memiliki kami sahabatmu? Ujar Anjel.”
Anjel,
Eni, serta Aulia memeluk tubuh Zakiya secara bersamaan.
“Ayo
kita selamatkan Ustaz Ali, Zakiya! Ucap Aulia pelan.”
Zakiya
mulai mengenakan jilbabnya.
“Iya.”
Ke
empat sahabat tersebut berjalan menuju lapangan tempat Ustaz Ali akan mendapat
hukuman cambuk 100 kali. Panas menyelimuti langkah kaki yang kami tapaki, jiwa
bergelora, berkecambuk dahsyat.
Ditengah
lapangan Ustaz Ali bertelanjang dada, wajahnya masih nampak lebam biru akibat
pukulan warga kemarin, tangannya di ikat pada kayu yang berbentuk palang. Terik
mentari seolah tidak bersahabat dengannnya. Tetesan keringat mengalir dari
sekujur badan kurus ditengah lapangan. Kulit Ustaz Ali yang terlihat kuning
labu kini terlihat mulai berwarna agak coklat karena panas yang mendera.
Dikulit
tubuh Ustaz Ali sudah terdapat beberapa cambukan yang mulai dilucuti, Pak Aswab
memandang anaknya dengan hati yang hancur.
“Stop..!
Teriak Zakiya.”
“Lepaskan
Ustaz Ali, dia tidak bersalah, Aku yang salah.”
Semua
yang berada dilapangan menoleh ke arahnya, Zakiya bersimpu di atas tanah,
wajahnya bersujud di kaki Ustaz Ali.
Derai
air mata Zakiya mengalir dengan deras.
“Sudah
hukum mati saja lelaki ini, dia pantas mendapatkan itu! Kata salah seorang
warga yang berada dilapangan.”
“Iya,
bunuh saja lelaki di depanmu? Sahut beberapa warga yang lain.”
Zakiya
bangkit dari bersimpu di hadapan Ustaz Ali. “Dia tidak bersalah, Aku yang telah
memfitnah Ustaz Ali telah memperkosaku karena Aku ingin ia menikah denganku?”
Semua
yang ada dilapangan memandang Zakiya dengan bingung.
“Sa..saya
melakukan itu karena ingin Ustaz Ali menjadi suami Saya!”
Ustaz
Ali menegakkan pandangannya ke arah Zakiya yang semula tertunduk.
“I..
iya itu benar? Kata Ustaz Ali, suaranya terdengar melemah.”
Beberapa
saat kemudian warga berhamburan meninggalkan lapangan tempat Ustaz Ali mendapat
hukuman. Pak Aswab memeluk tubuh anaknya yang tergolek lemah, Zakiya mengekor
bersama tiga orang sahabatnya dari belakang.
Ali
dibaringkan di sofa panjang dalam kantor. Pak Aswab mengambilkan segelas air
putih lalu meminumkan kepada anaknya.
Ara
bersama Umi, Abi serta Ibnu yang baru saja tiba di mahad bergegas menghampiri Ustaz
Ali.
“A..ara”
Ustaz Ali menyebut nama wanita yang menyita pikirannya.
Ara
duduk di samping sofa Ustaz Ali berbaring.
“A..ah!
Rintih Ustaz Ali.”
Ara
menangis melihat keadaan orang yang ia kasihi.
“Ustaz
Ali, jangan terlalu banyak bergerak? Ucap Ara.”
Zakiya
menatap Ara dengan perasaan pilu, hatinya hancur lebur melihat Ustaz Ali berada
disisi wanita lain.
Zakiya
berusaha menerima dengan ikhlas segala keputusan yang telah Allah tetapkan
untuknya. Ustaz Ali mungkin bukan jodoh yang terbaik baginya namun ia tetap
memiliki kasih sayang yang besar dari tiga orang sahabatnya.
Anjel,
Eni, serta Aulia menggengam tangan Zakiya, mereka akan selalu menghangatkan
perasaan teman yang saat ini sedang dirundung duka akibat rasa yang ada
bergayung sebuah keranda cinta yang menyayat hati.
Bab 16
Kebisuan Yang
Membingungkan
Ara dengan setia menemani hari-hari yang dilewati
ustaz ali, berhubung libur semester telah tiba allah memberikan ia sebuah
kesempatan untuk membalas jasa kebaikan yang ustaz ali lakukan kepadanya saat
ia berada dirumah sakit.
Goresan
luka yang berbekas ditubuh ustaz ali sudah terlihat memudar, wajahnya mulai
memancarkan aura seperti sedia kala.
Ibnu
berada di antara mereka berdua, berjalan mengelilingi mahad di sore hari.
“ustaz
ali, maukan engkau berjalan-jalan di pematang sawah tempat kita pertama kali
berjumpa? Tanya ara.”
Sebuah
senyuman ustaz ali untuk ara yang member isyarat bahwa ia setuju.
Ibnu
diam meskipun ia berada di antara dua insan yang sedang bercanda-riang dalam
langkah kaki kecilnya.
Enam
langkah kaki mereka berhenti ketika tiba di depan saung bambu.
“ara,
boleh saya bertanya sesuatu? Tanya ustaz ali lembut.”
Sebuah
senyuman tersungging dari bibir ara.
Ibnu menarik tangan sang kakak untuk duduk di
dalam saung.
“ustaz
mau bertanya apa? Pandangan ara tertunduk malu.”
“maukan
engkau memanggiku dengan sebutan mas saat kita sedang tidak berada di mahad?”
Ara
menganggukan kepalanya. “iya, aku mau mas!”
Ustaz
ali sesekali menatap paras ayu ara.
“mas..?
ucap ara setengah ragu.”
“ada
apa ara? Tanyanya.”
Ara
terdiam, ia malu mengungkapkan isi hati yang melandanya.
Burung-burung
menari bebas ditaman langit mengelilingi awan yang tampak celah terbentang
indah biru di angkasa.
Ustaz
ali melirik wajah ara saat ia tak menyadarinya.
“kak
ara lihat ada kupu-kupu? Unjuk ibnu dengan jarinya.”
Ara
dan ustaz ali memandang kupu-kupu bercorak merah muda yang melintasi padi dekat
saung tempat mereka beristirahat.
“ibnu
mau kupu-kupu itu, kak?”
“ya
sudah, ibnu tangkap saja kupu-kupunya? Jawab kak ara.”
Ibnu
berlari mengejar kupu-kupu indah tersebut, semakin dikejar, semakin ibnu ingin
memilikinya, semakin menjauh hewan mungil itu dari angan ibnu.
“kak
ara, bantu ibnu menangkap kupu-kupu? Sahut ibnu ditengah ia mengejar hewan
mungil tersebut.”
Ara
berlari menghampiri ibnu, mereka berdua berusaha menangkap kupu-kupu indah yang
bebas menari dalam gulana udara.
“huuh
capek banget, ibnu! Kak ara mengeluh akan letih yang ia rasa saat tak dapat
meraih yang mereka inginkan.”
Ustaz
ali duduk tenang di dalam saung, kupu-kupu indah yang ara dan ibnu kejar menuju
ke arah ustaz ali.
Ibnu
terpana saat dua ekor kupu-kupu terbang mengelilingi ustaz ali, saat ustaz ali
mengadahkan satu telapak tangannya yang terbuka, seekor kupu-kupu hinggap di
atasnya.
Ketika
ara dan ibnu menghampiri ustaz ali, kupu-kupu tersebut terbang semakin tinggi
menjauh dari mereka.
“mas
kenapa kupu-kupunya pergi? Tanya ara heran.”
Ustaz
ali tersenyum menanggapi pertanyaan ara.
Ibnu
duduk sambil menyelonjorkan kakinya karena lelah.
“mas
kenapa kupu-kupunya pergi? Tanya ara untuk kedua kalinya.”
“karena
kalian berhasrat ingin memilikinya, ia takut akan rasa menggebu yang ada pada
diri ara dan ibnu.”
“aku
akan merawat kupu-kupu itu dirumah? Ucap ibnu.”
Sebuah
senyuman merekah di bibir ustaz ali.
“biarlah
kupu-kupu itu terbang bebas karena dengan menangkapnya, kita telah mengambil
hak hidup yang telah allah berikan kepadanya! Ujar ustaz ali tanpa memandang
paras elok ara.”
“ara..?
ucap ustaz ali kembali.”
“apa
mas?”
“benarkan
perkataan yang abiku ucapankan…?”
“apa
mas? Tanya ara penasaran dengan ucapan yang belum selesai ustaz ali katakan.”
“apakah
benar engkau mau menerima mas sebagai calon suamimu?”
Ara
terdiam.
Ibnu
mendengarkan ucapan dua insan dihadapannya dengan mulut terkunci, ia tak ingin
menggangu suasana.
ara
menganggukan kepalanya.
“benarkah
itu ara? Tanya ustaz ali kembali, ia takut ragu dengan apa yang di lihatnya.”
Ara
kembali mengganggukan kepalanya untuk kedua kalinya.
“ustaz..?
panggil ara.”
Ustaz
ali tersenyum. “lupa ya.. katanya mau panggil saya dengan sebutan mas!”
Ara
menundukan kepalanya, ia malu saat ustaz ali ketahuan sedang melirik ke
arahnya.
“iya,
mas! Ucap ara.”
“ara
mau menikah dengan mas walaupun sekarang aku baru naik dibangku kelas 2 SMU,
tapi dengan sebuah syarat? Pinta ara wajahnya selalu menunduk saat ia
mengungkapkan perasaannya.”
“apa
syarat yang harus mas penuhi? Tanya ustaz ali tanpa ragu.”
Ibnu
mendengarkan pembicaraan ustaz ali dengan kakaknya.
“ara
tidak ingin berhenti sekolah setelah kita menikah, bahkan kalo ada rezeki ara
ingin setelah menikah tetap bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi!”
Ustaz
ali tersenyum. “iya, insya allah kalo mas ada rezeki setelah ara menyelesaikan
sekolah di mahad, ara boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah!”
Ara
tersipu malu mendengarkan ucapan ustaz ali, ia tetap menundukan kepalanya dari
tadi.
“ara
bolehkah mas bertanya sesuatu? Tanya ustaz ali, mukanya terlihat merah merona
seketika.”
“mau
tanya apa, mas?”
Ustaz
ali berusaha mengatur napasnya sebelum ia berkata.
“bagaimana
jika nanti dipertengahan pendidikanmu, ara hamil. Misalnya ara masih berada
dibangku kelas 3 SMU?”
Ara
terdiam, ia kaget dengan pertanyaan yang ustaz ali lontarkan.
Ibnu
terlihat mengamati sang kakak yang dari tadi selalu menundukan kepalanya.
“a..aku..!
ara berhenti meneruskan ucapannya, ia bingung harus berkata apa.”
Ustaz
ali menatap ara yang terlihat merenungi perkataannya.
“a..ra
gak tau harus bilang apa mas? Jawab ara bingung.”
Ibnu
mendekati ara lalu menggandeng tangan kakaknya yang sedang duduk dipinggir
saung.
“biarlah
allah yang menjawab pertanyaan ara, karena hanya illahi yang maha mengetahui
apa yang terbaik untuk hambanya ke depan!”
“berarti
apa jawabanmu iya atas takdir sang illahi? Tanya ustaz ali, ia kembali
menegaskan keputusan ara.”
Ara
hanya terdiam, ia menundukan kepalanya dari tadi.
Ustaz
ali semakin bingung dengan sikap diam yang dipilih ara atas pertanyaannya yang
belum ia jawab.
***
Ali
hanya menatap gemerlap kilau bintang dilangit, ia merenungi kediaman yang ara
lakukan atas pertanyaan yang belum dijawabnya, hatiku bergemuruh hebat ingin
mengetahui isi perasaan ara sebenarnya.
Dingin
menembus jiwa ini, hembusannya menerbangkan daun kering yang berserakan di tanah,
alunan gitar aku petir sambil mendendangkan lagu yang yang menggambarkan
hatiku.
Aku
ambil secarik kertas putih dengan pensil.
jemariku
mulai memetik gitar, gemerisik air yang mengalir dari batang bambu ditempat
penangkaran kolam ikan milik abi terdengar bersamaan dengan alunan jiwaku.
Malam
makin berlari dalam larutnya keindahan rembulan, aku duduk dibawah cahayanya,
mencoba mengoreskan irama hatiku melalui sebuah tulisan.
Ditaman surga…
engkau tersenyum dalam
balutan gaun putih nan indah
senyummu merekah seolah
memanggil raga ini
saat kuhampiri dirimu
berlari
aku mengejar.. engkau
berlari semakin jauh
rasaku terpaut di
jiwamu
illahi.. sungguh
mempesona keelokkan ciptaanmu
sebuah syair syukur
nikmat kudendangkan
memuji kebesaranmu
aroma
wedang jahe hangat terasa dihidungku, khas minuman tradisional yang biasa abi
buatan.
Abi
terlihat melangkahkan kaki menuju ke arahku, ditangannya ia membawa talenan
plastik yang berisi dua cangkir beling dengan teko yang berisi minuman hangat.
Aku
hentikan petikan gitar yang di alunkan, ternyata bukan bait lagu yang
kuhasilkan dari menulis tadi melainkan sebuah puisi yang tercipta karena
bayangan ara yang melintas dalam pikiranku.
“kleek”
kursi abi geser saat ia akan duduk dihadapanku.
Abi
mulai menuangkan minuman hangat ke cangkir beling yang ia bawa, campuran aroma
beraduk dalam satu wadah.
Harum
irisan jahe, cengkeh, dan kayu manis dengan tambahan gula membuat minuman
hanget ini menjadi teman baik saat malam datang.
“pak
ahmad barusan telpon abi?”
“memang
pak ahmad bilang apa, abi? Tanya ali penasaran.”
Abi
tersenyum memandang anaknya.
“ara
tidak mau ya menikah dengan ali..! ucapnya lirih.”
“kok
ali bisa bicara begitu? Tanya sang abi.”
Rona
kecewa terpancar dari wajah ali. “saat ali bertanya kepada ara maukah dia menikah
dengan ali, ara hanya terdiam, abi!”
Sang
abi menatap anaknya dengan pandangan penuh.
“ali
sudah yakin ara menolak untuk menikah denganku Karena ia tak menjawab
pertanyaan ali saat itu! Ali melanjutkan ucapannya yang sempat terputus.”
Abi
menikmati wedang jahe hangat yang ia seruput.
Dawai
gitar yang ali petik kembali ia mainkan. Alunan sedih menyelimuti udara yang
ada di sekitarnya.
Sang
abi menahan tawa melihat tingkah anaknya.
“kenapa
abi tersenyum? Tanya ali bingung melihat sikap abi yang seolah senang melihat
anaknya dilanda duka cinta.”
Abi
meletakan secangkir minuman yang ia pegangnya.
“ali
mau dengar cerita abi dengan umi dulu gak sebelum umi masih belum menjadi istri
abi?”
Ali
terdiam, hanya sebuah anggukan kepala yang ia berikan.
“dulu
abi juga sempat kecewa saat bertanya kepada alm. Umi apakah ia mau menikah
dengan abi karena ibumu hanya terdiam?”
Abi
berhenti bercerita, ia teringat kisah masa lalu bersama alm. Istrinya tercinta.
“terus
abi..? tanya ali penasaran.”
Abi
tersenyum lebar hingga lesung pipi terbentuk di wajahnya.
“ternyata..
dibalik sikap diam seorang wanita, ia menerima abi. umi mau menikah dengan abi,
hanya ia malu untuk mengatakannya! Lanjut abi.”
Ali
menundukkan pandangannya. “tapi kisah abi berbeda dengan ali? Paras ali tampak
dirundung pilu.”
“kata
siapa? Tanya abi.”
“kenyataannya
memang begitu, abi?”
Abi
berdiri dari tempat duduknya lalu menepuk pundak anaknya.
“pak ahmad tidak bilang ke abi kalo ara
menolak!”
Ali
kaget mendengar ucapan abi.
“ara
mau menikah dengan ali maksud, abi! Tanya ali sambil berdiri dari kursi
duduknya.”
Sang
abi tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“alhamdullilah!
Ali sujud syukur mencium tanah.”
Bab 17
Selamat Jalan Zakiya
Gempar melanda suasana pagi di mahad tempatku
berada, isu yang beredar ibarat angin topan yang cepat menghembuskan kabar yang
belum tentu kebenarannya.
Liburan
semester memang telah berakhir dan ini adalah awal masuk pertama di mahad
setelah libur panjang usai, sekilas berita yang mengoyang asrama Fatimah ialah
seputar gossip mengenai kak zakiya.
Salah
satu santriwati yang termasuk gengdanger di mahad yang cukup terkenal karena
reputasi kurang baiknya, angin yang berhembus mengatakan bahwa selama liburan
kak zakiya terpeleset dari kamar mandi hingga akhirnya ia tidak kembali ke
mahad ini, entahlah.. kebenaran berita itu atau sebatas kabar burung belaka,
karena berbagai alasan yang melanda di mahad.
Ada
sebagaian santriwati yang menganggap berita itu adalah hal fikfif belaka karena
zakiya malu kembali ke mahad ini karena memfitnah orang sebaik ustaz ali telah
memperkosanya, padahal kalo dipikiran setengah semester lagi kak zakiya akan
menghadapi ujian akhir sekolah yang berarti ia akan menyelesaikan sekolahnya di
mahad ini.
Tiga
orang sahabat zakiya yang akrab dengannya saat ditanya mengenai kebenaran kabar
yang beredar tentang zakiya mengakui hal tersebut benar terjadi. Bagaimana
mereka bisa mengetahui berita tentang zakiya.. alasannya adalah selama liburan
berlangsung. Orangtua zakiya menelpon ibu kak aulia yang menurut pengakuan sang
anak bahwa zakiya memang jatuh terpeleset dari kamar mandi hingga tak sadarkan
diri, hukum karma mungkin allah berikan untuknya atas perbuatan yang telah ia
lakukan kepada orang sebaik ustaz ali atau ara.
Entah
mengapa banyak sekali santriwati yang senang mendengar kabar berhembus
tersebut. Mereka terlihat bahagia atas duka yang melanda kak zakiya, termasuk
santriwati Fatimah. Mungkin yang sedih hanya tiga orang teman setia zakiya yang
dirundung duka akibat berita memprihatikan tentang zakiya.
Hari
kedua awal masuk seperti biasa, aktivitas dimulai kembali. Tiap pagi seusai
sholat subuh, pelajaran muhadasah, kemudian dilanjutkan dengan persiapan untuk
sekolah aliya.
Dentang
lonceng yang berbunyi memaju semangat di jiwaku dengan motivasi menimba ilmu
yang berkobar.
“ara,
benar gak sih kabar tentang kak zakiya? Tanya susi sambil melangkah ke kelas 1c
yang berada dipojok madrasah paling ujung.”
“aku
gak tau, susi. Mudah-mudahan berita itu gak benar! Jawabku.”
Mentari
pagi menghangatkan warna-warni bunga yang bergoyang di taman depan kelas kami.
Suasana
kelas 1c tampak sudah ramai oleh beberapa temanku yang datang lebih awal, mungkin
karena itu merupakan hari pertama masuk sekolah.
Aku
meletakan buku yang di genggam di atas meja kayu panjang untuk ukuran belajar
dua orang santriwati.
Aku
bergegas keluar kelas, lalu nongkrong bersama santriwati lain di depan kelas.
Suasana
lalu lalang santriwati menuju kelas terlihat dari tempatku duduk, awan biru
menjadi pemandangan indah dengan segerombolan burung yang terbang ditaman
langit.
“ara
bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan ustaz ali?”
Aku
tersenyum menanggapi pertanyaan susi.
“wah.. umur ustaz ali panjang, baru aja di
omongin ternyata orangnya muncul! Ucap susi yang melihat ustaz ali berbelok memasuki
kantor madrasah.”
Aku
menatap ustaz ali dari tempatku duduk, Ia mengenakan kemeja panjang hijau muda
dengan celana panjang hitam.
“ustaz
ali ganteng banget ya, ara! Lanjut susi berucap setelah melihat sosok ustaz ali
setelah lama tak berjumpa selama libur panjang semester.”
Aku
mengangguk.
“gimana
ara kelanjutan hubungan kalian? tanya susi penasaran.”
“aku
minta doanya saja!”
Susi
memandangku, wajah ini tampak merah merona karena menahan malu yang dirasa.
“ara
jadi menikah dengan ustaz ali? Susi semakin penasaran dengan hubungan kami.”
Aku
tersipu malu. “iya!”
“kapan?”
Aku
terdiam.
“kapan,
ara hari bahagia itu datang? Tanya susi kembali.”
“Kemungkinan
akhir tahun depan! Jawabku memandang taman langit.”
“haa..
cepat banget, berarti saat ara duduk dibangku kelas dua semester akhir ya!”
Aku
menganggukan kepala.
“umi
dan abi memilih akhir tahun depan dengan tujuan andaikan aku hamil selang tak
lama kami menikah, itu artinya tidak akan menganggu belajarku!”
Susi
memandangku dalam.
“teng..
teng..” dentang lonceng masuk madrasah aliyah berbunyi.
Santriwati
terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat menuju madrasah sebelum lonceng
berbunyi karena hukuman sit up menanti di hadapan mereka, khusus yang telat.
Para
staf pendidik mulai berhamburan keluar kantor satu persatu, ustaz ali berada di
antara mereka.
Kamipun
bergegas memasuki kelas jam pelajaran pertama yang di isi oleh ustaz ali.
Suasana
riuh melanda ruangan yang berada dipojok madrasah saat ustaz ali masuk ke dalam
kelas ini.
“assalamu
alaikum! Sapa ustaz ali saat memasuki kelas.”
Wajahnya
nampak murung dihari pertama mengajar.
Ia
duduk di kursi kayu didepan kelas sambil meletakan kitab buluqul mahrom yang
dibawanya.
Salah
seorang santriwati memimpin membuka kelas, usai doa berakhir. Ustaz ali memulai
membicaraan.
Ia
berdiri maju ke depan kelas.
“tak
terasa allah mempertemukan kita kembali dalam ruangan dipagi hari ini setelah
libur panjang, bagaimana liburan kalian dirumah? Tanya ustaz ali sebelum
memberikan materi pelajaran.”
Ustaz
ali melirik ke arah tempatku duduk, liburan panjangnya ia habiskan bersamaku.
“ustaz,
liburan kemana? Tanya temanku yang duduk dibaris depan.”
Ustaz
ali tersenyum meskipun kesedihan terlukis di wajahnya.
“alhamdullilah,
liburan ini adalah hal terindah yang allah anugrahkan untuk saya! Ucapnya.”
Hatiku
merekah mendengar ucapan mas ali alias ustaz ali yang harus kupanggil ketika
kami berjumpa dilingkungan mahad.
Pandangan
ustaz ali terlihat sendu, sebelum ia menyampaikan sebuah berita duka.
“ada
yang ingin ustaz sampaikan sebelum kita memulai materi di awal perjumpaan..!”
Ustaz
ali terlihat menundukan pandangan, terbersit kesedihan yang melanda jiwanya.
“innallilahi
wa inna illahi rojiun, telah kembali berpulang ke rumah allah saudara kita di
mahad ini, semoga allah senantiasa memaafkan semua kesalahan serta khilaf yang
ia perbuat…!”
Gempar
melanda ruangan 1c.
“semoga
zakiya di terima di sisi allah, amin! Ucap ustaz ali melanjutkan perkataannya.”
“innallilahi
wa inna illahi rojiun! Batinku.”
“kak
zakiya meninggalnya karena apa, ustaz? Tanya amel ketua kelas 1c.”
Ustaz
ali terdiam sejenak, ia mencoba mengatur napasnya.
“informasi
terakhir yang saya dengar dari kantor, katanya zakiya menghembuskan napasnya
terakhir kemarin sore setelah ia terpeleset dari kamar mandi dirumahnya!”
Aku
kaget mendengar kabar kematian kak zakiya karena saat kami bertemu terakhir
ketika ustaz ali mendapat hukuman cambuk, ia terlihat sehat.
“mari
kita kirim surat al-fatihah untuk kak zakiya, semoga allah senantiasa memberi
kemudahan di alam kuburnya! Ucap ustaz ali.”
Seluruh
santriwati kelas 1c mengheningkan doa untuk kak zakiya yang dipimpin oleh ustaz
ali.
Sebagai
seorang hamba yang pasti calon mati, kita memang tidak dapat memprediksikan
kapan umur ini akan habis masa kontraknya di dunia oleh karena itu gunakanlah
waktu serta hidupmu sebaik mungkin selama kesempatan masih ada.
***
Pagi menjelang siang, haru berkelana di asrama
khodijah tempat zakiya bermukim. Aku ikut merasakan kehilangan meskipun sosok
kak zakiya belum lama kukenal.
Beberapa
santriwati berkesempatan untuk berkunjung melihat zakiya dihari terakhirnya
sebelum ia di makamkan. Setiap santriwati dari masing-masing asrama diwakilkan
oleh empat orang anak, dari asrama Fatimah. Aku termasuk salah satu dari empat
santriwati yang mengantarkan jenazahnya menuju liang lahat.
Suasana
duka berkeliaran dirumah alm kak zakiya. Orangtuanya menangisi kepergian anak
semata wayangnya dengan perasaan menyesal karena telah salah menilai
kebahagiaan yang diberikan untuk zakiya.
Orangtua
zakiya sibuk bekerja sehingga waktu dan hidupnya dihabiskan banyak diluar
rumah, mereka ingin anak tunggalnya dapat hidup bahagia dengan financial yang
orangtuanya berikan. Padahal sesungguhnya kebahagiaan yang anaknya butuhkan
bukan hanya factor financial yang dapat terpenuhinya kebutuhan biologis zakiya
namun melalaikan rasa afektif yang ia inginkan.
Isak
tangis memenuhi ruangan tamu di rumah kak zakiya, alunan ayat suci al-quran
mengema indah berkumandangkan doa yang dikirim untuk si mayit.
Aku
membuka kain putih yang menutupi muka kak zakiya bersama dengan santriwati yang
datang melayat.
“deg..
deg..” jantungku berdenyut dengan cepat.
Ustaz
ali berdiri disampingku, mungkin karena takut aku jatuh pingsan.
Wajah
kak zakiya terlihat pucat saat kain putih yang menutupi terbuka, ia benar-benar
berbaring dalam tidur panjangnya.
Bab 18
Sadismen Seks
Detik bergulir cepat, masa berlalu terlampaui oleh
waktu hingga tanpa terasa sudah setahun berlewati sejak kepergiaan kak zakiya.
Sebuah goresan kenangan terbersit dalam bingkai jiwa yang berkelana dan
kisahnya terukir dengan goresan pena jiwa yang dirasa.
Langkahku
kian mendekati ke arah pernikahan, suatu hal yang pasti akan terjadi pada
diriku cepat atau lambat. Untaian lafaz doa selalu terukir di lisan yang setiap
saat aku ucapkan kepada illahi
Berjalannya
waktu menguatkan niatku untuk memilihnya sebagai pendamping teman hidupku.
Sosoknya ibarat embun pagi yang menyejukan jiwa ini. Ingin rasanya aku selalu
berada di sampingnya, dua tahun bersama membuatkulebih mengenal calon pendamping
hidupku. Ia lelaki yang selalu membuat aku bersemangat untuk menimba ilmu,
mengenal illahi lebih dalam melalui dua hal yang harus aku lakukan yaitu
menjauhi larangannya dan menaati perintahnya, walaupun harus kuakui ia agak
sedikit keras dalam bertindak.
Gaun
pengantin berwarna putih panjang bercorak batik khas dari jawa tengah menjadi
pilihan pakaian adat yang kami pilih dalam resepsi pernikahan.
Mas
ali sebutan yang aku panggil ketika kami tidak sedang berada dilingkungan mahad
membuat diri ini semakin terus mengingatnya, ia terus berkelana dalam
pikiranku.
Undangan
telah dipesan dengan kapasitas tamu kurang lebih 500 orang, pesta pernikahan di
adakan dirumah orangtuaku dikawasan Jakarta.
Debaran
jantungku berdenyut semakin tak menentu.. karena menurut temanku dimahad yang
kakaknya sudah pada menikah mereka bercerita seputar malam pertama.
Malam
pertama bersama orang yang kita sayang dalam hidup, aku tak bisa
membayangkannya. Mungkin betapa indahnya.. hingga aku tak dapat mengucapkannya
melalui sebuah kata hanya angan yang berlari dalam pikiranku saat ini.
“ara
apa yang sedang kau pikirkan? Tanya mas ali.”
Aku
termenung, pandanganku hanya menatap ibnu yang sedang asyik mengamati unta
dikebun binatang ragunan.
Sebuah
senyuman kuberikan untuknya.
“apa
ara gugup menanti seminggu menuju pernikahan kita? Tanyanya setelah tak ada
jawaban dariku.”
Aku
tersenyum, wajahku tertunduk malu.
Ibnu
menarik ujung bajuku menuju ke tempat unta, mas ali mengikuti langkah kami.
“kak
untanya lucu ya!”
Aku
menganggukan kepala kepada ibnu.
“ibnu
tau gak kenapa pundak unta besar? Tanya mas ali sambil jarinya menunjuk ke
pundak unta yang sedang makan rumput hijau.”
Ibnu
menggelengkan kepalanya. “enggak mas, memang kenapa bisa besar pundaknya?”
Ibnu
mengamati unta tersebut cukup lama.
“pundak
itu fungsinya untuk menyimpan minuman unta selama beberapa hari karena di
tempat tinggal aslinya air susah untuk dicari? Mas ali menjelaskan kepada
adikku tersayang dengan sabar.”
“emang
unta tinggalnya dimana, mas? Tanya ibnu kembali.”
Aku
tersenyum melihat ibnu yang terlihat kritis dalam bertanya untuk anak
seusianya.
“ditimur
tengah! Ucap mas ali kepada adikku.”
Obrolan
antara adikku dengan mas ali membuatku melupakan sebersit pertanyaan seputar
pernikahan kami yang akan berlangsung hitungan hari lagi.
Enam
langkah kaki mulai menapaki jalan keluar dari tempat pariwisata, sendau gurau
berseling ibarat semilir hembusan angin yang menerjang raga ini.
Aku
mengamati sepasang suami istri yang sedang bersama dengan anaknya saat kami
hendak meninggalkan ragunan, dalam otakku terlintas sebuah angan.. andaikan
mereka adalah aku, mas ali dengan anak kami kelak.
***
Debaran jantungku berdegup sangat cepat saat hari
bahagia kami tiba. gaun pengantin putih panjang dengan jilbab putih di hiasi
bunga melati menambah elok kecantikanku saat ini.
Aku
bagaikan seorang puteri yang menjadi pusat perhatian dengan pesona yang
kumiliki, pangeran di sisiku juga dengan paras eloknya yang merekah membuat
semua mata melirik ke arah kami semua.
Seusai
ijab Kabul, acara resepsi pernikahanpun
dimulai.
Kami
berdiri dikursi mengulurkan tangan kepada setiap orang yang memberi ucapan
selamat. Rasa dijiwa bercampur aduk, letih, sedih, bahagia, dan deg.. deg..kan.
Sebagian
tamu terlihat mengambil hidangan makanan yang telah di siapkan. Umi menangis
saat anak perempuannya di ambil oranglain yang kini telah menjadi istrinya.
“ara,
selamat menempuh hidup baru ya!”
Aku
mencium pipi sahabatku ketika kami bersalaman.
“iya,
susi terima kasih doanya! Ucapku.”
“aku
nitip ara ya, tolong jaga dan rawat ia dengan baik! Pesan susi kepada suamiku.”
Mas
ali tersenyum. “iya susi, insya allah.”
Beberapa
teman mahad yang lain ikut mengekor dibelakang susi, meskipun tidak semua anak
asrama Fatimah menghadiri pernikahanku karena terbentur oleh jarak yang
memisahkan.
Kak
iyah datang ke pernikahanku, hatiku amat bahagia sangat mengetahui Pembina
asrama Fatimah mau mengorbankan waktunya untuk santriwati yang bermukim di satu
atap dengannya.
Mas
ali tersenyum saat kak iyah menghampiri kami.
Kelana
waktu berlari semakin cepat hingga tanpa terasa satu-persatu tamu yang datang
mulai berhamburan pulang.
Jantungku
berdendang seirama kami memasuki kamar.
***
Dua hari setelah acara pernikahan kami, aku bersama
suami tinggal di rumah yang telah diberikan oleh pak aswab, abi mas ali.
Rumah
tersebut terletak tak jauh dari tempat mas ali mengajar dimahad dan tentunya
jarak yang dekat menuju ke sekolahku. Umi dan abi mengikhlaskan anak
perempuannya pergi meninggalkan mereka bersama suaminya, alhamdullilah mas ali
berjanji kepada allah dan juga aku untuk aku berkunjung ke rumah orangtua
setiap dua pekan sekali atau saat ada waktu libur panjang. Menurutnya orangtua
adalah seseorang yang amat berjasa dalam hidup kita karena kita bisa menjadi
seperti ini karena mereka, ingatlah jasa orangtua yang telah merawat serta
melahirkanmu karena tidak ada istilah mantan ibu atau mantan ayah namun sebutan
bekas istri atau bekas suami itu ada.
Aku
menantikan malam pertama yang terindah dalam hidupku, selama dua hari ini kami
belum melakukan hubungan intim karena lelah masih menyelimuti raga kami setelah
ijab Kabul dengan acara resepsi pernikahan.
Malam
semakin larut, kupandangi bintang nan bersinar dilangit dari balik jendela
kamar.
Mas
ali menghampiri ke arahku, ia berdiri tepat disamping aku berada, Tangannya
memeluk tubuh ini dari belakang.
Sebuah
kecupan ia berikan dipipi kananku, aku tersipu malu.
“bintangnya
indah ya, mas?”
Mas
ali menatap langit. “indah sekali, namun lebih indah wanita disampingku?
Ucapnya.”
Aku
menundukkan kepala karena malu.
“mas
pintar merayu, aku malu ditatap terlalu lama, janganlah mas melihat aku terlalu
lama nanti engkau akan cepat bosan melihat wajah ini sebelum aku berubah
keriput! Ucapku tepat ditelinga kanan mas ali.”
Ia
menggenggam tubuh ini erat, lalu memgopongku ke tempat tidur. Aku berbaring
sambil memandang wajahnya, ia pun membalas menatapku.
Semilir
angin menambah suasana elok dalam hati ini.
Mas
ali berdiri, tiba-tiba ia memukulkan guling yang berada di sampingku ke
tubuhku.
Tatapan
mata suamiku berubah, pandangannya terlihat durja.
Ia
bahkan sempat memukul tubuhku, aku menggerang sakit, air mataku menetes.
Hening..
menyelimuti ruangan dimana kami berada.
Aku
menangis saat mas ali memukul dimalam pertama yang seharusnya indah dalam
pikiranku.
“ara,
maafin mas! Ia menyentuhku, sekujur badan ini terasa sakit meskipun mas ali
tidak memukul wajahku.”
“hiiiks..
hiiiks…”
Mas
ali memeluk tubuhku, ia meneteskan air mata tanda penyesalan yang telah ia
perbuat kepadaku
Ia
memegang tanganku. “ara, pukul mas! Ucapnya, ia memintaku untuk melakukan hal
yang sama kepadanya.”
Aku
terdiam hanya butiran air mata yang menjawab rasa yang ada di jiwa.
“ara,
pukul mas! Ia memegang tanganku lalu meletakkan dipipinya.”
Aku
menatap suamiku, pandangannya terlihat durja kembali.
“prak”
sebuah tamparan melayang dipipiku.
Aku
menangis kembali.
“braak”
ia memukul bantal yang berada tepat di atas kepalaku.
Debaran
jantungku berlari semakin cepat.
“a..ah,
mas” aku meringgis sambil memegang dada.
Mas
ali kaget, ia segera terdiam.
Tatapan
yang durja kini sudah kembali seperti sedia kala saat aku mengenal sosok mas
ali pertama kali kami bertemu.
Ia
bergegas memberikan aku segelas air, lalu meminumkannya kepadaku.
Debaran
jantungku perlahan kembali normal, meskipun rasa kaget menyelimuti pikiranku
mengenal sosok mas ali dalam wajah yang berbeda.
Bab 19
Kenyataan Pahit
Pikiranku saat ini terbersit sebuah tanya besar
tentang sosok mas ali dengan karakter yang berbeda, ia memiliki dua wajah
berbeda dalam hidupnya. Perasaan takut menghantui jiwa ini saat tingkah laku
suamiku menjadi oranglain dalam hidupnya.
“ara,
gak ikut istirahat?”
Susi
dan shaila menghampiriku.
Aku
terdiam.
“ara
ceritain dong gimana rasanya?”
Susi
penasaran dengan kisah malam pertamaku.
Senyuman
aku berikan kepada dua orang sahabat baikku.
“ada
deh! Ucapku berusaha menyembunyikan sesuatu yang terjadi.”
Di
kelas kini hanya ada tiga orang santriwati, kebanyakan temanku sedang berada
diluar ruangan selama jam istirahat tiba.
Aku
bersama dengan susi dan shaila duduk diluar kelas, pemandangan rumput bergoyang
menjadi saksi obrolan kami.
Kantor
madrasah aliyah terlihat jelas dari tempat kami duduk.
“ara
pasti beda ya, rasanya setelah menikah dengan masih lajang?”
Aku
menganggukan kepala.
“ceritain
dong ara, bagi pengalaman! Colek shaila.”
Aku
tersenyum meskipun sebuah pilu melintas dalam rasa ini.
“nanti
kalian juga akan merasakan sendiri? Ucapku.”
“katanya
yang aku dengar, malam pertama itu rasanya sakit ya, ara?”
Aku
terdiam memikirkan ucapan susi.
“iih
ara kok jadi diam begitu sih? colek susi.”
Aku
menghela napas panjang. “emang begitu ya, sus? Tanyaku.”
Susi
dan shaila memandang wajahku penuh tanya.
Aku
terdiam, berusaha menyembunyikan aib suamiku dimata mereka.
“teng..
teng..” bel masuk berbunyi.
santriwati
yang sedang istirahat kini kembali ke dalam kelasnya masing-masing.
“sudah
kita belajar aja dulu, nanti kalian juga akan merasakan sendiri setelah
menikah! Ucapku.”
***
“fungsi
pengaturan seksual”
Kebutuhan seks merupakan salah satu kebutuhan
biologis setiap manusia. Dorongan seksual ini apabila tidak tersalurkan
sebagaimana mestinya atau tersalurkan tetapi tidak dapat dibenarkan oleh norma
agama dan masyarakat, maka akan berakibat bagi mereka yang melakukannya.
Misalnya
saja, kebutuhan pemuasan seks seseorang begitu memeuncak padahal dia tidak
mempunyai wadah yang sah (belum kawin) maka seseorang cenderung melakukan
kegiatan yang sifatnya dapat memuaskan kebutuhan seksualnya. Contoh kegiatan
tersebut antara lain masturbasi atau onani, yaitu suatu pemuasan dengan
aktivitasnya sendiri. Hal ini dilaksanakan karena keinginan pemuasan seksual
yang bersifat sementara telah dapat terpenuhi. Kegiatan masturbasi atau onani
ini hampir pernah dilakukan oleh setiap orang, baik kegiatan tersebut disengaja
maupun tidak disengaja.
Namun
demikian apabila masturbasi atau onani ini dilakukan terus menerus maka akan
berakibat kurang baik bagi kesehatan jasmani maupun rohani bagi mereka yang
melakukan.
Biasanya
apabila melakukan masturbasi atau onani dapat hilang apabila mereka telah
berkeluarga (bersuami istri).
Sedangkan
kegiataan pemuasan seksual lainnya yang tidak wajar yaitu homoseks. Yang
dimaksud dengan istilah homoseks ialah suatu keinginan atau aktivitas seksual
yang ditujukan terhadap orang-orang dari jenis seks yang sama. Seorang homoseks
dapat hidup berumah tangga dengan oranglain yang jenis seksnya sama dan
mengenai aktivitas seksnya hampir sama dengan heteroseks.
Sebab-sebab
seseorang menjadi homoseks ada beberapa pendapat, seperti yang dikemukan oleh
Feldman dan mac cullockdalam majalah Anda oleh gunadi atmaji (januari, 1980,
hal 25) bahwa homoseks disebabkan oleh kecenderungan biologis seseorang.
Misalnya karena factor hormon yang berhubungan dengan seks ataupun karena
factor genetic. Tetapi ada ahli lain yang mengatakan bahwa homoseks disebabkan
oleh ketidakseimbangan hormon-hormon yang berhubungan dengan seks misalnya
testoteron, estrogen dalam tubuh seseorang.
Sedang
menurut pendapat tokoh aliran psikoanalisis, lebih menekankan pada apa yang
terjadi pada masa beberapa tahun pertama dari kehidupan seseorang. Dasar
utamanya tentang homoseks ini adalah hetero phobia, yaitu suatu rasa takut yang
berlebihan akan kontak seks dengan lawan jenisnya. Ketakutan ini sebenarnya
merupakan akibat dari kejadian-kejadian pada masa anak-anak dengan terjadinya
konflik oedipal.
Penemuan
seksual yang lebih jauh menyimpang dari fungsi keluarga ialah dengan adanya
pemuasan seks tetapi dilakukan tidak dengan suami atau istrinya sendiri,
walaupun hubungan seks disini adalah hubungan seks wajar seperti apa yang
dilaksanakan oleh seorang suami atau istrinya sendiri.
Pemuasan
seks yang terakhir inilah yang berakibat terjadinya ketentraman dan kebahagiaan
dalam keluarga akan terganggu, bahkan sampai terjadinya perceraian antara suami
istri sering disebabkan oleh masalah tersebut. Pemuasan seks yang terakhir tersebut
mungkin dilakukan oleh seseorang dikarenakan kepuasan seks di dalam keluarganya
yang dibina tidak dapat terpenuhi atau memang di antara suami atau istri ada
yang mengalami gangguan maniak.
Oleh
karena itu kepuasan seks di dalam keluarga itu besar sekali pengaruhnya dan
pentingnya dalam membina keluarga yang sehat, harmonis dan bahagia.
Dalam
hal pengaturan seksual ini keluarga memiliki peranan yang sangat penting,
seperti telah dikemukan oleh Horton dan hunt dalam bukunya sociology (1968,
hal. 220) mengatakan bahwa keluarga merupakan lembaga pokok yang mengorganisasi
dan mengatur pemuasan keinginan-keinginan seksual.
Jelaslah
disini bahwa keluarga merupakan wadah yang sah baik ditinjau dari segi agama
maupun masyarakat dalam hal pengaturan dan pemuasan keinginan-keinginan
seksual.
“ara,
kamu minum dulu ini? Mas ali menghampiriku yang sedang membaca buku bimbingan
dan konseling keluarga.”
Secangkir
kopi jahe hangat sengaja suamiku buatkan untuk istrinya tercinta.
Aku
menyeruput minuman yang ia sajikan untukku.
“ara
maafin mas! Ia bersimpuh dihadapanku.”
“mas
bangun? Aku menarik tangan mas ali yang bersujud di kakiku.”
Wajah
mas ali terlihat sendu, ia mengakui kesalahan yang ia perbuat kepadaku.
“ara,
mas gak tau kenapa bisa bersikap seperti itu?”
Aku
terdiam.
Mas
ali duduk disampingku, ia memeluk tubuhku erat.
“ara
apapun keputusan yang kamu pilih, mas akan terima itu dengan lapang dada? Mas
ali berbisik ditelingaku saat memeluk aku.”
“deg.. deg..! perasaan ini tak menentu
mendengar ucapan suamiku.”
“maksud
mas apa?”
Mas
ali terdiam, matanya terlihat berair.
“kalo
ara gak kuat dengan perlakuan kasar mas, ara boleh mengkhuluk –menceraikan-
mas! Ucapnya tanpa memandang mataku.”
Hatiku
menangis mendengar ucapan suamiku, aku letakan buku yang tadi kubaca, kudekap
erat ia.
“ara
sayang mas! Deraian suaraku tertahan dihati, hanya isak tangis yang menjawab
kesedihan yang berkelana.”
Mas
ali mengelus rambut panjangku.
“mas
mau janji satu hal dengan ara? Pintaku.”
“apa?”
Aku
mencium jemari suamiku dengan lembut.
“apa
ara? Tanyanya kembali setelah tiada jawaban dariku.”
Aku
mengelus bibir suamiku dengan jari ini.
“ara
tidak mau mendengar mas mengucapkan kata khuluk lagi! Jawabku.”
Mas
ali menganggukan kepalanya.
“ara
andaikan suatu saat kamu berubah pikiran, mas akan berusaha berlapang dada
dengan keputusan yang akan kau pilih!”
Derai
air mataku kembali mengalir, saat kulihat dua bola mata mas ali berubah menjadi
sosok karakter yang berbeda dari suamiku.
“prak”
sebuah pukulan melayang ditubuhku.
Aku
berlari ke dalam kamar, bergegas pintu kukunci.
“A..ah”
tangan mas ali terselip dipintu yang hendak kututup.
“ara
sakit! Raungnya.”
Aku
tak tega melihat tangan suamiku terjepit pintu, apalagi ia meronta kesakitan.
“braak.”
Aku
tersungkur dilantai.
“mas
jangan!”
“bruugh”
“ma..mas..
jangan!”
Suaraku
terdengar semakin lemah, pandanganku mulai terlihat kabur.
Bab 20
Comments
Post a Comment