Sinopsis
Irama Asmara Di Mahad
Ara panggilan dari Maratus Soleha memutuskan untuk melanjutkan pendidikan setelah lulus sekolah menengah pertama di sebuah pesantren daerah Jawa Tengah, banyak hal baru serta pengalaman baru yang ia dapatkan ketika menapaki langkahnya di pesantren ini.
Jauh dari orangtua dan adik semata wayang merupakan hal yang amat menyakitkan baginya namun di sisi lain ia mempunyai teman-teman yang baik saat berada di pesantren.
Banyak kisah menarik dalam perjalanan hidup Ara di sebuah pesantren ini termasuk ta’aruf ia saat pertama kali dengan Ali –anak Pak Aswab- yang bertemu tanpa di sengaja di pematang sawah tak jauh dari asrama Fatimah saat ia ingin menyendiri karena rasa rindunya kepada orang rumah bersama sahabatnya Susi.
Ternyata Ali adalah ustaz baru Ara di madrasah aliyah tempat ia menuntut ilmu di pesantren, dengan berlalunya waktu yang terlewati ustaz Ali meminta Pak Aswab –ayahnya- untuk mengkhitbah Ara.
Selain itu apakah ustaz Ali sanggup menerima keadaan Ara yang koma tak sadarkan diri akibat ulah Kak Zakiya yang mengancam hubungannya dengan ustaz Ali bahkan setelah calon istrinya kembali sadar, sikap Ara berubah total terhadap ustaz Ali, cobaan datang beruntun bahkan saat Ara menerima pinangan ustaz Ali ternyata sang pujaan hatinya harus menjalani hukuman cambuk dipesantren tempat ia berada karena difitnah telah memperkosa Zakiya –seorang wanita yang mengejar cinta ustaz Ali- setelah Ara memutuskan untuk menikah dengan ustaz Ali kenyataan pahit mendera Ara karena ia baru mengetahui kalo ternyata ustaz ali memiliki kepribadiaan ganda –hetero phobia- Kebiasaan buruk ustaz Ali yang baru diketahui Ara membuatnya terpukul hebat.
Bagaimana kelanjutan hubungan Ara dengan ustaz Ali ditengah problema yang menderanya secara bertubi-tubi.

Novel
“ Irama Asmara Di Mahad”
Penulis : Mega Surya Pratiwi
Endomen
Daftar isi
            Bab 1 : nuansa bening jiwa
            Bab 2 : ta’aruf awal
            Bab 3 : alunan irama hati
            Bab 4 : kobaran semangat khutbah
            Bab 5 : konflik intrapersonal
            Bab 6 : mekarnya sebuah rasa
            Bab 7 : mahkamah bahasa
            Bab 8 : busur panah keberanian
            Bab 9 : jeritan terpendam
            Bab 10 : peluk penantian
            Bab 11 : musuh kecil menyebalkan
            Bab 12 : kau yang kusayang
            Bab 13 : standar kepantasan
            Bab 14 : goresan fitnah
            Bab 15 : hukuman cambuk
            Bab 16 : kebisuan yang membingungkan
            Bab 17 : selamat jalan zakiya
            Bab 18 :
            Bab 19 :
            Bab 20 :
Biografi penulis


















Bab 1
Nuansa Bening Jiwa
Seusai ujian akhir sekolah menengah pertama, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Orangtua mendaftarkan aku pada sebuah pesantren di Jawa Tengah dengan suasana perdesaan yang masih sangat melekat kuat.
Jalan menuju pesantren yang hendak kutempati selama tiga tahun ke depan, memiliki suasana yang amat indah untuk kami menuntut ilmu dibandingkan dengan tempat tinggalku di kawasan Jakarta yang sudah sesak dengan penduduk. Aku bersama keluarga dengan kendaraan beroda empat ini membawa kami menuju pesantren tempat aku menimba ilmu. Jalan berbelok-belok dengan suasana asri di sisi jalan yang masih alami dengan pepohonan nan rindang, selayang mata memandang pegunungan terhampar dihadapan kami yang duduk di dalam kendaraan roda empat yang di naiki.
Pesantren tersebut berada di daerah yang jaraknya lumayan dekat dari rumah penduduk setempat, pemandangan pegunungan terlihat dari kejauhan meskipun pepohonan hijaunya saja yang nampak. Sejuk udara yang kuhirup terasa masih segar karena alaminya daerah yang belum banyak dipadati kendaraan beroda dua atau empat. Sesekali terlihat beberapa orang yang lalu lalang menggunakan sepeda ontel yang kursi belakangnya di isi dengan padi atau rumput hijau untuk makanan hewan ternak yang mereka pelihara di rumah.
Umi membuka setengah dari jendela kaca mobil begitu pula dengan Abi, Abi sengaja mematikan AC mobil agar dapat menghirup udara perdesaan yang kami lalui. Adik laki-lakiku yang berumur empat tahun terlihat menenggok ke keluar jendela yang di pegangi oleh Umi saat ia duduk di pangku.
“Kak lihat ada orang lagi ngapain itu? Tanya adikku Ibnu kepadaku saat ia melihat pemandangan diluar ketika mobil kami melaju.”
“itu orang lagi giling padi, Ibnu! Jawabku sambil tersenyum kepada sang adik yang ingin tau saat menyaksikan hal tersebut.”
“padi itu apa, kak? Lanjutnya polos untuk anak usia dini yang saat ini menanjak usia ke empat.”
“padi itu makanan yang akan di masak untuk di jadikan beras atau bubur buat makanan Adik! Ujar Umi yang memangku Ibnu sambil mengusap kepalanya.”
Adikku terdiam mendengar jawaban Umi, ia terus mengamati pemandangan di luar kami yang mungkin menurutnya masih baru karena memang di Jakarta tempat tinggalku hal tersebut memang tidak ada. Hanya gedung bertingkat dengan padatnya kendaraan yang lalu lalang pemandangan yang biasa kami lihat tiap harinya.
Alunan indah syair azan berkumandang dalam gulatan udara, ia seolah menari dalam lincahnya gerak orang yang mendengarkan. menandakan waktu dzuhur telah tiba, mobil yang dikendarai Abi berhenti di depan sebuah surau –mushola kecil- yang suasananya masih sangat alami karena berada dalam nuasa perdesaan.
Kami menuruni mobil dan menuju masuk jalan setapak ke dalam surau, Ibnu ikut dengan Abi mengambil air wudhu sementara Aku bersama Umi.
Tempat mengambil air wudhu berasal dari mata air sungai yang langsung di alirkan dari pengunungan melalui bambu-bambu yang di pasang secara bersusun, air mengalir  dari ujung bambu saat Aku membasuh ke dua tangan. Dingin terasa hingga ke hati rasa yang menenangkan jiwa ketika Aku melanjutkan membasuh muka hingga sampai pada akhirnya ujung pergelangan kaki.
Umi menunggui Aku sampai selesai berwudhu lalu kami menuju dalam surau yang jalan setapaknya berbatu kali kecil tersusun dengan rapi untuk langkah pejalan kaki yang mengambil wudhu.
Kami sholat berjama’ah dengan beberapa warga sekitar asli yang memang tinggal di daerah ini. “Allahu Akbar” semua khusuk dalam komunikasinya kepada Sang Illahi termasuk adikku yang berada pada shaf pertama di samping Abi.
***
Mobil Abi mulai memasuki mahad –pesantren- tempat Aku menimba ilmu kelak, di lapangan hijau yang cukup luas dengan beberapa tanaman tambulampot di sisi ujung kendaraan roda empat kami terparkir, tertata rapi tanaman tersebut pada sebuah pipa plastik panjang yang bagian atasnya dipotong lalu di isi dengan tanah dan di tanam benih tanaman di dalamnya.
Seseorang dari dalam kantor keluar menghampiri kami, saat Abi keluar dari pintu mobil.
“Ahlan Wa Sahlan Sohibi! Ujar seorang lelaki yang menghampiri Abi sambil mengulurkan tangannya.”
Abi memeluk sosok yang ada di hadapannya sementara Aku dan Ibnu hanya diam terpaku menyaksikan hal tersebut.
Umi tersenyum kepada orang yang terlihat akrab dengan Abi. “perkenalkan ini istri dan ke dua anakku! Kata Abi memperkenalkan keluarganya.”
“ini anak pertamaku, Maratus Soleha dia yang akan melanjutkan pendidikan di pesantren ini! Lanjut perkataan Abi kepadanya.”
“Aku Ara, om! Kataku dengan sopan kepada orang yang melihat ke arahku.”
Kami berlima berjalan menuju kantor yang berada tak jauh dari mobil terparkir, di samping pintu masuk kantor terdapat sebuah tulisan “diwan” yang berada tepat di arah Aku berjalan.
“diwan artinya apa Umi? Tanyaku ingin tau saat kami mulai masuk ke dalam kantor.”
“diwan itu kantor dalam arti bahasa Indonesia, nanti kalo Ara sekolah di sini akan di ajarkan bahasa arab karena bahasa sehari-hari di pesantren menggunakan bahasa arab! Ujar Umi dengan senyum hangat yang terlontar dari wajahnya yang ayu.”
“aku kan gak bisa bahasa arab, Umi bagaimana Aku bisa ngomong pakai bahasa arab kalo gak ngerti! Jawab Ara bingung dengan perkataan Sang Umi.”
“semua santriwati yang menuntut ilmu di sini awalnya juga tidak mengerti bahasa arab tapi nanti akan di ajarkan secara bertahap, jadi Ara jangan khawatir akan hal itu! Sahut seseorang yang tadi kami temui di lapangan parkir.”
Di dalam kantor terdapat ruang tamu yang ada sebuah kursi panjang yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat, kami berempat duduk di sana sementara orang yang tadi kami temui duduk pada kursi kayu tepat di hadapan Abi.
“bagaimana kabarmu Aswab setelah beberapa tahun kita tidak bertemu, sekarang kamu makmur ya.. badanmu tambah gemuk! Kata Abi dengan senyum sumringgah khasnya kepada orang yang duduk di depan kami.”
Aswab tersenyum hingga giginya yang putih terlihat, ia pun sesekali memegang perutnya dengan tangan kanan yang memang tampak gemuk.
“emang ya Ahmad, Saya tambah gemuk perasaan sama saja. gak ada perubahan pada diri Saya, paling rambut dan jenggot yang makin memutih! Ujarnya sambil mengusap jenggot putih.”
Ternyata Aswab teman Abiku saat mereka menempuh pendidikan di jurusan filsafat islam di sebuah universitas negeri daerah Jogyakarta.
Selama Abi dan Umi asyik ngobrol dengan teman lamanya di kantor, Aku bersama Ibnu berkeliling pesantren. Ada 5 gedung yang kulewati dengan jarak yang tak terlalu berjauhan, yang merupakan asrama para santriwati. Nama lima asrama itu adalah Fatimah, Aisyah, Rukoyah, Khodijah, dan Muhibbah.
Di samping asrama Aisyah terdapat jalan setapak yang cukup besar yang di sisi kanannya terdapat pepohonan hijau nan rindang menuju dapur, tempat para santriwati sarapan. Di pesantren ini santriwati mendapat jatah makan tiga kali dalam sehari yaitu makan pagi, siang, dan makan malam.
“Kak ada sapi! Kata Ibnu sambil menunjuk jarinya ke arah kandang sapi tak jauh dari tempat kami berdiri.”
“Kak, Ibnu mau ke sana! Ibnu menarik ujung bajuku menuju kandang sapi.”
Akhirnya kami menuju kandang sapi, Ibnu mengambil batang rumput basah yang terdapat di luar kandang.
“Ibnu mau ngapain? Tanyaku saat melihat Ibnu mendekati sapi yang ada di kandangnya.”
“Ibnu mau ngasih makan sapi ini Kak, kasihan dia pasti lapar! Ujar Ibnu ketika melihatku terpaku tak bergerak dari posisiku berdiri.”
Aku berjalan perlahan menghampiri Ibnu yang sedang memberi makan sapi dengan rumput hijau yang di pegangnya. Beberapa saat kemudian dua orang wanita berjilbab yang umurnya tak jauh berbeda denganku menghampiri kami.
“Assalamualaikum, nama adik siapa? Tanya salah seorang dari mereka kepada Ibnu adikku.”
“Wa alaikum salam, Aku Ibnu. ini kakak aku namanya Ara! Ujar Ibnu kepada seseorang yang bertanya kepadanya.”
Aku tersenyum kepada mereka lalu ia pun melontar senyum balik ke arahku.
“nama Saya Ara, insya allah tahun ajaran baru ini Saya akan melanjutkan pendidikan sekolah menengah atas di pesantren ini! Ujar Ara sambil mengulurkan tangannya kepada dua orang wanita yang seumuran di hadapannya.”
“Saya Chilya dan ini Ida, kami juga santriwati di sini, sekarang kelas dua SMU! Sahutnya ramah kepadaku.”
Hatiku senang sekali bisa berkenalan dengan santriwati di pesantren ini sebelum aku akan menimba ilmu di sini selama tiga tahun ke depan.
“kalian sedang apa? Tanyaku bingung melihat mereka membawa tempat yang terbuat dari besi cukup besar.”
“kita akan memerah susu dari sapi ini untuk di minum santriwati di sini, kebetulan hari ini kami yang bertugas memerah susu! Ujar Ida.”
“Ara dan Ibnu mau ikut belajar memerah susu sapi juga? Sahut Chilya tak lama setelah Ida berkata.”
“ Aku mau Kak! Celoteh Ibnu polos.”
Aku memegang tangan Ibnu. “Kak, Ibnu mau ikut memerah susu juga! Ujar Ibnu kepadaku.”
“Ibnu, ingat tidak tadi pesan Umi apa.. kita tidak boleh bermain terlalu lama? Jawabku mengingatkan Ibnu akan pesan Umi.”
Ibnu terdiam karena ia ingin sekali memerah susu namun ia ingat akan pesan Umi kepada kami.
“tapi nanti kalo kita ke sini lagi, Ibnu mau memerah susu ya Kak! Kata Ibnu sesaat kemudian.”
“iya boleh, tapi setelah Umi memberi izin kita! Jawab Sang Kakak dengan sabar akan pertanyaan adiknya yang terus bertanya.”
Chilya dan Ida tersenyum melihat tingkah lucu Ibnu yang merenggek kepada sang kakak.
Dari kejauhan Umi memanggil Ara dan Ibnu meskipun suaranya terdengar sayup-sayup. “kami harus pulang sekarang, insya allah lain waktu kita berjumpa kembali. Assalamu alaikum! Ujarku saat Umi mulai terlihat melambaikan tangannya kepada Aku dan Ibnu.”
“Wa alaikum Salam! Jawab Chilya dan Ida serentak.”
Kami bergegas menghampiri Umi dan Abi serta Pak Aswab, lalu berjalan menuju lapangan di mana kendaraan roda empat yang akan membawa kami pulang ke rumah eyang tak jauh dari pesantren ini berada.
Aku dan Ibnu mencium tangan Pak Aswab kemudian masuk ke dalam mobil, lambaian tangan dari Pak Aswab menggiringi kepulangan kami.
Aku semakin tertarik dengan pesantren yang akan kumasuki selama tiga tahun kedepan untuk menimba ilmu di sini kelak. selain suasana yang asri, masyarakat di dalamnya pun juga ramah tamah dengan kedatangan orang baru.
“Umi, Ibnu mau memerah susu..! renggek Ibnu saat di pangku Sang Umi duduk di dalam mobil.”
“Masya Allah, ternyata Ibnu masih kepikiran tentang memerah susu sapi tadi ya! Kataku dalam hati yang melihat Ibnu terus merenggek kepada Umi.”
Akhirnya mobil Abi pun melaju dengan cepat melewati jalan yang pemandangannya asri dengan padi yang terlihat mulai mengguning, ia seolah memanggil jiwaku agar tidak menyurutkan niat untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.
Bab 2
Ta’aruf Awal
Beberapa hari sudah Aku berada di pesantren ini, kamar nomor 14 di asrama Fatimah itulah tempat tinggalku selama tiga tahun Aku mengelana ilmu di sini. Satu kamar Aku bersama dengan lima orang sahabatku yang bernama Sheila, Susi, Suci, Rohmah, dan Fitri yang baru aku kenal. Hubunganku dengan mereka berjalan baik meskipun ada sedikit perbedaan cara berpikir karena kami memang berasal dari daerah yang berbeda dengan perbedaan kebudayaan serta suku.
Seusai solat subuh berjama’ah di aula, semua santriwati bergegas menuju lapangan hijau yang rumputnya masih basah karena embun pagi yang bening. Sandal yang kugunakan basah oleh uap air yang kuinjak saat berada di lapangan. Tiap angkatan membentuk dua barisan sesuai dengan nama asrama masing-masing lalu saling berhadapan karena kami akan belajar muhadasah yaitu bahasa arab sehari-hari yang akan para santriwati aplikasikan dalam berkomunikasi tiap harinya di pesantren ini. materi di berikan oleh kakak senior kelas tiga smu secara turun menurun, itu berarti akan datang generasi Aku saat kelas tiga tiba ketika angka dalam tahun bergulir melangkah ke depan.
“Assalamu alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh? Ujar salah satu kakak Pembina yang berada di hadapan kami.”
“Wa alaikum Salam Warohmatullahi Wabarokatuh! Jawab seluruh santriwati yang berada dilapangan.”
“Kaifa haluk yauti? Ujar kakak Pembina sambil tangannya menunjuk ke asrama Aisyah.”
“Alhamdullilah inni bikhoir! Jawab santriwati dari asrama Aisyah.”
“suaranya gak ke dengaran dari asrama Aisyah, kaifa haluk…? Lanjut kakak Pembina mengulang ucapannya.”
“Alhamdullilah inni bikhoir! Jawab santriwati dari asrama Aisyah serentak dengan suara lantang.”
“sekarang tiap asrama di pisah ya.. membentuk kubu masing-masing karena materi muhadasah-nya pun berbeda! Kata Kakak Pembina.”
Asrama Fatimah yang merupakan seluruh penghuninya merupakan santriwati baru akan belajar muhadasah di dampingi Kak Chilya dengan Kak Lilis. Kami pindah lokasi tak jauh dari lapangan tempat kami berdiri tadi karena memang untuk materi muhasadah ini memerlukan komunikasi agar kami dapat menerima ilmu dengan baik saat Kak Chilya dan Kak Lilis mengajari bahasa arab dasar.
Kak Chilya dan Kak Lilis mengenalkan para santriwati baru beberapa kosa kata dasar dalam bahasa arab untuk tingkat pemula.
Hembusan udara pagi yang akan berganti dengan hangatnya matahari yang akan datang dengan senyum hangatnya tak menyurutkan niat kami untuk belajar bahasa arab hingga akhirnya ia bersinar di atas kami, yang menujukan pukul 06.00 pagi telah tiba.
Aku bersama dengan teman-teman menuju asrama Fatimah setelah muhadasah berakhir, ada beberapa di antara kami yang langsung mengambil piring dengan gelas lalu menuju ke dapur pesantren, sebagian dari anak asrama ada pula yang memutuskan untuk mandi dan bersiap lalu baru sarapan pagi.
Satu kamar mandi harus bergilir dengan tujuh orang, kami antri sesuai nomor urut agar tidak terjadi kesalah pahaman karena waktu memang amat berharga di sini.
Temanku yang menunggu antrian mandi menyambi mencuci baju di bagian belakang asrama, di sana terdapat empat buah keran air tradisional yang terbuat dari bambu lalu di mana setiap ujung dari bambu tersebut mengalir air yang amat bening dari mata pegunungan tak jauh dari pesantren kami.
“Susi sekarang giliranmu mandi? Kataku menghampiri ia yang sedang mencuci pakaian di belakang asrama.”
Susi bergegas mendorong ember merah yang telah berisi air penuh busa deterjen dengan pakaian kotornya lalu menuju ke kamar mandi setelah Aku memanggilnya.
Aku gantian menempati kran air bambu yang tadi Susi gunakan untuk mencuci pakaian, karena waktu berjalan lumayan cepat sementara penghuni kamarku banyak yang belum mandi, aku menggosok gigi di aliran air yang mengalir dari ujung bambu.
Hawa dingin menyengat suhu tubuhku, Kak Iyah –kakak Pembina asrama Fatimah- berdiri di sampingku, ia mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat dhuha. Aku pun ikut mengambil air wudhu untuk melaksanakan solat sunnah tersebut.
“mau solat dhuha juga, Ara? Tanya Kak Iyah setelah melihatku berwudhu juga.”
“iya kak! Jawabku sambil melontarkan senyum.”
Solat sunnah dhuha mempunyai banyak faedah di antaranya ialah insya allah tuhan akan melapangan hati kita, melapangkan rizki kita, dan menjauhkan dari kefakiran atau kemiskinan.
Solat sunnah ini hukumnya adalah sunat muakkadah, waktunya mulai matahari terbit sampai agak tinggi. Cara menngerjakannya munfarid, bilangan roka’atnya paling sedikit 2 raka’at dan paling banyak 12 raka’at.
Seusai melaksanakan solat dhuha dipenghujung komunikasi dengan Allah SWT, Aku selalu memanjatkan syair-syair doa kepada Sang Illahi penguasa semesta alam.
“ Ya Allah, tuhan kami. sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu engkau, cahaya cemerlang, kekuatan, kekuasaan, dan penjagaan. Semua itu adalah hak yang ada pada engkau. Ya Allah, tuhan kami, bila mana rizqiku di langit maka turunkanlah apabila di dalam bumi maka keluarkanlah, bila mana sukar maka mudahkanlah, bila mana haram maka jadikanlah suci, dan apabila jauh maka dekatkanlah dengan hak engkau dari waktu dhuha.”
Susi yang telah siap dengan pakaian sekolah pun bergegas mengajakku cepat seusai Aku berkata “amin” dipenghujung komunikasiku dengan Allah untuk sarapan pagi di dapur pesantren.
“cepat Ara nanti kita kehabisan lauk untuk sarapan! Kata Susi saat kami memakai sepatu di teras depan asrama.”
Aku segera memasangkan tali sepatu warrior dengan sigap untuk berburu waktu, beberapa temanku nampak berdatangan dari arah dapur setelah mereka selesai sarapan.
“lauknya pakai apa, Sheila? Tanyaku ketika ia berjalan ke arah pintu masuk asrama.”
“tempe orek! Jawab Sheila sembari berjalan untuk meletakan peralatan makan yang ia gunakan.”
Aku dan Susi berjalan dengan langkah seribu menuju dapur, suasana di dalam dapur telah di padati oleh beberapa santriwati yang sedang sarapan seperti kami. terdapat beberapa kursi panjang terbuat dari kayu yang tersusun rapi, lauk di berikan oleh penjaga dapur agar semua santriwati dapat mendapat lauk dengan jumlah yang sama sementara untuk nasi bebas di ambil oleh setiap santriwati di sini.
Ada beberapa santriwati yang terlihat makan secara berjama’ah alias makan satu piring bersama, suasana seperti itu sering Aku lihat di sini meskipun belum sepekan berada di pesantren ini.
Teng.. teng.. teng.. –suara lonceng petanda masuk madrasah aliyah berbunyi- seluruh santriwati yang berada di dalam dapur bergegas mengakhiri sarapan pagi mereka termasuk Aku dan Susi.
Aku berlari dengan Susi menuju asrama Fatimah, menyelusuri halaman samping kanan asrama yang mengarah ke kamar kami di nomor 14. Jendela yang terbuka dengan sigap Aku masukan peralatan makan kami.
“Ara, cepatan nanti kita di hukum kalo telat! Ujar Susi dengan intonasi tinggi memanggilku saat aku berjalan menuju teras asrama.”
Bunyi lonceng petanda masuk madrasah telah berhenti terdengar namun berganti dengan suara teriakan kakak osis yang memberi hitungan kepada santriwati yang telat.
“Khomsa –lima- ayo cepat yang masih di jalan! Ujar kakak osis dengan beberapa teman lainnya yang siap memberi hukuman kepada santriwati yang telat masuk sekolah.”
                        
“Arba.. –empat- ! lanjut kakak osis menghitung mundur.”
Aku berlari dengan Susi menuju gedung yang ada di hadapan kami, perutku yang baru terisi oleh sarapan pagi terasa bergoyang hingga membuatku ingin muntah. Meskipun sudah berusaha untuk tepat waktu ternyata tetap telat tiba di madrasah akhirnya kepada santriwati yang telat, kakak Pembina osis memberikan hukuman push up.
“push up 20 kali!”
Aku, Susi dan beberapa teman yang telat tiba di madrasah harus menjalani hukuman push up.
Kami yang telat harus push up secara bersamaan sesuai hitungan oleh kakak osis, nafasku yang tadi berlari menuju madrasah di lanjutkan dengan pemberian hukuman membuatku harus belajar bagaimana cara mengoptimalkan waktu yang ada dengan sebaik mungkin agar tak terbuang tanpa arti.
“kalian boleh masuk ke kelas masing-masing! Ujar salah seorang yang memberi kami hukuman.”
Aku berjalan menuju halaman madrasah yang di penuhi oleh rumput hijau nan menyejukan hati ketika di pandang, jiwaku bergelora kembali saat ia mulai padam pada hukuman di pagi ini.
***
            Beberapa hari kulalui di pesantren ini, kini menapaki pekan ke dua. Rasa di dada  terasa sesak saat melihat teman sekamarku satu persatu di jenguk oleh orang yang ia kasihi.
Aku rindu dengan Umi, kangen akan tingkah lucu Ibnu, haus akan nasehat Abi. Gelora rasa ini seolah tak dapat terbendung lagi, meskipun bibir dapat terlontar dengan senyuman namun hati tak dapat dibohongi. Aku ingin dekat dengan keluargaku, kulihat orangtua teman sekamarku berkumpul. Tertawa bahagia saat berjumpa dengan belahan jiwanya yang telah sekian lama hilang dari pandangan untuk beberapa waktu.
Suasana di minggu pagi ini sungguh terasa berat untukku melangkah, rindu yang berat  kepada orang yang kukasihi. Mungkin sedikitnya rutinitas yang di adakan oleh pihak pesantren karena biasanya minggu merupakan jam jenguk orangtua untuk anaknya yang bersekolah di sini.
Orangtua hanya menjenguk aku sebulan sekali karena jarak yang cukup jauh di tempuh antara Jakarta dan Jawa Tengah, seusai mencuci pakaian kotor dalam ember dan menjemurnya di bagian samping asrama Fatimah. Aku bergegas menuju kamar, sepanjang lorong jalan kecil menuju kamar dipenuhi oleh beberapa orangtua santriwati yang mulai berdatangan.
Saat kubuka pintu kamar bernomor 14 nampak orangtua Rohmah dan Suci yang sedang duduk dilantai yang telah di gelar tikar kayu dengan lima orang temanku.
“Ara, ayo makan bareng! Kata Umi Rohmah menawariku makanan yang tergeletak di tengah-tengah mereka.”
Aku segera ikut berkumpul dengan mereka, kebiasaan orangtua kamar 14 memang seperti ini setiap kali datang menjenguk belahan hatinya. Mereka selalu memasakan makanan kesukaan anaknya saat datang berkunjung.
Suci memberikanku piring bening yang berada di sampingnya. “Ara, ayo makan! Ujar Suci yang sudah terlebih dulu makan.”
Aku mengambil piring yang disodorkan Suci lalu duduk di antara mereka, sambil mengambil sesentong nasi dengan lauk yang ada di hadapanku.
“Bismillahi rohman rirohim allahumma barikhlana fima rozaktana wakina azabanar! Ucapku sebelum memasukan suapan pertama ke mulut.”
“Ara, di belakang yang nyuci banyak gak? Tanya Fitri.”
“tadi sih waktu Ara selesai nyuci di belakang cuma ada Dita!”
“kalo begitu, Fitri mau nyuci baju kotor dulu ya buat besok pakaian seragam sekolah! Kata Fitri pamit kepada semua yang ada di kamar 14.”
Fitri mengambil ember yang berisi penuh dengan pakaian kotornya selama beberapa hari dengan deterjen di atas tumpukan pakaiannya di dalam kolong tempat tidur, lalu ia pun membuka pintu dan terlihat berjalan menuju lorong kecil ke arah belakang tempat ia akan mencuci pakaian.
Beberapa saat kemudian seusai Aku melahap nasi terakhir, Susi mengajakku berjalan ke luar asrama. Kami pun berpamitan kepada Umi Rohmah dan Umi Suci untuk keluar sebentar.
Langkah kami keluar dari asrama menuju suatu tempat yang sejuk tak jauh dari area pesantren, menyelusuri jalan berbatu kali yang telah di terpola mengikuti jalan setapak menuju bagian belakang madrasah. Pemandangan beberapa petak sawah sejauh mata memandang dengan padi yang mulai mengguning, kami berjalan menuju saung yang terdapat di pinggir sawah.
Kami duduk sejenak sambil meluruskan kedua kaki, Susi berbaring pada alas bambu yang terdapat dalam saung.
Aku menyenderkan badan pada tembok bilik bambu saung, pandanganku tak lepas dari orang-orangan sawah yang terdapat dihadapanku. Orang-orangan sawah tersebut bergerak saat benang yang terpasang di tarik oleh Pak Tani agar burung atau belalang yang hinggap di padi pergi.
Susi terlelap dalam bayangan mimpinya saat hembusan angin menerbangkan khayalnya, aku berjalan menuju arah pohon jambu air tak jauh dari saung.
Terdapat sebuah jembatan kecil yang terbuat dari sebatang kayu saat akan menuju pohon tersebut yang memisahkan sawah dengan kebun yang terdapat beberapa jenis tanaman dalam pot. aku menapaki langkah pertama pada jembatan kayu tersebut. Saat hendak menginjak langkah ke tengah tiba-tiba jembatan kayu tersebut remuk, kakiku terperosok ke sungai kecil untuk mengaliri air pada beberapa petak sawah.
Aku meringis kesakitan memanggil nama Susi, namun ia tetap terlelap dalam mimpinya yang indah.
“Susi, to..long..! teriakku yang intonasi tinggi.”
Susi tetap tak mendengarkan panggilanku, dia masih asyik dalam buaian mimpi di siang bolong.
Aku mencoba menarik kaki yang terjebak dalam rapuhan kayu, kakiku terkena air sungai.
Seorang lelaki berlari menuju arahku, ia bergegas menuruni sungai kecil setelah celana panjang hitamnya di gulung hingga ke lutut.
Lelaki itu membantuku melepaskan diri dari kayu yang menjepit kakiku, Aku berjalan dengan terlatih saat ujung jempolku berdarah.
“Aaagh…! Aku sempat menggerang saat kaki ini mencoba untuk berjalan menuju saung tempat Susi terlelap dalam buaian mimpi indah di siang bolongnya.”
Lelaki itu mengantarkan menuju saung tanpa menatap wajahku, pandanganya tertunduk.
Susi terbangun saat Aku duduk di sampingnya. “Ara, kamu kenapa? Tanyanya kaget setelah melihat kondisiku.”
“Terima kasih ya, mas atas pertolongannya! Ujarku.”
“Namaku Maratus Soleha tapi teman-teman biasa memanggil Aku dengan sebutan Ara, ini temanku Susi! Lanjutku memperkenalkan diri.”
Susi terpaku melihat keelokan sosok di hadapan kami, ia memang amat menarik untuk ukuran seorang lelaki.
“Saya Ali, semoga lekas sembuh ya.. Ara! Ujarnya lalu ia tersenyum meskipun tetap dengan pandangan tertunduk.”
“Kamu mau saya antar, kalian mau ke mana? Tanyanya kembali.”
“Kami mau ke asrama Fatimah, itu gedungnya! Jawab Susi sambil menujuk dengan menggunakan jarinya.”
Aku menolak untuk di antar Ali karena kami baru saja bertemu, bukan berarti aku bersikap tak sopan terhadapnya.
“Maaf mas terima kasih, kami bisa pulang sendiri! Sahutku di tengah obrolan Susi dengan Ali.”
Ali mengganguk meskipun tak seutai kata terlontar dari bibirnya. “hati-hati! Katanya tetap dengan pandangan tertunduk.”
Aku dan Susi kembali menuju ke asrama meskipun kami berjalan cukup lama karena kakiku yang terluka, Susi merangkul tanganku seolah ia memberi motivasi agar aku bersabar atas cobaan yang saat ini sedang menimpaku.
“Ali ganteng ya! Kata Susi di tengah perjalanan kami menuju asrama.”
Aku tersenyum mendengar perkataan Susi meskipun tak membenarkan secara langsung. Sementara dari kejauhan Ali mengamati mereka berdua dari saung tempat ia berdiri.















Bab 3
 Alunan Irama Hati
Hari ini seperti biasa setiap senin akan di adakan upacara bendera di lapangan hijau depan madrasah, seusai upacara kepala sekolah mengumumkan tentang seorang ustaz baru yang akan mengajar di kelas satu.
Ustaz baru tersebut berdiri di barisan depan bersamaan dengan para pendidik yang lain. Aku dan Susi kaget saat melihat Ali berada di antara pendidik madrasah, wajahnya nampak putih bengkuang saat matahari pagi bersinar menyinari wajahnya, ia terlihat menawan hati ketika di pandang.
Aku hanya melihat ia sekilas karena takut akan jiwa yang tergoda akan keelokkan yang telah Allah sempurnakan untuknya. Ustaz Ali tersenyum kepada semua santriwati yang mengikuti upacara di lapangan hijau. Suara beberapa santriwati bersorak untuknya, mereka ingin di ajar oleh ustaz ganteng yang ada di hadapanya.
Susi mencolek tanganku yang berbaris pasangan saat upacara bendera, di bibirnya tersungging sebuah senyum karena kemungkinan besar Ustaz Ali akan mengajar kelas kami menggantikan Pak Umar, ustaz yang mengajar ilmu fiqih karena mendapat beasiswa program magister ke Universitas Kairo.
Setelah upacara selesai, seluruh santriwati kembali ke kelas masing-masing. Aku menaiki tangga kecil yang menjembati menuju kelas.
Suasana di dalam kelas ramai oleh beberapa temanku yang terlihat membicarakan Ustaz Ali, guru baru yang ganteng. Susi terlihat ikut nimbrung pembicaraan dengan teman sekelas.
“Ara, emang benar kemarin minggu kalian bertemu Ustaz Ali di saung dekat pematang sawah? Tanya temanku Dita.”
Aku tersenyum kepada Dita sementara Susi melihat ke arah luar jendela, pandangannya tak lepas dari kantor madrasah di hadapan kelas kami saat ia memandang.
Tak selang waktu lama, Ustaz Ali masuk ke kelas kami karena jam pertama di isi oleh pelajaran ilmu fiqih. Ia terlihat berjalan menuju kelas saat Aku melirik ke luar kelas melalui jendela.
“Ustaz Ali datang! Kataku memberitahu teman yang lain.”
Seluruh anak-anak duduk dengan rapi dikursinya ketika melihat Ustaz Ali memasuki pintu kelas.
“Assalamu alaikum! Katanya saat menginjakkan kaki memasuki kelas.”
“Wa alaikum salam warohmatullahiwabarokatuh! Sahut anak-anak secara bersamaan.”
Ustaz Ali berdiri di samping pintu masuk kelas. “ Ini benar kelas 1c ? Tanya Ustaz Ali kepada seluruh anak yang berada di dalam kelas.”
“Iya Pak, benar! Sahut seluruh anak mendengar pertanyaan Ustaz Ali serentak.”
Ia lalu memasuki kelas dan duduk di kursi kayu berwarna coklat yang telah di pernis. Seluruh murid duduk dengan rapi di kursinya masing-masing, kedua tangan mereka diletakkan di atas meja saat ketua kelas memimpin doa untuk membuka pelajaran.
Ustaz Ali terdiam berselang untaian doa berakhir di ucapkan murid kelas 1c, ia pun mulai membuka pembicaraan kepada kami.
“Assalamu alaikum, Saya Ustaz Ali yang akan menggantikan guru lama kalian. Tadi saat upacara bendera kepala sekolah sudah mengenalkan diri Saya kepada kalian semua. Ada yang masih mau di tanyakan tentang Saya? Kata Ustaz Ali dengan suaranya yang seolah menghipnotis kami.”
“Ustaz Ali sudah menikah belum? Ujar temanku yang berada di barisan dua dari belakang.”
Bibir Ustaz Ali tersenyum lebar mendengar pertanyaan anak muridnya. Wajahnya nampak memikat hati yang memandang, hangat yang menyelimuti wajah si pemandang termasuk Aku.
“Alhamdullilah..! Ujarnya.”
Seluruh anak secara bersamaan bersorak. “Nikahnya kapan Ustaz? Lanjut pertanyaan temanku yang lain karena kecewa dengan jawaban Ustaz ganteng tersebut.”
“Alhamdullilah, Allah belum berkenan mempertemukan Saya dengan bidadari dunia akhirat untuk pendamping hidup. Saya minta doanya saja! Lanjut perkataan Ustaz Ali setelah mendengar respon anak muridnya.”
Ustaz Ali melirik ke arah kursiku, ia berjalan menghampiriku ketika duduk di kursi depan khusus pendidik.
“Gimana Ara, kakinya masih sakit atau sudah sembuh? Tanyanya di depan seluruh murid 1c.”
Dua bola mata penghuni seluruh kelas 1c menatap kepadaku, Aku tersenyum kecil saat Ustaz Ali melontar sebuah tanya untukku. Meskipun Aku tak menjawabnya melalui perkataan.
Ustaz Ali berputar arah berjalan kembali ke depan kelas, ia melanjutkan pelajaran yang telah di berikan Ustaz Umar seminggu kemarin setelah berkenalan dengan semua murid kelas 1c melalui daftar absen.
“Nabi Muhammad saw. Telah menyatakan, “Wanita itu adalah tiang Negara. Kalo wanita baik, maka Negara itu akan baik. Tapi kalo wanita itu rusak, maka Negara itu pun akan rusak. Mengapa wanita yang lemah itu dipilih Allah menjadi tiang? Padahal yang namanya tiang, kalau itu semen campurannya harus satu banding tiga,harus kokoh tak tergoyahkan, harus terbuat dari bahan yang tahan lama? Tanya Ustaz Ali kepada semua muridnya saat ia mulai pengajaran.”
Seluruh murid terdiam mendengar materi yang Ustaz Ali berikan bahkan saat ia melemparkan pertanyaan kepada kami tak ada satu pun yang berani mengacungkan jari sekedar menjawab apa yang ia tanyakan.
Ustaz Ali menarik nafasnya sejenak saat ia memperhatikan kami dari kursi kayu tempatnya bersandar. Setelah menunggu sekian lama menanti jawaban yang hanya di jawab oleh keheningan penghuni kelas, Ustaz Ali pun melanjutkan penjelasan.
“Wanita memang lemah fisiknya, tapi ia menyimpan potensi dahsyat di dalam dirinya. Dia mampu menundukkan laki-laki penguasa sekalipun, dia juga mampu menghancurkan dunia, tapi wanita juga mampu memperbaiki dunia! Kata Ustaz Ali menjelaskan lebih lanjut.”
Ustaz Ali menatap kami para muridnya saat menyimak penjelasan yang ia berikan.
“Sejarah telah mencatat, bahwa akibat istri Nabi Nuh as tidak mengikuti ajaran suaminya, tidak turut serta dalam mengembangkan potensi wanitanya dalam membantu suami. Maka Nabi Nuh sendiri hampir gagal dalam dakwahnya. Selama 950 tahun dia berdakwah hanya mendapatkan pengikut kurang lebih 83 orang. Waktu yang demikian panjang dan hasil yang tidak berimbang, memberi isyarat bahwa wanita memang sangat besar pengaruhnya. Bahkan anaknya sendiri tidak patuh kepada ayahnya akibat sang ibu yang tidak turut terlibat dalam dakwah.
Demikian pula Nabi Luth as yang akibat istrinya membangkang, maka kaum Nabi Luth di binasakan oleh Allah, termasuk istrinya. Sebaliknya, Nabi Ibrahim yang dipatuhi istrinya walaupun pada persoalan yang hampir tidak masuk akal. Pada saat Nabi Ibrahim as akan meninggalkan Hajar di suatu padang tandus, di tengah-tengah bukit batu yang mati, yang tidak terdapat tanda-tanda kehidupan, Hajar tetap pasrah dan taat kepada suaminya. Maka hasilnya pun sangat mengagumkan, dari keturunan mereka lahirlah orang-orang besar dunia, orang yang saleh, yakni para Rosul Allah termasuk Nabi Muhammad saw! Kata Ustaz Ali melanjutkan penjelasannya.”
Di sela-sela penjelasan Ustaz Ali menerangkan, Ara mengacungkan jarinya.
Ustaz Ali terdiam lalu berkata. “Ada apa, Ara? Tanyanya.”
“Ustaz, Saya mau tanya. Sebagai seorang wanita muslim bagaimana cara kita agar bisa bermanfaat bukan hanya untuk diri kita sendiri namun juga untuk agama? Tanya Ara.” Semua mata di dalam kelas tertuju padanya.
Ustaz Ali tersenyum mendengar pertanyaan muridnya.
“Pertanyaan bagus, itu! Ada yang bisa jawab pertanyaan dari Ara? Tanya Ustaz Ali kepada murid 1c yang menyimak pertanyaan Ara.”
Seluruh murid kelas 1c terdiam membisu tak ada satupun dari mereka yang memberi komentar atas pertanyaan ara.
Beberapa saat kemudian Ustaz Ali menjawab pertanyaan Ara. “Potensi wanita memang sangat besar di bidang dakwah tapi bukan berdakwah dengan suara lantang, di hiasi retorika yang memukau. Melainkan dakwah dalam bentuk menghidupkan sunnah rasul di rumahmu! Jawab Ustaz Ali atas pertanyaan Ara.”
Ara mendengarkan penjelasan Ustaz Ali dengan seksama. “Ustaz, Saya masih belum paham? Ara melontarkan sebuah pertanyaan kembali.”
“Wanita diciptakan untuk mengurus rumah tanggamu dan suamimu diciptakan untuk mengurus ummat. Wanita diciptakan untuk berdakwah dalam lingkunganmu sementara suamimu diciptakan untuk berdakwah di seluruh alam! Ustaz Ali mencoba menjabarkan secara lebih rinci.”
Seluruh murid mulai mengerti dengan penjelasan yang Ustaz Ali berikan termasuk Ara, hingga tanpa terasa detik bergulir mengantarkan pada jam akhir pelajaran.
***
Ibnu terus merenggek kepada Sang Umi agar dipertemukan dengan Kakaknya Ara, rasa rindu yang berkecamuk di jiwa anak berusia 4 tahun tersebut membuat Sang Umi akhirnya mengikuti keinginannya.
“Umi, Adik kangen dengan Kak Ara. Kapan kita mau ke sekolah Kakak di pesantren? Renggek Ibnu kepada Sang Umi.”
Sang Umi tersenyum menghadapi sikap anaknya yang masih kecil. Ia mencoba memberi penjelasan yang sederhana kepada Ibnu agar mengerti. Setelah Umi membuatkan segelas susu untuk belahan jiwa kecilnya lalu Ibnu pun menghabiskannya, ia mulai menerangkan kepada anak laki-lakinya tersebut.
“Umi juga kangen dengan Kak Ara, bukan cuma Adik saja! Ujar Sang Umi memberi pengertian sederhana.”
“Kenapa Kak Ara sekolahnya jauh sekali, Umi? Tanya Ibnu kembali.”
Sang Umi terdiam cukup lama memikirkan jawaban ke dua yang Ibnu tanyakan.
“Ibnu sayang sama Kak Ara tidak? Tanya Umi pelan sambil mengusap kepala Ibnu.”
Ibnu menganggukan kepalanya. “Kalo Ibnu sayang dengan Kak Ara, berarti Ibnu harus mau lihat Kak Ara pintar karena dengan belajar nanti Kak Ara bisa mengejar cita-citanya! Umi mencoba menerangkan sesuai dengan umur Ibnu.”
 Ibnu terus merenggek kepada Sang Umi hingga akhirnya ia mengabulkan permintaan anak bungsu tersebut.
“Ibnu mau dengar suara Kak Ara di telpon? Tanya Sang Umi sesaat kemudian.”
“Iya, Aku mau dengar suara Kak Ara. Umi!”
Beberapa saat kemudian Umi menelpon bagian kantor pesantren agar di hubungkan dengan anaknya Maratus Soleha yang sudah dari sepekan berada di sana.
Ara bersama Susi datang ke kantor setelah ada panggilan lewat udara melalui mikrofon yang suaranya dapat terdengar hingga seluruh area pesantren.
Sesampainya di kantor, Ara segera bertemu dengan Pak Aswab mengenai panggilan namanya melalui mikrofon kantor.
“Ara, ada telpon dari Umi? Kata  Pak Aswab sambil menunjukan telpon yang terbaring di atas meja kantor samping jendela.”
Ara menyambut gembira telpon dari Umi dan Ibnu. Rasa rindu yang telah lama terpendam kini seolah tergali kembali meskipun sebatas alunan irama jiwa sebuah suara dibalik telepon.






Bab 4
Kobaran Semangat Khutbah
Memori di kepalaku masih bergambar dengan jelas peristiwa suatu jumat malam saat belajar khutbah. Meskipun bukan Aku yang mendapat hukuman tersebut namun Aku juga takut seandainya hukuman itu tertimpa kepadaku.
Belajar khutbah atau istilah lain di pesantren adalah ceramah merupakan salah satu pelajaran yang diberikan kepada santriwati tiap pekan. Tujuannya agar setiap santriwati yang keluar dari pesantren ini dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat tentang ajaran islam melalui sebuah syiar.
Dalam satu kelas khutbah terbagi menjadi empat yaitu muroja’ah quran, kelompok yang berceramah, memberikan evaluasi dari hasil khutbah, dan kelompok yang bertugas memberi hiburan di sela-sela acara berlangsung.
Minggu kemarin, Aku kebagian kelompok muroja’ah quran yang di wakili oleh temanku yang bernama Amelia. Itu berarti minggu ini Aku kebagian tugas untuk berceramah “Owh…! Jantungku berdegup dengan cepat mengingat hal itu.”
Teman sekamarku yang bernama Fitri, pekan kemarin mendapat tugas ceramah pada saat belajar khutbah namun karena ia tak dapat berceramah dengan baik di kelas. Fitri di hukum oleh kakak senior osis kelas tiga untuk berlari mengelilingi lapangan pada tengah malam sebanyak 10 kali. Sementara ada juga teman satu asramaku yang dihukum bukan dengan cara lari tapi lebih memalukan lagi, temanku tersebut di suruh ngamen –nyanyi- dari kelas ke kelas saat pelajaran khutbah berlangsung hanya karena ia tidak lancar saat berdakwah.
Kelas khutbah merupakan salah satu pelajaran tambahan yang diberikan oleh pihak pesantren dibawah asuhan yayasan yang dibina oleh kakak osis, jadi untuk belajar ceramah memang yang menilai adalah kakak kelas. Namun terkadang Kak Anton –kakak pembina osis- sering mondar mandir mengelilingi kelas untuk memantau perkembangan santriwati dalam menimba ilmu ketika belajar ceramah di atas mimbar.
Sekarang sudah sabtu, itu artinya Aku tinggal menunggu hitungan hari lagi menuju jumat depan untuk giliranku maju berkhutbah di depan kelas.
Aku bingung mencari materi khutbah yang bagus, ideku mentok karena gelisah yang mendera membayangkan Aku berdiri di atas mimbar dihadapan banyak orang.
Jangankan untuk berbicara di depan orang banyak, berbicara di depan kaca saja Aku kurang percaya diri apalagi ini di hadapan orang.
“Fitri, perasaanmu bagimana saat ceramah di atas mimbar? Tanyaku kepada Fitri.”
“Nanti Ara juga akan ngerasain sendiri kok! Fitri mulai menaiki tangga tempat tidurnya.”
“Ceritain dong.. pasti nerves banget ya berdiri di hadapan orang banyak? Tanyaku penasaran.”
“Daripada nanyain hal itu, lebihbaik sekarang Ara cari tema buat khutbah minggu depan aja dulu? Sahut Susi yang terbangun dari tidurnya karena obrolan berisik kami.”
Aku terdiam memikirkan omongan Susi. “Kira-kira tema yang bagus untuk ceramah apa ya? Tanyaku sesaat kemudian.”
“Minta tolong Ustaz Ali saja besok, setelah jam pulang madrasah aliyah? Jawab Fitri memberi saran.”
Beberapa saat kemudian suasana hening melingkupi kamar yang posisinya paling belakang dari pintu masuk asrama Fatimah.
***
Terik matahari membuat udara di sekeliling terasa panas hingga membuat kulitku yang tertutup kain terlihat basah akibat keringat. Rumput hijau menari tergoyang oleh alunan irama udara yang berhembus, awan terlihat biru di angkasa nan anggun bagi mata yang memandang.
Langkahku dengan ragu mondar-mandir di kantor, melirik Ustaz Ali yang sedang duduk di kursi dengan beberapa buku yang tertumpuk di mejanya. Sesekali Ustaz Ali membuka buku tersebut dan mencoretnya dengan tinta merah, ia sedang mengoreksi tugas yang Ustaz Ali berikan kepada anak muridnya.
Susi tersenyum melihatku dari kejauhan, rasa kesalku bertambah saat ia mendesak agar Aku segera menghampiri Ustaz Ali.
“Deg.. deg.. deg..! Debaran jantungku bertambah cepat, keringat dingin bercucuran meskipun udara tak panas.”
Aku langkahkan kaki ini kembali, mondar-mandir mengamati ruangan kantor. Menunggu waktu sepi agar Aku dapat leluasa berbicara dengan Ustaz Ali.
Kaki ini rasanya seperti setrika yang sedang menari di atas helaian kain putih.
“Ara, lagi ngapain? Tegur Pak Aswab yang melihatku dari tadi mondar-mandir di depan kantor.”
Lidahku seolah terpagari gigi yang terpenjara oleh mulut yang tiba-tiba menjadi bisu seketika.
Sebuah senyum malu kuberikan kepada Pak Aswab yang menghampiriku.
“Ee..ee.. Saya kebetulan lagi lewat, Pak! Jawabku terbata-bata.”
Pak Aswab mengajakku masuk ke dalam kantor, Ustaz Ali melihatku dari kursi ia duduk yang sedang mengoreksi buku tugas anak muridnya.
“Ali..? Panggil Pak Aswab kepada Ustaz Ali.”
“Deg.. deg.. deg..! Debaran jantungku semakin tak karuan, Aku harus segera meninggalkan ruangan ini sebelum Aku terjatuh tak sadarkan diri karena denyut irama hatiku yang tak menentu.”
Aku merasa salah tingkah memasuki kantor, entah apa yang membuatku bisa seperti ini.
“Ara..? Tegur Pak Aswab kepadaku yang terpaku di samping meja duduknya.”
Ustaz Ali menghampiri Pak Aswab. “Deg.. deg.. deg..! Ya Allah debaran jantungku seolah jet yang sedang terbang melesat tinggi.”
Aku menundukkan kepala saat Ustaz Ali berdiri tepat dihadapanku.
“Ali, kenalin ini Ara anaknya teman Abi waktu masih di kampus dulu? Ujar Pak Aswab kepada Ustaz Ali.”
Ustaz Ali tersenyum memandangku dengan muka tertunduk merah merona tanpa polesan.
“Kami sudah saling mengenal Abi, Ali mengenalnya malah sebelum mengajar sebagai Ustaz di pesantren ini! Ucap Ustaz Ali kepada Sang Abi.”
Pak Aswab tersenyum hingga nampak gigi depannya yang putih. Debaran jantungku semakin tak menentu, ingin rasanya meninggalkan kantor dengan secepat mungkin.
“Ada yang mau kamu bicarakan dengan Saya, Ara? Tanya Ustaz Ali kepadaku.”
Detak jantungku semakin dashyat hingga rasanya lidah ini kaku untuk berbicara, diriku tanpa seperti orang bisu yang tiba-tiba mematung.
Aku menggaruk kepalaku yang tak terasa gatal. “Gak, ada kok Ustaz! Jawabku singkat  saking nervers berhadapan dengan Ustaz Ali secara langsung untuk yang ke dua kalinya.”
Ustaz Ali terdiam memandangku terpaku, setelah Pak Aswab pergi meninggalkan kami berdua untuk berbicara.
“Tunggu sebentar ya! Ujar Ustaz Ali yang berjalan menuju meja kerjanya lalu membuka laci di samping kursi duduknya.”
Ia menghampiriku kembali. “Ini untukmu, siapa tau berguna? Kata Ustaz Ali sambil memberikan sebuah buku berjudul : wahai wanita muslimah, dirumahmu ada surgamu.”
Aku mengambil buku yang Ustaz Ali sodorkan untukku. “Terima Kasih, Ustaz! Ucapku.”
“Tadi saat jam istirahat sekolah, Susi bilang ke Saya kalo Ara lagi butuh materi untuk khutbah. Insya Allah buku ini dapat membantu! Kata Ustaz Ali melanjutkan perkataannya.”
Aku makin membisu dalam kepatungan kakiku rasanya lemes. Ternyata Susi telah memberitahu Ustaz Ali terlebih dahulu sebelum Aku menceritakan apa yang ingin kukatakan untuk meminta tolong bantuannya.
“Awas ya Susi nanti di kamar! Batinku.”
***
Menunggu beberapa jam berlalu dengan sendirinya membuatku semakin harus menyiapkan mental baja untuk berani tampil berkhutbah di atas mimbar.  
Cermin kecil pun Aku dirikan di atas lemari pakaian yang ditopang oleh sebuah gelas agar cermin tersebut dapat berdiri. Aku menatap wajah serta sebagian tubuh yang terpantul oleh bias cahaya di hadapanku.
Gerak lidahku semakin pandai dalam berkomunikasi, intonasiku juga sudah terdengar jelas tidak seperti hari kemarin, kobaran api semangat makin menyala di jiwaku.
Tak terasa waktu terasa begitu dekat hingga saat yang kutunggu akhirnya tiba, kulangkahkan kaki ini bersama dengan seluruh santriwati menuju kelas untuk belajar. alunan irama lonceng kelas berbunyi jelas di telingaku, bulan terlihat indah meskipun tertutup awan gelap, malam ini Aku akan membuktikan kepada diriku bahwa Aku dapat berkhutbah dengan baik.
Sebuah mimbar terhampar dihadapanku yang di kedua sisinya terdapat pot bunga indah nan bermekaran. Mimbar dibuat tinggi dengan tujuan agar melatih psikologis penceramah dalam syiar islam. Meskipun hembusan udara malam ini terasa dingin namun sekujur tubuhku berkeringat, napasku seolah terhenti sejenak saat namaku di sebut untuk mengisi khutbah pertama.
Kumantapkan kaki untuk naik ke atas mimbar walaupun rasanya berkilo batu mengikat ke dua langkah ini.
Aku mengatur setiap denyut napasku dengan untaian syair indah berlafaz Allah hingga sampai pada isi dari materi yang kusampaikan tanpa terasa lancar Aku membuka khutbah dengan beberapa ayat al quran.
Berdirinya Saya di sini, Saya akan membawakan khutbah yang berjudul : Aurat Wanita.
Aku mulai mengatur napas agar suaraku dapat terdengar jelas oleh seluruh umat yang berada dalam ruangan.
            Bertanya tentang aurat, semua orang yang mengerti agama, pasti mengetahui bahwa aurat wanita itu ialah seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan.
Perhatikan peringatan Allah dalam surat an nuur ayat 31.
“Dan katakanlah kepada wanita beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara auratnya (kemaluannya) dan janganlah mereka menampakkan perhiasaannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah menutupkan kain kerudung mereka sampai ke dadanya….”
Apa yang di maksud menutup kerudung sampai ke dadanya?
Pasti ada yang wajib ditutup, tidak boleh nampak hal-hal yang merangsang termasuk dadanya. Dan inilah yang di maksud aurat wanita.
Namun banyak sekali kaum wanita yang tidak mengetahui atau berpura-pura tidak tahu tentang kriteria aurat itu sendiri. Buktinya masih banyak mereka yang berpakaian tapi auratnya tidak tertutup, masih banyak mereka yang menutup badannya tapi auratnya masih terbuka, masih banyak dari mereka yang memakai pakaian tapi bentuk tubuhnya masih terbayang, bahkan tidak sedikit dari mereka yang memakai pakaian tapi setiap dipandang masih tetap menimbulkan rangsangan.
Namanya aurat itu saudaraku, pada hakikatnya adalah “kemaluan” dan kemaluan itu sendiri kalau di utak-atik bahasanya sama dengan yang memalukan.
Ini berarti seluruh tubuh wanita itu memalukan kalau di perhatikan. Kakinya, tangannya, pinggungnya, pahanya, dadanya dan semuanya adalah kemaluan. Karena itu wanita di anjurkan memakai pakaian yang menutupi semua yang memalukan itu. Dan menutup di sini tidak di artikan hanya tertutup semata, melainkan tertutup dari rangsangan-rangsangan. Jangan sampai ada bentuk dan bayangan tubuhnya itu kelihatan dari luar. Bentuk kaki dan tangannya, bentuk dada dan pinggulnya, apalagi daerah yang paling fital.
Itulah sebabnya pakaian wanita itu tidak berbentuk, tidak ada mode laksana drum, agar tidak ada peluang untuk membentuk bayangan tubuhnya sehingga nampak dari luar.
Walhasil secara keseluruhan bentuk tubuh wanita itu dilarang di pertontonkan karena berpotensi menimbulkan rangsangan bagi kaum lelaki. Bahkan sampai sehelai rambutpun dilarang diperhatikan.
Kenapa Nabi begitu tegas terhadap sehelai rambut sekalipun? Karena dari sehelai dua helai rambut dan seterusnya akan menghasilkan gaya seorang wanita dan dari gaya itu akan muncullah aurat. Semua ini sangat berbahaya bagi keselamatan umat manusia, keselamatan wanita dari perilaku laki-laki dan keselamatan laki-laki agar tidak terjerumus ke lembah maksiat.
Kenapa hari ini begitu banyak kemelut yang melanda umat manusia termasuk wanita?
Jawabannya, karena wanita hari ini bukan saja tubuh dalam arti badan yang di pertontonkan oleh kaum wanita, melainkan alat fital pun sudah tidak malu-malu diperlihatkan. Bahkan dapat dikatakan hari ini wanita sudah lebih telanjang dari pada laki-laki.
Kalau kita kembali kepada masalah aurat itu sendiri, kata-kata telanjang saja sudah sangat memalukan saudaraku. Tapi kenapa kaum wanita sekarang justru bangga dengan pakaian telanjangnya, pakaian yang membentuk lekuk tubuhnya? Kenapa ada laki-laki yang lututnya saja kelihatan dia merasa malu? Tapi mengapa banyak wanita di jalanan memperlihatkan auratnya justru tidak malu-malu?
Mengerikan, saudaraku. Jika kau keluar rumah dengan busana setengah telanjang! Memalukan, saudaraku kalo hatimu tidak terbuka untuk merenungi auratmu sendiri, menghargai “malumu” sendiri.
Kapan kau akan menyadari kekuranganmu ini kalau bukan sekarang. Kapan kau akan memakai pakaian yang di rancang oleh Allah untuk menghormati nilai dan martabatmu sendiri?
Wanita yang sudah menutup aurat pun masih di ajurkan untuk menjaga pandangan karena pandangan itu walaupun tidak tegas dikatakan aurat, tapi dia sangat berbahaya. Dia juga bisa menimbulkan malapetaka, dia bahkan lebih berpotensi menimbulkan maksiat.
Aku menutup khutbah dipenghujung dengan sebuah salam, kakiku mulai menuruni mimbar yang bertingkat. Sosok Ustaz Ali melihatku dari luar kelas setelah kusadari tak lama Aku menyelesaikan ceramah.
Puji syukur kupanjatkan kepada Sang Illahi yang telah menghembuskan semangat keberanian dalam diriku, juga tak lupa jasa Ustaz Ali yang telah bersedia memberikan sebuah buku untukku hingga Aku dapat berceramah dengan baik pada malam ini.















Bab 5
Konflik Intrapersonal
Malam bergulana dalam kegelapan meskipun secercah cahaya rembulan mengiringi, awan hitam elok dilangit dengan gemerlap pantulan bintang yang bernyanyi dengan kelap-kelip cahayanya.
Aku duduk di atas lemari pakaian dekat tempat tidur tingkatku, kubuka setengah  dari jendela hingga terasa semilir udara menerba rambutku hingga bergoyang. Kugoreskan pena dalam secarik buku untuk menghapus lara yang saat ini mendera. Kerinduan yang amat kurasa kepada orang yang terkasihi, jerit penaku menangis meskipun tetesan kesedihan tak dapat keluar dari mata sang pengores.
“Rasa di jiwaku terasa hampa seperti detak jantung yang berhenti sesaat lalu mencoba untuk merangkai kembali rasa tersebut. Aku merindu sosoknya yang selalu hadir setiap waktu menemaniku, kini semuanya terhalang oleh jarak yang memisahkan. Aku akan melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan untuk orang terkasih yang amat kucintai, berharap delir waktu cepat berlalu hingga mengantarkan Aku kembali kepadanya. Umi yang bagaikan mentari selalu menyinariku dengan senyumnya, Abi Sang Langit yang selalu menenangkan jiwa ini melalui nasehatnya yang menerangi pikiranku. Sosok Ibnu nan lucu yang selalu membuat jiwa ini rindu akan keluguannya” Aku mengamati pemandangan diluar asrama melalui jendela dihadapanku, goresan penaku terhenti sesaat.
Lamunanku sejenak mengingat kembali orang yang kukasihi. “Ara, kamu belum tidur! Tegur Susi membuyarkan memori indah bersama alunan suaranya memanggilku.”
Aku menengok ke tempat tidur Susi yang berada paling pojok ruangan bersebelahan dengan pintu masuk kamar 14. Ia tampak melihatku dengan mata yang masih sulit untuk dibuka.
“Aku belum ngantuk, Sus! Ujarku pelan takut membangunkan teman sekamar yang tertidur lelap.”
Susi menarik selimutnya hingga menutupi dada, lalu memeluk guling yang ada di sampingnya.
Aku kembali pada pandanganku semula menatap malam dalam gulana dihadapanku.
Pepohonan hijau yang berderet menuju Asrama Aisyah dan Umu Salamah berjejer air dalam gelas plastik yang tertutup bagian atasnya, yang di letakan di sisi pohon agar keesokan paginya santriwati dapat mengambilnya. Embun yang menyelilingi gelas setelah semalaman gelas diletakan memberikan kesejukan bagi yang meneguknya, di sini tidak ada kulkas sehingga kami santriwati harus membeli es batu jika ingin meminum air dingin atau jika ingin menghemat uang agar bisa minum air seperti dinginnya air dalam kulkas secara gratis, beginilah cara santriwati menikmati seteguk air dingin.
Aku menyudahi goresan pena saat ayam berkokok terdengar sayup-sayup menandakan malam akan menyingsing menjadi pagi. Kurebahkan badan setelah membaca doa di awal Aku mulai memejamkan mata.
“Aku rindu keluargaku dirumah, Aku gak betah tinggal di mahad ini, Aku ingin pulang.. bertemu dengan Umi dan Abi sambil bercanda dengan Adikku tersayang Ibnu! Batin Ara mengawali tidurnya, air matanya menetas tanpa ia sadari.”
***
Siang ini ada pertemuan para santriwati di aula putih pesantren yang terletak sebelum madrasah  aliyah tempat kami menuntut ilmu agama saat kelas pagi. Tak seperti biasanya berkumpul seperti ini karena ada acara pemilihan osis baru maka waktu dua jam sebelum santriwati memulai kelas pelajaran umum di SMU waktunya dimanfaatkan seoptimal mungkin. Jam satu siang kami harus masuk untuk belajar pelajaran umum sesuai kurikulum diknas. 
Seluruh santriwati dari asrama masing-masing berjalan serentak menuju gedung pertemuan utama dalam aula di lantai dasar, aula putih pesantren bertingkat dua dengan menampung kuota jamaah kurang lebih seribu umat. Ada tangga bertingkat yang tak terlalu tinggi sebelum kami menuju lantai dasar aula dengan nuansa asri sekitarnya karena kesejukan dari pepohonan hijau yang menjernihkan mata si pemandang.
Aku bersama dengan beberapa teman mulai memasuki aula, kulepas sepatu warrior yang kukenakan di tangga paling dasar menuju aula.
Suasana di dalam aula penuh dengan santriwati yang mulai duduk berjejer hingga tampak seperti barisan yang tersusun rapi. Kami berbaris sesuai dengan asrama masing-masing.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang. “Ara?” Aku menoleh ke belakang. “Ada apa Rohmah? Tanyaku.”
“Ada Umi Ara di asrama bersama dengan Ibnu adikmu! Ujar Rohmah pelan karena aula yang ramai dengan santriwati.”
“A..ah.. benarkah, keluargaku menjengukku, Rohmah? Terimakasih ya.” Aku bergegas keluar dari aula, kuturuni tangga lalu Aku ambil sepatu warrior dengan tergesa hingga belum sempat menyimpul tali sepatuku.
Aku berlari kecil dengan langkah yang agak dipercepat. kulihat Abi, Umi serta Ibnu duduk di teras asrama. Ibnu menghampiriku lalu memelukku langsung.
“Ibnu, kangen sama Kak Ara! Ujarnya.”
Aku terdiam saat Ibnu memeluk pinggangku, ia memang masih kecil hingga tinggi badannya baru setangah dari tinggiku.
Aku menggandeng tangan Ibnu lalu mengajaknya menuju teras asrama menghampiri Umi dan Abi.
Aku mencium tangan Umi serta Abi lalu Umi pun mencium keningku dengan lembut.
“Gimana kabarmu, Anakku? Tanya Sang Abi.”
Aku duduk di sebuah tembok khusus pembatas antar jemput di teras asmara Fatimah. Suasana nampak sunyi karena semua santriwati berkumpul di aula pesantren. Semilir angin mengambarkan kesejukan yang melintasi rasa di jiwa ini.
“Umi, Ara mau pulang aja? Ucapku dengan mata yang menunduk, tak berani kutatap mereka dihadapanku saat berkata hal tersebut.”
Abi kaget mendengar perkataanku, mukanya terlihat durja namun ia segera menipisnya dengan bingkai kesabaran yang tertuang pada sebuah lontaran kecewa yang ia ucap kepadaku.
“Kamu kenapa, Ara? Tanya Abi sebelum Umi menjawab pertanyaanku.”
“Ara, gak betah tinggal di sini, Abi! Tetesan air mataku mengalir begitu saja.”
Umi memeluk Aku erat dengan senyum mataharinya yang selalu meneduhkan jiwa Sang Anak dalam kebimbangan.
Tangisku semakin meledak, ingin rasanya Aku ikut Umi serta Abi kembali ke Jakarta. Umi mengelus jilbabku yang panjang, Ibnu terpaku melihat Sang Kakak menangis di hadapannya.
“Ya sudah, Ara mau pulang? Ucap Umi.”
Aku tetap dalam kebisuan hanya air mata yang menjawab perih rasa di kalbu. Satu anggukan dariku membuat semuanya jelas tentang apa yang kurasa.
Abi terdiam, ia terlihat sesekali menarik napas dalam.
Setelah membisu dalam keheningan yang panjang akhirnya Abi setuju jika Aku ikut pulang untuk sementara waktu.
“Tapi janji ya sama Abi dan Umi, kalo Ara akan balik lagi sekolah di pesantren ini? Ujar Abi meminta janjiku.”
Aku mulai menyeka air mata yang terjatuh dipipi menggunakan jilbab panjang yang terulur hingga setengah badanku.
“Iya” Perkataanku meluncur bagaikan peluru dashyat dari lidah, lancar tanpa ada kendala atau rintangan.
Beberapa saat kemudian Aku sudah bersama dengan keluargaku menuju ke Jakarta, perjalanan yang kulalui di sambut riang oleh mentari yang menghangatkan hatiku bersama dengan lepasnya rasa rindu yang perlahan mulai surut.
***
Sepekan berlalu berlari dengan cepat melewati hari menuju ke minggu yang akan datang. Detik-detikku bersama orang yang kukasihi harus rela kulepas kembali dalam untaian kebisuan yang kini mulai meradang.
Umi selalu menyinari hatiku dengan belaian lembut yang ia berikan kepadaku Sang Anaknya.
“Ara, dulu Umi juga merasakan apa yang Ara alami? Ucap Umi lembut sembari menyiapkan sarapan pagi untuk Abi sebelum berangkat kerja.”
Aku berhenti memoles jam pineapple pada selembar roti. “Emang dulu, Umi sekolahnya di mahad ya? Tanyaku tak tau.”
Umi tersenyum, pipinya nampak merah merona laksana pelangi yang muncul setelah hujan berhenti tanpa polesan make up.
“Hidup itu hanya sebuah persinggahan sementara insan di dunia, tak ada yang abadi kita sebagai mahkluknya dimuka bumi ini. ibarat kau menyelupkan jarimu ke lautan lalu kau angkat jarimu kembali. Air yang ada di jari adalah dunia dan lautan merupakan akhirat. rindu hanyalah sebuah rasa yang bersifat fatamorgana, semu akan suatu kebahagian yang tak pasti.” Aku mendengarkan penjelasan Umi dengan baik, kugigit helaian roti yang Aku genggam.
“Tapi Ara gak mau ditinggalin Umi sama Abi, Ara gak betah dipesantren” Deraian air mataku setetes mengalir di pipi.
Abi mengusap kepalaku dari belakang. “Anak Abi kenapa? Kok masih pagi sudah cengeng?” Abi menarik kursi di ruang makan, tepat di sebelahku.
“Abi, Ara pindah sekolah saja ya?”
“Kenapa punya pikiran seperti itu, Ara sayang? Sahut Umi disela-sela obrolanku.”
Dadaku terasa sesak hingga rasanya untaian kata membeku. “Ara, gak mau ditinggalin Abi sama Umi di pesantren sendiri! Air mataku tiba-tiba meleleh dengan sendirinya.”
Umi menyiapkan segelas susu hangat di hadapanku. Kuteguk apa yang Umi berikan untukku.
“Kalo alasan Ara karena gak mau ditinggalin Umi dengan Abi, bagaimana jika suatu saat Umi atau Abi meninggalkan Ara lebih dahulu?”
Aku tersentak memikirkan makna yang menurutku cukup dalam dilontarkan oleh Umi.
“Kok Umi ngomongnya begitu sih?”
Umi tersenyum, begitupula Abi.
Aku membisu sesaat, tak lama berselang Ibnu datang ke ruang makan setelah ia selesai bermain sepeda beroda empat miliknya.
“Ara, suatu saat pasti Abi dan Umi akan meninggalkan kalian berdua. Cepat atau lambat itu hanya masalah waktu, yang bisa kami berikan hanyalah ilmu yang bermanfaat untuk kelangsungan hidupmu. Pergunakanlah hal itu sebaik mungkin selama kau mampu, Anakku!” Abi menasehatiku dengan sabar.
Aku menghela napas panjang memikirkan kebenaran ucapan Abi.
“Abi, kenapa menuntut ilmu harus dipesantren. Bukankah menuntut ilmu bisa di sekolah umum juga? Tanyaku kemudian.”
Tersungging sebuah senyuman Abi. “Menuntut ilmu dapat di mana saja, sayang. cuma bedanya kalo belajar dipesantren kamu dapat belajar hidup mandiri, bekal yang akan Ara butuhkan di masa depan kelak.” Abi berdiri dari kursinya lalu merapihkannya kembali. Ia mengusap kepalaku kemudian mencium keningku sebelum akhirnya Abi berlalu meninggalkan kami untuk berangkat kerja.
“Ada gak pelajaran yang Ara dapat hari ini? Tanya Umi sesaat setelah kepergian Abi.”
“Maksud Umi apa? Jawabku tak paham.”
Ibnu merenggek minta dibuatkan susu seperti punyaku kepada Umi disela pertanyaanku.
Umi berjalan menuju dapur tepat di sebelah ruang makan, Aku mengekor dari belakang bersama Ibnu yang terus merenggek minta cepat dibuatkan susu.
Aku terdiam menyaksikan tingkah Ibnu Adikku semata wayang yang rewel. Umi terlihat mengaduk susu dengan sendok lalu mencampurkannya dengan setengah bagian air dingin dalam gelas.
“Minum susunya duduk ya, Ibnu! Nasehat Umi.”
Ibnu membawa segelas susu ke ruang keluarga, dia menyalakan televisi lalu menyetel film kesukaannya.
“Ara, contoh kecil yang dapat kamu ambil hikmahnya adalah peristiwa tadi pagi  yang hadir dalam hidupmu!”
Aku terdiam memikirkan ucapan Umi. “Maksud Umi, apa? Tanyaku bingung.”
“Abi pergi berangkat kerja meninggalkan kita bukan?”
“Abi kan kerja untuk mencari nafkah, Umi. Nanti sore Abi juga pulang? Jawabku atas pertanyaan Umi.”
Umi tersenyum merekah di hadapanku. “Kita hidup juga seperti itu, Anakku sayang. kita akan pergi meninggalkan dunia ini lalu akan berjumpa kembali suatu saat kelak.”
Aku terdiam untuk yang kesekian kalinya memikirkan ucapan Umi. Langkah kaki sesaat menyeretku menuju kamar, kurebahkan badan memandang biru langit warna cat tembok kamarku. Mencoba mengartikan makna hidup sebenarnya yang Umi jelaskan.
***
Dua hari kemudian Aku memutuskan kembali untuk melanjutkan pendidikan di pesantren, sesampainya disana teman-teman asrama Fatimah tempat kami satu atap bersama menyambut kedatanganku dengan gembira yang terpancar dari aura wajah mereka terutama anak kamar 14.
“Ara” peluk Susi yang berlari menghampiriku saat ia melihatku dari ruang tengah asrama.
Hatiku rasanya bahagia melihat semua temanku merindukan sosokku dalam kehadiran jiwa mereka, Umi dan Ibnu terkesima menyaksikan perhatian yang begitu mendalam dari saudara baruku di tempat bernaung ini.
Kulangkahkan kaki berbelok ke kamar 14 mengekor Susi dibelakangku. Suci, Rohmah, Fitri, Shaila semuanya menyambut riang keberadaanku di antara mereka.
Umi dan Ibnu merasa bahagia belahan jiwanya telah memiliki banyak saudara baru yang amat menyayangi Ara meskipun di rasa yang lain sebuah goresan pilu terukir dalam satu tempat bernama jiwa karena jarak dan waktu yang akan memisahkan kasih di antara mereka.
Tiga tahun waktu yang akan Aku lalui, ia bukanlah rentan jarak yang lama.. Aku akan berlari mengejar semua kelana ilmu hingga tanpa kusadari waktu tersebut akan menghampiriku dengan senyum hangatnya laksana mentari. kukejar semua impianku dalam munajat cinta syair doa yang mulai saat ini kutetapkan hati kepada Sang Illahi.












Bab 6
Mekarnya Sebuah Rasa
Ini merupakan hari pertama Aku kembali ke mahad setelah kemarin meliburkan diri di rumah selama kurang lebih sepekan, suasana asrama masih seperti biasa tiada perubahan yang drastis. Pagi hari aktivitas mulai padat, kuatur waktu seoptimal mungkin agar tak ada yang terbuang percuma. Aku tak mau kena hukuman sebelum masuk sekolah karena dihukum akibat telat datang sebelum dentang lonceng dibunyikan.
“Aina nakli –dimana sendalku- Susi, anti anjur la – kamu lihat tidak- “ Aku mencari sendalku yang tak kutemukan diteras depan asrama.
Susi membantuku mencarikan sandal milikku namun kami tak menemukannya, akhirnya Shaila meminjamkan sandal miliknya setelah ia kembali dari dapur seusai sarapan pagi.
Pagi ini sebelum sarapan Aku sudah sebel dengan peristiwa hilangnya sandal, suatu awal yang tidak bagus menurutku untuk mengawali akitivitas.
Bergegas Aku, Susi dan Fitri bersama menuju dapur. Pakaian seragam sekolah aliyah sudah kami kenakan untuk mengejar waktu.
Kami makan satu piring bersama secara berjama’ah bertiga. Menu makan pagi kali ini adalah tempe orek dengan nasi hangat. Lauk yang biasa jarang Umi masak dirumah untukku, tempe.. Aku sebenarnya kurang suka dengan makanan yang satu itu cuma entah mengapa Aku jadi menyukai tempe semenjak tinggal di pesantren ini, apalagi makannya secara berjama’ah ada suatu kenikmatan yang tak terhingga kurasakan saat lauk tersebut kusantap.
Jalan yang menyusut harus kami lalui sebelum tiba di dapur, menyelurusi jalan setapak di samping asrama Aisyah yang terdapat dua jalur seperti cabang yang di tengahnya merupakan pepohonan hijau nan menyejukan mata. Beberapa pohon telah berbunga indah, merekah akan keelokkannya saat mentari pagi menyambut mereka. Aku terpesona hingga terperosok kagum akan keindahannya ciptaan Sang Illahi, sungguh maha sempurna ia menciptakan apa yang ada dilangit serta di bumi.
Nuansa hiruk saat kami mulai menapaki jejak langkah ke dalam dapur, suasana mulai padat dengan beberapa santriwati yang juga ikut sarapan sepertiku. Fitri mengambil nasi dalam piring ceper miliknya, Susi mengambil air minum, sementara Aku mencari kursi untuk jatah duduk bertiga.
Susi mulai menghampiri kursi panjang yang telah kutempati untuknya, kini saatnya menunggu Fitri yang sedang antri lauk tempe orek yang sedang dibagikan oleh karyawan dapur.
“Hai minggir, kami mau duduk di sini?” Aku menoleh ke belakang bersamaan dengan Susi.
“Iya Kak, maaf” Susi mempersilahkan 4 kakak kelas senior menempati kursi yang telah terlebih dahulu kutempati.
Susi mengandeng tanganku agar Aku pindah ke kursi makan panjang yang lain bersamanya.
Alhamdullilah ada anak asrama Fatimah yang baru saja selesai makan sehingga kami tak perlu makan berdiri karena penuhnya santriwati yang sedang sarapan di dapur. Terpaksa kami makan dengan tempat yang sempit. Seporsi nasi yang menggunung dengan lauk tempe orek di atasnya kami santap dengan nikmat menggunakan tangan.
Hatiku sebenarnya mengerutu tak terima perlakuan kakak kelas senior tadi yang seenaknya saja tanpa perasaan mengambil hak duduk kami. Aku benar-benar tak bisa terima perlakuan mereka, masa senior sikapnya begitu sih. hari ini Aku sudah dibuat kesal dua kali. Pertama masalah sendalku yang hilang lalu yang kedua akibat ulah kakak senior yang belagu.
Dipesantren tempatku menuntut ilmu memang ada kelompok atau mungkin biasa disebut dengan istilah geng untuk beberapa santriwati. Seperti kakak senior tadi yang merebut kursi kami. ia adalah salah satu kakak yang terkenal bahaya, Aku sebagai santriwati junior lebih akrab dengan panggilan gengdanger kepadanya.
Gengdanger sering mengerjai santriwati baru seperti beberapa anak di asrama Fatimah yang pernah mengalami keresehan ulah meraka. Seperti minta di jajani atau disuruh-suruh tanpa minta tolong terlebih dahulu, andaikan kami menolak permintaan gengdanger biasanya ia tak akan segan untuk memberikan hukuman kepada kami para santriwati baru di sini.
“Teng…” Bunyi dentang lonceng pertama masuk madrasah aliyah berbunyi, seluruh santriwati bergegas mengakhiri sarapan pagi mereka begitupula dengan kami.
Bergegas langkah kaki kupercepat bersama dengan jejak yang lebih dahulu berada di depanku.
“Teng..  teng.. “
Dentang lonceng kedua terdengar mengalun di udara dengan cepat. Kami segera mengambil buku pelajaran yang telah disiapkan terlebih dahulu sebelum sarapan di tepi jendela yang terbuka kamar 14. Fitri segera meletakan piring serta gelas di tempat pengganti buku kami.
kami bergegas menuju teras asrama dari jalur samping menuju kamar, kukenakan sepatu warrior milikku dengan cepat bersama beberapa temanku yang masih berada di teras asrama Fatimah.
“Ara, itu sendalmu cepat sembunyiin sebelum nanti hilang lagi! Ujar Susi kepadaku yang melihat sendalku tergeletak tak beraturan di tanah samping kanan pintu masuk.”
“Teng.. teng.. teng.. teng..” lonceng berlalu dengan cepet. Kuambil sendalku lalu kusembunyikan dibalik rak sandal yang berjejer di kedua sisi pintu masuk Fatimah.
“Ayo, cepat..” Fitri mulai berjalan duluan keluar teras, disusul Susi dengan beberapa santriwati Fatimah yang menunggu temannya. Akupun bergegas menyusul mereka.
“Teng...” lonceng terakhir berhenti berdentang. Kini giliran kakak osis yang mulai terdengar teriakan suaranya.
“Wahid –satu- ” Ujar beberapa kakak osis yang siap memberi hukuman kepada santriwati yang telat.
“Sit up 10 kali” Ucapan yang terlontar oleh kakak dihadapanku bersama perintah yang harus kutaati dengan beberapa barisan berjejer santriwati sepertiku.
Debaran jantungku semakin tak menentu, Aku merasakan kepalaku sedikit pusing dengan bayangan yang agak samar pada penglihatanku.
Fitri, Susi, dan Aku menuju kelas 1c yang berada dipojok madrasah aliyah, kelas kami berhadapan langsung dengan lapangan hijau.
“Braak…”
Penghuni kelas 1c berhamburan keluar kelas, beberapa staf pendidik yang berada dikantorpun mengikuti. Suasana kembali hening saat tubuh lunglai itu di boyong ke ruang UKS madrasah.
***
“A..ah.. kepalaku” Aku mulai membuka mata. “Aku, dimana?” kuamati ruangan di sekeliling Aku berada, ternyata ini di UKS madrasah.
“Kamu masih pusing? Tanya Ustaz Ali yang berdiri disampingku.”
Sebuah anggukan kecil jawaban atas pertanyaan yang ia lontarkan untukku. “Aku kenapa, Ustaz?” Ustaz Ali menarik kursi kayu ke samping tempatku berbaring. “Kamu tadi pingsan, Ara! Jawabnya.”
Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. “Ugh..” Ustaz Ali memegang tanganku yang hampir jatuh ke lantai. “Afwan! Ucapnya yang tanpa sengaja menyentuh telapak tanganku saat terjatuh.”
“Deg.. deg.. deg..” Jantungku bergetar seiring irama rasa yang tanpa sengaja menatap dua bola mata miliknya.
Kami terdiam dalam keheningan suasana setelah itu beberapa saat saling memandang, Aku segera mengalihkan pandangan agar busur panah zina tak terlalu melesat hebat ke jantungku.
Ustaz Ali memintaku untuk merebahkan badan kembali ke tempat tidur.
“Ustaz, temanku pada ke mana? Tanyaku pelan dengan nada yang terputus.”
“Mereka masih berada di kelas, kan ini masih jam belajar. kebetulan hari ini jam ngajar Saya lagi kosong jadi Allah memberi kesempatan untuk Saya membantu kamu untuk yang kedua kalinya! Jawab Ustaz Ali tanpa memandangku.”
“Sekarang jam berapa, Ustaz? Tanyaku kemudian.”
Ustaz Ali melirik jam tangannya. “Jam 09.40 pagi memang ada apa, Ara?”
“Saya mau sholat dhuha, Ustaz” Aku mencoba bangkit untuk  kedua kalinya, Ustaz Ali mengamatiku dari kursinya.
Aku terduduk di tempat tidur dengan kaki yang masih terlonjor, Mencoba untuk berdiri. “Alhamdullilah, kamu sudah dapat berdiri! Ustaz Ali mengekor dari belakang mengikutiku mengambil air wudhu dikamar mandi dalam ruang UKS.
“Allahu Akbar” Ucapku saat memulai solat setelah mukena Aku pakai dan sajadah terhampar dihadapanku.
Jiwaku terasa damai, sejuk disekujur rasa, kugenggam cinta illahi dan kureguk keelokan nikmatnya dalam sujud terakhirku. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh”
Ustaz Ali melihatku saat menengok salam, ia menundukan kepala saat melihat wajah ini.
“Kleek..” Pintu UKS terbuka, datang beberapa temanku dari asrama Fatimah.
Mereka ingin mengetahui keadaanku. “Ara, gimana keadaanmu? Tanya Susi khawatir.” Aku mulai merapihkan sajadah panjang yang terhampar lalu kulipat mukena.
“Ara kenapa gak istirahat aja sih, muka Ara masih pucat! Sahut Fitri yang ikut khawatir dengan keadaanku.”
Sebuah senyuman terbaik yang dapat kuberikan untuk semua orang yang mengkhawatirkan keadaanku.
Beberapa anak Fatimah yang menengokku di ruang UKS menundukkan kepala saat mengetahui Ustaz Ali menjagaku selama terjaga tak sadarkan diri.
“Aku mau balik ke asrama! Ujarku kepada Susi, Fitri dan beberapa anak Fatimah yang ikut menengokku.”
“Ustaz Ali, terima kasih ya atas perhatiannya! Ucapku saat meninggalkan UKS.”
Aku berjalan bersama dengan teman yang sangat perhatian terhadapku menuju asrama Fatimah, Ustaz Ali menatap kepergianku dari ruang UKS.
“Keelokan wajah yang tak dapat kugambarkan kesempurnaannya, tak perlu sentuhan warna untuk menambah keindahan yang ia miliki, meskipun indahnya pudar akibat kerapuhan yang dirasakan namun ranum eloknya tak mengubah rasa yang ada pada diriku! Batin Ustaz Ali mengagumi keindahan Ara sebagai seorang wanita.”















Bab 7
Mahkamah Bahasa
“Awas ada spy lewat, kita harus berhati-hati kalo berada di dekat mereka? Bisik Shaila pelan.”
Aku terdiam saat sosoknya berlalu di hadapan kami, walaupun ia teman satu asrama namun tak menutup kemungkinan ia akan menjerumuskan Aku atau temannya sendiri untuk menjadi target sasaran mahkamah bahasa.
Menurut cerita yang kudengar, katanya hukuman terdakwa mahkamah bahasa sungguh sangat mengerikan. Entah apa yang membuatnya seram.. Aku pun tak tau karena Aku belum pernah berada di sana. Teman sekamarku pun belum pernah ada yang masuk ruang sidang bahasa tersebut.
Di asrama Fatimah hanya seorang saja yang pernah masuk kena hukuman mahkamah bahasa selama dua bulan Aku berada dipesantren ini, ia bernama Dita.  Dita memang nakal apalagi dalam berkomunikasi ia jarang sekali mematuhi aturan yang telah diterapkan terutama soal penggunaan bahasa dalam komunikasi sehari-hari.
Dipesantren ini kami diwajibkan untuk berkomunikasi menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris tentu saja jika kosa kata tersebut telah diberikan oleh kakak pembina saat pelajaran muhadasah tiap paginya setelah solat subuh. Seluruh santriwati diwajibkan seminggu menggunakan Bahasa Arab, seminggu kemudian Bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Intinya selang sepekan bahasa harus ganti.
Dita memang anak yang dapat dikatakan sedikit nakal, mungkin yang menyebabkan ia seperti itu karena pola asuh orangtuanya yang terlalu sibuk bekerja diluar rumah dahulu. Ibu Dita bekerja sebagai seorang sekertaris diperusahaan yang cukup bonafit sementara Ayah Dita adalah seorang pengacara, mereka hanya mempunyai waktu sebulan sekali untuk menjenguk sang anak yang saat ini berada di pesantren. Orangtuanya sengaja memasukan Dita ke mahad agar ia dapat lebih terkontrol dari pergaulan diluar sekolah yang saat ini memang cukup berbahaya.
Kakak gengdanger banyak yang kesel dengan kelakuan Dita, menurutnya Dita adalah anak baru yang belagu dan sombong sehingga ia sering dikerjain oleh mereka. meskipun demikian bukan Dita sahabat yang kukenal kalo ia mudah menyerah apalagi gentar menghadapi perlakuan gengdanger.
“Dita, sini loe? Panggil salah satu kakak gengdanger saat melihat Dita melintasi asrama Aisyah ketika hendak mengambil makan malam di dapur pesantren.”
Aku yang bersama Dita saat itu bersama menuju ke dapur bergegas menghampiri mereka. “Ada apa, Kak? Jawab Dita.” Aku mengekor dibelakang tubuh Dita.
Salah seorang kakak gengdanger mengulurkan sebuah piring plastik ceper. “Tolong ya, loe ambilin kita nasi serta lauknya untuk makan malam!”
Dita terdiam mendengar perintah kakak gengdanger. “Maaf ya, Kakak kan punya kaki seharusnya ambil aja sendiri bukannya menyuruh Adik kelasnya yang lewat! Ujar Dita dengan berani lalu berjalan meninggalkan dua orang yang ada dihadapannya” Aku bergegas berlalu dari pandangannya mereka mengikuti jejak Dita.
“Dita, kamu gak takut dengan mereka? Tanyaku sambil berjalan kecil menuju dapur.”
Dita terlihat diam dan masih dengan gaya khasnya ia berjalan seolah tanpa memikirkan masalah tadi, namun isi dikepalanya Aku tak tau apa yang sedang ia pikirkan.
“Sudahlah Ara gak perlu dipermasalahkan, biarin aja sekali-kali kita harus berani dengan kakak senior! Ujar Dita dengan melenggang santai menuju dapur.”
***
“Braak…” sebuah pintu kamar terdobrak dengan kuat, seluruh menghuni kamar satu kaget melihat kemunculan empat orang kakak gengdanger yang berdiri di depan mereka.
“Bruuught” Dita terhempas jatuh ke lantai saat kakak gengdanger mendorong tubuh kurusnya. Ia terduduk mengamati kakak dihadapannya.
Salah seorang kakak gengdanger menutup pintu kamar satu lalu seorang dari mereka berdiri diluar kamar mengamati situasi. Anak asrama Fatimah yang lalu lalang di depan kamar satu sepulang makan malam dari dapur berjalan tanpa melihat ke arah mereka. suasana nampak hening beberapa saat setelah kepergian kakak gengdanger.
“Dita, mereka ngapain kamu? Tanya beberapa anak asrama Fatimah yang bergerombol menggerumuti Dita.”
Dita terdiam, ia hanya terlihat sesekali tersenyum meskipun nampak terpaksa.
“Santai aja kali, gue gak di apa-apain kok”
“Masa sih, kok lama banget gengdanger di dalam kamarnya? Sahut anak Fatimah yang ingin tau ceritanya.”
Mira dengan beberapa anak dari kamar lima melaporkan peristiwa tersebut kepada Kak Iyah –pembina asrama Fatimah- hingga suasana semakin runyem.
“Dita, kamu dipanggil Kak Iyah? Mira menghampiri Dita yang terduduk di tempat tidurnya.”
“A..ah.. emang ada apa, kok dipanggil? Tanya Dita balik.”
“Biar kakak gengdanger gak bisa semena-mena dengan kita anak baru, bisa nyuruh seenaknya!”
Dita terlihat gontai berjalan ke kamar Kak Iyah di satu kamar tengah ruangan utama Fatimah. Seluruh mata tertuju padanya saat ia mulai memasuki ruangan tersebut dan pintu terkunci dari dalam, obrolan empat mata yang nampak serius.
“Tega banget sih mereka, benaran sikap mereka seperti itu kepada Dita? Tanyaku dengan anak kamar satu dan beberapa anak Fatimah yang ingin tau kronologis ceritanya.”
 “Tadi kan yang ada dikamar ini cuma Dita dengan kakak gengdanger, tapi peristiwa awal mereka seperti itu  kejadiannya. Mereka mendobrak pintu lalu mendorong tubuh Dita hingga terjatuh kemudian kami seluruh temannya yang berada dikamar di suruh keluar oleh mereka! Cerita Ira salah seorang  teman Dita satu kamar.”
Seluruh anak yang berkerumul dikamar satu terdiam sesaat, mereka nampak memikirkan kelanjutan peristiwa yang menimpa Dita di dalam kamar setelah seluruh penghuninya di suruh keluar semua, hingga Dita dengan kakak gengdanger yang berada di dalamnya dengan saksi suasana keheningan malam yang memilukan saat itu.
Dita keluar dari kamar Kak Iyah sejam kemudian, kami pun mengekor dari belakang menuju kamar Dita.
“Dit, dikamar Kak Iyah di apain? Tanya beberapa anak yang ingin mengetahui kelanjutan permasalahannya.”
Dita tetap terdiam, ranum wajahnya tampak gusar. Membisu merupakan langkah yang ia pilih untuk menyelesaikan persoalan dihadapannya.
Kak Iyah keluar dari kamarnya. “Anak Fatimah ayo cepat tidur, besok pagi kalian harus bangun untuk solat tahajut! Kata Kak Iyah dengan intonasi tinggi hingga suaranya menggelengar dari tiap ujung asrama.”
Seluruh anak Fatimah masuk ke kamarnya masing-masing, kini suasana sunyi menyeliputi asrama hingga hanya terdengar suara jangkring malam yang bergelayutan di udara.
***
Ditengah lapangan hijau dengan terik matahari yang sedang bercahaya, empat orang santriwati berdiri dibawahnya. Mereka berdiri masih menggunakan baju seragam sekolah aliyah pandangannya nampak tertunduk agar terhalau dari sinar yang membuat pandanganya terlihat berbayang. Kedua tangannya di kebelakangkan sementara santriwati lain lalu lalang di depannya setelah mereka pulang dari madrasah.
Entah perasaan apa yang muncul ketika melihat mereka dihukum, dipermaluan seperti itu hingga seluruh mahad tau apa yang telah ia perbuat.
Kabar burung yang terlintas di segelintingan santriwati adalah kakak gengdanger memukul Dita di sekujur badannya, ia bahkan tega menendangnya hanya karena Dita tidak mau memenuhi permintaannya untuk mengambilkan makan malam di dapur. Padahal jelas pengumuman di sudut dapur sebelum mengambil makanan “Tidak boleh makanan di ambilin kecuali santriwati yang sakit”. Peraturan dibuat untuk dipatuhi agar kami belajar disiplin dan tertib hingga bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, peraturan yang di buat bukanlah untuk dilanggar karena itu kita harus siap dengan konsekuensi apa pun dari sikap yang telah di ambil.
Istilah senior atau junior dalam urusan kelas merupakan sebutan untuk manusia semata karena sesungguhnya andaikan Aku jadi kakak senior pun, sikapku tak akan seperti itu. Membedakan antara santriwati baru dengan santriwati lama sehingga muncul rasa sombong dalam diri bahwa Aku lebih hebat dari kalian.
***
Berlanjut kepada mahkamah bahasa, kakak gengdanger sering sekali bolak-balik masuk ke dalamnya karena ia sering sekali tidak mematuhi aturan yang berlaku di mahad ini. Menurut mereka peraturan dibuat untuk dilanggar itulah sebabnya kenapa 4 orang personil gengdanger sering kena mahkamah bahasa, mereka jarang menggunakan 2 bahasa wajib yang diharuskan dari mahad secara bergilir tiap pekannya yaitu Bahasa Arab dengan Bahasa Inggris.
Nama 4 orang personil gengdanger yang terkenal galak serta nakal selama dipesantren adalah Kak Aulia, Kak  Anjel, Kak Eni, dan Kak Zakiya.
Sebersit kabar yang belum diketahui kebenaranya Kak Zakiya menaruh hati dengan Ustaz Ali, makanya sering terlihat ia mendekati Ustaz Ali dikantor madrasah hanya sekedar untuk bertanya tentang pelajaran ilmu fiqih padahal anak kelas tiga aliyah guru mata pelajaran tersebut bukanlah Ustaz Ali.
Setiap orang yang pernah masuk mahkamah bahasa biasanya mendapat julukan spy karena ia adalah mata-mata yang sedang mencari mangsa untuk menjadi target sasaran berikutnya.
Dita kena mahkamah bahasa kemungkinan yang menyebabkan ia masuk ke dalamnya adalah akibat ulah kakak gengdanger yang mencatat khilafannya saat lupa berbahasa yang tidak sesuai dengan aturan yang ada di mahad ini. Contohnya, saat pekan ini diwajibkan menggunakan Bahasa Arab maka kita harus berbicara bahasa tersebut. “Sebutan Saya diganti dengan Ana, Kamu menggunakan Anti –istilah kamu untuk anak perempuan- begitupula selanjutnya bila kosa kata bahasa tersebut sudah di ajarkan oleh kakak pembina saat pelajaran muhadasah tiap paginya usai sholat subuh di aula.”
Sekarang rabu malam itu berarti tepat akan di umumkan siapa santriwati yang akan masuk mahkamah bahasa. Pengumuman di informasikan seusai solat isya berjama’ah di aula mahad.
Beberapa santriwati baru dari anak Fatimah disebutkan yang masuk mahkamah bahasa dan salah satunya adalah namaku “Maratus Soleha” Denyut nadiku melesat dengan cepatnya, nafas ini seolah berhenti sejenak.
Duniaku runtuh seketika saat namaku mengeleggar di udara dalam alunan kata yang di ucapkan oleh kakak osis mahad.
“Kepada yang namanya tadi disebutkan, harap berkumpul jam 20.00 malam di kelas 3b madrasah aliyah! Ucap Kakak Osis mengakhiri pengumuman.”
Serentak santriwati yang berada di aula bergegas menuju asrama masing-masing. langkahku terasa berat menapaki jejak menuju Fatimah, dadaku nyesek banget mendengar namaku masuk dalam mahkamah bahasa. “Hukuman berat pasti menanti dihadapku, tapi kapan Aku gak bicara menggunakan bahasa yang diwajibkan, siapa spy yang tega mencatatku hingga membuat Aku terperosok dalam mahkamah bahasa! Gumanku dari tadi sembari menapaki langkahku yang mulai terasa berat.”
Aku mulai memasuki Kamar 14, kuletakkan mukena dengan bawahannya yang Aku pakai. Lalu duduk bersandar di tempat tidur punya Shaila dibawah tangga.
“Kamu kenapa Ara? Tanya Rohmah yang lagi datang bulan hingga tidak mendengar pengumuman mahkamah bahasa.”
Aku diam tak menjawab pertanyaan yang Rohmah ucapkan, letih kurasa di sekujur badan serta tak bersemangat malam dalam gulana hari ini.
“Sudah Ara jangan sedih, Aku juga masuk mahkamah bahasa kok. Jadi kamu gak sendiri dapat hukumannya! Kata Susi saat melihatku duduk dalam gelisah yang terpancar dari rona paras.”
Jantungku semakin cepat berlari. “A..ara takut Susi, kita mau dihukum apa ya? Tanyaku pelan.”
Susi juga ikut terdiam, ia merenungi apa yang kutanyakan.
Ia menarik tanganku keluar kamar, Rohmah bingung menyaksikan sikap kami berdua, menyelusuri lorong kecil dalam asrama hingga berbelok masuk ke kamar satu.
“Dita? Panggil Susi”
Dita kaget saat kami berdua berdiri di depannya tiba-tiba. “Kamu catat nama kami ya? Kata Susi kemudian.”
Aku terdiam memandang sahabat atau musuh yang kemungkinan ada dihadapanku.
“A..na! Tanya Dita.”
“Anti kolam ismi ana fii mahkamah, shohih la? –kamu nulis nama Saya di mahkamah, benar gak? Tanya Susi tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.”
Air mataku mulai terasa mengalir dipipi, dua orang sahabatku kini berdebat di depanku.
“La, ana la kolam anti, shohih –tidak, Aku tak menulis namamu, benar- ? Ujar Dita.”
“Kholas –sudah-! Ira mencoba menenangkan.”
Aku menarik tangan Susi keluar ruangan, kutarik tangannya hingga ke kamar 14. Susi masih kesal dengan Dita atas pertanyaannya yang belum sempat ia jawab.
“Sudah, Susi sebaiknya kita bersiap sebentar lagi jam 8 malam! Kataku mencoba menenangkan pikiran kalut di hati sahabatku tersebut.”
Segelas air putih Aku berikan kepada Susi yang duduk di tempat tidur Rohmah. Penghuni kamar 14 terpaku menyaksikan sahabatku yang sedang kesal dalam kebisuan.
Beberapa saat kemudian, beberapa anak Fatimah yang tadi disebutkan namanya mulai berhamburan menuju ruangan di madrasah aliyah tempat mahkamah bahasa di mulai.
Kurang lebih 20 santriwati masuk mahkamah bahasa, kami duduk dikursi seperti murid pada umumnya yang sedang menunggu pengarahan sang guru.
Sebuah meja di depannya dengan seluruh kakak osis berada di sebelahnya. Mereka memanggil nama kami satu-persatu.
“Maratus Soleha” Aku berjalan ke depan menuju meja tempat kakak osis berada.
Kugeser kursi lalu Aku mulai duduk di hadapan seorang kakak osis yang berada di depanku. Mataku bertemu dengannya. Rasa ini semakin tak menentu…berdebar-debar atas kesalahan yang Aku tak tau karena apa.
“Ara, tau gak kenapa di panggil disini? Tanyanya ramah.”
Aku menggelengkan kepala. “Ara tau bahasa arabnya, terima kasih? Tanyanya sesaat kemudian.”
“Arif, yauti! Sukron –Tau, Kak! terima kasih- ? Tanyaku bingung.”
Kakak tersebut tersenyum. “Ara lupa mengucapkan Bahasa Arab terima kasih? Ia mengeluarkan sebuah kertas kecil yang bertulisan tanggal, hari, serta bahasa yang Aku gunakan.”
Aku mencoba mengingat kembali peristiwa tersebut, memoriku kembali berputar menuju hari kemarin. Ternyata memang benar.. Aku lupa mengucapkan Bahasa Arab terima kasih dalam pembicaraanku sepulang sekolah umum sore hari empat hari yang lalu.
“Minggu depan, Ara catat nama teman yang tidak berkomunikasi dalam Bahasa Arab ya terus catatanya wajib dikasih ke kakak osis sehari sebelum mahkamah bahasa! Ucapnya sambil memberikan selembar kertas.”
Aku mengambil secarik kertas tersebut. “Kalo Aku gak dapat orangnya gimana, Kak? Tanyaku dengan kepala tertunduk.”
“Masa sih, gak ada? Sahut kakak osis yang berdiri di sampingnya, nadanya terlihat ketus kepadanya.”
Aku terdiam meskipun rasa ini sebel juga dengan ucapannya.
“Sekarang Ara lari kelilingin lapangan 15 kali ya sebagai hukumannya, setelah itu kamu boleh balik ke asrama! Ucap kakak dihadapanku.”
Aku mengekor salah seorang kakak osis yang berjalan di depanku. Sesampainya dilapangan yang menurutku cukup luas, Aku berlari hingga 15 kali putaran, napasku terenggah-engah. beberapa santriwati sebelumku juga ada yang sedang berputar mengeliling lapangan.
Malam berputar terasa cepat, sepanjang jalur lapangan berbentuk persegi empat yang Aku putari, otakku pun ikut berlari memikirkan siapa target sasaran yang harus tega kutulis namanya sehingga ia akan mengikuti jejak langkahku saat ini.


















Bab 8
Busur Panah Keberanian
“Ali” sebuah panggilan menyadarkan lamunanku.
Ketengok arah suara yang amat kukenal. “Ada apa, Abi?”
Abi menghampiri ketempat dudukku di teras belakang rumah, suasana malam dengan hembusan udara dingin.
“Abi perhatikan ada yang sedang menganjal pikiranmu, apa kamu mau berbagi masalahmu ini dengan Ayah? Tanya Sang Abi.”
Ali hanya sesekali terlihat tersenyum. “Apa kamu sudah menemukan pasangan dunia akhiratmu? Lanjut pertanyaan Abi.”
Satu anggukan dari Ali menyiratkan berjuta makna yang ia rasakan meskipun tak di ungkapan.
“Siapa wanita itu, anakku?”
“Abi sudah mengenalnya, cuma untuk saat ini Ali memang belum mengutarakan isi hati yang Ali rasa kepadanya. Ali malu Abi? Ucap Ali tertunduk.”
Sang Abi mengeser kursi disamping Ali lalu ia duduk di sebelahnya.
Sebuah buku berjudul : don’t be sad, karya DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA tepat berada di depan Ali. Rupanya tadi sang anak telah membaca buku tersebut.
“Apa yang membuatmu gusar, anakku sampai kau membaca buku tersebut?”
Ali terdiam sesaat. “Entahlah Abi, Ali juga bingung dengan apa yang kurasa dihati ini? Jawab Ali mengutarakan kebimbangannya.”
“Apa kamu sudah solat istikharah untuk pilihanmu itu? Lanjut Abi kembali.”
“Sudah Abi, setelah Ali beberapa kali melaksanakan solat istikharah perasaan Ali semakin erat kepada wanita tersebut?”
Sang Abi penasaran dengan sosok wanita yang telah merebut hati anaknya. “Siapa wanita itu, anakku? Tanya Abi penasaran.”
“Abi sudah mengenalnya?”
Abi terdiam memikirkan ucapan Ali. “Siapa? Tanya Abi ingin mengetahui namanya.”
“Dia santriwati di pesantren tempat Ali mengajar, Abi! Jawab Ali.”
“Siapa?”
Ali menundukan matanya saat ia menyebutkan nama wanita yang telah merebut rasa serta waktu dipikirannya.
“Maratus Soleha”
Sang Abi tersenyum. “Owh, Ara. Itu sih anak teman Abi Pak Ahmad waktu kami sama-sama masih kuliah, kapan kamu mau menyatakan rasa kepada wanita yang telah mencuri rasa di jiwamu? Tanya Sang Abi, ranum mukanya terpancar secercah kebahagiaan.”
“Ali belum tau kapan, Abi karena sekarang Ara masih kelas 1 madrasah aliyah? Ucap Ali ragu.”
Abi terdiam sesaat. “Ali menikah itu bukan halangan bagi calon istrimu untuk  menuntut ilmu atau berkarir andaikan engkau sebagai pemimpin keluarga dapat memberi pengarahan istrimu dengan baik! Sang Abi menasehati anaknya.”
“Maksud Abi?”
Abi tersenyum menatap anaknya yang ingin mengenal asam garam dunia pengalaman Sang Ayah.
“Ungkapanlah dahulu isi hatimu kepada Ara, baru kau akan bisa menilai sejauh mana ia merespon perasaanmu? Abi tersenyum lalu berdiri dari kursi tempat duduknya.”
“Abi akan bantu kamu berbicara kepada Pak Ahmad kalo kamu suka kepada anaknya! Abi mengelus pundak Ali lalu berlalu menuju ke dalam rumah.”
Ali terdiam merasakan perasaannya yang tak menentu, hembusan angin membawa rasanya ke berbagai penjuru seperti itulah ia malam ini, keheningan gulana dalam pantulan sinar bintang tetap tak dapat membuat matanya terpejam walau sesaat, ketika mata ini berusaha untuk dipejamkan sosok Ara seolah menari dalam pikirannya.
Ia mulai melanjutkan membuka buku yang tadi sempat tertunda karena kedatangan Sang Abi. Daftar isi dari buku don’t be sad mulai kubaca, terdapat sebuah tema yang menarik dari judul yang terdapat di halaman 314 yaitu mengenai cinta sejati.
Rasa yang haus akan kehadiran cinta sejati di sisiku membuatku memilih bab ini untuk kubaca terlebih dahulu, secangkir wedang jahe hangat setia menemani Aku di kesendirian malam ini.
“Cinta Sejati”
Untuk mendapatkan kebahagian sejati, anda harus menjadi orang yang mencintai Allah. Orang yang paling berbahagia adalah orang yang misi hidupnya adalah untuk meraih cinta Allah, yaitu cinta yang Allah maksudkan dalam ayat ini :
“Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya”  (al-maidah : 54)
 “Katakanlah : jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu” (ali imran : 31)
Rosullulah saw mengumumkan kepada semua orang untuk mengetahui jasa luar biasa Ali ra, sebuah kebalikan yang bagaikan mahkota di atas kepalanya : rosullulah mengambarkannya sebagai laki-laki.
Yang mencintai Allah dan rosul-Nya, dan yang Allah serta rosul-Nya cintai.”
            Salah seorang sahabat rosullulah saw sangat menyukai ayat al quran berikut ini : “Katakanlah, dialah Allah yang maha esa” (al-ikhlas : 1 )
Dia selalu membacanya dalam setiap raka’at shalat dan ia pun terus membacanya di waktu-waktu lain supaya bisa memberikan nuansa kedamaian dan ketenangan pada hati dan jiwanya. Rosullulah saw bersabda :
“Cintamu kepada-Nya itulah yang membawamu masuk surga.”
Saya temukan beberapa bait berikut dalam sebuah biografi ulama islam :
Jika cinta berkelana pada Sulma dan Laila,
Bisa mencabut pemikiran dan kemampuan berpikir,
Lantas apa kira-kira kondisinya
Bagi dia yang hatinya berdenyut
Untuk kehidupan yang lebih mulia
            “Orang-orang yahudi dan nasrani mengatakan : “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya.” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu akan dosa-dosamu?” (al-maidah : 18)
Kisah cinta Majnun kepada Laila sangat terkenal. Cinta Majnun kepada Laila telah membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Qarun dibunuh oleh cintanya kepada kekayaan, dan Fir’aun dibunuh oleh cintanya kepada jabatan dan kekuasaan. Di sisi lain, ada Hamzah, Ja’far dan Hanzalah (semoga Allah meridhoi mereka semua) yang rela mati demi cintanya kepada Allah, dan utusan-Nya. Betapa besar perbedaan yang memisahkan antara ketiga sabahat mulia ini dan orang-orang beriman –dalam urusan cinta- dengan orang selain mereka.
Kututup buku bacaan tersebut, Aku langkahkan kaki ini menuju dalam rumah dengan pikiran yang masih berlari mengejar sosok wanita yang dari tadi terlintas dalam sebuah rasa, air wudhu membasuh mukaku hingga mengantarkan jiwa ini terlelap di sebuah pangkuan istirahat jasad sejenak.
***
Terik mentari semakin membumbung tinggi, gerah berkeliaran menyelimuti keadaan lingkungan sekitar, awan nampak putih bersih tanpa celah. Senyumku luntur meskipun cuaca hari ini menyejukan, hati ini sedikit gusar ketika sosok orang yang kunanti berhadapan di depanku.
Ada apa dengan rasa ini saat pandangan seorang wanita yang kukenal bersama dengan Ustaz Ali, isu seputar Kak Zakiya menyukai Ustaz Ali mungkin harus diakui kebenarannya meskipun hati adalah rahasia yang tak mungkin di nilai tanpa lontaran yang terucap namun tingkah laku dapat menggambarkan rasa yang terdapat di jiwa.
“Ara” Tegur Susi yang melihatku terpana menyaksikan Kak Zakiya dengan Ustaz Ali ngobrol di depan kantor madrasah saat jam istirahat.
Pandangaku segera berganti melihat cahaya mentari yang terik di atas pepohonan hijau lapangan kelas 1c.
“Iya Susi, ada apa? Tanyaku sembari duduk di teras kelas bersama beberapa teman yang lain.”
“Lagi ngapain, Ara? Tegurnya.”
“Duduk aja, memang kenapa? Tanyaku melirik ke arahnya.”
Susi menarik tanganku. “Jangan duduk di depan pintu, nanti jauh jodoh” ia membawaku ke dalam kelas lalu mengajakku duduk di kursi.
Aku duduk sambil menyilangkan tangan lalu menyandarkan wajah ini pada meja belajar.
“Kamu kenapa Ara, kok gak semangat banget kelihatannya? Tanya Susi.”
Ara terdiam dalam kesunyian mentari pagi meskipun suasana kelas nampak ramai, gemuruh di hatinya bergelegar entah mengapa bisa begitu… apakah karena cemburu melihat Ustaz Ali dekat dengan Kak Zakiya tadi. Hanya rasa yang sanggup mengungkapkannya meskipun yang termuntahkan adalah sebuah kepatungan rasa yang tak dapat menuntut penjelasan.
“Ara” Panggilan Susi membuyarkan selintas lamunan mengenai Kak Zakiya dengan Ustaz Ali.
“Ada apa, Sus? Jawabku tak semangat.”
“Ara nanti pulang madrasah aliyah anterin Aku ke saung pematang sawah sebentar ya? Pinta Susi kepadaku.”
Aku menatap wajah Susi disebelahku. “A..ah.. ngapain, nanti jam 1 siang kita kan masuk sekolah umum, males tau mendingan istirahat di asrama?”
“Please..! Pinta Susi kepadaku, wajahnya nampak serius.”
“Emang ada apa di sana, Sus? Tanyaku penasaran.”
Susi tersenyum pandangannya berganti sudut. “Pokoknya ada deh, intinya Ara anterin Aku aja”
Belpun berdentang menandakan akhir istirahat telah usai, kamipun belajar seperti biasa setelah pendidik memasuki ruangan.
***
Jalan setapak tak jauh dari asrama Fatimah membawaku menyelusuri pematang sawah. Mengingatkan memori lama mengenai awal pertemuan pertamaku dengan Ustaz Ali. Saung bambu mulai terlihat dari langkah kaki ini.
“Ngapain kita ke saung, Sus? Tanyaku berkali-kali kepadanya.”
Susi tetap diam seribu bahasa, membuatku makin penasaran. “Sudah pokoknya ikut aja” seorang lelaki ada di dalam saung meskipun wajahnya belum jelas terlihat.
Semakin dekatnya langkah ini ke saung, sosok wajahnya akrab denganku. Ia adalah Ustaz Ali. Debaran jantungku semakin tak menentu, Ustaz Ali memandang kedatangan kami.
“Susi kenapa ada Ustaz Ali? Tanyaku menarik tangan Susi sebelum ke saung bambu.”
“Huuussh..” Ia memintaku tak banyak bertanya, Aku ikuti Susi hingga akhirnya kami bertiga duduk di saung dengan nuasa padi yang menari di udara.
“Sukron, Susi! Kata Ustaz Ali.” Susi tersenyum menjawab pertanyaan seseorang dihadapannya.
Aku duduk di pinggir saung begitupula dengan Susi dan Ustaz Ali.
Ustaz Ali terlihat mengatur napasnya lalu ia berdiri di depan Ara, Susi terdiam dalam kebisuanya.
“Ara! Ucap Ustaz Ali menyebut namaku.”
Aku tersentak kaget, ternyata Ustaz Ali ada keperluan dengan Aku bukan Susi.
“Iya Ustaz! Jawabku pandangan ini perlahan mulai tertunduk.”
Ustaz Ali berdiri tepat dihadapanku, pandanganya kini tertuju pada orang-orangan sawah yang sedang mengusir belalang serta burung yang hinggap di padi.
Ia sesekali terlihat menghela napas. “Ada apa, Ustaz? Tanyaku ragu.”
Suasana nampak hening sesaat ketika Ustaz Ali terlihat mengatur kata.
“Maaf Ara sebelumnya” Ustaz Ali berkata dengan sopan. Aku mulai gelisah menunggu kepentingan yang ingin ia tanyakan kepadaku.
“Afwan limaza, Ustaz Ali –maaf kenapa, Ustaz Ali-? Tanya Ara bingung, debaran jantungnya semakin tak menentu.”
“Sa..saya.. suka dengan kamu Ara dari awal kita berjumpa ditempat ini pertama kali” Ustaz Ali membuka pembicaraan pertamanya, hembusan angin segar menyela sisi hatiku. Ara semakin menundukkan pandangan.
“Di islam tidak ada istilah pacaran yang Saya tau, jika kamu berkenan Saya ingin mengkhitbah Ara kepada orangtuamu! Lanjut perkataan Ustaz Ali, Susi tersenyum mendengarkan keberanian lelaki dihadapannya mengakui rasa yang ia harapkan.”
Ara terdiam, ia bingung harus berkata apa atas lontaran pertanyaan yang ditujuan kepadanya.
“Tapi Aku masih sekolah Ustaz, Ara masih kelas 1 SMU! Sebuah jawaban yang singkat dari Ara terucap.”
Ustaz Ali terlihat menarik nafas perlahan. “Iya Saya tau, semua keputusan ada ditangan Ara, Saya siap akan segala konsekuensinya.”
“Maksud Ustaz? Tanyaku tetap dengan kepala tertunduk.”
“Saya hanya ingin mengungkapkan rasa yang saat ini terus menghantuiku, andaikan kamu menerima lamaran Saya, Saya tidak akan menghalangi kamu untuk terus menuntut ilmu dan mengejar semua impianmu asalkan pasanganku masih mengetahui kode etik tugas utamanya sebagai seorang wanita! Ustaz Ali mulai berani dengan lantang menjabarkan isi hatinya yang saat ini perlahan sudah mulai terlepas dari beban beratnya.”
Ara terdiam dalam kebisuannya, ia malu untuk mengutarakan apa yang ingin dijawabnya.
Ali sesekali memandang ranum keelokan paras Ara yang terpancar, ia mengalihkan pandanganya saat Ara melihatnya.
Susi tersenyum bagai mentari yang menyinari siang dengan terik di jiwanya, ia tetap membisu di antara ketiga insan yang terdiam.
















Bab 9
Jeritan Terpendam
Dibukit belakang asrama yang berbatu, Ara, Susi, dan Shaila duduk berjejer. Mereka menikmati udara hening nan lembut. Langit yang biru langsat, memperindah suasana. Burung-burung kecil menari lepas ditaman langit. Awan tampak putih jernih tanpa mendung. Alam membentang seakan tanpa batas. Mereka menatap ke depan penuh hasrat.
“Ustaz Ali serius ingin menikahimu, Ara?”
Aku terdiam dalam keheningan suasana sekitar.
“Apa pilihanmu, Ara? Sahut Shaila.”
Dari seluruh santriwati penghuni asrama Fatimah, hanya anak kamar 14 saja yang mengetahui bahwa Ustaz Ali mengutarakan perasaannya.
“Menurutmu apa yang harus kulakukan, Aku kan masih sekolah. Bagaimana cara Aku bercerita tentang Ustaz Ali kepada Umi dan Abi saat esok kedatangan mereka ke mahad ini untuk menjengukku? Sebuah pertanyaan Ara ajukan kepada 2 orang sahabatnya.”
Suasana menjadi hening seketika.
“Kalo Aku jadi kamu Aku akan berpikir beribu kali, Ara?”
“Maksudmu apa, Sus? Tanyaku.”
“Aku akan melihat bagaimana cara calon suamiku meyakinkan cintanya kepadaku? Lanjut Susi bercerita.”
“Cinta menurutmu apa, Sus? Tanya Ara kemudian.”
“Cinta sebuah alunan tulus suci tanpa sebuah tuntutan, itulah wujud cinta karena mengharapakan ridho Sang Illahi! Sahut Shaila ditengah obrolan.”
“Aku terlalu buta dengan yang namanya cinta, andaikan cinta itu menyapa sebelum saatnya Aku hanya akan tersenyum bak mentari menyambut kehadirannya di sisiku”
“Kamu harus menentukan pilihan, Ara. Cinta memang datang secara tiba-tiba namun ia tak akan mempunyai kesempatan untuk ke dua kalinya! Ujar Susi.”
“Setiap manusia pasti memiliki pasangan hanya waktunya saja yang belum menjemput? Jawab Ara.”
“Sebenarnya Aku menginginkan cinta yang menggebu agar hubunganku terasa lebih indah! Lanjut Ara kemudian.”
“Cinta yang menggebu? Kata Shaila dan Susi serentak.”
“Iya” kataku disertai sebuah anggukan kepala.
“Cinta yang bergejolak penuh hasrat maksudmu, Ara? Tanya Susi.”
“Hati-hati dengan cinta seperti itu, saudaraku! Sambar Shaila ditengah-tengah ucapan Susi.”
Aku memandang dua orang sahabatku yang duduk berjejer bersama. “Kalian kenapa, kok ngelihatin Aku begitu? Tanyaku kepada mereka.”
Shaila menghela napas panjang. “Aku punya pengalaman buruk mengenai cinta menggebu penuh hasrat? Shaila terdiam sesaat setelah berucap.”
Pandangan kami berdua tertuju kepada Shaila. Tatapannya terlihat sendu seketika.
“Ada apa Shaila? Kataku penuh tanya.”
Air matanya meluncur hingga terjatuh di pipi. Isak tangisnya mulai meledak meskipun tertahan oleh rasa yang tak dapat dilupakan.
“Hiiiks… hiiiks..” suasana seolah menjerit keindahan sore mereka bertiga.
Aku dan Susi memeluk Shaila dalam dekapan kasih. “Ada apa, Shaila? Susi memulai pembicaraan untuk meneduhkan jiwa yang telah menjerit.”
“A..aku..” Shaila berhenti bercerita, sebuah beban berat mendera hatinya.
“A.. aku malu berbagi aib ini kepada kalian, Aku takut rahasia ini terbongkar! Shaila berucap walaupun untaian katanya terputus-putus.”
Kami berdua terpaku dalam kebingungan melihat Shaila menangis mengingat hal buruk yang pernah menimpanya.
Isak deraian air mata Shaila terhenti tak lama setelah ia mulai berbagi kisah dengan kami.
“Janji kalian tidak akan membuka aib yang akan kuceritakan? Shaila menanti sebuah janji yang kami ucapkan.”
“Kami janji, Shaila tidak akan memberitahu siapapun. Andaikan kau tidak percaya dengan kami berdua lebihbaik simpanlah rahasiamu tanpa harus berbagi! Ucapku kepadanya disertai anggukan dari Susi.”
Shaila terdiam dalam sebuah memori menyakitkan yang berlalu dalam perjalanan hidupnya.
“Se..sebenarnya Aku di sekolahkan dipesantren ini agar peristiwa dahulu tak terulang kembali, sepenggal kisah kakak wanita satu-satunya yang amat kusayangi” Deraian air mata Shaila kembali mengalir.
“Kakakku mencintai seseorang dengan menggebu penuh hasrat yang bergelora, ia berharap hubungannya akan dibawa ke sebuah lembaga pernikahan oleh pujaan hatinya, ia seorang wanita yang cantik, keanggunannya laksana bidadari, rambut panjang hitam tebal terurai dengan tubuh ideal serta muka oval mulus tanpa jerawat. Setiap kaum adam yang melihat kakakku akan terperosok dalam keindahan dunia, namun kakakku salah dalam memilih cinta hingga berakibat fatal seumur hidup baginya! Shaila melanjutkan perkataannya.”
“Maksudmu apa, Shaila? Tanya Susi yang tak paham dengan cerita Shaila.”
Pandangan Shaila tertuju pada taman langit, terdapat dua ekor kupu-kupu menari dengan indah dalam gulatan udara.
Mata Shaila memang sudah tidak mengeluarkan air namun kepiluan jiwanya terpancar pada wajah sendunya.
“Kakakku bunuh diri, akibat ia telah dihamili oleh pasangan cinta menggebu penuh hasrat yang amat ia sayangi. Lelaki brengsek itu tak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Setelah keindahan tubuh kakakku habis ia hisap, laki-laki itu pergi meninggalkan kakakku begitu saja! Shaila menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, ia malu air matanya jatuh untuk kesekian kalinya dilihat oleh dua orang sahabat baiknya tersebut.”
Suasana berubah hening menjelang sore, sesuatu yang seharusnya bahagia karena esok merupakan hari minggu. Dimana kami akan dijenguk oleh orangtua ataupun wali berubah menjadi jeritan hati yang membuat pilu dua orang sahabat yang duduk berjejer bersama Shaila.
***
“Kak Ara” Suara Ibnu terngiang ditelingaku.
Sosok keluarga yang kusayangi telah muncul dihadapanku, sebuah panggilan lewat pengeras suara di kantor pesantren memanggil namaku “Maratus Soleha dari asrama Fatimah ditunggu di kantor” Panggilan tersebut mengeleggar hingga seluruh mahad.
Abiku sedang berbincang dengan Pak Aswab saat langkah ini mulai menapaki kantor, Umi dan Ibnu menungguku di sebuah kursi kayu panjang saat pertama kali kami ke pesantren ini.
Ibnu berlari ke arahku saat mengetahui kedatanganku. “Kak Ara” Suara Ibnu memecahkan kerinduan saat ia memeluk tubuhku.
Ali terlihat bersama Ayahnya berbicara dengan Abiku. Sebuah sungkem kuberikan kepada kedua orangtuaku, lalu senyum terbaik kuberikan untuk Ustaz Ali dengan Pak Aswab.
Umi dan Ibnu mengajak Aku mencicipi makanan yang telah Umi buatkan dari rumah untukku. Makanan kesukaanku yaitu ayam semur kecap dengan kerupuk udang. “Yummy.. delicious” kusantap masakan Umi bersama Ibnu.
Abi masih tetap serius dengan obrolannya bersama Pak Aswab dan Ustaz Ali. Sesekali ia terlihat melirik ke arahku, meskipun pandangannya tak berani menatapku secara langsung.
Umi tak lupa menawari Pak Aswab serta Ustaz Ali untuk bersantap siang bersama namun mereka menolaknya dengan lembut, obrolan mereka bertiga terlihat serius. Entahlah apa yang sedang mereka bicarakan.
Beberapa saat kemudian Abi menghampiri kursi kayu panjang yang kami duduki. Pak Aswab dan Ustaz Ali mengikuti Abi berkumpul bersama kami.
Umi tersenyum saat melihat Ustaz Ali. “Nak Ali, gak mau ikut makan bersama Ara? Tanya Umiku kepadanya.”
Aku mencolek tangan Umi. “Ara, Nak Ali ini dulu waktu kecil pernah nginap dirumah Umi? Cerita Umi, Abi tersenyum memandangku yang sedang menyantap makanan favorite yang Umi buatkan.”
“Kapan Umi? Tanyaku tak percaya.”
Abi, Umi serta Pak Aswab tertawa mendengar pertanyaanku. Ustaz Ali tertunduk malu, wajahnya terlihat merah merona tanpa pewarna.
“Ara pasti gak ingat karena waktu itu kamu masih kecil, Pak Aswab juga nginap dirumah kita dengan mendiang Alm. Istrinya! Jawab Umi.”
Aku terdiam mendengarkan penjelasan Umi, Abi menatap mataku. Pandanganku langsung tertunduk saat dua bola tersebut melihat ke arahku.
Sebersit tanya menari di kepalaku. “Apakah Ustaz Ali sudah menyatakan rasanya kepada kedua orangtuaku” Aku berharap perjalananku di mahad ini akan baik-baik saja meskipun cinta menyapaku di awal langkah kaki ini menuntut ilmu di sini.
Suasana kantor semakin ramai dengan beberapa wali santriwati yang ikut menjenguk anaknya. Aku mengajak Umi dan Ibnu untuk ke asrama Fatimah, Ibnu terlihat lelah. Di kamarku Ibnu beristirahat sejenak.
Kami tinggalkan Abi bersama Pak Aswab dengan Ustaz Ali di kantor.
Ibnu langsung naik ke atas tempat tidur saat kami tiba dikamarku. Guling panjang teman setia sepanjang malamku ini sudah berada dalam dekapan eratnya.
Aku dan Umi duduk dipinggiran tempat tidur bawah milik Shaila, karena tempat tidur Aku kebetulan berada di atas. Kasur kayu dibuat bertingkat untuk satu kamar berjumlah 3 buah untuk kuota 6 orang santriwati.
Kamarku terasa sunyi, seluruh penghuni sedang tidak ada di tempat. Hanya ada Ibnu yang sudah tertidur pulas bersama Umi dan Aku.
Situasi seperti inilah saat yang tepat untuk Aku bercerita dengan Umi mengenai Ustaz Ali yang menyatakan rasa sukanya kepadaku.
“Ada yang ingin Ara ceritakan ke Umi? Tanya Umi membaca pikiranku.”
Aku tersendak kaget Umi mengetahui pikiranku. “Umi, Ara mau cerita sesuatu? Kataku.”
“Mau cerita apa, Sayang. Umi akan mendengarkan ceritamu? Umi mengelus rambutku yang saat dikamar jilbab kubuka.”
“Ustaz Ali bilang kalo dia suka dengan Ara? Ucapku tertunduk malu.”
Umi tersenyum. “Umi sudah mengetahui hal tersebut!”
“Dari mana Umi tau kalo Ustaz Ali suka dengan Ara? Tanyaku kaget.”
“Dua hari yang lalu Pak Aswab menelpon Abi terus dia bilang kalo anaknya Ali suka dengan Ara.”
“Lalu? Tanyaku meminta jawaban Umi akan keputusan Abi.”
“Lalu apa, Ara? Tanya Sang Umi balik karena kurang paham dengan pertanyaan anaknya.”
“Apa kata Abi, Umi mengenai perasaan Ustaz Ali?”
“Sekarang Ara kan masih kelas satu, masa Ara menikah muda, Ara kan pengen menyelesaikan sekolah dulu terus kuliah dan bekerja? Lanjut ucapanku kepada Umi.”
“Abi dan Umi sudah membicarakan hal ini kepada Pak Aswab, dan ia serta anaknya Ali juga setuju dengan keputusan yang kita ambil bersama ini? Umi menceritakan kronologis penyelesaian masalah yang mendera Ara.”
“Keputusan bersama apa, Umi? Tanyaku kembali.”
“Menunggu Ara menyelesaikan sekolahnya dulu dipesantren ini, baru setelah itu membicarakan pernikahan. Alhamdullilah, Ali mengerti akan hal itu dan dia mau bersabar menunggu 3 tahun berlalu Ara menyelesaikan sekolah dipesantren ini? Umi menjelaskan.”
Ara menghela napas, jiwanya kini sudah terasa sedikit lega atas kebimbangan yang sudah berhari-hari menghantui malamnya di tiap tidurnya.
“Andaikan Ara selama tiga tahun ke depan berubah pikiran, Pak Aswab dan Ali akan menerima keputusan Ara dengan lapang dada? Lanjut perkataan Umi.”
“Maksud Umi apa?”
Umi menyisirkan rambutku yang panjang. “Ustaz Ali akan berbesar hati jika ternyata selama 3 tahun ia menunggumu ternyata Allah tidak berkenan mempersatukan kalian.”
Kupandang wajah Umi, hatiku sedikit tenang saat ia berada di dekatku meskipun gulir waktu mulai akan berlalu meninggalkan orang yang Aku kasihi.
Ibnu terbangun dari tidurnya. “Umi! Panggilnya saat ia pertama kali bangun dari lelapnya.”
Umi berdiri melihat ke atas tempat tidurku dari kasur Shaila yang kami duduki. “Ibnu kok tidurnya sebentar banget, kenapa Nak? Tanya Umi.”
Ibnu menggaruk matanya dengan tangan. “Disini panas, Umi gak ada AC-nya? Kata Ibnu polos.”
“Ibnu mau tidur dirumah aja yang ada AC-nya, Umi? Renggek Ibnu melanjutkan ucapannya.”
Aku tersenyum mendengar ucapan Ibnu yang dengan polosnya tidak betah istirahat dikamarku walaupun sejenak hanya karena di sini tidak ada AC seperti dirumah. Apalagi Aku yang harus bertahan selama 3 tahun ke depan dengan kehidupan seperti ini berlangsung tiap harinya.
Pukul menunjukkan angka 3 sore lebih meskipun alunan gema azan belum bersahutan di udara. Umi serta Ibnu bergegas meninggalkan asrama Fatimah menuju kantor pesantren menghampiri Abi.
Saat azan berkumandang mereka melaksanakan solat di aula pesantren secara berjama’ah lalu seusai beribadah mereka harus merelakan pujaan hatinya kembali melanjutkan menimba ilmu.
Lambaian tangan dari orang yang kukasihi mengantarkan kepergian mereka, mobil Abi melaju keluar pintu utama pesantren. Hatiku menjerit… “Jangan tinggalkan Aku sendiri” meskipun tertahan di mulut tak dapat termuntahkan.















Bab 10
 Peluk Penantian
“Kugengam surat tersebut di dada.”
Beberapa buku tertumpuk di atas meja kerja, terselip sebuah surat beramplop pink dari sang pengirim sepulang madrasah aliyah. Aku amati lalu kusobek pinggir amplop tersebut tanpa harus merusaknya saat penghujung malam menyerka jiwa yang sunyi.
Assalamualaikum
Dalam pikiranku saat pertama melihat wajahmu, gemetar menyelusuri seluruh raga ini. Kagum akan kesempurnaan yang telah Allah limpahkan untukmu, rasa ini semakin berkecamuk saat senyum menawan itu berkembang di hadapanku. 
Malu.. bimbang.. ragu.. saat kugoreskan pena menata rasa pada secarik kertas putih, Aku tak mengerti akan perasaan yang hadir dalam jiwa ini. Maaf andaikan Aku hanya terpatung ketika berhadapan langsung denganmu.
Perasaanku semakin berlari memikirkanmu, entahlah apa yang membuatku seperti ini.. ia terus menghantui malamku bersamamu. Aku hanya dapat terdiam memikirkan kebisuan rasa yang terpendam.
Maafkan Aku.. membuatmu harus menunggu selama tiga tahun tanpa sebuah kepastian, Allah mempunyai rencana dibalik kejutan yang diberikan untuk hambanya yang sabar. Jika Sang Illahi meridhoi Aku untuk berjumpa kembali dengan bidadara dunia akhiratku kelak.
Dunia memang berlari semakin menjauh tiap harinya namun takdir telah ditetapkan saat berada di laufuz mahfuz. Jodoh, maut, serta rezeki telah Allah susun dengan rencana indah untuk hambanya.
Maafkan.. Aku yang membuatmu harus menunggu rentan masa 3 tahun untuk menanti sebuah jawaban, hanya untaian syair doa yang dapat kupanjatkan untuk seseorang yang saat ini kuharapkan kebahagiannya.
Wa alaikum Salam
Maratus Soleha
Ustaz Ali memeluk secarik kertas tersebut, hatinya saat ini hanya berharap kepada Sang Illahi untuk kebahagiaan pujaan jiwanya.
Dipandangnya cermin pada sebuah jendela di kamarnya yang terbuka, angin menusuk dingin tulangnya. Mencoba menata rasa yang mendera, selintas bayangan Ara seolah berdiri di hadapannya, ia tersenyum kepadaku dengan lambaian panjang jilbabnya yang bergoyang ditiup angin.
Tiga tahun waktu yang harus kutunggu untuk sebuah penantian rasa yang terukir, hanya illahi yang punya kuasa menentukan keajaiban untuk hambanya. Sebuah jerit jiwa mulai kulantunkan melalui komunikasi kepada sang khalik, tangan Aku tandahkan ke atas berharap Allah mengijabah permintaan hambanya di sepertiga malam miliknya.
“Ya Allah berilah kebahagian untuk seseorang yang saat ini berada di hati hamba, berilah ia ketabahan serta keiklasan atas takdir rasa yang engkau hadirkan di antara kami, biarkan senyumnya selalu berkembang dibibir indahnya, Ya Robbi agar ia dapat selalu bersyukur atas nikmat keindahan yang telah engkau titipkan kepadanya. Ya Allah, andaikan Aku berjodoh dengannya berilah ia selalu kebahagiaan dalam hidupnya namun jika Aku bukanlah yang terbaik untuknya hingga engkau memisahkan kami berdua, berilah hambamu ketabahan serta keikhlasan agar selalu mendoakan orang yang hamba kasihi dalam sebuah kebahagiaan hidup bersama oranglain” Aku menutup doa dipenghujung rasa yang mulai bisa menerima kenyataan hidup.
Malam terasa semakin larut, kini ia semakin akrab denganku yang mulai setia menemani kesunyian jiwa yang mengitari rasa ini.
Mentari akan datang dengan silih bergantinya malam yang berputar, kuharap sebuah rasa yang terukir dihati akan Allah tetapkan untukku hingga masa menjawab penantian setiaku.
Kucoba membalas secarik surat yang Ara kirimkan untukku, mencoba merangkai kata yang indah untuk seseorang yang telah mencuri hati serta pikiranku saat ini.
Wajahnya dengan senyum yang mempesona selalu hadir dalam pikiranku, ia seolah tak bosan berdendang dalam lamunanku. Gerak langkahnya ibarat tarian jiwa yang membuat semangat hidupku selalu ingin berharap cinta illahi singgah kepada kami berdua.
Aku mencoba mengukir sebuah kalimat dengan cinta yang ikhlas mengharap ridho illahi.
Assalamualaikum,wr.wb.
Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan selalu untukmu. Setelah kubaca suratmu penuh penghayatan. Aku merasa terasing dengan untaian harapmu untuk kebahagiaanku bukankah seharusnya engkau berdoa untuk kebahagiaan cinta kita berdua.
Aku selalu menanti kehadiranmu sepanjang nafasku, meskipun rentan waktu yang akan menjawab semuanya. Jarakmu dan jarakku hanya sebatas langkah penantian, akan kutunggu hingga waktu menghampiri.
Sebuah keikhlasan hati akan kucoba ukir dalam raga ini, andaikan engkau bukanlah jodoh dunia akhiratku. Aku berharap cinta dua insan ini dapat berkumpul dalam sebuah wadah yang berpenghujung pernikahan. Jika Allah berkenan menyatukan rasa ini.
Wassalam
Ali Zainal
***
Kusambut bahagia sepucuk surat yang telah ustaz Ali titipkan kepada Susi, hatiku bahagia menerima balasan atas perasaan yang bersambut untukku. Ia tak hanya memberikanku sebuah tulisan balasan namun juga buku yang ia antar bersama dengan datangnya suratku.  
“Buku ini, insya allah akan sebagai teman bacaan setiamu disaat pujaan hatiku dirundung pilu ataupun bahagia menghampiri” Tulisan pada selembar kertas putih bercatatkan kalimat di atas.
Ini merupakan buku kedua yang ia berikan untukku. “don’t be sad” karya DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA.
Namun saat ini Aku lebih tertarik untuk membaca surat yang ia berikan daripada membaca buku tersebut.
Seluruh penghuni kamar 14 berkerumul disampingku, ia ingin melihat surat yang ustaz Ali kirimkan.
“Huuush diam, kita dengarkan Ara membaca surat! Rohmah berkata kepada  penghuni kamar 14.”
Aku tersipu malu mendengarkan Rohmah berucap seperti itu. Pipiku nampak merona seketika karena bahagia menghampiri.
Kugenggam sepucuk surat tersebut. “Tapi jangan sampai surat ini tersebar di seluruh asrama Fatimah ya? Kataku sebelum membuka surat.”
Anggukkan kepala dari lima orang sahabat satu kamarku yang menyatakan kesetujuaannya.
Surat tersebut mulai kubaca. Susi, Shaila, Rohmah, Suci, dan Fitri mendengarkan dengan hati yang bahagia karena kini taman bunga bermekaran di jiwa sahabatnya Ara.








Bab 11
Musuh Kecil Menyebalkan
Empat bulan telah terlewat dalam pekan-pekan yang berlalu diperjalanan hidupku dipesantren. Padat aktifitas menuntut cerdasnya otak dalam membagi waktu secara optimal. 
Saking padatnya aktivitas, Aku harus bangun lebih awal agar dapat jatah mandi pertama karena jika harus antri mandi setelah muhadasah seusai solat subuh berjama’ah biasanya hukuman menanti kami saat memasuki madrasah akibat telat.
Waktu makan, belajar, istirahat bahkan mandi harus diatur yang baik. Sampai-sampai Aku harus rela menutup rambut panjang yang masih basah karena dateline waktu yang singkat. Contohnya ketika mandi sore, karena harus antri hingga Aku membiarkan rambutku yang basah akibat disampo rela ditutupi mukena untuk solat magrib lalu lanjut menutup rambut dengan jilbab usai solat kemudian dilanjutkan menutup rambut kembali untuk solat isya berjama’ah di aula.
Lama-lama rambutku berjamur, gatal, bahkan berkutu. “Iiih.. jorok banget ya” suatu hal yang paling kubenci yaitu gatalnya minta ampun saat rambut ini dihinggapi kutu.
Orang pertama dikamar 14 yang rambutnya ketahuan berkutu adalah Rohmah. Saat ia menyisir rambutnya dengan serit –sisir dengan jarak yang rapat-  ketika ia hendak memakai jilbab ternyata kutu menempel di sisirnya. Binatang kecil berwarna hitam itu berjalan di sisir yang Rohmah pegang.
Binatang kecil tersebut katanya menyebar seperti kuman, entahlah benar atau tidak mitos itu hingga Aku merasakan rambutku gatal teramat sangat ketika siang tiba. apalagi saat berjalan dibawah terik matahari rambut ini rasanya gatal banget.
“Ara, cepatan mandi sekarang giliranmu? Kata Susi menghampiriku yang sedang berada dikamar.”
Aku bergegas menuju kamar mandi, kubawa gayung lengkap dengan peralatan mandi didalamnya seperti, odol, sikat gigi, sabun mandi serta sampo. Kamar mandi anak kamar 14 terletak paling pinggir pojok sebelah kiri dari belakang tempat mencuci baju.
“Siapa didalam? Tanyaku kepada orang yang berada di dalam kamar mandi.”
“Hai siapa didalam kamar mandi 14? Tanyaku kembali setelah tak ada jawaban dari dalam.”
Hanya terdengar bunyi jebar-jebur air yang terus mengalir ke luar got pinggir kamar mandi. “Tok..tok..tok..” tak ada jawaban dari dalam.
Seseorang dari dalam segera mengambil handuk yang terselempang di pintu kamar mandi, ia segera memakai pakaian saat mengetahui penghuni aslinya datang.
“Kleek..” seseorang membuka pintu kamar mandi kamar 14.
Sosok Dita keluar dari dalam. “Dita, kok nyelak sih? Tanyaku dengan raut muka durja.”
Dita bergegas kabur dari pandanganku tanpa seuntai maaf yang ia ucapkan. Aku masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal.
Alunan azan magrib terdengar sayup-sayup di udara. Aku dengan tergesa mandi, sampoan bahkan gosok gigi terburu-buru.
Susi dengan setia menungguku dikamar untuk berangkat solat magrib berjama’ah di aula. “Yang lain pada kemana? Tanyaku saat hendak memakai mukena, rambut panjang yang basah kututup.”
“Sudah duluan ke aula? Susi bergegas keluar kamar ketika Aku mengenakan perlengkapan sholat.”
Kakak osis berdiri diteras asrama Fatimah, ia siap menghukum santriwati yang telat menuju aula karena hitungan telah selesai.
“Sit up 30 kali” ucap salah seorang kakak osis yang berdiri di teras asrama.
Beberapa santriwati asrama Fatimah berjejer lalu sit up serentak saat kakak osis pemberikan aba-aba hitungan.
Kami bergegas menuju aula yang jaraknya tak cukup jauh dari asrama. Aku dan Susi berlari saat qomat telah terdengar. Kakak osis yang bertugas jaga memeriksa santriwati yang telat solat atau bolos sholat adalah kakak osis yang sedang datang bulan –haid-.
Nafasku terenggah-enggah saat memasuki aula, langsung Aku berdiri dibarisan belakang khusus santriwati yang masbuk.
“Allahu Akbar! Ucapku.” Susi berdiri disampingku.
***
“Kamu kenapa sih, Ara seperti cacing kepanasan aja?”
Aku mondar-mandir saat malam menerjang di dalam kamar.
“Gatal tau” Aku menggaruk kepalaku yang terasa sangat gatal.
Lima orang satu atapku menatap tingkah polaku yang dapat dikatakan mirip setrikaan.
“Ini! Rohmah memberikan serit miliknya kepadaku.”
“Kalo gatal rambutnya disisir pakai serit, Ara biar kutunya dipites pakai kuku nanti gatalnya juga hilang! Shaila menasehati Ara yang menggaruk kepalanya di depan cermin kecil di atas lemari pakaian.”
Seluruh penghuni kamar 14 semua rambutnya berkutu, termasuk Aku.
“Ara” Tegur Susi.
Aku masih sibuk menggaruk kepala yang gatal.
“Aku gak mau nyisir pakai serit nanti rambutku rontok? Ucapku.”
“Pakai obat rambut aja, Ara kalo nanti kamu pulang ke rumah. Sekarang pakai serit rambut aja dulu biar gatalnya berkurang? Saran Suci yang merasa iba melihatku tak bisa tidur.”
“Nama obat rambutnya apa? Tanyaku.”
“Kalo gak salah peditok nama obat yang bisa membunuh kutu rambut! Sambar Rohmah.”
Aku amati sisir rambut bergigi rapat tersebut.
Jilbab putih Aku gelar dilantai berwarna coklat tanah muda dikamar. “Sreet” satu sisiran gesekkan rambutku. Dua ekor binatang kecil hidup berjalan di atas jilbab putihku. Serit bergigi rapat penuh dengan beberapa helai rambut panjangku yang rontok.
“A..aah.. rambutku rontoknya banyak banget! Teriakku setengah tertahan tak percaya.”
Aku pites binatang kecil bernama kutu yang berjalan di atas jilbab putih menggunakan kuku.
“Kok nyerit rambutnya cuma sekali? Tanya Suci yang kaget melihat tingkah anehku.”
Aku terdiam memandang bercak warna merah yang berbekas di corak kain putih.
Beberapa saat kemudian suasana kamar 14 nampak sunyi, penghuninya terlelap dalam buaian mimpi indah.
***
“Ara, gimana bukunya sudah dibaca belum? Tegur ustaz Ali saat kami sedang berpapasan di lorong madrasah aliyah.”
Aku tersenyum, entah apa yang ustaz Ali artikan dari sebuah senyumanku karena jujur Aku tak berani mengaku jika buku darinya sama sekali belum pernah kusentuh isinya.
Ia selalu tersenyum saat berhadapan denganku meskipun tatapan matanya tak pernah bertemu langsung.
“Ara, maaf! Ustaz Ali memegang pundakku.”
Aku segera mundur dari belakang saat ia ingin menyentuhku.
Tangan ustaz Ali sempat kena pukul saat Aku mencoba menghindar ketika ia menyentuh pundakku.
“Maaf Ara, Saya gak berniat jahat! Ustaz Ali menunjukan bintang kecil yang dipegangnya.”
Ia memegang kutu yang berjalan dari tadi dipundakku.
Aku berlari dari pandangan ustaz Ali, malu kurasa yang teramat sangat ketika ia mengetahui rambutku berkutu.
“Ara! Panggil ustaz Ali.”
Aku berlari sejauh mungkin dari penglihatannya.
Jantungku berdebar dengan sangat cepat, malu menghampiri diri ini.
“Dasar kutu sialan, kamu sudah buat Aku malu di depan orang yang kusayang! Aku mencaci maki diriku sendiri dalam hati.”
Aku memutuskan untuk bolos sekolah pada jam pelajaran akhir, Susi membawakan peralatan belajarku yang tertinggal dikelas.
“Ara, kamu kenapa jam pelajaran terakhir gak masuk, tadi ustaz Ali nyariin kamu? Susi bertanya tentang kealpaan yang Aku perbuat saat jam pelajaran terakhir.”
Aku terdiam hanya garukan kepala yang menjawab perbuatan yang kulakukan.
“Ara, ke sini deh? Susi memintaku turun dari tempat tidur.”
Tiga tangga menuju bawah Aku turuni. “Ada apa, Sus? Tanyaku menghampirinya.”
“Aku cariin kutu rambutmu ya, tapi sebelumnya di serit dulu biar kutu besarnya di ambil semua terus baru  nanti Aku cari telur kutunya? Kata Susi.”
Satu anggukan sebuah tanda Aku setuju.
Aku duduk dilantai sambil menyelonjorkan kaki kemudian Susi duduk di atas tempat tidur bawah. Ia mulai mencarikan telur kutu di rambutku lalu menyerit rambutku dengan lembut agar mahkota yang telah kurawat tak rontok.
“Astafirullah al’azim, beberapa kutu besar hidup bersemayam di mahkota indahku. Ini semua akibat rambut yang masih basah atau lembab langsung ditutup kerudung! Gumamku dalam hati.”
Beberapa saat setelah Susi mencarikan kutu dirambutku, rasanya hati ini plong alias tenang karena tak terganggu oleh rasa gatal yang amat menyiksa.
Kini yang menjadi pusat perhatianku adalah ustaz Ali, bagaimana cara Aku menjelaskan semua ini kepadanya.
“Malu” mendera sanubariku.
Aku meminta bantuan Susi untuk memberi penjelasan kepada ustaz Ali mengenai peristiwa kepergianku tadi saat berpapasan di lorong madrasah.
Susi terdiam memikirkan permintaan tolongku. “Please, Susi! Pintaku dengan wajah memelas.”
“Iya deh! Ujar Susi.”
“Apa yang bisa kubantu? Tanyanya sesaat kemudian.”
“Susi cerita dengan ustaz Ali, kalo Ara tadi malu karena ketahuan ada kutu di pundakku? Jawab Ara.”
Susi tertawa mendengar ucapanku. “Ada yang lucu ya? Tanyaku merasa aneh dengan tingkah Susi.”
Ia segera menutup mulutnya dengan telapak tangan agar senyumnya tak terlihat oleh Ara.
“Oke deh kalo begitu, Aku sekarang ke kantor madrasah ketemu ustaz Ali untuk menjelaskan hal ini! Ucap Susi sekalian bergegas menggunakan jilbabnya lalu berlalu meninggalkan kamar bernomor 14.”
Hatiku kini bukan hanya lega karena gatal yang telah sedikit berkurang dikepalaku namun juga masalah yang mendera Aku dengan ustaz Ali dapat diselesaikan dengan bantuan orang ketiga melalui sahabat baikku yang bernama Susi.

Bab 12
Kau Yang Kusayang
“Hiiks..hiiiks..” Isak tangis Kak Zakiya terdengar memilukan hati bagi orang yang saat ini berada dihadapannya.
“Zakiya” Ucap suara itu dengan lembut.
“Hiiiks..hiiiks..” Tangisan Zakiya terdengar kembali, deraian air matanya kembali mengalir dengan deras.
“U..ustaz, siapa wanita itu? Tanya Zakiya dengan terputus karena kepiluan hati yang menderanya, suaranya seolah bisu seketika.”
Ustaz Ali mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku kemeja depannya.
“Hapus deraian air matamu, Zakiya. Aku tak sanggup melihat seorang wanita menangis dihadapanku? Kata Ustaz Ali sambil memberikan sapu tangan untuk Zakiya.”
Zakiya mengambilnya, ia mengusap air mata yang mengalir dipipi.
“Siapa wanita itu, Ustaz? Tanya Zakiya kembali.”
Ustaz Ali terdiam. “Apa hal itu penting untuk engkau ketahui? Ustaz Ali bertanya kepada Zakiya, derai air matanya kini telah kering.”
“A..aku hanya ingin tau, siapa nama wanita yang telah beruntung mendapatkan hati lelaki dihadapanku sekarang?”
“Apa kau benar-benar ingin mengetahuinya? Tanya Ustaz Ali sekali lagi.”
Zakiya menatap wajah Ustaz Ali. “Iya, Aku ingin mengetahui wanita tersebut?”
Ustaz Ali menatap lurus pandangannya ke depan.
“Saya minta doanya saja, semoga penantian yang sedang Saya tunggu selama tiga tahun akan berujung indah pada saatnya dengan orang yang telah mencuri pikiran dan perasaan Saya? Ustaz Ali berkata tanpa menatap Zakiya, pandangan yang terlintas dimatanya hanya sosok Ara yang berkelana.”
“Siapa dia, Ustaz? Tanya Zakiya untuk kesekian kalinya.”
“Kamu mengenalnya, Zakiya?”
“Siapa? Tanya Zakiya kecewa.”
“Dia adik kelasmu, namanya Maratus Soleha! Ucap Ustaz Ali, sebuah senyuman tersungging diparasnya yang mempesona saat menyebut Ara dibibirnya.”
“A..ara, anak baru dari asrama Fatimah? Tanyanya ragu.”
Ustaz Ali beri satu anggukan kepala.
Isak tangis Zakiya semakin deras, hatinya merana, batinnya tersiksa, hari-hari terasa kelabu ia lalui dipesantren ini.
“Za..zakiya..!” Ustaz Ali berteriak memanggil Zakiya yang berlari dikegelapan malam.
Zakiya terus berlari, ia tak memperdulikan panggilan orang yang amat ia sayang karena ia sadar rasa cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
“Brengsek.. dasar Ara, awas kamu! Batin Zakiya dalam larinya.”
“Bruugh..” Zakiya melempar jilbab yang ia kenakan ke atas tempat tidurnya.
“Braak..” ia melempar gulingnya ke lantai beberapa kali, mencoba luapkan emosinya dalam tinjuan dahsyat ke guling serta bantal tidurnya.
Tiga orang sahabat satu kamarnya memeluk Zakiya bersamaan. “Kamu kenapa, Zakiya? Tanya Aulia bingung.”
“Hiiiks…hiiiks…” Deraian air mata Zakiya menyiratkan pilu yang mendera batinnya.
***
Malam terasa amat indah dihatiku, suasana yang menggambarkan peluk kerinduan seseorang yang berkelibat dalam pikiran. Aku reguk cinta yang mendera, kucium haus kasih yang tercermin dalam bingkai jiwa Ustaz Ali.
Sebuah buku yang Aku dekap erat di dada, mengukir sebuah wajah yang tergambar dalam otakku. Ustaz Ali tersenyum disampingku saat Aku mulai membuka buku yang ia berikan untuk kedua kalinya kepadaku.
“Ustaz Ali! Aku selalu menyebut namanya di jiwa ini.”
“Seuntai kerinduan Aku peluk dalam gulana malam yang berlari saat mengejarmu dalam gelap! Batinku beberapa saat kemudian.”
Aku mulai meresapi buku bacaan yang Ustaz Ali berikan untukku.
Enam halaman dari cover depan kubuka, sebuah subtema yang menarik perhatianku.
Aku mulai membaca..
“Yang Anda Miliki Hanyalah Hari Ini”
Ketika anda bangun tidur di pagi hari, jangan berharap untuk melihat sore hari. Hiduplah seolah apa yang anda miliki hanyalah hari ini. Kemarin telah berlalu dengan segala kebaikan dan keburukanya, sedangkan esok hari belum lagi tiba. rentang kehidupan anda hanyalah satu hari, seolah-olah anda dilahirkan di awal hari itu dan akan mati di akhir hari. Dengan sikap seperti itu, anda tidak akan terperangkap di antara obsesi masa lalu dengan segala deritanya, serta harapan masa depan dengan segala ketidakpastiannya. Hiduplah untuk hari ini, pada hari ini anda harus menegakkan shalat dengan hati yang hidup, membaca al-quran dengan pemahaman, dan berzikir kepada Allah dengan tulus. pada hari ini anda harus seimbang dalam segala urusan, puas dengan jatah yang anda dapatkan serta memperhatikan penampilan dan kesehatan anda.
Aturlah jam-jam anda hari ini, sehingga anda dapat memaksimalkan waktu semenit mungkin bagaikan setahun, satu detik bagaikan satu bulan. Mohonlah ampun dari tuhan, ingatlah dia, persiapkanlah upacara perpisahan dengan dunia ini dan hiduplah pada hari ini dengan bahagia dan damai. Merasa puaslah dengan makanan, istri/suami, anak-anak, pekerjaan, rumah serta posisi anda dalam hidup.
“Sebab itu berpegang teguhlah kepada Allah atas apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-a’raf : 144)
Hiduplah di hari ini terbebas dari derita, gangguan, kemarahan, kecemburuan dan kedengkian.
Anda harus menanamkan keyakinan pada diri anda, hari ini adalah hariku satu-satunya. Jika anda telah makan nasi yang hangat pada hari ini, maka apalah artinya nasi basi dan busuk di keesokan hari?
Jika anda percaya penuh kepada diri sendiri dan memiliki keyakinan yang teguh, tentu anda akan mampu meyakinkan diri dengan hal sebagai berikut ini :
Hari ini adalah hari terakhirku dalam hidup. Ketika anda menerima sikap ini, anda akan mendapat keberuntungan dari setiap momen yang ada pada hari itu, dengan cara mengembangkan kepribadiaan, meningkatkan kemampuan, dan mensucikan amal-amal anda. Kemudian anda akan berkata pada diri sendiri :
Hari ini Aku akan memperbaiki ucapan-ucapanku, dan Aku tidak akan berkata kotor serta jahat. Aku juga tidak akan berkata yang menyakitkan oranglain.
Hari ini Aku akan mengatur rumah dan kantorku. Takkan kubiarkan keduanya dalam kondisi kacau balau, tapi Aku akan membuatnya rapi dan bersih.
Hari ini Aku akan memperhatikan kebersihan tubuhku dan juga penampilanku. Aku akan menjaga kerapihanku dan menyeimbangkan diri ketika berjalan, berbicara dan berbuat.
Hari ini Aku akan berjuang untuk patuh pada tuhanku, sholat dengan sekhusyu mungkin, mengerjakan amal-amal kebajikan, membaca al-quran dan buku-buku bermanfaat lainnya. Aku akan menanamkan kebaikan ke dalam hati dan mengeluarkan akar-akar kejahatan daripadanya : seperti kesombongan, kecemburuan, dan kemunafikan.
Hari ini Aku akan mencoba membantu oranglain untuk melayat orang sakit dan memberi makan orang lapar, Saya akan berdiri memperjuangkan orang-orang yang tertindas dan lemah. Saya akan menaruh hormat kepada orang-orang berilmu, menyayangi kaum muda dan menghormati orangtua.
Wahai masa lalu yang telah jauh meninggalkanku, Aku tidak akan menangisi kepergianmu. Kamu tidak akan bisa melihat Aku mengingat-ingatmu, walaupun hanya sesaat, karena kamu telah pergi jauh dariku dan takkan pernah kembali lagi.
Wahai masa depan, kamu berada di bayangan yang tiada terlihat, sehingga Aku tidak akan terobsesi dengan mimpi-mimpimu. Aku tidak akan disibukan oleh apa yang akan datang karena hari esok tidak ada dan belum lagi diciptakan.
Hari ini adalah hariku satu-satunya, adalah salah satu pernyataan terpenting dalam kamus kebahagiaan, bagi mereka yang ingin menjalani hidupnya dengan sepenuh kebahagiaan dan kecemerlangan.
“Ara, kamu belum tidur? Tegur Shaila yang melihatku menyederkan pundak ke tembok sambil membaca buku.”
“Huuush, berisik nanti bangunin teman yang lain? Ucapku pelan.”
“Jangan tidur terlalu malam, Ara besok kita kan harus bangun pagi untuk aktivitas? Kata Shaila mengingatkan.”
“Iya” Aku segera meletakan buku dari Ustaz Ali.
Bergegas Aku naik ke tempat tidurku yang bertingkat. Lafaz doa kupanjatkan sebelum memejamkan mata, malam akan berlalu dan berganti siang, esok Aku akan melakukan yang terbaik dalam hidupku seolah-olah di akhir hari adalah saat terakhirku.
***
“Ara” Panggil Susi saat datang ke kamar.
“Ada apa?”
Susi meletakan piring serta gelas makan di atas lemari seusai ia pulang dari dapur.
“Tadi Aku ketemu Kak Aulia, dia nyuruh Ara ke kamarnya? Kata Susi memberitahu.”
“A..aku” Tanyaku sekali lagi tak percaya dengan apa yang Susi katakan.
“Iya, Ara disuruh ke kamar Kak Aulia sekarang! Sahut Shaila yang mengekor dibelakang Susi.”
Aku bergegas memakai pakaian muslim dengan jilbab, kulangkahkan kaki ini menuju asrama khodijah tempat Kak Aulia berada.
“Assalamualaikum, Kak maaf numpang tanya. Kamar Kak Aulia nomor berapa ya? Tanyaku saat bertemu penghuni asrama khodijah ketika memasuki teras.”
Ia memandang wajahku. “Kamar tujuh! Ucapnya.”
“Terima kasih, Kak” Aku bergegas berlalu dari pandangannya, kucari kamar bernomor tujuh tempat Kak Aulia.
“Tok.. tok..”
“Iya, masuk? Sahut suara dari dalam.”
Pintu perlahan kubuka. “Ara ya? Tanya Kak Eni.”
Aku mengangguk. 4 orang Kakak yang terkenal dengan sebutan gengdanger mempersilahkan masuk. Mereka amat ramah kepadaku.
“Ara, duduk aja dulu? Ucap Kak Aulia.”
Kak Zakiya berdiri memandang ke arah luar jendela, lalu Kak Anjel menutup pintu kamar.
Aku duduk di sebuah kasur milik penghuni kamar tersebut. Kak Aulia, Kak Eni, serta Kak Anjel menatap wajahku.
“Deg.. deg.. deg..” Debaran jantungku berdenyut semakin cepat.
“Wajahmu lebih menarik dibanding Ara.” Ucap salah seorang dari mereka yang memandangku.
Kak Zakiya menolehkan pandangannya kepadaku. Matanya terlihat merah seperti habis menangis.
“Kamu sudah berapa lama dekat dengan Ustaz Ali? Tanyanya setelah terdiam cukup lama.”
Aku kaget mendengar pertanyaan yang Kak Zakiya lontarkan, bagaimana mungkin ada santriwati yang mengetahui hubunganku dengan Ustaz ali selain temanku sendiri dikamar 14 asrama Fatimah.
Aku terdiam saat Kak Zakiya bertanya kepadaku.
“Maksud Kak Zakiya apa? Tanyaku.”
Kak Zakiya berdiri menghampiriku, ia mengadahkan wajahku ke pandanganku.
“Kamu jangan pura-pura bego ya? Katanya kasar.”
Aku tersentak kaget. “Zakiya, sabar! Ujar Kak Anjel.”
Kak Zakiya terlihat mengatur napasnya. “Ara, kamu masih anak baru disini! Kata Kak Aulia, Tangannya mengelus pundaku.”
Aku menundukan kepala di hadapan empat orang kakak senior.
Jantungku berdenyut tak karuan saat Kak Zakiya menjambak jilbabku secara spontan.
“A..ah.. sakit” Aku meronta.
“A..ah..” Kak Zakiya menutup mulutku dengan tangan kanannya.
“Loe tuh sudah buat gue sakit tau!”
Kak Aulia menarik tangan Kak Zakiya yang menarik jilbabku. “Sabar, Zakiya!”
Aku menangis di dalam kamar bernomor tujuh. “Aku berbuat salah apa, Kak? Tanyaku dengan isak tangis.”
“Kamu sudah merebut orang yang Zakiya sayang! Jawab Kak Eni.”
“Maksud Kakak apa, Aku gak ngerti?”
“Praak…” Satu tamparan berbekas di pipi kananku.
“Kamu sudah berebut Ustaz Ali dari tanganku! Kata Zakiya kasar.”
Ia menarik bajuku hingga Aku berdiri dari tempat duduk.
“Jauhi Ustaz Ali, dia milikku! Kak Zakiya mendorong tubuhku.”
Mereka berempat berdiri saat Aku jatuh terduduk.
“Kalo kamu ingin Ustaz Ali selamat, kamu harus jauhi dia! Kak Zakiya menggancamku.”
Dadaku sakit, debaran jantungku semakin tak menentu.
“A..aah” Aku memegang jantungku.
“Tolong Kak…” Aku mendekap dadaku yang terasa sakit.
“Braak…”
Suasana di dalam kamar tiba-tiba semakin kacau saat Ara tergeletak tak berdaya dilantai. Empat orang penghuni kamar tersebut kaget ketika mengetahui wajah Ara pucat bengkuang dengan sekujur badan yang dingin.
***
Ara berbaring di sebuah kamar rumah sakit dengan kondisi memprihatinkan, satu tangannya di masuki selang infuse. Parasnya tetap terlihat elok meskipun ia tak sadarkan diri sudah semalam.
“Ali, kamu gak pulang dulu? Tanya Pak Ahmad, Ayah Ara.”
Ustaz Ali menunggui Ara selama ia berbaring dari awal masuk rumah sakit.
“Saya, masih pengen disini bersama Ara, Pak? Jawabnya.”
Umi dan Ibnu berdiri disisi Ara, Umi mengelus jilbab yang anaknya kenakan meskipun Ara tak sadarkan diri.
Derai air mata Sang Umi mengalir deras saat anaknya tergeletak tak berdaya.
“Ara sebenarnya memang mempunyai kondisi tubuh lemah, waktu masih SMP Ara juga sering pingsan namun tak selama ini! Umi mengeluarkan uneg-uneg yang ia rasakan.”
“Ara lemah jantung! Sang Umi melanjutkan ucapannya, derai air matanya kembali mengalir.”
Pak Ahmad memeluk tubuh istrinya, Ibnu ikut menangis disamping Sang Umi.
Beberapa saat kemudian Pak Ahmad mengajak istrinya serta Ibnu untuk keluar ruangan di mana Ara dirawat. Ustaz Ali dengan setia menemani Ara, alunan doa senantiasa menghiasi hatinya untuk sang calon istrinya.
Ustaz Ali memandangi wajah Ara yang tampak pucat ditempat tidurnya.
“Ya Allah, sembuhkanlah calon istriku. Jangan kau ambil dia dariku.” Ustaz Ali selalu memanjatkan doa untuk Ara.
Tangan Ara terasa dingin saat di sentuh oleh Ustaz Ali.
“Tok.. tok.. tok..”
“ Assalamu alaikum! Suara pintu disertai salam dari luar.”
“Wa alaikum salam, masuk? Ustaz Ali menjawab, ia berdiri menghampiri pintu yang setengah terbuka.”
Lima orang penghuni kamar 14 tempat Ara bermukim di asrama Fatimah datang menjenguk bersama Kak Iyah.
“Ustaz Ali” Kak Iyah kaget saat mengetahui Ustaz Ali berada diruangan Ara berbaring.
Sebuah senyuman yang seolah sulit ia keluarkan, terlihat semu.
“Iya, Bu Iyah. Saya sedang menunggui calon istri! Jawab Ustaz Ali berbicara tanpa ragu.”
Kak Iyah kaget mendengar ucapan Ustaz Ali. “Maksudnya? Tanya Kak Iyah bingung.”
“Insya Allah jika tuhan menghendaki, Saya akan menikahi Ara setelah ia selesai dari mahad! Kata Ustaz Ali.”
Kak Iyah terdiam memandangi tubuh Ara yang terbujur tak berdaya ditempat berbaringnya, kelima sahabatnya menghampiri.
“Ara” Tegur Susi yang membisiki Ara ditelinga kanannya.
Ara tetap terlelap dalam tidurnya, ia belum sadarkan diri.
“Ara bangun” Kata Shaila memegang tangan Ara.
Suasana hening menghampiri ruangan dimana Ara dirawat.
Beberapa saat kemudian Kak Iyah dengan lima santriwati kamar 14 kembali pulang.
“Maaf, Kak Iyah. Saya mau bicara sebentar dengan Ustaz Ali berdua? Kata Susi sebelum ia meninggalkan Ustaz Ali.”
Kak Iyah bersama 4 santriwati keluar ruangan dimana Ara dirawat.
“Ada apa, Susi?”
Susi terdiam ia memandangi tubuh Ara sebelum pergi meninggalkan sahabatnya yang saat ini mengalami koma.
“Ustaz Ali, ada hal penting yang ingin Saya ceritakan? Kata Susi.”
“Hal apa? Tanya Ustaz Ali.”
“Sebelum Ara seperti ini, ia pergi menemui Kak Aulia karena dipanggil ke asramanya terus setelah itu Ara langsung masuk rumah sakit, kemungkinan Kak Aulia penyebab Ara tak sadarkan diri! Susi menceritakan kronologis masalah sebelum Ara tak sadarkan diri.”
“Apa? Ustaz Ali kaget.”
“Aulia, temannya Zakiya bukan? Tanya Ustaz Ali kemudian.”
“Iya Ustaz.”
Ustaz Ali lemas saat mengetahui berita yang diceritakan Susi, ia langsung terduduk dikursi samping tempat tidur Ara.
“Ustaz kenapa? Tanya Susi yang melihat Ustaz Ali melamun, pandangannya lurus ke depan.”
***
Zakiya siang ini berdandan dengan cukup molek, tak seperti biasanya ia berpenampilan begitu. Suasana riang menyelimuti jiwanya saat mengetahui Ustaz Ali mengajaknya bertemu karena ada yang ingin dibicarakan.
Gemerik air hujan yang turun membuat harum tanah semakin terasa, bunga melati di depan asrama memancarkan wangi nan elok seindah hatiku yang sedang bahagia. Pelangi muncul dari balik awan saat hujan telah berhenti, aneka warnanya bak keindahan dunia membersitkan pesona dalam rasa yang ada.
“Zakiya, pasti kali ini Ustaz Ali akan mengemis cintamu karena ia telah menyesal menolak wanita secantik dirimu! Kata Aulia yang memandang sahabatnya dari tadi di depan cermin.”
Polesan bedak ia torehkan beberapa kali pada wajahnya. “Menurut kalian pakaian Aku cocok gak dengan dandanan yang Aku kenakan? Tanya Zakiya kepada ketiga sahabat baiknya.”
Mereka bertiga tersenyum memperhatikan Zakiya yang hatinya sedang berbunga-bunga.
“Aku pergi dulu ya.” Zakiya berkata sambil berlalu dari pandangan ketiga temannya.
“Ustaz Ali pasti akan lebih memilihku karena Aku lebih cantik dari Ara! Batin Zakiya.”
Dipematang sawah tak jauh dari mahad, Ustaz Ali sudah menunggu Zakiya di saung bambu, tempat ia pertama kali bertemu dengan Ara yang saat ini masih belum sadarkan diri.
Zakiya datang menghampiri Ustaz Ali. “Maaf sudah lama menunggu ya? Tanya Zakiya senyumnya merekah indah.”
Ustaz Ali terdiam melihat sosok wanita dihadapannya.
Ia berdiri lalu tanpa basa-basi berkata tentang apa yang mengganjal dihatinya.
“Apa yang telah kamu lakukan dengan Ara? Ustaz Ali nampak serius.”
Zakiya membisu, ia tak menyangka Ustaz Ali akan bertanya tentang Ara.
“Kenapa kamu diam, apa yang kalian lakukan dengan Ara? Intonasi Ustaz Ali terdengar agak tinggi.”
“Sa..saya..”
“Sa..saya gak tau, tiba-tiba Ara pingsan! Jawab Zakiya terbata-bata, ia gugup karena kesalahan yang telah diperbuatnya.”
Tangan Ustaz Ali mengambang di udara, ia hanya memukul angin karena tak ingin menampar sosok lemah yang ada di hadapannya.
“Haaa…..” Ustaz Ali berteriak sekuat mungkin, pikirannya hanya tertuju pada Ara yang sudah 3 hari tak sadarkan diri.
Zakiya bersujud dihadapan Ustaz Ali. “Maafkan Aku! Ucap Zakiya.”
“Haaa….! Teriakan Ustaz Ali terdengar untuk yang kedua kalinya.”
“Ara” Ustaz Ali meneteskan air mata saat menyebut nama calon istrinya.









Bab 13
Standar Kepantasan
“Prang”
Pak Aswab berjalan menuju dapur.
Ali terduduk lemas mengamati gelas tersebut hancur berkeping-keping, pecahan kacanya berserakan dilantai.
“Astafirullah al’azim”
Pak Aswab terpaku saat menyaksikan Ali yang berada di dapur.
“Braak..”
“Abi, biarkan Ali…!”
“Prak” Sebuah tamparan melayang di pipi Ali.
“Kamu sadar gak, Nak apa yang akan kamu perbuat itu dosa besar?”
Ali memeluk tubuh ayahnya, isak tangisnya meledak, pilu yang ia rasakan tumpah dalam butiran air mata.
“Abi” Ali berkata dalam dekapan sang ayah.
“Ali sedih melihat kondisi Ara, Ali gak sanggup melihat Ara terbaring, sudah 4 hari Ara tak sadarkan diri!”
“Ali, kamu anak Abi satu-satunya.”
Ali menangis. “Maafkan Ali, Abi.”
“A..ali khilaf! Lanjut Ali berucap.”
Beberapa saat kemudian setelah suasana hati Ali tenang, Abi mengajak sang anak untuk melaksanakan solat di sepertiga malam.
***
“Bagaimana kabar Ara, Umi?”
Ali menghampiri Umi Ara dengan Ibnu yang mendampingi Ara dengan setia.
Umi terdiam sejenak. “Ali tolong titip Ara sebentar ya, Umi mau pulang dulu. kasihan Ibnu? Pinta Umi.”
“Umi tenang saja, insya allah Saya akan selalu menjaga Ara selama Saya mampu.”
Ali menatap Ara yang masih terbaring di tempat tidurnya.
“Kak Ara, Ibnu pulang dulu ya! Ibnu mencium tangan kakaknya sebelum ia meninggalkan ruangan tempat Ara berbaring.”
Suasana hening menyelimuti ruangan kamar rumah sakit yang berada di urutan empat dari lantai dasar.
Ali mengamati wajah Ara, hatinya selalu berucap lafaz doa untuk wanita yang ada di hadapannya.
Ali menggengam tangan Ara, ia mencium kening Ara.
“Ya Allah sembuhkanlah Ara, berilah ia kesehatan agar senyum selalu merekah di antara orang-orang yang mengasihinya! Doa Ustaz Ali dalam hatinya.”
Ali membacakan surat dalam al-quran, hatinya selalu berzikir kepada Sang Illahi.
Tiba-tiba tangan Ara bergerak.
Ali memegang tangan Ara.
Tangan Ara ternyata diam tak bergerak. “Hanya ilusi! Batin Ustaz Ali.”
Ia meneruskan membaca ayat suci yang berada dalam genggaman tangannya.
Tangan Ara bergerak kembali.
Ustaz Ali terdiam, ia menyentuh tangan Ara untuk kedua kalinya.
“Hanya pikiranku saja! Guman Ali dalam hati.”
Tangan Ara bergerak kembali. “Allahu Akbar”
“A..ara” Ucap Ali ke telinga Ara.
Tanga Ara bergerak kembali meskipun pelan.
Ara membuka matanya perlahan.
Hati Ustaz Ali merekah ibarat bunga, rasa yang tertinggal kini bersemi kembali.
“A..aku dimana?”
Ali terdiam menatap Ara yang telah sadar dari tidur panjangnya selama 5 hari.
“A..ara dirumah sakit.”
Ali menyentuh bibir Ara dengan jarinya. “Jangan banyak bicara dulu, Ara masih belum sehat total! Kata Ustaz Ali.”
Ara terdiam, ia mengamati ruangan dimana dirinya berada sekarang.
“Ustaz, mau kemana? Tanya Ara dengan suara lemah.”
Ali menatap wajah Ara yang berada di tempat berbaringnya.
“Ara, Saya mau sholat dulu ya, Saya mau memanjatkan syukur kepada Sang Khalik atas di ijabah semua permintaan yang hambanya kabulkan ini.”
Sebuah anggukan Ara berikan kepada Ustaz Ali.
***
Hembusan udara disiang hari terasa panas saat matahari berada di puncaknya tepat tengah hari namun suasana di dalam kelas 1c terasa sejuk serta damai saat mengetahui kondisi Ara.
“Benar itu Ustaz?”
Ustaz Ali tersenyum lebar kepada santriwati yang ia ajar.
“Kapan Ara ke pesantren ini lagi, Ustaz? Tanya Susi yang duduk di kursi urutan dua dari belakang.”
Ustaz Ali tersenyum kembali menanggapi pertanyaan anak muridnya di kelas 1c tempat Ara menimba ilmu.
“Saya kurang tau kalo masalah kapan Ara ke sini lagi!”
Kak Eni mendengarkan pembicaraan anak kelas 1c dengan Ustaz Ali saat ia melintasi ruangan yang berada dipojok madrasah tersebut.
“Zakiya, kamu tau berita terbaru tentang Ustaz Ali gak? Kata Eni dihadapan tiga sahabatnya.”
Anjel menarik tangan Eni. “Duduk dulu baru cerita?”
Zakiya mengambil gelas plastik yang tengkurap di atas lemari kamarnya lalu menuangkannya dengan air yang terdapat di dalam teko.
“Ada apa sih, baru juga nyampe, istirahat aja dulu! Sahut Aulia yang langsung berbaring ditempat tidurnya.”
Eni melepaskan kaos kaki yang masih melekat. “Ini tentang Ara! Kata Eni yang duduk di sudut kamar bernomor tujuh.”
Ketiga orang sahabat itu saling berpandangan. “Apa Ara meninggal? Tanya Zakiya.”
Eni menggelengkan kepalanya.
“Terus Ara kenapa? Tanya Zakiya.”
Eni sengaja membuat tiga orang sahabat dihadapannya penasaran.
Aulia melempar guling tepat ke wajah Eni. “Dasar nyebelin! Ucapnya.”
Eni menangkap lemparan guling yang Aulia berikan.
“Brugk” Lemparan guling berhasil Aulia tangkis.
“Jangan buat kita bertiga penasaran dong, memang ada berita apa yang kamu ketahui tentang Ara? Kata Zakiya yang terlihat sebel dengan sikap Eni.”
“A..ara sudah sembuh! Ucap Eni singkat.”
“Sembuh.. kenapa Ara gak mati aja sekalian.”
“Huuush” Aulia menepuk pundak Zakiya yang bersender di pinggir tempat tidurnya.
“Kamu seharusnya jangan bicara seperti itu Zakiya, ucapan adalah doa! Komentar Anjel yang kaget mendengar perkataan sahabatnya tersebut.”
Zakiya termenung.
“Apa yang kamu pikiran, Zakiya? Tanya Aulia.”
Anjel, Aulia, dan Eni duduk mengitari sahabat yang sedang dilanda gulana kesedihan.
“A..aku berharap Ara meninggal karena dengan begitu Aku akan dengan mudah mendapatkan hati Ustaz Ali.”
Ketiga sahabatnya terdiam menatapi paras Zakiya yang terlihat menerang kosong pikirannya.
“Zakiya? Aulia memegang tangan sahabat yang berada di depannya.”
Zakiya tetap terdiam, lamunannya saja yang lurus menatap ke depan dengan hampa.
“Hiiiks... hiiiks..” Air mata Zakiya terjatuh dihati.
“Ngomong Zakiya, apa yang kamu rasa, jangan diam aja? Ucap Anjel lembut.”
“A..aku capek dengan hidup yang Aku jalani, orangtua memasukan Aku di pesantren karena gak ada waktu untuk mengurus anak gadis semata wayangnya? Zakiya mulai terlihat sendu, tatapannya berair.”
“A..apa aku salah?”
“Hiiiks..”
“A..apa Aku salah kalo berharap ada seseorang yang mencintai dan menyayangiku! Kata Zakiya melanjutkan ucapannya yang sempat terputus.”
“Za.. zakiya, kamu yang sabar ya! Kata Anjel memberi semangat.”
Isak tangis berhenti beberapa saat berselang setelah ketiga sahabat baiknya memberi semangat serta motivasi untuk Zakiya.
“Zakiya, ingat gak kata Ustaz Umar? Ujar Aulia ditengah berhentinya deraian air mata yang mengalir dipipi Zakiya.”
“Emm.. apa? Tanyanya.”
“Lupa ya..?”
Eni serta Anjel mencubit tangan Aulia bersamaan.
“Jangan seperti Eni dong, Aulia? Ujar Anjel.”
“Oke deh, langsung aja ya?”
Aulia terdiam sesaat, ia sengaja membuat pikiran ketiga sabahatnya mengingat kembali ilmu yang telah Ustaz Umar berikan.
“Kata Ustaz Umar dalam al-quran surat yasiin ayat 36, Allah menjelaskan bahwa seseorang dimuka bumi ini akan mendapatkan pasangan sesuai dengan standar kepantasan yang ada pada diri orang tersebut.”
“Berarti maksud Aulia, Ustaz Ali gak pantas bersanding dengan Zakiya? Sahut Eni.”
Satu anggukan kepala dari Aulia.
“Haha..hahah…” Canda tawa meluncur dalam ruangan kamar bernomor tujuh.










Bab 14
Goresan Fitnah
Udara terasa sejuk di pekarangan rumahku. Semilir tarian udara berhembus mengoyangkan bunga-bunga yang bermekaran di sekelilingku. Mentari tersenyum menyambut datangnya suasana cerah dengan sinar yang mulai terik, awan putih tanpa celah ditaman langit menambah indah pemandangan pagi ini.
Secangkir lemon tea hangat tersaji di meja kayu bundar berwarna coklat muda, Aku seruput minuman tersebut. Harumnya aroma lemon membuatku menyeruput berkali-kali ditemani kue disampingnya.
Sabtu pagi adalah hari kedua Aku berada dirumah ini setelah kemarin pulang dari dirumah sakit. Ibnu terlihat bolak-balik menggunakan sepeda mini beroda empat miliknya dari garasi menuju pekarangan, Umi memetik bunga yang layu sambil menguyur tanaman dengan selang air yang mengalir melalui kran dipinggir kanan pekarangan tempat Aku duduk.
“Kak Ara, ayo main sepeda bareng Ibnu? Ajak Sang Adik.”
Ara tersenyum memandang adiknya.
Umi melambaikan tangannya kepada Ibnu.
“Jangan ajak Kak Ara main dulu, biar Kak Ara cepat sembuh! Ucap Umi dari tempat ia berdiri yang mendengar perkataan anak keduanya kepada sang kakak.”
Abi keluar dari dalam rumah menuju kursi tempatku duduk, sebuah koran berada dalam dekapannya.
“Abi mau lemon tea? Tanyaku menawari Abi.”
“Terima kasih, Ara. Abi lagi tidak pengen minum teh.”
Abi duduk tepat dihadapanku, kami memandang pekarangan dengan harum aroma bunga melati yang merebak.
“Gimana kesehatan Ara? Tanya Abi.”
“Alhamdullilah, Abi sudah sehatan.”
Umi berjalan menuju ke arah kami.
“Pokoknya Umi gak setuju kalo Ara harus balik sekolah ke pesantren lagi, Abi! Ucap Umi sesampainya disamping Aku.”
Abi memandang Umi, ia mengambil kue yang berada di atas meja.
“Kenapa Umi berkata seperti itu? Tanya Abi atas pertanyaan istrinya.”
Aku terdiam mendengarkan debat dua orang yang berada di sekelilingku.
“Umi cuma gak mau Ara jatuh sakit lagi, Abi!”
Abi meletakkan koran yang ia pegang di atas meja, ia terlihat mengatur napas sebelum menjawab pertanyaan Umi.
Dua mata Abi tertuju padaku.
“Ara maunya sekarang gimana? Pertanyaan yang Abi tanyakan kepadaku.”
Aku terdiam, bingung harus menjawab apa.
“Pokoknya Ara gak boleh balik ke pesantren lagi? Kata Umi disela pertanyaan yang belum Aku jawab.”
Abi memberi isyarat kepada Umi untuk diam.
“Semua keputusan ada ditangan Ara, kalo Abi keserah Ara saja?”
Aku terdiam merenungi ucapan Abi.
“Ara yang harus menjalani hidup ini, Abi dan Umi hanya menjembatani, Ara harus mengambil keputusan sesuai dengan apa yang kamu inginkan? Kata Abi melanjutkan perkataannya.”
Ibnu datang menghampiri ke tempat Aku duduk.
“Kak Ara, Ibnu minta lemon tea?”
Aku memberikan secangkir minuman yang berada di atas meja kayu.
Ibnu menyeruput minuman hangat tersebut sekali. “Kak Ara, kapan kita ketemu dengan Ustaz Ali lagi? Tanya Adikku.”
Pikiranku menerang ucapan yang Ibnu katakan.
“Ara kamu harus berterima kasih dengan Nak Ali! Ucap Umi.”
Aku bingung atas perkataan Umi. “Terima kasih untuk apa, Umi? Tanyaku tak mengerti.”
“Nak Ali selalu setia menemani Ara saat kamu berbaring dirumah sakit! Ujar Abi.”
Aku terdiam mencoba mengingat peristiwa yang terlewat selama dirumah sakit.
“Abi, Umi maaf sebelumnya?”
Umi serta Abi menatap wajah anaknya secara bersamaan.
“Maaf untuk apa? Tanya Umi balik.”
“Ketika berada dirumah sakit, Ara seolah-olah berada di suatu tempat yang amat indah, Ara mendengar suara Ustaz Ali terdengar sayup-sayup memanggil, Ara yakin Umi, Abi kalo Ustaz Ali adalah jodoh yang telah Allah kirimkan untuk Ara.”
Abi dan Umi terdiam mendengarkan ucapan anaknya.
“Terus mau Ara apa? Tanya Abi.”
Ara terdiam, ia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya.
“Maaf Abi, Umi sebelumnya. Bolehkah Ara menerima pinangan Ustaz Ali walaupun Ara belum menyelesaikan pendidikan di mahad? Kata Ara sambil menundukan wajahnya.”
Umi terdiam, ia kaget atas pertanyaan yang Ara lontarkan.
“Abi? Umi mencolek tangan Abi.”
Abi berdiri dari tempat duduknya, pandangannya lurus ke depan.
“Kalo masalah itu Abi serahkan sepenuhnya kepada Ara, karena Abi pikir kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan masa depanmu sendiri, tapi harus Ara ingat Abi dan Umi mengharapkan kamu bisa menyelesaikan sekolahmu lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.”
Ara mendengarkan perkataan Abi tetap dengan pandangan tertunduk.
“Menurut Umi dan Abi bagaimana Ustaz Ali?”
“Maksud Ara apa? Tanya Umi.”
“Apakah Umi dan Abi setuju kalo Ara menikah dengan Ustaz Ali, insya allah dia akan mampu membimbing Ara menjadi lebih baik?”
Umi dan Abi terdiam, pandangannya lurus menatap paras sang anak yang dari tadi tertunduk, wajahnya nampak merah merona meskipun kemarin pucat bengkuang terbersit di wajah cantiknya.
***
Awan hitam melintas di atas pandangan kami, petanda hujan akan turun dengan deras. Sekelompok burung terbang ditaman langit menuju tempat berteduh dari dingin yang akan menghampiri.
“Apa yang mau kau bicarakan denganku? Tanya ustaz ali kepada wanita yang berdiri dihadapannya.”
Wanita tersebut diam membisu, ia hanya melihat Ustaz Ali dengan pandangan sendu.
 “Zakiya kalo kau ingin minta maaf kepada Ara, belum terlambat waktunya?”
Ustaz Ali berkata tanpa melihat wanita yang berdiri dihadapannya, pandangannya lurus menatap padi yang mengguning menari ditiup hembusan angin.
Mata Zakiya terlihat mulai berair.
“Kenapa Ustaz jahat dengan Aku, apa salahku? Zakiya berusaha menahan deraian air mata yang jatuh dipipinya.”
Ustaz Ali berdiri dari dalam saung bambu tempat tadi ia duduk bersender.
“Aku jahat” Intonasi Ustaz Ali meninggi.
“Kenapa kamu gak bercermin, siapa yang jahat? Ustaz Ali berkata tanpa menatap wajah Zakiya.”
Ustaz Ali berlalu dari pandangan wanita yang ada dihadapannya.
“Ustaz!” Zakiya menarik tangan Ustaz Ali.
Ustaz Ali berusaha melepaskan tangan zakiya yang memegang lengannya.
“Kenapa Ustaz gak memilih Aku, apa kurang Zakiya dibanding Ara?”
Ustaz Ali mencoba melangkahkan kakinya kembali.
Zakiya menarik tangan Ustaz Ali dengan sekuat tenaga. “Jawab Ustaz? Tanya Zakiya, deraian air matanya mulai mencair dalam leburan tangis.”
“Aku mau Ustaz menikah denganku?”
Ustaz Ali menangkis udara di wajah Zakiya, ia kesal dengan sosok yang ada di depannya.
“Kenapa Aku harus menikah denganmu, alasan apa yang membuatku harus menikahi wanita jahat sepertimu? Ucapan yang termuntahkan dari mulut Ustaz Ali.”
Zakiya terdiam, ia berusaha memberanikan diri menjawab pertanyaan Ustaz Ali.
“Aku sayang kamu, cintaku gak akan luntur dimakan usia.”
Ustaz Ali terdiam, ia kemudian melangkahkan kakinya kembali.
“Pokoknya kamu harus jadi miliku? Zakiya menarik lengan Ustaz Ali kembali.”
“Praak” Sebuah tamparan tepat melayang dipipi kanan Zakiya.
Zakiya memegang pipinya yang terasa sakit, derai air matanya mulai mengalir deras.
“Kreek” Zakiya merobek baju depannya.
“Tolooong.. toloong..!”
Ustaz Ali kaget dengan teriakan Zakiya.
“Tolooong! Suara Zakiya terdengar semakin besar.”
Ustaz Ali bingung dengan teriakan wanita dihadapannya saat beberapa penduduk menghampiri mereka berdua disaung pematang sawah.
“Tolong..” Zakiya menangis dengan terduduk lemah.
“Hiiiks..hiiiks”
“Ini salah paham? Ujar Ustaz Ali gugup.”
“Prak..” Tamparan melayang di muka Ustaz Ali.
“Dengarkan Saya dulu..?”
“Dug..” Perut Ustaz Ali ditendang oleh warga.
Ustaz Ali terkapar ditanah, wajahnya biru lebam oleh pukulan warga.
Zakiya menangis melihat Ustaz Ali dikeroyok warga, namun hatinya terasa lebih pilu saat sebuah tamparan mengenai pipinya oleh orang yang ia sayang.
“Dia mau memperkosa Saya? Ucap Zakiya dalam leburan air matanya.”
Pandangan Ustaz Ali terlihat berbayang memandang sekeliling.
“A..ah..” Beberapa saat kemudian Ustaz Ali diboyong ke mahad tempat ia bekerja.
***
Hening menyelimuti kamar bernomor tujuh tempat tinggal Zakiya selama ia bermukim di pesantren.
“Zakiya..tega banget kamu sama Ustaz Ali?”
Ketiga sahabat tersebut menatap Zakiya dengan pandangan durja.
“Teganya Ustaz Ali, kamu fitnah? Ujar Anjel setelah Aulia berkata.”
Zakiya menangis kembali, derai air matanya seolah tak jenuh menyertainya jejaknya.
“A..aku hanya ingin Ustaz Ali menikah denganku, Aku gak bisa melupakan wajah dia dalam pikiranku! Ucap Zakiya terputus-putus.”
Ketiga sahabat Zakiya termenung memandang temannya yang menangis dihadapannya.
“Apa kamu tega melihat orang yang kamu bilang sayang oleh ucap bibirmu harus menjalani hukuman cambuk 100 kali akibat fitnah yang kamu lakukan! Sahut Aulia.”
Zakiya terdiam, pandangannya kosong.
“A..aku ingin Ustaz Ali menikah denganku! Ucapnya.”
Anjel mencubit kedua pipi Zakiya.
“A..ah sakit tau.”
“Zakiya, kamu tega melihat Ustaz Ali dihukum cambuk atas kesalahan yang tidak ia perbuat? Tanya Aulia kembali.”
“Aku mau tidur!”
“Jawab dulu pertanyaan kami, Zakiya? Sahut Eni.”
“A..aku capek, mau istirahat, kepalaku pusing?”
Suasana semakin larut dalam gempita malam yang berlari, Zakiya memejamkan matanya dengan lelap namun pikirannya seolah berjalan dan melintasi samudra nan luas.
Ustaz Ali hadir dalam pejaman mataku yang tertutup, senyum merekah dibibirnya membuatku ingin selalu dekat dengannya.






Bab 15
Hukuman Cambuk
“Gak mungkin Ustaz Ali melakukan hal itu, Umi?”
Umi memeluk tubuh anaknya yang duduk tergolek lemah saat mengetahui kabar mengenai Ustaz Ali.
“Ara tau betul siapa Ustaz Ali, Umi?”
Umi mengusap kepala Ara dengan lembut.
Abi menghampiri Umi serta Ara yang berada diruang keluarga, dekat telpon dipojok ruangan.
“Ini pasti fitnah? Abi menyela obrolan Umi dengan Ara.”
Ara menggangukan kepalanya.
“Ara yakin Abi ini pasti fitnah keji dari Kak Zakiya?”
“Siapa Zakiya? Tanya Umi.”
Ara terdiam, ia mencoba mengingat peristiwa yang berlalu dalam hidupnya ketika berada di mahad.
“Kak Zakiya orang yang mengancam Ara agar tidak dekat dengan Ustaz Ali, Kak Zakiya menyukai Ustaz Ali.”
Umi dan Abi saling berpandangan.
“Maksud Ara? Tanya Umi.”
“Mungkin Kak Zakiya memfitnah Ustaz Ali telah memperkosanya agar Ustaz Ali mau menikahinya? Ara tak sanggup membendung air matanya.”
“Umi, Abi. Kita harus balik ke mahad, Ara ingin melihat keadaan Ustaz Ali?”
“Katanya besok Ustaz Ali akan mendapat hukuman cambuk? Kata Umi pelan.”
Ara duduk menyender pada sofa, tubuhnya terasa lemah tak berdaya, kakinya tak dapat di gerakan, sekujur badannya dingin mendera.
“Ara mau melihat keadaan Ustaz Ali? Kata Ara kepada kedua orangtuanya.”
Umi memeluk tubuh Ara.
“Umi, Ara mau ke mahad!” Suara Ara terdengar semakin pelan.
***
Terik terasa berada setengah tiang di atas kepala, gaduh riuh amat terasa di tengah lapangan hijau, rumput bergoyang dalam derita kepedihan saat ia menjadi saksi kisah pilu seorang lelaki yang mendapat hukuman cambuk.
“Zakiya, kamu masih punya kesempatan sejam untuk membatalkan hukuman yang akan diterima Ustaz Ali? Pinta Anjel.”
Zakiya menatap keluar jendela kamarnya.
“Zakiya, please?”
“Kamu harus buat pengakuan kalo Ustaz Ali gak melakukan hal itu? Aulia mulai terlihat rewel.”
Tatapan Zakiya tak menoleh sama sekali ke arah tiga orang sahabatnya.
“Tega banget loe, Zakiya. Orang sebaik Ustaz Ali kamu fitnah sekejam itu, apa kamu gak takut azab Allah menimpamu! Eni mulai panas dengan berlalunya waktu yang terlewat.”
Zakiya tetap memandang lurus ke depan, tatapan matanya kosong, pikirannya hampa.
“Aku ingin Ustaz Ali menjadi suamiku.”
Aulia membalikkan badan Zakiya yang tak melihat ke arahnya.
“Zakiya, coba kamu lihat mata Aku?”
Zakiya tak berani menatap mata Aulia, ia memejamkan matanya.
“Zakiya, buka mata kamu, pandang kami yang ada dihadapanmu! Aulia menyentuh pundak Zakiya.”
Zakiya tetap menutup matanya.
“Kamu bisa memejamkan mata, tapi Aku yakin pikiranmu selalu terbayang Ustaz Ali? Sahut Anjel.”
Air mata menetes dari mata yang terpejam, Zakiya merasa hatinya terasa pilu, sesak teramat sangat.
“Ke..kenapa gak ada orang yang sayang dengan Aku, orangtuaku sibuk.. orang yang kuharapkan kasih sayangnya ternyata tidak memilihku? Zakiya mulai membuka matanya, matanya terlihat merah berair.”
“Kamu masih punya pilihan Zakiya, waktu sebentar lagi akan menghantarkan Ustaz Ali ke hukuman, apa kamu tega melihat orang yang kamu sayang mendapat hukuman cambuk 100 kali di depan khalayak umum, bayangan bagaimana perasaan Ustaz Ali? Aulia menggengam erat tangan Zakiya.”
Zakiya termenung.
“Kamu masih memiliki kami sahabatmu? Ujar Anjel.”
Anjel, Eni, serta Aulia memeluk tubuh Zakiya secara bersamaan.
“Ayo kita selamatkan Ustaz Ali, Zakiya! Ucap Aulia pelan.”
Zakiya mulai mengenakan jilbabnya.
“Iya.”
Ke empat sahabat tersebut berjalan menuju lapangan tempat Ustaz Ali akan mendapat hukuman cambuk 100 kali. Panas menyelimuti langkah kaki yang kami tapaki, jiwa bergelora, berkecambuk dahsyat.
Ditengah lapangan Ustaz Ali bertelanjang dada, wajahnya masih nampak lebam biru akibat pukulan warga kemarin, tangannya di ikat pada kayu yang berbentuk palang. Terik mentari seolah tidak bersahabat dengannnya. Tetesan keringat mengalir dari sekujur badan kurus ditengah lapangan. Kulit Ustaz Ali yang terlihat kuning labu kini terlihat mulai berwarna agak coklat karena panas yang mendera.
Dikulit tubuh Ustaz Ali sudah terdapat beberapa cambukan yang mulai dilucuti, Pak Aswab memandang anaknya dengan hati yang hancur.
“Stop..! Teriak Zakiya.”
“Lepaskan Ustaz Ali, dia tidak bersalah, Aku yang salah.”
Semua yang berada dilapangan menoleh ke arahnya, Zakiya bersimpu di atas tanah, wajahnya bersujud di kaki Ustaz Ali.
Derai air mata Zakiya mengalir dengan deras.
“Sudah hukum mati saja lelaki ini, dia pantas mendapatkan itu! Kata salah seorang warga yang berada dilapangan.”
“Iya, bunuh saja lelaki di depanmu? Sahut beberapa warga  yang lain.”
Zakiya bangkit dari bersimpu di hadapan Ustaz Ali. “Dia tidak bersalah, Aku yang telah memfitnah Ustaz Ali telah memperkosaku karena Aku ingin ia menikah denganku?”
Semua yang ada dilapangan memandang Zakiya dengan bingung.
“Sa..saya melakukan itu karena ingin Ustaz Ali menjadi suami Saya!”
Ustaz Ali menegakkan pandangannya ke arah Zakiya yang semula tertunduk.
“I.. iya itu benar? Kata Ustaz Ali, suaranya terdengar melemah.”
Beberapa saat kemudian warga berhamburan meninggalkan lapangan tempat Ustaz Ali mendapat hukuman. Pak Aswab memeluk tubuh anaknya yang tergolek lemah, Zakiya mengekor bersama tiga orang sahabatnya dari belakang.
Ali dibaringkan di sofa panjang dalam kantor. Pak Aswab mengambilkan segelas air putih lalu meminumkan kepada anaknya.
Ara bersama Umi, Abi serta Ibnu yang baru saja tiba di mahad bergegas menghampiri Ustaz Ali.
“A..ara” Ustaz Ali menyebut nama wanita yang menyita pikirannya.
Ara duduk di samping sofa Ustaz Ali berbaring.
“A..ah! Rintih Ustaz Ali.”
Ara menangis melihat keadaan orang yang ia kasihi.
“Ustaz Ali, jangan terlalu banyak bergerak? Ucap Ara.”
Zakiya menatap Ara dengan perasaan pilu, hatinya hancur lebur melihat Ustaz Ali berada disisi wanita lain.
Zakiya berusaha menerima dengan ikhlas segala keputusan yang telah Allah tetapkan untuknya. Ustaz Ali mungkin bukan jodoh yang terbaik baginya namun ia tetap memiliki kasih sayang yang besar dari tiga orang sahabatnya.
Anjel, Eni, serta Aulia menggengam tangan Zakiya, mereka akan selalu menghangatkan perasaan teman yang saat ini sedang dirundung duka akibat rasa yang ada bergayung sebuah keranda cinta yang menyayat hati.











Bab 16
Kebisuan Yang Membingungkan
Ara dengan setia menemani hari-hari yang dilewati ustaz ali, berhubung libur semester telah tiba allah memberikan ia sebuah kesempatan untuk membalas jasa kebaikan yang ustaz ali lakukan kepadanya saat ia berada dirumah sakit.
Goresan luka yang berbekas ditubuh ustaz ali sudah terlihat memudar, wajahnya mulai memancarkan aura seperti sedia kala.
Ibnu berada di antara mereka berdua, berjalan mengelilingi mahad di sore hari.
“ustaz ali, maukan engkau berjalan-jalan di pematang sawah tempat kita pertama kali berjumpa? Tanya ara.”
Sebuah senyuman ustaz ali untuk ara yang member isyarat bahwa ia setuju.
Ibnu diam meskipun ia berada di antara dua insan yang sedang bercanda-riang dalam langkah kaki kecilnya.
Enam langkah kaki mereka berhenti ketika tiba di depan saung bambu.
“ara, boleh saya bertanya sesuatu? Tanya ustaz ali lembut.”
Sebuah senyuman tersungging dari bibir ara.
Ibnu  menarik tangan sang kakak untuk duduk di dalam saung.
“ustaz mau bertanya apa? Pandangan ara tertunduk malu.”
“maukan engkau memanggiku dengan sebutan mas saat kita sedang tidak berada di mahad?”
Ara menganggukan kepalanya. “iya, aku mau mas!”
Ustaz ali sesekali menatap paras ayu ara.
“mas..? ucap ara setengah ragu.”
“ada apa ara? Tanyanya.”
Ara terdiam, ia malu mengungkapkan isi hati yang melandanya.
Burung-burung menari bebas ditaman langit mengelilingi awan yang tampak celah terbentang indah biru di angkasa.
Ustaz ali melirik wajah ara saat ia tak menyadarinya.
“kak ara lihat ada kupu-kupu? Unjuk ibnu dengan jarinya.”
Ara dan ustaz ali memandang kupu-kupu bercorak merah muda yang melintasi padi dekat saung tempat mereka beristirahat.
“ibnu mau kupu-kupu itu, kak?”
“ya sudah, ibnu tangkap saja kupu-kupunya? Jawab kak ara.”
Ibnu berlari mengejar kupu-kupu indah tersebut, semakin dikejar, semakin ibnu ingin memilikinya, semakin menjauh hewan mungil itu dari angan ibnu.
“kak ara, bantu ibnu menangkap kupu-kupu? Sahut ibnu ditengah ia mengejar hewan mungil tersebut.”
Ara berlari menghampiri ibnu, mereka berdua berusaha menangkap kupu-kupu indah yang bebas menari dalam gulana udara.
“huuh capek banget, ibnu! Kak ara mengeluh akan letih yang ia rasa saat tak dapat meraih yang mereka inginkan.”
Ustaz ali duduk tenang di dalam saung, kupu-kupu indah yang ara dan ibnu kejar menuju ke arah ustaz ali.
Ibnu terpana saat dua ekor kupu-kupu terbang mengelilingi ustaz ali, saat ustaz ali mengadahkan satu telapak tangannya yang terbuka, seekor kupu-kupu hinggap di atasnya.
Ketika ara dan ibnu menghampiri ustaz ali, kupu-kupu tersebut terbang semakin tinggi menjauh dari mereka.
“mas kenapa kupu-kupunya pergi? Tanya ara heran.”
Ustaz ali tersenyum menanggapi pertanyaan ara.
Ibnu duduk sambil menyelonjorkan kakinya karena lelah.
“mas kenapa kupu-kupunya pergi? Tanya ara untuk kedua kalinya.”
“karena kalian berhasrat ingin memilikinya, ia takut akan rasa menggebu yang ada pada diri ara dan ibnu.”
“aku akan merawat kupu-kupu itu dirumah? Ucap ibnu.”
Sebuah senyuman merekah di bibir ustaz ali.
“biarlah kupu-kupu itu terbang bebas karena dengan menangkapnya, kita telah mengambil hak hidup yang telah allah berikan kepadanya! Ujar ustaz ali tanpa memandang paras elok ara.”
“ara..? ucap ustaz ali kembali.”
“apa mas?”
“benarkan perkataan yang abiku ucapankan…?”
“apa mas? Tanya ara penasaran dengan ucapan yang belum selesai ustaz ali katakan.”
“apakah benar engkau mau menerima mas sebagai calon suamimu?”
Ara terdiam.
Ibnu mendengarkan ucapan dua insan dihadapannya dengan mulut terkunci, ia tak ingin menggangu suasana.
ara menganggukan kepalanya.
“benarkah itu ara? Tanya ustaz ali kembali, ia takut ragu dengan apa yang di lihatnya.”
Ara kembali mengganggukan kepalanya untuk kedua kalinya.
“ustaz..? panggil ara.”
Ustaz ali tersenyum. “lupa ya.. katanya mau panggil saya dengan sebutan mas!”
Ara menundukan kepalanya, ia malu saat ustaz ali ketahuan sedang melirik ke arahnya.
“iya, mas! Ucap ara.”
“ara mau menikah dengan mas walaupun sekarang aku baru naik dibangku kelas 2 SMU, tapi dengan sebuah syarat? Pinta ara wajahnya selalu menunduk saat ia mengungkapkan perasaannya.”
“apa syarat yang harus mas penuhi? Tanya ustaz ali tanpa ragu.”
Ibnu mendengarkan pembicaraan ustaz ali dengan kakaknya.
“ara tidak ingin berhenti sekolah setelah kita menikah, bahkan kalo ada rezeki ara ingin setelah menikah tetap bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi!”
Ustaz ali tersenyum. “iya, insya allah kalo mas ada rezeki setelah ara menyelesaikan sekolah di mahad, ara boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah!”
Ara tersipu malu mendengarkan ucapan ustaz ali, ia tetap menundukan kepalanya dari tadi.
“ara bolehkah mas bertanya sesuatu? Tanya ustaz ali, mukanya terlihat merah merona seketika.”
“mau tanya apa, mas?”
Ustaz ali berusaha mengatur napasnya sebelum ia berkata.
“bagaimana jika nanti dipertengahan pendidikanmu, ara hamil. Misalnya ara masih berada dibangku kelas 3 SMU?”
Ara terdiam, ia kaget dengan pertanyaan yang ustaz ali lontarkan.
Ibnu terlihat mengamati sang kakak yang dari tadi selalu menundukan kepalanya.
“a..aku..! ara berhenti meneruskan ucapannya, ia bingung harus berkata apa.”
Ustaz ali menatap ara yang terlihat merenungi perkataannya.
“a..ra gak tau harus bilang apa mas? Jawab ara bingung.”
Ibnu mendekati ara lalu menggandeng tangan kakaknya yang sedang duduk dipinggir saung.
“biarlah allah yang menjawab pertanyaan ara, karena hanya illahi yang maha mengetahui apa yang terbaik untuk hambanya ke depan!”
“berarti apa jawabanmu iya atas takdir sang illahi? Tanya ustaz ali, ia kembali menegaskan keputusan ara.”
Ara hanya terdiam, ia menundukan kepalanya dari tadi.
Ustaz ali semakin bingung dengan sikap diam yang dipilih ara atas pertanyaannya yang belum ia jawab.
***
Ali hanya menatap gemerlap kilau bintang dilangit, ia merenungi kediaman yang ara lakukan atas pertanyaan yang belum dijawabnya, hatiku bergemuruh hebat ingin mengetahui isi perasaan ara sebenarnya.
Dingin menembus jiwa ini, hembusannya menerbangkan daun kering yang berserakan di tanah, alunan gitar aku petir sambil mendendangkan lagu yang yang menggambarkan hatiku.
Aku ambil secarik kertas putih dengan pensil.
jemariku mulai memetik gitar, gemerisik air yang mengalir dari batang bambu ditempat penangkaran kolam ikan milik abi terdengar bersamaan dengan alunan jiwaku.
Malam makin berlari dalam larutnya keindahan rembulan, aku duduk dibawah cahayanya, mencoba mengoreskan irama hatiku melalui sebuah tulisan.
Ditaman surga…
engkau tersenyum dalam balutan gaun putih nan indah
senyummu merekah seolah memanggil raga ini
saat kuhampiri dirimu berlari
aku mengejar.. engkau berlari semakin jauh
rasaku terpaut di jiwamu
illahi.. sungguh mempesona keelokkan ciptaanmu
sebuah syair syukur nikmat kudendangkan
memuji kebesaranmu
aroma wedang jahe hangat terasa dihidungku, khas minuman tradisional yang biasa abi buatan.
Abi terlihat melangkahkan kaki menuju ke arahku, ditangannya ia membawa talenan plastik yang berisi dua cangkir beling dengan teko yang berisi minuman hangat.
Aku hentikan petikan gitar yang di alunkan, ternyata bukan bait lagu yang kuhasilkan dari menulis tadi melainkan sebuah puisi yang tercipta karena bayangan ara yang melintas dalam pikiranku.
“kleek” kursi abi geser saat ia akan duduk dihadapanku.
Abi mulai menuangkan minuman hangat ke cangkir beling yang ia bawa, campuran aroma beraduk dalam satu wadah.
Harum irisan jahe, cengkeh, dan kayu manis dengan tambahan gula membuat minuman hanget ini menjadi teman baik saat malam datang.
“pak ahmad barusan telpon abi?”
“memang pak ahmad bilang apa, abi? Tanya ali penasaran.”
Abi tersenyum memandang anaknya.
“ara tidak mau ya menikah dengan ali..! ucapnya lirih.”
“kok ali bisa bicara begitu? Tanya sang abi.”
Rona kecewa terpancar dari wajah ali. “saat ali bertanya kepada ara maukah dia menikah dengan ali, ara hanya terdiam, abi!”
Sang abi menatap anaknya dengan pandangan penuh.
“ali sudah yakin ara menolak untuk menikah denganku Karena ia tak menjawab pertanyaan ali saat itu! Ali melanjutkan ucapannya yang sempat terputus.”
Abi menikmati wedang jahe hangat yang ia seruput.
Dawai gitar yang ali petik kembali ia mainkan. Alunan sedih menyelimuti udara yang ada di sekitarnya.
Sang abi menahan tawa melihat tingkah anaknya.
“kenapa abi tersenyum? Tanya ali bingung melihat sikap abi yang seolah senang melihat anaknya dilanda duka cinta.”
Abi meletakan secangkir minuman yang ia pegangnya.
“ali mau dengar cerita abi dengan umi dulu gak sebelum umi masih belum menjadi istri abi?”
Ali terdiam, hanya sebuah anggukan kepala yang ia berikan.
“dulu abi juga sempat kecewa saat bertanya kepada alm. Umi apakah ia mau menikah dengan abi karena ibumu hanya terdiam?”
Abi berhenti bercerita, ia teringat kisah masa lalu bersama alm. Istrinya tercinta.
“terus abi..? tanya ali penasaran.”
Abi tersenyum lebar hingga lesung pipi terbentuk di wajahnya.
“ternyata.. dibalik sikap diam seorang wanita, ia menerima abi. umi mau menikah dengan abi, hanya ia malu untuk mengatakannya! Lanjut abi.”
Ali menundukkan pandangannya. “tapi kisah abi berbeda dengan ali? Paras ali tampak dirundung pilu.”
“kata siapa? Tanya abi.”
“kenyataannya memang begitu, abi?”
Abi berdiri dari tempat duduknya lalu menepuk pundak anaknya.
 “pak ahmad tidak bilang ke abi kalo ara menolak!”
Ali kaget mendengar ucapan abi.
“ara mau menikah dengan ali maksud, abi! Tanya ali sambil berdiri dari kursi duduknya.”
Sang abi tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
“alhamdullilah! Ali sujud syukur mencium tanah.”

















Bab 17
Selamat Jalan Zakiya
Gempar melanda suasana pagi di mahad tempatku berada, isu yang beredar ibarat angin topan yang cepat menghembuskan kabar yang belum tentu kebenarannya.
Liburan semester memang telah berakhir dan ini adalah awal masuk pertama di mahad setelah libur panjang usai, sekilas berita yang mengoyang asrama Fatimah ialah seputar gossip mengenai kak zakiya.
Salah satu santriwati yang termasuk gengdanger di mahad yang cukup terkenal karena reputasi kurang baiknya, angin yang berhembus mengatakan bahwa selama liburan kak zakiya terpeleset dari kamar mandi hingga akhirnya ia tidak kembali ke mahad ini, entahlah.. kebenaran berita itu atau sebatas kabar burung belaka, karena berbagai alasan yang melanda di mahad.
Ada sebagaian santriwati yang menganggap berita itu adalah hal fikfif belaka karena zakiya malu kembali ke mahad ini karena memfitnah orang sebaik ustaz ali telah memperkosanya, padahal kalo dipikiran setengah semester lagi kak zakiya akan menghadapi ujian akhir sekolah yang berarti ia akan menyelesaikan sekolahnya di mahad ini.
Tiga orang sahabat zakiya yang akrab dengannya saat ditanya mengenai kebenaran kabar yang beredar tentang zakiya mengakui hal tersebut benar terjadi. Bagaimana mereka bisa mengetahui berita tentang zakiya.. alasannya adalah selama liburan berlangsung. Orangtua zakiya menelpon ibu kak aulia yang menurut pengakuan sang anak bahwa zakiya memang jatuh terpeleset dari kamar mandi hingga tak sadarkan diri, hukum karma mungkin allah berikan untuknya atas perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang sebaik ustaz ali atau ara.
Entah mengapa banyak sekali santriwati yang senang mendengar kabar berhembus tersebut. Mereka terlihat bahagia atas duka yang melanda kak zakiya, termasuk santriwati Fatimah. Mungkin yang sedih hanya tiga orang teman setia zakiya yang dirundung duka akibat berita memprihatikan tentang zakiya.
Hari kedua awal masuk seperti biasa, aktivitas dimulai kembali. Tiap pagi seusai sholat subuh, pelajaran muhadasah, kemudian dilanjutkan dengan persiapan untuk sekolah aliya.
Dentang lonceng yang berbunyi memaju semangat di jiwaku dengan motivasi menimba ilmu yang berkobar.
“ara, benar gak sih kabar tentang kak zakiya? Tanya susi sambil melangkah ke kelas 1c yang berada dipojok madrasah paling ujung.”
“aku gak tau, susi. Mudah-mudahan berita itu gak benar! Jawabku.”
Mentari pagi menghangatkan warna-warni bunga yang bergoyang di taman depan kelas kami.
Suasana kelas 1c tampak sudah ramai oleh beberapa temanku yang datang lebih awal, mungkin karena itu merupakan hari pertama masuk sekolah.
Aku meletakan buku yang di genggam di atas meja kayu panjang untuk ukuran belajar dua orang santriwati.
Aku bergegas keluar kelas, lalu nongkrong bersama santriwati lain di depan kelas.
Suasana lalu lalang santriwati menuju kelas terlihat dari tempatku duduk, awan biru menjadi pemandangan indah dengan segerombolan burung yang terbang ditaman langit.
“ara bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan ustaz ali?”
Aku tersenyum menanggapi pertanyaan susi.
 “wah.. umur ustaz ali panjang, baru aja di omongin ternyata orangnya muncul! Ucap susi yang melihat ustaz ali berbelok memasuki kantor madrasah.”
Aku menatap ustaz ali dari tempatku duduk, Ia mengenakan kemeja panjang hijau muda dengan celana panjang hitam.
“ustaz ali ganteng banget ya, ara! Lanjut susi berucap setelah melihat sosok ustaz ali setelah lama tak berjumpa selama libur panjang semester.”
Aku mengangguk.
“gimana ara kelanjutan hubungan kalian? tanya susi penasaran.”
“aku minta doanya saja!”
Susi memandangku, wajah ini tampak merah merona karena menahan malu yang dirasa.
“ara jadi menikah dengan ustaz ali? Susi semakin penasaran dengan hubungan kami.”
Aku tersipu malu. “iya!”
“kapan?”
Aku terdiam.
“kapan, ara hari bahagia itu datang? Tanya susi kembali.”
“Kemungkinan akhir tahun depan! Jawabku memandang taman langit.”
“haa.. cepat banget, berarti saat ara duduk dibangku kelas dua semester akhir ya!”
Aku menganggukan kepala.
“umi dan abi memilih akhir tahun depan dengan tujuan andaikan aku hamil selang tak lama kami menikah, itu artinya tidak akan menganggu belajarku!”
Susi memandangku dalam.
“teng.. teng..” dentang lonceng masuk madrasah aliyah berbunyi.
Santriwati terlihat melangkahkan kakinya dengan cepat menuju madrasah sebelum lonceng berbunyi karena hukuman sit up menanti di hadapan mereka, khusus yang telat.
Para staf pendidik mulai berhamburan keluar kantor satu persatu, ustaz ali berada di antara mereka.
Kamipun bergegas memasuki kelas jam pelajaran pertama yang di isi oleh ustaz ali.
Suasana riuh melanda ruangan yang berada dipojok madrasah saat ustaz ali masuk ke dalam kelas ini.
“assalamu alaikum! Sapa ustaz ali saat memasuki kelas.”
Wajahnya nampak murung dihari pertama mengajar.
Ia duduk di kursi kayu didepan kelas sambil meletakan kitab buluqul mahrom yang dibawanya.
Salah seorang santriwati memimpin membuka kelas, usai doa berakhir. Ustaz ali memulai membicaraan.
Ia berdiri maju ke depan kelas.
“tak terasa allah mempertemukan kita kembali dalam ruangan dipagi hari ini setelah libur panjang, bagaimana liburan kalian dirumah? Tanya ustaz ali sebelum memberikan materi pelajaran.”
Ustaz ali melirik ke arah tempatku duduk, liburan panjangnya ia habiskan bersamaku.
“ustaz, liburan kemana? Tanya temanku yang duduk dibaris depan.”
Ustaz ali tersenyum meskipun kesedihan terlukis di wajahnya.
“alhamdullilah, liburan ini adalah hal terindah yang allah anugrahkan untuk saya! Ucapnya.”
Hatiku merekah mendengar ucapan mas ali alias ustaz ali yang harus kupanggil ketika kami berjumpa dilingkungan mahad.
Pandangan ustaz ali terlihat sendu, sebelum ia menyampaikan sebuah berita duka.
“ada yang ingin ustaz sampaikan sebelum kita memulai materi di awal perjumpaan..!”
Ustaz ali terlihat menundukan pandangan, terbersit kesedihan yang melanda jiwanya.
“innallilahi wa inna illahi rojiun, telah kembali berpulang ke rumah allah saudara kita di mahad ini, semoga allah senantiasa memaafkan semua kesalahan serta khilaf yang ia perbuat…!”
Gempar melanda ruangan 1c.
“semoga zakiya di terima di sisi allah, amin! Ucap ustaz ali melanjutkan perkataannya.”
“innallilahi wa inna illahi rojiun! Batinku.”
“kak zakiya meninggalnya karena apa, ustaz? Tanya amel ketua kelas 1c.”
Ustaz ali terdiam sejenak, ia mencoba mengatur napasnya.
“informasi terakhir yang saya dengar dari kantor, katanya zakiya menghembuskan napasnya terakhir kemarin sore setelah ia terpeleset dari kamar mandi dirumahnya!”
Aku kaget mendengar kabar kematian kak zakiya karena saat kami bertemu terakhir ketika ustaz ali mendapat hukuman cambuk, ia terlihat sehat.
“mari kita kirim surat al-fatihah untuk kak zakiya, semoga allah senantiasa memberi kemudahan di alam kuburnya! Ucap ustaz ali.”
Seluruh santriwati kelas 1c mengheningkan doa untuk kak zakiya yang dipimpin oleh ustaz ali.
Sebagai seorang hamba yang pasti calon mati, kita memang tidak dapat memprediksikan kapan umur ini akan habis masa kontraknya di dunia oleh karena itu gunakanlah waktu serta hidupmu sebaik mungkin selama kesempatan masih ada.
***
Pagi menjelang siang, haru berkelana di asrama khodijah tempat zakiya bermukim. Aku ikut merasakan kehilangan meskipun sosok kak zakiya belum lama kukenal.
Beberapa santriwati berkesempatan untuk berkunjung melihat zakiya dihari terakhirnya sebelum ia di makamkan. Setiap santriwati dari masing-masing asrama diwakilkan oleh empat orang anak, dari asrama Fatimah. Aku termasuk salah satu dari empat santriwati yang mengantarkan jenazahnya menuju liang lahat.
Suasana duka berkeliaran dirumah alm kak zakiya. Orangtuanya menangisi kepergian anak semata wayangnya dengan perasaan menyesal karena telah salah menilai kebahagiaan  yang diberikan untuk zakiya.
Orangtua zakiya sibuk bekerja sehingga waktu dan hidupnya dihabiskan banyak diluar rumah, mereka ingin anak tunggalnya dapat hidup bahagia dengan financial yang orangtuanya berikan. Padahal sesungguhnya kebahagiaan yang anaknya butuhkan bukan hanya factor financial yang dapat terpenuhinya kebutuhan biologis zakiya namun melalaikan rasa afektif yang ia inginkan.
Isak tangis memenuhi ruangan tamu di rumah kak zakiya, alunan ayat suci al-quran mengema indah berkumandangkan doa yang dikirim untuk si mayit.
Aku membuka kain putih yang menutupi muka kak zakiya bersama dengan santriwati yang datang melayat.
“deg.. deg..” jantungku berdenyut dengan cepat.
Ustaz ali berdiri disampingku, mungkin karena takut aku jatuh pingsan.
Wajah kak zakiya terlihat pucat saat kain putih yang menutupi terbuka, ia benar-benar berbaring dalam tidur panjangnya.









Bab 18
Sadismen Seks
Detik bergulir cepat, masa berlalu terlampaui oleh waktu hingga tanpa terasa sudah setahun berlewati sejak kepergiaan kak zakiya. Sebuah goresan kenangan terbersit dalam bingkai jiwa yang berkelana dan kisahnya terukir dengan goresan pena jiwa yang dirasa.
Langkahku kian mendekati ke arah pernikahan, suatu hal yang pasti akan terjadi pada diriku cepat atau lambat. Untaian lafaz doa selalu terukir di lisan yang setiap saat aku ucapkan kepada illahi
Berjalannya waktu menguatkan niatku untuk memilihnya sebagai pendamping teman hidupku. Sosoknya ibarat embun pagi yang menyejukan jiwa ini. Ingin rasanya aku selalu berada di sampingnya, dua tahun bersama membuatkulebih mengenal calon pendamping hidupku. Ia lelaki yang selalu membuat aku bersemangat untuk menimba ilmu, mengenal illahi lebih dalam melalui dua hal yang harus aku lakukan yaitu menjauhi larangannya dan menaati perintahnya, walaupun harus kuakui ia agak sedikit keras dalam bertindak.
Gaun pengantin berwarna putih panjang bercorak batik khas dari jawa tengah menjadi pilihan pakaian adat yang kami pilih dalam resepsi pernikahan.
Mas ali sebutan yang aku panggil ketika kami tidak sedang berada dilingkungan mahad membuat diri ini semakin terus mengingatnya, ia terus berkelana dalam pikiranku.
Undangan telah dipesan dengan kapasitas tamu kurang lebih 500 orang, pesta pernikahan di adakan dirumah orangtuaku dikawasan Jakarta.
Debaran jantungku berdenyut semakin tak menentu.. karena menurut temanku dimahad yang kakaknya sudah pada menikah mereka bercerita seputar malam pertama.
Malam pertama bersama orang yang kita sayang dalam hidup, aku tak bisa membayangkannya. Mungkin betapa indahnya.. hingga aku tak dapat mengucapkannya melalui sebuah kata hanya angan yang berlari dalam pikiranku saat ini.
“ara apa yang sedang kau pikirkan? Tanya mas ali.”
Aku termenung, pandanganku hanya menatap ibnu yang sedang asyik mengamati unta dikebun binatang ragunan.
Sebuah senyuman kuberikan untuknya.
“apa ara gugup menanti seminggu menuju pernikahan kita? Tanyanya setelah tak ada jawaban dariku.”
Aku tersenyum, wajahku tertunduk malu.
Ibnu menarik ujung bajuku menuju ke tempat unta, mas ali mengikuti langkah kami.
“kak untanya lucu ya!”
Aku menganggukan kepala kepada ibnu.
“ibnu tau gak kenapa pundak unta besar? Tanya mas ali sambil jarinya menunjuk ke pundak unta yang sedang makan rumput hijau.”
Ibnu menggelengkan kepalanya. “enggak mas, memang kenapa bisa besar pundaknya?”
Ibnu mengamati unta tersebut cukup lama.
“pundak itu fungsinya untuk menyimpan minuman unta selama beberapa hari karena di tempat tinggal aslinya air susah untuk dicari? Mas ali menjelaskan kepada adikku tersayang dengan sabar.”
“emang unta tinggalnya dimana, mas? Tanya ibnu kembali.”
Aku tersenyum melihat ibnu yang terlihat kritis dalam bertanya untuk anak seusianya.
“ditimur tengah! Ucap mas ali kepada adikku.”
Obrolan antara adikku dengan mas ali membuatku melupakan sebersit pertanyaan seputar pernikahan kami yang akan berlangsung hitungan hari lagi.
Enam langkah kaki mulai menapaki jalan keluar dari tempat pariwisata, sendau gurau berseling ibarat semilir hembusan angin yang menerjang raga ini.
Aku mengamati sepasang suami istri yang sedang bersama dengan anaknya saat kami hendak meninggalkan ragunan, dalam otakku terlintas sebuah angan.. andaikan mereka adalah aku, mas ali dengan anak kami kelak.
***
Debaran jantungku berdegup sangat cepat saat hari bahagia kami tiba. gaun pengantin putih panjang dengan jilbab putih di hiasi bunga melati menambah elok kecantikanku saat ini.
Aku bagaikan seorang puteri yang menjadi pusat perhatian dengan pesona yang kumiliki, pangeran di sisiku juga dengan paras eloknya yang merekah membuat semua mata melirik ke arah kami semua.
Seusai ijab Kabul, acara resepsi pernikahanpun  dimulai.
Kami berdiri dikursi mengulurkan tangan kepada setiap orang yang memberi ucapan selamat. Rasa dijiwa bercampur aduk, letih, sedih, bahagia, dan deg.. deg..kan.
Sebagian tamu terlihat mengambil hidangan makanan yang telah di siapkan. Umi menangis saat anak perempuannya di ambil oranglain yang kini telah menjadi istrinya.
“ara, selamat menempuh hidup baru ya!”
Aku mencium pipi sahabatku ketika kami bersalaman.
“iya, susi terima kasih doanya! Ucapku.”
“aku nitip ara ya, tolong jaga dan rawat ia dengan baik! Pesan susi kepada suamiku.”
Mas ali tersenyum. “iya susi, insya allah.”
Beberapa teman mahad yang lain ikut mengekor dibelakang susi, meskipun tidak semua anak asrama Fatimah menghadiri pernikahanku karena terbentur oleh jarak yang memisahkan.
Kak iyah datang ke pernikahanku, hatiku amat bahagia sangat mengetahui Pembina asrama Fatimah mau mengorbankan waktunya untuk santriwati yang bermukim di satu atap dengannya.
Mas ali tersenyum saat kak iyah menghampiri kami.
Kelana waktu berlari semakin cepat hingga tanpa terasa satu-persatu tamu yang datang mulai berhamburan pulang.
Jantungku berdendang seirama kami memasuki kamar.
***
Dua hari setelah acara pernikahan kami, aku bersama suami tinggal di rumah yang telah diberikan oleh pak aswab, abi mas ali.
Rumah tersebut terletak tak jauh dari tempat mas ali mengajar dimahad dan tentunya jarak yang dekat menuju ke sekolahku. Umi dan abi mengikhlaskan anak perempuannya pergi meninggalkan mereka bersama suaminya, alhamdullilah mas ali berjanji kepada allah dan juga aku untuk aku berkunjung ke rumah orangtua setiap dua pekan sekali atau saat ada waktu libur panjang. Menurutnya orangtua adalah seseorang yang amat berjasa dalam hidup kita karena kita bisa menjadi seperti ini karena mereka, ingatlah jasa orangtua yang telah merawat serta melahirkanmu karena tidak ada istilah mantan ibu atau mantan ayah namun sebutan bekas istri atau bekas suami itu ada.
Aku menantikan malam pertama yang terindah dalam hidupku, selama dua hari ini kami belum melakukan hubungan intim karena lelah masih menyelimuti raga kami setelah ijab Kabul dengan acara resepsi pernikahan.
Malam semakin larut, kupandangi bintang nan bersinar dilangit dari balik jendela kamar.
Mas ali menghampiri ke arahku, ia berdiri tepat disamping aku berada, Tangannya memeluk tubuh ini dari belakang.
Sebuah kecupan ia berikan dipipi kananku, aku tersipu malu.
“bintangnya indah ya, mas?”
Mas ali menatap langit. “indah sekali, namun lebih indah wanita disampingku? Ucapnya.”
Aku menundukkan kepala karena malu.
“mas pintar merayu, aku malu ditatap terlalu lama, janganlah mas melihat aku terlalu lama nanti engkau akan cepat bosan melihat wajah ini sebelum aku berubah keriput! Ucapku tepat ditelinga kanan mas ali.”
Ia menggenggam tubuh ini erat, lalu memgopongku ke tempat tidur. Aku berbaring sambil memandang wajahnya, ia pun membalas menatapku.
Semilir angin menambah suasana elok dalam hati ini.
Mas ali berdiri, tiba-tiba ia memukulkan guling yang berada di sampingku ke tubuhku.
Tatapan mata suamiku berubah, pandangannya terlihat durja.
Ia bahkan sempat memukul tubuhku, aku menggerang sakit, air mataku menetes.
Hening.. menyelimuti ruangan dimana kami berada.
Aku menangis saat mas ali memukul dimalam pertama yang seharusnya indah dalam pikiranku.
“ara, maafin mas! Ia menyentuhku, sekujur badan ini terasa sakit meskipun mas ali tidak memukul wajahku.”
“hiiiks.. hiiiks…”
Mas ali memeluk tubuhku, ia meneteskan air mata tanda penyesalan yang telah ia perbuat kepadaku
Ia memegang tanganku. “ara, pukul mas! Ucapnya, ia memintaku untuk melakukan hal yang sama kepadanya.”
Aku terdiam hanya butiran air mata yang menjawab rasa yang ada di jiwa.
“ara, pukul mas! Ia memegang tanganku lalu meletakkan dipipinya.”
Aku menatap suamiku, pandangannya terlihat durja kembali.
“prak” sebuah tamparan melayang dipipiku.
Aku menangis kembali.
“braak” ia memukul bantal yang berada tepat di atas kepalaku.
Debaran jantungku berlari semakin cepat.
“a..ah, mas” aku meringgis sambil memegang dada.
Mas ali kaget, ia segera terdiam.
Tatapan yang durja kini sudah kembali seperti sedia kala saat aku mengenal sosok mas ali pertama kali kami bertemu.
Ia bergegas memberikan aku segelas air, lalu meminumkannya kepadaku.
Debaran jantungku perlahan kembali normal, meskipun rasa kaget menyelimuti pikiranku mengenal sosok mas ali dalam wajah yang berbeda.











Bab 19
Kenyataan Pahit
Pikiranku saat ini terbersit sebuah tanya besar tentang sosok mas ali dengan karakter yang berbeda, ia memiliki dua wajah berbeda dalam hidupnya. Perasaan takut menghantui jiwa ini saat tingkah laku suamiku menjadi oranglain dalam hidupnya.
“ara, gak ikut istirahat?”
Susi dan shaila menghampiriku.
Aku terdiam.
“ara ceritain dong gimana rasanya?”
Susi penasaran dengan kisah malam pertamaku.
Senyuman aku berikan kepada dua orang sahabat baikku.
“ada deh! Ucapku berusaha menyembunyikan sesuatu yang terjadi.”
Di kelas kini hanya ada tiga orang santriwati, kebanyakan temanku sedang berada diluar ruangan selama jam istirahat tiba.
Aku bersama dengan susi dan shaila duduk diluar kelas, pemandangan rumput bergoyang menjadi saksi obrolan kami.
Kantor madrasah aliyah terlihat jelas dari tempat kami duduk.
“ara pasti beda ya, rasanya setelah menikah dengan masih lajang?”
Aku menganggukan kepala.
“ceritain dong ara, bagi pengalaman! Colek shaila.”
Aku tersenyum meskipun sebuah pilu melintas dalam rasa ini.
“nanti kalian juga akan merasakan sendiri? Ucapku.”
“katanya yang aku dengar, malam pertama itu rasanya sakit ya, ara?”
Aku terdiam memikirkan ucapan susi.
“iih ara kok jadi diam begitu sih? colek susi.”
Aku menghela napas panjang. “emang begitu ya, sus? Tanyaku.”
Susi dan shaila memandang wajahku penuh tanya.
Aku terdiam, berusaha menyembunyikan aib suamiku dimata mereka.
“teng.. teng..” bel masuk berbunyi.
santriwati yang sedang istirahat kini kembali ke dalam kelasnya masing-masing.
“sudah kita belajar aja dulu, nanti kalian juga akan merasakan sendiri setelah menikah! Ucapku.”
***
“fungsi pengaturan seksual”
Kebutuhan seks merupakan salah satu kebutuhan biologis setiap manusia. Dorongan seksual ini apabila tidak tersalurkan sebagaimana mestinya atau tersalurkan tetapi tidak dapat dibenarkan oleh norma agama dan masyarakat, maka akan berakibat bagi mereka yang melakukannya.
Misalnya saja, kebutuhan pemuasan seks seseorang begitu memeuncak padahal dia tidak mempunyai wadah yang sah (belum kawin) maka seseorang cenderung melakukan kegiatan yang sifatnya dapat memuaskan kebutuhan seksualnya. Contoh kegiatan tersebut antara lain masturbasi atau onani, yaitu suatu pemuasan dengan aktivitasnya sendiri. Hal ini dilaksanakan karena keinginan pemuasan seksual yang bersifat sementara telah dapat terpenuhi. Kegiatan masturbasi atau onani ini hampir pernah dilakukan oleh setiap orang, baik kegiatan tersebut disengaja maupun tidak disengaja.
Namun demikian apabila masturbasi atau onani ini dilakukan terus menerus maka akan berakibat kurang baik bagi kesehatan jasmani maupun rohani bagi mereka yang melakukan.
Biasanya apabila melakukan masturbasi atau onani dapat hilang apabila mereka telah berkeluarga (bersuami istri).
Sedangkan kegiataan pemuasan seksual lainnya yang tidak wajar yaitu homoseks. Yang dimaksud dengan istilah homoseks ialah suatu keinginan atau aktivitas seksual yang ditujukan terhadap orang-orang dari jenis seks yang sama. Seorang homoseks dapat hidup berumah tangga dengan oranglain yang jenis seksnya sama dan mengenai aktivitas seksnya hampir sama dengan heteroseks.
Sebab-sebab seseorang menjadi homoseks ada beberapa pendapat, seperti yang dikemukan oleh Feldman dan mac cullockdalam majalah Anda oleh gunadi atmaji (januari, 1980, hal 25) bahwa homoseks disebabkan oleh kecenderungan biologis seseorang. Misalnya karena factor hormon yang berhubungan dengan seks ataupun karena factor genetic. Tetapi ada ahli lain yang mengatakan bahwa homoseks disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon-hormon yang berhubungan dengan seks misalnya testoteron, estrogen dalam tubuh seseorang.
Sedang menurut pendapat tokoh aliran psikoanalisis, lebih menekankan pada apa yang terjadi pada masa beberapa tahun pertama dari kehidupan seseorang. Dasar utamanya tentang homoseks ini adalah hetero phobia, yaitu suatu rasa takut yang berlebihan akan kontak seks dengan lawan jenisnya. Ketakutan ini sebenarnya merupakan akibat dari kejadian-kejadian pada masa anak-anak dengan terjadinya konflik oedipal.
Penemuan seksual yang lebih jauh menyimpang dari fungsi keluarga ialah dengan adanya pemuasan seks tetapi dilakukan tidak dengan suami atau istrinya sendiri, walaupun hubungan seks disini adalah hubungan seks wajar seperti apa yang dilaksanakan oleh seorang suami atau istrinya sendiri.
Pemuasan seks yang terakhir inilah yang berakibat terjadinya ketentraman dan kebahagiaan dalam keluarga akan terganggu, bahkan sampai terjadinya perceraian antara suami istri sering disebabkan oleh masalah tersebut. Pemuasan seks yang terakhir tersebut mungkin dilakukan oleh seseorang dikarenakan kepuasan seks di dalam keluarganya yang dibina tidak dapat terpenuhi atau memang di antara suami atau istri ada yang mengalami gangguan maniak.
Oleh karena itu kepuasan seks di dalam keluarga itu besar sekali pengaruhnya dan pentingnya dalam membina keluarga yang sehat, harmonis dan bahagia.
Dalam hal pengaturan seksual ini keluarga memiliki peranan yang sangat penting, seperti telah dikemukan oleh Horton dan hunt dalam bukunya sociology (1968, hal. 220) mengatakan bahwa keluarga merupakan lembaga pokok yang mengorganisasi dan mengatur pemuasan keinginan-keinginan seksual.
Jelaslah disini bahwa keluarga merupakan wadah yang sah baik ditinjau dari segi agama maupun masyarakat dalam hal pengaturan dan pemuasan keinginan-keinginan seksual.
“ara, kamu minum dulu ini? Mas ali menghampiriku yang sedang membaca buku bimbingan dan konseling keluarga.”
Secangkir kopi jahe hangat sengaja suamiku buatkan untuk istrinya tercinta.
Aku menyeruput minuman yang ia sajikan untukku.
“ara maafin mas! Ia bersimpuh dihadapanku.”
“mas bangun? Aku menarik tangan mas ali yang bersujud di kakiku.”
Wajah mas ali terlihat sendu, ia mengakui kesalahan yang ia perbuat kepadaku.
“ara, mas gak tau kenapa bisa bersikap seperti itu?”
Aku terdiam.
Mas ali duduk disampingku, ia memeluk tubuhku erat.
“ara apapun keputusan yang kamu pilih, mas akan terima itu dengan lapang dada? Mas ali berbisik ditelingaku saat memeluk aku.”
 “deg.. deg..! perasaan ini tak menentu mendengar ucapan suamiku.”
“maksud mas apa?”
Mas ali terdiam, matanya terlihat berair.
“kalo ara gak kuat dengan perlakuan kasar mas, ara boleh mengkhuluk –menceraikan- mas! Ucapnya tanpa memandang mataku.”
Hatiku menangis mendengar ucapan suamiku, aku letakan buku yang tadi kubaca, kudekap erat ia.
“ara sayang mas! Deraian suaraku tertahan dihati, hanya isak tangis yang menjawab kesedihan yang berkelana.”
Mas ali mengelus rambut panjangku.
“mas mau janji satu hal dengan ara? Pintaku.”
“apa?”
Aku mencium jemari suamiku dengan lembut.
“apa ara? Tanyanya kembali setelah tiada jawaban dariku.”
Aku mengelus bibir suamiku dengan jari ini.
“ara tidak mau mendengar mas mengucapkan kata khuluk lagi! Jawabku.”
Mas ali menganggukan kepalanya.
“ara andaikan suatu saat kamu berubah pikiran, mas akan berusaha berlapang dada dengan keputusan yang akan kau pilih!”
Derai air mataku kembali mengalir, saat kulihat dua bola mata mas ali berubah menjadi sosok karakter yang berbeda dari suamiku.
“prak” sebuah pukulan melayang ditubuhku.
Aku berlari ke dalam kamar, bergegas pintu kukunci.
“A..ah” tangan mas ali terselip dipintu yang hendak kututup.
“ara sakit! Raungnya.”
Aku tak tega melihat tangan suamiku terjepit pintu, apalagi ia meronta kesakitan.
“braak.”
Aku tersungkur dilantai.
“mas jangan!”
“bruugh”
“ma..mas.. jangan!”
Suaraku terdengar semakin lemah, pandanganku mulai terlihat kabur.

















Bab 20

Comments

Popular Posts